Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 40


__ADS_3

Di mansion utama, Aisha yang bosan hanya menunggu sang suami pulang. Sembari memberi makan para sahabat baiknya. Mengusir gelisah dengan mencoba bercanda ria dengan Leo dan Simmba. Mereka makan sangat lahap, semua daging ludes sudah berpindah ke perut. Entah mengapa, kedua hewan buas itu sudah seperti mengenali Aisha. Dari jarak jauh saja, jika Aisha terlihat mereka akan mengaum. Seolah memanggilnya untuk datang menjenguk dan bermain sejenak.


"Kau makan sangat lahap ya Simmba. Apa penjaga disini tidak memberikanmu makan yang teratur? " Bercengkerama seraya mengelus kepala Simmba. Leo yang kekenyangan sudah tepar berguling - guling di tanah.


Pelayan Lia dan beberapa pengawal nona tampak tergugu dengan pemandangan tak wajar yang mereka saksikan. Jika sebelumnya kedua pengawal itu hanya mendengar rumor saja, sekarang visualisasi nyata ada di depan mata. Nona Aisha benar benar berteman dengan singa.


Yang paling panik disini adalah Lia. Tangan sudah gemetar disertai keringat dingin yang bercucuran. Ia mer*mas tangannya dibawah sana. Daritadi sudah bimbang. Khawatir pada keselamatan nona baru mansion ini. Tapi jika mendekat, ia takut diterkam singa. Alhasil, dia terpaku sekitar dua meter dari kandang.


"Kenapa, kau merindukanku ya? " Simmba yang manja mengendus - endus kakinya. Mirip seorang anak yang mendambakan kasih sayang ibunya.


"Simmba, main sana dengan Leo. Aku mau ke kamar dulu ya? " Mengelus puncak kepala hewan itu sekali lagi. Para pengawal hanya dapat menelan ludah. Jika mereka yang memberi makan, singa - singa itu akan mengaum marah seolah siap menerkam. Harus perlahan - lahan dan hati - hati ketika melakukannya. Tapi nona Aisha...


"Nona, silahkan kedalam. Kami akan mengurus peliharaan nona dengan baik disini" Salah satu pria berotot kekar meyakinkan. Bahwa mereka akan menjaga mereka seperti menjaga nyawa.


"Baiklah " Menatap pria itu sejenak, lalu beralih menatap kedua karnivora yang dinilainya sangat manis itu.


"Kalian baik baik ya, aku pergi dahh " Melambaikan telapak tangan lalu berbalik. Melangkah menuju ke dalam mansion.


Hari yang mulai siang, matahari mulai naik diatas kepala. Para penjaga masih setia siaga di sekeliling mansion. Seolah bersiap apabila ada serangan datang.


Para pelayan nampak masih berkutat dengan pekerjaan masing masing.


Aisha hanya bisa duduk bersila didepan televisi. Menonton drama india terbaru yang ia gemari. Tapi sepertinya malah tv yang menontonnya.


Gadis itu terlihat cemas. Pikiran berkelana kemana - mana. Berkecamuk memikirkan kemungkinan terburuk.


Dia hanya mampu bertopang dagu dengan mata tak tentu arahnya kemana. Melihat kedepan iya, tapi tidak melihat televisi juga. Tenggelam dalam dunia bawah sadarnya.


Salah seorang pelayan wanita datang dari arah dapur. Membawa nampan berisikan buah, camilan dan jus. Meletakkan dengan hati - hati di meja depan nonanya.


"Nona, silahkan dinikmati " Sudah berbalik, namun karena tidak ada sahutan ia kembali menoleh sejenak.

__ADS_1


Aisha tampak tenggelam dalam lamunan.


"Nona " Panggil wanita itu sekali lagi.


Tidak ada sahutan. " Nona silakan dimakan, nona belum makan apapun dari tadi. Ini sudah jam makan siang "


Perempuan itu bangkit dari lamunannya setelah mendengar suara pelayan.


"Ah ya, nanti aku makan" Jawabnya kemudian. Merapikan anak rambut ke belakang telinga. Lalu menatap camilan yang dibawa padanya.


"Tunggu! " Cekal Aisha. Sang pelayan berbalik lagi. Hanya menunduk tanpa bertanya ada apa.


"Bisa tolong panggilkan Lia? " Jujur saja hanya Lia yang mudah akrab dengannya. Pelayan lain tampak menutup diri rapat - rapat saat di dekati. Seolah menghindari marabahaya yang menghadang.


