Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 69


__ADS_3

Sesampainya di mansion, Arthur dan Aisha turun dari kendaraan yang ditumpanginya. Mereka mensejajari langkah kedua pengantin itu. Aisha berbisik pelan di dekat telinga suaminya.


"Apa yang kita lakukan ini benar? " Bisik nya.


"Kau ini ya, sudah berapa kali kau bertanya hal yang sama!. " Arthur jengkel, karena sejak dalam perjalananan tadi gadis itu berulang kali menanyakan hal yang serupa padanya.


"Aku masih cemas saja.. " Lirih Aisha seraya menolehkan kepalanya kearah pengantin baru itu.


"Tidak akan terjadi apapun. " Balas Arthur yang paham akan kecemasan istri nya.


Tidak ada hal aneh yang terjadi selanjutnya. Mereka semua sudah masuk kedalam hunian mewah itu. Koper koper Myara juga sudah dibawa dan dipindahkan ke kamar Reynard.


"Mulai sekarang ini kamarmu juga. Semoga kau nyaman ya. " Ujar Aisha sembari memegang kedua bahu sahabatnya.


"Iya, terimakasih. " Sahut Myara tersenyum.


Setelah Arthur dan Aisha pergi ke kamarnya, barulah Myara berani masuk ke kamar. Dilihatnya Reynard yang sedang melepaskan jas dan kemejanya. Menunjukan otot ototnya yang sontak membuat Myara menundukan pandangannya. Gadis itu beralih ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selesai dengan segala ritual mandinya, kini Myara sudah rapi dengan piyamanya. Keluar dari walk in closet, ia menatap Rey yang tengah memindahkan beberapa bantal ke sofa. Lalu pria itu meraih selimut lain dari lemari. Mya bingung, jangan jangan suaminya ini akan menyuruhnya tidur di sofa. Jika iya, jujur saja ia tidak sanggup. Ia pernah tidur di sofa, tapi alhasil ia selalu berada di lantai ketika pagi tiba.


"Tuan, aku tidur dimana? " Myara bertanya dengan ragu. Rey yang sudah duduk di sofa itu menatapnya lekat.


"Tidurlah di ranjang, aku akan tidur disini. " Jawab Rey.


Huh, syukurlah. Batin Myara dalam hati.


"Tapi, apa tuan tidak apa apa? " Bertanya lagi. Karena ia juga tidak tega melihat pria yang menjadi tempat ia melabuhkan hatinya itu tidak nyaman.


"Tidak masalah, dan satu lagi, berhenti memanggilku tuan. " Ujar Rey lalu segera berbaring di sofa itu. Membenahi letak bantalnya dan menarik selimut agar membalut tubuhnya.


"Ba-baiklah. " Myara beringsut mendekati ranjang. Ia merebah disana, membalut tubuhnya dengan selimut agar menahan hawa dingin yang ada. Kedua pengantin baru itupun terlelap dalam alam bawah sadarnya masing masing.


(Untuk Rey dan Myara segini dulu ya. Nanti mungkin aku akan buat beberapa bab khusus mereka. Sekarang mau buat bang Arthur bucin dulu, 😆😆)

__ADS_1


***


Aisha dan Arthur masuk ke dalam kamar mereka sendiri. Arthur yang sudah selesai membersihkan dirinya, ia melangkah mendekati Aisha yang masih berdiri di depan cermin seraya menyisir rambutnya.


Gadis itu terkesiap kala tiba tiba saja Arthur membalikan tubuhnya dan mendekapnya erat. Erat sekali, bahkan sisir yang ada dalam genggamannya sampai teronggok di lantai.


"Arthur, ada apa? " Mengusap punggung suaminya yang masih belum mau melepaskan dekapannya.


"Diam, biarkan seperti ini dulu. " Lirih Arthur dekat telinga istrinya. Pria itu masih belum melerai rengkuhannya. Ia kian mendekap gadis itu erat. Arthur ingin memastikan, apakah yang ada dalam hatinya ini benar atau tidak. Ada ketenangan tersendiri saat berada dekat Aisha. Rasanya sangat nyaman. Gadis itu, yang dulunya ia anggap hanya sebagai pengganggu. Yang awalnya Arthur kira akan menyusahkannya, tapi nyatanya ia kini begitu tentram ketika bersamanya. Tidak salah lagi, yang ada dalam pikiran dan hatinya memang benar, Arthur memang sudah jatuh cinta akan pesona istri nya sendiri.


"Sebenarnya ada apa? " Tanya Aisha saat pelukan mereka terlepas. Pria itu hanya mengulas senyum di bibirnya. Ia menuntun istrinya untuk berbaring di ranjang. Menarik selimut hingga membalut tubuh mereka dengan sempurna.


"Tidurlah. " Perintah Arthur lembut.


"Tapi kau belum menjawab pertanyaan ku Arthur, apa kau ada masalah? " Aisha bangkit duduk. Karena tidak biasanya suaminya bertingkah aneh seperti tadi.


