
Hari ini adalah hari Senin, hari dimana jadwal Arthur kian padat. Sekretarisnya sudah mengatur jadwalnya seharian dan ia akan pulang malam.
Jangan ditanya lelah atau tidak menjadi pengusaha yang punya banyak bisnis sepertinya, tentu saja ia sangat lelah dan ingin menghabiskan waktu lebih bersama keluarga. Tapi apa boleh buat, ini adalah takdir yang sudah digariskan padanya.
"Arthur!" Disaat Arthur menuruni tangga seraya mengaitkan tali jam tangannya, suara yang tak asing menyapanya. Dan saat ia menoleh kebawah tangga, tampak Wilhelmina dengan senyum lebar. Lelaki itu sedikit terkejut, Wilhelmina masih mengenakan seragam pelayan, tapi perempuan itu mengganti gaya rambutnya. Persis seperti saat mereka masih menjalin hubungan dulu.
"Hmm.. ada apa?" Sahutnya sambil berdehem menormalkan raut wajahnya.
"Tidak ada apapun, hanya ingin memberitahu kalau aku sudah menyiapkan sarapan lebih awal dari biasanya. Karena aku tahu kau akan berangkat lebih pagi pada hari Senin kan, dan kau akan pulang malam jadi aku sekalian membekalkan makan siang untukmu." Tunjuknya pada kotak makanan diatas meja.
"Ayo sarapanlah dulu." Sambungnya lagi.
Lagi lagi pria itu tak habis pikir, tapi pria itu tak acuh dan mendudukan tubuhnya di kursi. Tak dapat dipungkiri perutnya sudah meronta minta diisi makanan sejak malam. Sebab Arthur akhir - akhir ini mengabaikan pola makan kalau Aisha tak mengingatkan.
Berbeda dengan pria itu yang tak acuh, Aisha yang tanpa sengaja menyaksikan percakapan mereka saat akan menuruni anak tangga masih berdiam di tempat. Rasa cemburu itu menyeruak. Kenapa sekarang Wilhelmina bertindak seolah - olah ia adalah istri sah Arthur padahal ia hanya pelayan dirumah ini.
Dan apa itu, dia benar - benar mengubah penampilannya yang Aisha yakini untuk menggoda suaminya.
Entahlah, hormon hamil muda membuatnya selalu negatif thinking pada orang lain.
"Sayang..." Suara Aisha mendayu menyapa suaminya sembari menuruni anak tangga terakhir. Menampilkan senyum lebar lalu mengecup salah satu pipi sang suami.
"Selamat pagi!" Lanjut Aisha.
"Pagi sayang, kenapa bangun pagi sekali?" Tanya pria itu seraya membalas kecupan istrinya. Bukan di pipi tapi di bibir, yang tanpa sadar mengobarkan hawa panas di dada Wilhelmina.
"Kau mandi pagi sekali tadi, aku jadi bangun karena tidak ada yang memelukku." Balasnya tersenyum manis.
"Maaf, ada banyak hal yang harus aku urus pagi ini. Dan mungkin aku akan pulang malam, kau tidak papa kan?"
"Dan aku juga harus mengurus tes DNA Devan." Lanjutnya dalam hati. Arthur sudah memutuskan akan melakukan tes DNA pada Devan untuk menemukan fakta yang sebenarnya. Wilhelmina sebetulnya agak keberatan dengan dalih Dev masih kecil dan dia akan banyak bertanya, tapi akhirnya ia terpaksa menyetujuinya.
"Tidak apa, aku bisa mengerti suamiku adalah orang yang sangat sibuk." Aisha tak menyurutnya senyum cantiknya yang membuat Arthur tersentuh.
__ADS_1
Istrinya sangat pengertian, bagaimana kalau Devan benar - benar anak kandungnya. Sedangkan dia sudah berjanji akan bertanggung jawab pada Devan kalau itu benar. Lalu bagaimana bisa dia menjelaskan semuanya pada Aisha. Pria itu sangat takut Aisha akan meninggalkan dirinya, dia takut patah hati untuk yang kedua kali.
"Sok manis sekali dia ini, lihat saja apa yang akan terjadi nanti!". Gumam Wilhelmina dalam hati.
***
"Aku tidak sabar melihat wajahnya nanti saat turun." Wilhelmina senyum - senyum sendiri. Seraya tangannya sibuk mengelap meja. Di ruangan ini dia ditugaskan sendiri.
Prang!!
Tubuh wanita itu terlonjak saat suara pecahan gelas yang membentur lantai terdengar nyaring memenuhi penjuru ruangan. Netranya membulat saat melihat Nyonya rumah ini yang tengah menatap nyalang padanya.