Dan jujur, Aisha butuh telinga untuk mendengar kegelisahan yang tengah melanda.


"Baik nona, saya permisi " Menganggukan kepala. Lalu berbalik menuju bagian belakang tempat para pelayan tinggal.


10 menit kemudian, Lia datang dengan tergopoh - gopoh. Merasa tak enak hati pada nona karena terlambat memenuhi panggilan


Gadis itu menoleh, menepuk sofa di sebelahnya " Duduklah disini Lia "


Lia menggeleng cepat. Melirik para pelayan yang tengah sibuk di dapur. Dia merasa tidak enak hati. Apalagi memberanikan diri duduk disamping nona muda


"Tidak nona, saya berdiri saja. Anda butuh sesuatu? "


"Tidak, aku ingin kau duduk disini " Pinta Aisha dengan sorot mata penuh harap.


"Tapi saya tidak enak dengan pelayan yang lain nona. Bagaimana kalau saya duduk dibawah saja " Masih berusaha menghindar dari perintah Aisha.


Aisha memasang wajah imutnya. Membuat siapa saja tidak akan mampu berkutik " Aku mohon Lia, aku sangat cemas sekarang. "

__ADS_1


Mendengar kata cemas, Lia ikut khawatir. Dia tahu pasti nona memikirkan tuan Arthur, pikirnya.


"Baik nona " Akhirnya menurut. Daripada masalah tambah runyam nantinya. Ia mengambil jarak agak berjauhan dari Aisha. Cukup tahu diri bahwa ia hanyalah pelayan.


"Ada apa nona? " Dari gurat wajahnya nona benar - benar khawatir. Wajahnya tegang tidak riang seperti biasa. Bahkan sajian makanan di meja sama sekali belum disentuhnya.


"Lia, aku sangat khawatir " Entah khawatir memikirkan Arthur, kakaknya, atau sang ayah. Dia juga tidak paham pada hati sendiri. Yang jelas saat ini dia khawatir. Jangan sampai terjadi hal buruk pada siapapun.


"Nona pasti mencemaskan tuan muda ya? " Tebak Lia.


Aisha mengambil napas dalam, ruangan ini serasa minim oksigen saja "Aku tidak tahu Lia, yang jelas aku khawatir sekali "


Tangan saling bertautan dibawah sana. Rasa lapar telah enyah entah kemana. Rasanya saat ini yang ia idamkan adalah ikut ambil bagian. Paling tidak ada disana untuk memastikan keadaan.


Jika dia kaburpun, para pengawal pasti akan menangkapnyakan.


"Nona tenang saja, tuan muda adalah orang yang hebat. Saya yakin beliau tidak akan kenapa - napa nanti " Lia berupaya menenangkan hati nonanya. Paham betul apa yang dia rasakan.


"Semoga saja " Hanya bisa memanjatkan doa tulus dalam hati.


Aku tidak tahu aku mencemaskan siapa. Pokoknya aku cemas pada semuanya. Aku hanya ingin baik Regdator maupun GE pulang dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun.


Gelisah dalam hatinya mulai surut saat berbincang dengan Lia. Benar, dia hanya butuh teman bicara untuk mengalihkan perhatiannya saat ini. Lia terus menceritakan tentang Arthur. Apa yang pelayan itu dapat dari ibunya yang merupakan senior di mansion ini.


"Ibu saya dulu sangat dekat dengan tuan. Ibu saya tahu apa yang disukai dan tidak disukai oleh tuan nona. " Kalimat penutup mengakhiri ceritanya. Dia telah mengatakan segalanya yang ia tahu.


"Jadi aku sudah tidak punya mertua? " Lia juga kelepasan mengatakan tentang Arthur yang telah menjadi yatim piatu sedari kecil dulu.


"Maaf nona, itu benar " Mulut oh mulut... kalau sudah bicara kau seperti diluar kendaliku ya. Bagaimana kau bisa membeberkan pada nona!


"Lia ceritakan sesuatu lagi " Ingin sekali ia tahu lebih dalam tentang latar belakang Arthur. Bagaimana ia tumbuh, siapa yang merawatnya, dan bagaimana dia bisa sedingin itu.

__ADS_1


Baru akan membuka mulut, tapi Lia mengatupkan bibir saat melihat beberapa pengawal berlarian. Sebagian dari mereka dikerahkan ke lokasi pertempuran. Sebagian yang lain masih ditugaskan disini. Mereka terlihat hilir mudik kesana kemari menenteng senjata masing - masing.


Bersambung....


__ADS_2