"Kemarilah! " Arthur menarik tangan Aisha hingga mendekat padanya. Lelaki itu meletakan tangannya di pinggang ramping istrinya. "Tidak ada apapun, sekarang tidurlah." Ia menutup mulut Aisha dengan tangan saat gadis itu akan menyahut. Akhirnya perempuan itu menurut, ia ikut melingkarkan tangannya pada pinggang suami nya. Menenggelamkan wajahnya pada dada Arthur, mencari posisi ternyaman. Posisi yang sebelumnya dilakukan dengan tidak sengaja karena kebiasan Aisha, kini mereka melakukannya dalam keadaan sadar. Kedua anak manusia itupun sama sama terlelap dalam buaian mimpi yang indah.


***


"Itu tidak cocok, akukan sudah bilang ambil yang warna navy! " Protes nya saat Aisha kekeh ingin memakaikan warna itu padanya.


"Ini cocok dengan kemejanya Arthur! Yang itu tidak cocok. " Balasnya tidak mau kalah.


"Yasudah, pakaikan saja! " Arthur akhirnya menurut. Tapi ia tidak menunduk seperti biasa, malah ia menegakan tubuhnya. Membuat Aisha kesulitan mengingat tubuh Arthur terlampau tinggi dari tubuhnya.


"Arthur menunduklah! Kau sengaja ya!" Gadis itu masih berjinjit. Mencebik kesal karena suami menyebalkannya itu malah diam tidak merespon.


"Yasudah pakai saja sendiri! " Serunya kesal seraya menyampirkan benda itu di pundak suaminya. Sudah akan berbalik, namun dengan cepat Arthur menahan pinggangnya.


"Baiklah, maaf. Pakaikan ini! " Ujar Arthur sembari memberikan dasi berwarna maroon itu pada istrinya. Jujur saja, beberapa hari ini selalu gadis itu yang memilihkan pakaiannya termasuk dasi. Jadinya, dia sudah terbiasa.


"Tidak mau! "

__ADS_1


"Harus mau! "


"Ish.. baiklah, tapi kau harus menunduk! " Arthur menurutinya. Lelaki itu sedikit menunduk agar Aisha dapat menggapainya.


"Selesai. " Aisha tersenyum senang ketika berhasil mengikatkan benda itu pada leher Arthur dengan sempurna.


"Terimakasih, kau akan berangkat juga kan?" Tanya Arthur yang diangguki istrinya.


"Kita berangkat bersama saja, nanti aku akan menjemputmu pulang. " Kata Arthur seraya mengambil tas kerjanya yang berada diatas ranjang.


"Okay. " Balas Aisha.


Mereka berdua berjalan beriringan menuruni anak tangga. Mengayunkan kaki mendekati meja makan. Disana sudah ada Rania, Rey dan Myara yang menunggu. Rania mengulas senyum kala melihat kedua orang itu semakin dekat setiap harinya. Tidak sia sia usaha dan doa yang ia panjatkan selama ini.


Di meja makan, rutinitas sarapan terlaksana seperti biasa. Semua orang makan dengan lahap. Myara yang meskipun masih canggung pun tetap mengambilkan nasi untuk pria yang sudah sah menjadi suaminya.


"Bagaimana malam pertama kalian? " Pertanyaan Rania yang meluncur tiba tiba, membuat Rey yang akan menyendokan makanan ke mulutnya berhenti seketika.


"Menurut aunty bagaimana? " Sahut Rey.


"Menurutku? Ah, aku sangat mengenalmu bule tengil! Kau pasti tidak melepaskan gadis cantik itu. " Goda Rania yang membuat Myara mengulas senyum singkatnya.


"Hmmm. " Hanya berdehem, lalu ia kembali melanjutkan makannya. Meja makan kembali hening sampai acara sarapan telah usai. Semua orang menjalankan aktivitas paginya seperti biasa. Arthur dan Aisha berada dalam mobil yang sama. Tadinya Myara ingin ikut, tapi Rey berkata bahwa ia yang akan mengantarkan istrinya itu.


Tak lama kemudian, mereka tiba di depan kampus Aisha.


"Tunggu! " Arthur mencekal tangan istrinya yang sudah akan pergi. "Ini map mu ketinggalan. Kau ini bagaimana! Katanya ini adalah tugas penting. "


"Oh yaampun.. aku lupa. Maaf, " Ujar Aisha lalu menyambar map itu dari tangan suaminya.


"Pulang jam berapa? " Tanyanya.


"Mungkin pukul empat sore, aku pergi ya dahh" Seru Aisha lalu bergegas melenggang pergi darisana. Arthur mengukir senyum menatap punggung istrinya yang berlari menjauh. Ia segera menghidupkan mesin mobil nya dan melesat menuju kantornya.

__ADS_1


__ADS_2