
Di belahan negara lain, jauh dari negara Amerika dan kota New York yang padat penduduk. Di dalam gedung yang menjulang tinggi dengan ribuan karyawan yang menggantungkan nasibnya dengan mengais rezeki disana.
Kini berdirilah Johanes Fernandez yang seharusnya sudah cukup umur untuk turun tahta dari perusahaan besarnya. Saatnya menikmati usia senja dan bermain dengan cucu, seharusnya begitu.
Tapi apa boleh buat, anak - anaknya yang sudah dewasa yang seharusnya sudah punya dua sampai tiga anak malah banyak yang belum membina rumah tangga.
"Huh.." Pria paruh baya itu menghela napas kasar. Kapan dia bisa beristirahat dan duduk diam dirumah menghabiskan waktu dengan sebuah buku dan segelas kopi.
Yudhistira yang merupakan anak tertua malah memindahkan perusahaannya ke negara lain. Sedangkan adik - adiknya tidak ada yang siap untuk menjabat sebagai pemimpin perusahaan. Terlalu takut mengemban tugas besar tersebut.
"Jadi bagaimana ayah?" Arjuna sang selebriti kini terpaksa duduk di meja bundar melingkar. Pun dengan saudara laki - lakinya yang lain.
Johan berbalik, "Ayah sudah membuat keputusan. " Semua orang diam mendengar seksama. "Ayah akan pensiun dan duduk dirumah setelah proyek besar dari Tuan Sahin usai. Lalu urusan perusahaan akan dikendalikan oleh kalian semua."
"Bima!" Menatap putra keduanya yang termenung. "Kau adalah yang tertua disini, jadi seharusnya kau tahu apa tanggung jawabmu." Bima sebagai anak kedua yang otomatis pengganti kakak tertuanya harus bisa mengemban tugas ini. Pria bertubuh besar itu mengangguk. Masalahnya perusahaan Fernandez memiliki banyak cabang dan anak perusahaan yang harus diurus.
"Baik ayah, aku akan melakukan apapun yang aku bisa." Ujar Bima.
"Bagus, bagaimana dengan urusan saham yang kau laporkan beberapa hari yang lalu?" Tanya Johan lagi namun kali ini pria itu menatap putra ketiganya, Arjuna.
"Kemarin asisten Arthur menghubungiku tentang saham bagian Aisha yang direbut dengan cara tidak sah. Urusan itu sudah selesai ayah. " Ujarnya.
__ADS_1
"Bagus! " Johan memejamkan matanya sejenak mengingat wajah putrinya yang lama tak ia jumpai. Sangat gampang baginya untuk terbang ke Amerika dan menemui Aisha, tapi masalah dalam kantor yang muncul silih berganti mengurungkan niatnya hingga tanpa sadar satu tahun hampir berlalu.
"Ayah ingin menemui Aisha. Sudah lama sekali tidak melihat anak itu." Dua kalimat itu mengalihkan perhatian banyak orang.
"Ayah ingin menemui Aisha, baiklah aku akan urus keberangkatannya." Ujar Bima.
"Tapi bukankan ayah harus menghadiri pertemuan penting selama seminggu ini?" Dewa ikut menyahut sebab dirinya sudah membaca jadwal padat ayahnya selama seminggu kedepan.
"Selama ini kita terus bekerja keras hingga mengabaikan Aisha. Membiarkannya memulai kehidupan yang baru seorang diri. Apakah tidak bisa ayah memeluk putri ayah sebentar saja?" Johan merasa sedih kala mendengar putrinya sedang berseteru dengan sang suami akhir akhir ini. Tapi ia terlambat mengetahuinya dan malah tahu dari orang lain. Dan orang itu tak lain ialah Billy, anak tuan Sahin yang beberapa hari ini tak nampak batang hidungnya.
"Ayah benar, aku akan ikut menemui Aisha." Kata Arjuna.
"Tidak!Yang lain tetap disini biar kami saja yang pergi." Putus Johan membuat yang lain hanya bisa mengangguk tanpa membantah.
"Ayah, sebenarnya aku punya kabar baik." Arjuna berbicara ketika menemukan momen yang pas. Kabar gembira ini akan membawa angin segar setelah semua masalah yang akhir akhir ini menimpa perusahan keluarga.
"Apa itu? Katakanlah!"
"Aisha saat ini sedang mengandung." Berita tersebut membuat setiap pasang mata dalam ruangan membelalak. Kabar yang mengejutkan.
"Apa?!" Seolah melayang ke angkasa. Kehamilan putri termudanya sontak membuatnya membayangkan menjadi kakek dan becanda tawa dengan cucunya.
__ADS_1
"Kau tidak bercanda!" Masih tak percaya apa yang ia dengar beberapa detik yang lalu.
"Ya ayah! Aku akan jadi paman dan ayah akan menjadi kakek." Entah darimana Arjuna mengetahui berita fantastis tersebut.
"Syukurlah, Tuhan Maha Baik. Percepat jadwal keberangkatan ayah kesana." Johan terlihat sangat girang berbeda dari sebelumnya.
"Ayah hanya akan bisa berangkat tiga hari lagi. Setelah rapat penting bersama perusahan tuan Sahin." Dewa berucap seraya membaca jadwal ditangannya.
"Tapi--" Johan tidak cukup sabar menunggu tiga hari.
"Rapat ini harus dihadiri pemimpin Johanes Group, tidak bisa diwakilkan. Maaf ayah, tapi jika kita gagal mendapat tender kali ini maka kita harus memberhentikan sekitar 300 karyawan." Ditutupnya dokumen itu pelan. Bayangkan berapa banyak manusia yang akan menangis dan kelaparan karena kehilangan pekerjaan.
Johan menghela napas, "Baik, atur waktu tercepat yang mungkin. "
"Akhirnya setelah terakhir kali aku menggendong bayi Aisha dari Eylina, kini aku bisa merasakan menjadi seorang kakek. Eylina andai kau ada disini."
Uban yang sudah memenuhi kepalanya tak menyurutkan cintanya pada mendiang istrinya, Eylina Fernandez.
...***...
Sudah lama tidak memunculkan para pria keluarga Fernandez ini😁
__ADS_1