Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 63


__ADS_3

Aisha yang tengah mengemudikan mobilnya menuju kampus, dikejutkan dengan pemandangan di depannya. Seorang pria nampak tengah memarahi seorang wanita berambut pirang. Entah siapa dia, tapi anehnya mereka melakukan itu di tengah jalan. Kebetulan jalanan ini lenggang, hanya ada mobil Aisha saja. Mau tidak mau, gadis itu menghentikan mobilnya dan turun darisana.


"Maaf tuan, nyonya, bisa kalian minggir? Saya mau lewat. "Ucap Aisha masih dengan nada sopan. Kedua orang itu menoleh bersamaan. Si wanita memasang tatapan memelas yang membuat Aisha iba. Sedangkan pria di sampingnya, menghunuskan tatapan tajam dengan tangan yang masih mencengkeram lengan si wanita.


"Nona, tolong aku nona! Tolong aku! Dia akan memukuliku nona! " Pinta wanita itu dengan lelehan air mata yang berjatuhan dari telaga beningnya. Aisha memperhatikan penampilan perempuan itu, luka lebam dan memar di sekujur tubuh dan wajah. Rambut yang acak acakan dan terdapat bekas cekikan di lehernya. Cukup! Ini adalah kekerasan pada perempuan. Hal yang paling Aisha benci di dunia adalah seorang pria yang berani bermain fisik pada wanita. Yang jelas jelas tidak mampu bersaing dengannya. Ini adalah tindakan seorang pecundang.


"Lepaskan tangannya! " Sudah tidak ada nada sopan sama sekali. Aisha menatap tajam pada tangan pria itu yang kian menguatkan cengkeramannya. Hingga membuat wanita itu meringis menahan sakit.


"Tau apa kau gadis kecil! Pergi sana, ini adalah urusan ku! " Ketus pria berbadan gorila itu. Dalam sekali tepisan, Aisha berhasil menyingkirkan tangan pria itu dari lengan wanita di depannya.


"Aku memang tidak ada urusan denganmu atau nyonya ini, tapi kau membuat dua kesalahan di depanku. Yang pertama, kau menghalangi jalanku, yang kedua kau menyakiti wanita tak berdaya ini di depanku!" Aisha mulai terpancing. Namun ia masih berusaha menetralkan emosinya. Segala sesuatu yang dikerjakan dengan emosi tidak akan berbuah baik.


"Keras kepala! Kau mau bermain main denganku? " Menyeringai licik. Ia sudah mengepalkan tangan dan mendekat kearah Aisha.


Huh! Pagi - pagi begini, malas sekali aku harus bertarung dengannya. Batin Aisha dalam hati. Ia melengos kesal kearah lain. Dengan gerakan kilat, Aisha menendang ******** pria itu, mendorongnya menjauh hingga tersungkur ke jalan beraspal. Lalu ia meraih tangan wanita itu dan membawanya memasuki mobil. Segera ia menghidupkan mesin dan melesat meninggalkan pria tadi yang masih meringis menahan sakit.


"Sial! " Umpat pria itu. Ia menoleh kearah mobil yang berhenti tak jauh darisana. Lalu merogoh saku dan menghubungi seseorang.


"Maaf tuan, saya gagal. " Lapornya masih merintih kesakitan di area sensitifnya.


Sedangkan di dalam mobil Aisha, gadis itu masih mengemudikan mobil dengan santainya. Sesekali ia melirik kearah wanita yang tengah memperhatikannya.


"Kenapa dia sangat kasar padamu nona? Siapa dia? " Tanya Aisha memecah keheningan.


"Dia suamiku. Nona, terimakasih sudah menolongku, bisakah anda turunkan saya di belokan sana? " Menunjuk sebuah belokan tak jauh di hadapan mereka.


"Tentu saja. " Sahut Aisha. Ia pun menghentikan mobilnya pada tempat yang dimaksud. Wanita tadi bergegas turun setelah mengucapkan terimakasih sekali lagi. Setelah itu, Aisha kembali melajukan mobilnya menuju kampus.


***


"Aisha! " Myara berteriak kesal sambil menatap sahabatnya itu dengan rasa sebal.


"Hallo Myara, ada apa kau pagi pagi begini sudah cemberut? " Goda Aisha sambil tersenyum jahil. Ia tahu benar bahwa Myara pasti kesal padanya karena tahu apa yang ia katakan pada Holmes.


"Kau itu ya! Kenapa kau mengatakan yang tidak tidak pada ayahku? Bagaimana kalau tuan Rey tahu. Ya Tuhan, dia pasti akan menganggaku gadis yang terlalu percaya diri. Lalu dia akan marah padaku. Lalu- " Myara heboh sendiri.


"Ssstt... kau tenang saja Mya, aku pastikan Rey tidak akan marah padamu. Sudahlah, sekarang kita masuk ke kelas saja. Kau ingat, hari ini ada pelajaran penting. " Seru Aisha. Walaupun masih kesal, Myara tetap mengangguk. Ia mensejajari langkah sahabatnya itu memasuki kelas.


***


Jam menunjukan pukul tiga sore, Aisha yang memang memerlukan beberapa barang pun mampir ke sebuah toko buku. Ada beberapa buku yang harus ia beli untuk menunjang kegiatan perkuliahannya. Gadis itu mengurangi laju mobilnya saat sampai di depan toko. Saat ia hendak turun, lagi lagi ada kejadian aneh yang membuatnya mengernyit heran. Tampak oleh mata indahnya, seorang wanita yang tengah berteriak meminta tolong. Ada seorang pria yang berlari sambil menenteng sebuah tas berwarna navy.


"Apa lagi ini? Kenapa hari ini banyak penjahat sih? " Bergumam kesal. Pria itu berlari kearah mobilnya. Ting. Sebuah ide brilian tanpa mengeluarkan tenaga muncul. Saat pria itu sudah dekat dan hampir berdempet dengan mobilnya. Gubragh!. Aisha membuka pintu mobil dengan sekuat tenaga. Hingga benda besi itupun tepat mengenai kepala si pria.


"Yaampun! " Aisha terkekeh pelan, ia turun darisana dan mendapati pria itu terhuyung ke tanah dengan dahi yang benjol berwarna merah. Sekerumunan orang tampak mendekatinya dan membawanya ke pihak yang berwajib. Ibu tadi datang dan menerima sodoran tas dari Aisha.


"Terimakasih nona, anda sudah menyelamatkan tas saya. " Ujar wanita paruh baya itu dengan tulus.


"Sama - sama aunty, aku permisi dulu. " Pamit Aisha lalu bergegas masuk kedalam. Setelah kepergian gadis manis itu, wanita tadi menoleh kearah lain. Dimana sebuah mobil sport berwarna hitam terparkir rapi disana. Ia menekan sebuah kontak dari ponselnya dan mulai berbicara.


"Maaf tuan, nona tadi cerdik sekali. Dia bahkan tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk melawan teman saya tadi. " Ujarnya dengan nada sedikit takut.


"Kalian saja yang tidak becus! " Balas yang diseberang lalu segera menutup panggilan.

__ADS_1


***


Aisha tengah dalam perjalanan pulang kerumah. Badannya yang pegal - pegal, membuatnya ingin segera membersihkan diri dan merebah santai diatas ranjang. Kegiatan hari ini cukup padat apalagi ditambah tugas tugas dari dosen yang menumpuk bak gunung Himalaya. Saat tengah asik mengemudi, ponselnya tiba tiba berdering. Ia pun meraih earphone dan mulai berbicara.


"Hallo "


"Nona, nona! " Suara panik terdengar dari seberang. "Nona, saya salah satu pelayan di bagian belakang. Saya mendapat kabar bahwa tuan muda sedang dalam bahaya sekarang. " Ujar perempuan itu.


"Apa? Arthur kenapa? Dimana dia sekarang? " Aisha ikut panik, walaupun ia tak menampik fakta bahwa ada kecurigaan dalam hatinya. Mengapa harus pelayan yang menelepon? Darimana dia tahu semua ini? Dan, ini sangat tidak masuk akal. Tapi bagaimanapun juga ia cemas sekarang.


"Saya sudah kirimkan alamatnya nona. " Sambungan tiba tiba terputus. Aisha mencoba menghubungi nomor Arthur yang tertera dalam daftar kontaknya. Tiga kali namun tidak ada sahutan. Lalu ia mencoba menghubungi Reynard, hal yang sama terjadi. Membuat ia sulit berpikir jernih sekarang.


Tenang, tenang Aisha, Arthur adalah ketua mafia. Kalau aku panik, aku akan bertindak gegabah nanti. Batin nya dalam hati. Setelah menetralkan pikirannya, ia melihat lokasi yang sudah dikirim perempuan tadi. Tanpa banyak bicara, gadis itu segera melajukan mobilnya ke tempat yang dituju.


***


Di sebuah gedung tua yang dahulunya digunakan sebagai pabrik, dua orang pria tengah bersembunyi dibalik sebuah pohon bringin rindang yang mampu menutup tubuh kekar mereka dari pandangan mata.


"Aku tidak setuju ide bodohmu ini! Bagaimana kalau dia kenapa napa? " Protes pria itu tak terima. Satu tangannya ia gunakan untuk mencengkeram kerah jas pria satunya.


"Tenang saja bos, mereka anak buah bayaranku. Tidak akan terjadi apapun. Ini adalah yang terakhir, jika gagal berarti dugaan kita salah " Balas pria yang lain.


Daerah ini adalah kawasan berbahaya yang biasanya banyak para preman yang berkeliaran. Lokasinya cukup jauh dari perkotaan. Itulah sebabnya daerah rawan ini menjadi pilihan untuk markas para preman yang tidak terlalu berpengaruh. Hal ini sudah bukan rahasia lagi bagi pengendara jalan. Itulah alasannya kenapa lokasi ini dipilih sebagai tempat yang akan di datangi Aisha.


Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam keluaran terbaru memasuki gerbang. Aisha melepas seatbelt yang melekat padanya. Gadis itu tidak mau ambil resiko, sebuah GPS sudah terpasang dalam tubuhnya apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Turun dari mobil, lalu ia mengamati sejenak gedung tua itu. Saat ia hendak melangkah, sebuah suara berat seorang pria membuatnya berbalik.


"Dimana suamiku? " Tanya Aisha to the point. Pria itu mengerutkan dahinya. Jika dilihat umurnya mungkin sebaya dengan ayah Aisha. Ia memikul sebuah karung dan menjinjing karung lainnya.


"Tidak perlu risau tuan, aku sedang mencari suamiku disini. Tuan bisa pergi. " Ujar Aisha. Saat kakek itu hendak menyaut lagi, matanya dikejutkan dengan siapa yang baru saja datang. Mereka adalah gerombolan preman yang biasanya berjalan jalan mencari mangsa. Mereka tampak menghampiri.


"Nak, cepat pergilah! Lihat, ada orang jahat! Pergilah! " Kakek itu menjatuhkan kedua karungnya dan menyuruh Aisha agar segera masuk. Persetan dengan dirinya, dia hanya lelaki tua yang tak punya apa apa. Tapi gadis ini masih cantik dan muda sehingga pasti akan mengundang bahaya.


"Tuan pergilah, aku bisa menjaga diri. " Ujar Aisha. Gerombolan preman tadi nampak sudah sangat dekat dengannya. Mereka membentuk lingkaran mengelilingi Aisha dan kakek tadi.


"Oh Tuhan, habislah kita nak! " Seru pria itu pasrah.


"Mau apa kalian? Dimana suamiku! " Tanya Aisha dengan lantangnya. Para lelaki tadi malah terbahak mendengar ucapan gadis manis di depannya. Tinggi juga nyali gadis ini, batin mereka.


"Hey gadis cantik, tidak perlu mencari suamimu. Aku saja ada disini, iya kan teman teman? " Teman lainnya tertawa menyahuti perkataannya.


"Lebih baik kau bersama kami malam ini. Lihat, hari sudah mulai senja! " Sahut lelaki lainnya yang membuat Aisha mengepalkan tangan erat dibawah sana.


Aisha meraih botol kaca dari karung kakek tadi dan melemparkannya hingga mengenai pelipis salah satu pria. "Itu teguran untuk perkataan tidak sopan padaku! " Serunya tajam.


Pria itu mendelik tajam dan meraba pelipisnya yang mengucurkan darah segar,


"Kurang ajar kau! Kau akan menyesal! "


Sepertinya orang yang dilempar Aisha adalah ketua mereka. Buktinya saat ia terluka para anggota lainnya tampak panik dan menghunuskan tatapan tajam padanya.


"Haduh, bagaimana ini? " Ujar kakek itu panik.

__ADS_1


"Tenang saja tuan, aku bisa menghadapi ini! "


Aisha sudah mengambil ancang ancang melawan mereka. Saat ia sudah benar benar siap, matanya tak sengaja menangkap sebuah benda misterius yang sedang mengintai disana. Sebuah drone kecil tampak terbang tak jauh dari dia berdiri sekarang. Yang Aisha yakini bahwa drone itu tengah merekamnya.


Ada ada saja. Gumam Aisha dalam hati.


Para lelaki itu semakin dekat dan mengambil ancang ancang melawan Aisha. Dengan terpaksa, gadis itu mengurungkan rencana awalnya untuk melawan. Jika yang merekamnya itu adalah musuh, maka terbongkarlah identitasnya. Karena ayahnya sudah mewanti wanti agar menyembunyikan serapat mungkin identitas Aisha yang asli pada musuh.


Sedangkan dibalik pohon,


"Bagaimana anak buahmu itu bekerja! Kenapa mereka sepertinya serius ingin menyakiti gadis itu! " Protes Arthur tak terima. Ide gila untuk menguji Aisha dengan cara ini adalah dari sekretarisnya, siapa lagi jika bukan Reynard.


"Aku juga bingung, kenapa mereka aktingnya serius sekali? "Seru Rey heran. Ponselnya berdering kencang menandakan ada panggilan yang masuk.


Pria itupun mengangkatnya.


"Hallo"


"..."


"Apa! Bodoh, kenapa tidak bilang daritadi!" Sentak Rey penuh emosi. Tanpa tunggu lama, ia menarik tangan Arthur mendekati Aisha.


"Ada apa! " Tanya Arthur.


"Arthur cepat, ada kesalahan disini, para preman bayaranku mobilnya bocor di jalan. Mereka penjahat asli! " Ujar Rey sambil terus berlari. Mendekati para preman yang sudah mulai menyakiti Aisha.


"Sial! " Umpat Arthur dan bergegas berlari kearah istrinya.


"Aisha! " Arthur mendekati istrinya. Memegang bahunya dengan rasa khawatir yang membuncah. "Kau terluka! " Arthur melihat sudut bibir istrinya yang mengeluarkan darah. Ia juga melihat pelipis Aisha nampak tergores.


Aisha seolah tak merasakan lukanya, ia gantian memyentuh bahu suaminya khawatir.


"Kau kenapa? Kau tidak apa apa kan? Ada yang menelponku dan mengatakan kalau kau dalam bahaya. " Seru Aisha.


"Diam! Kau yang terluka, kenapa memikirkanku? " Kata Arthur. Seakan lupa dengan dunia, ia bahkan mengabaikan Rey yang tengah bertarung di belakangnya.


"Arthur, bantulah Reynard. " Pinta Aisha. Lelaki tampan itu berbalik dan menemukan Rey yang masih beradu tangkas dengan para preman. Ia mengangguk lalu membawa istrinya agak menjauh darisana. Setelah memastikan aman, ia bergegas kembali dan membantu meringkus para penjahat itu.


Tak butuh waktu lama bagi kedua mafia itu melumpuhkan mereka. Ayolah, mereka adalah pimpinan organisasi mafia besar yang sangat berpengaruh. Menghadapi para penjahat amatir seperti ini? Itu bagaikan menghadapi semut kecil bagi Arthur dan Rey.


"Cukup Arthur! Cukup! " Rey menahan tubuh Arthur yang sedang membabi buta memukul salah satu pria.


"Diam kau! Aku akan menghabisinya, beraninya dia melukai gadisku! " Seru Arthur penuh emosi. Ditengah kepanikan yang ada dalam hati Rey, terselip sebuah senyum lega disana ketika Arthur menggunakan kata ganti 'gadisku' kepada Aisha. Itu artinya bos dingin plus galaknya ini sudah mulai menerima dan mengakui gadis cantik itu dalam kehidupannya.


"Sudah, sudah. Bawa pulang gadismu, aku akan membereskan semua ini. " Ujar Rey. Arthur teringat pada istrinya yang masih terluka, ia beringsut mendekati Aisha dan mengajaknya pulang.


Bersambung...


Kalau masih ada yang menunggu ceritaku, yang sabar ya 😢


Semoga kalian bisa memahami cerita rumitku ini.


Oh ya, episode ini sebenarnya untuk dua episode. Tapi aku gabung menjadi satu aja.

__ADS_1


Terimakasih, semoga suka. 😁


__ADS_2