"Sudah cukup aku bersabar denganmu!" Sentak Aisha menggelegar. Bahkan beberapakali pelayan lain yang kebetulan sedang membersihkan ruangan disekitar ikut mengintip tanpa berani mendekat.
"A-aku.." Wilhelmina tersenyum. "Apa yang kau maksud nyonya Aisha? Aku sama sekali tidak mengerti perkataanmu. Dan apa katamu tadi, apa kau tahu siapa aku?" Senyum licik melekat di bibirnya. Ia akan membongkar jati dirinya sekarang bahwa ia adalah mantan kekasih Arthur, cinta pertama pria itu yang membuat Arthur trauma bertahun - tahun.
"Ya tentu saja aku tahu, Wilhelmina." Ujar Aisha. Sontak membuat Wilhelmina terhenyak, perempuan ini tahu siapa dia sebenarnya. Apa Arthur sudah mengatakan semuanya?
Namun perempuan yang masih mengenakan seragam pelayan itu hanya tersenyum devil, penuh percaya diri.
"Untuk apa suamiku menceritakan tentang orang yang bahkan ingin ia hapus dari ingatannya? Dia tidak pernah bercerita apapun, ya mungkin dia sudah lupa." Aisha semakin mengikis jarak. Tatapan matanya datar.
"Wilhelmina Minaj, mantan Arthur Anderson yang tertangkap basah bersama orang lain di kamar saat akan melangsungkan pernikahan.Lalu seminggu setelahnya kau menikah dengan John Minaj dan dinyatakan hamil anak laki - laki.Beberapa tahun berikutnya kau kembali melahirkan anak perempuan. Kehidupan pernikahanmu berjalan sangat buruk bahkan suamimu selalu membawa wanita lain kerumah. Kau kabur lalu bekerja pada seorang pengusaha dan bersembunyi disana. Lalu aku menolongmu dan dengan liciknya kau ingin merebut suami orang lain dari istri sahnya. Dan yang lebih menjijikan lagi, kau membuat lelucon kalau Devan adalah anak suamiku."
Pernyataan panjang lebar yang diutarakan wanita di depannya membuat Wilhelmina hanya bisa mematung. Perempuan di depannya ini tak bisa diremehkan, bahkan Aisha tahu dengan detail apa yang terjadi padanya selama ini. Sebenarnya siapa wanita ini?
Saat pertama kali bertemu, ia menilai Aisha sebagai wanita lembut dan polos yang hatinya mudah iba pada orang lain. Namun sekarang ia seakan melihat orang yang berbeda.
"Ya! Aku memang ingin mengambil Arthur darimu!! Kau tahu alasannya kenapa? Karena aku sudah putus asa Aisha! Aku tidak tahu dimana lagi aku harus berlindung bersama kedua anakku. Bahkan mantan suamiku sudah kabur dari penjara. Aku terlalu lemah untuk melindungi mereka berdua. Tahukah kau betapa menderitanya aku selama ini?! Aku sanggup menerima segala siksaan, bahkan matipun aku sanggup, tapi aku tidak sanggup kehilangan mereka. John ingin merebut Devan dan Krystal dariku, bisa kau bayangkan betapa hancurnya aku kalau itu sampai terjadi." Wilhelmina berlinang air mata saat akhirnya mengeluarkan uneg - uneg yang mengganjal di hatinya selama ini.
Ia ingin dekat dengan Arthur lagi bukan semata mata karena cinta, atau bahkan harta dan kekuasaan Arthur seperti dulu.Dia hanya membutuhkan Arthur sebagai dinding yang kokoh untuknya dan kedua buah hatinya berlindung dari segala bahaya yang diciptakan mantan suaminya sendiri.Wilhelmina hanya takut, takut tak dapat menjaga Devan dan adiknya.
Amarah yang tadinya meluap - luap di dada Aisha sedikit tenang, saat mendengar penuturan wanita di depannya.
__ADS_1
Sekarang ia malah prihatin, Aisha tahu kondisi Wilhelmina selama ini yang selalu diperlakukan bak binatang selama pernikahannya. Selalu terpenjara. Kemalangan terus menimpa wanita itu, mungkin itu adalah karma atas kerakusannya di masa lalu dulu. Tapi bukan berarti sekarang dia bisa kembali seenaknya disaat Arthur sudah memiliki kehidupan yang lain.
"Aku tahu penderitaanmu selama ini Wilhelmina, tapi bukan berarti kau bisa berlaku egois dan seenaknya seperti ini!"
Perempuan itu mengusap air matanya yang tak henti berhamburan. "Aku berhak melakukannya karena Arthur punya tanggung jawab pada Devan!"
"Kalau kau begitu yakin, mari lakukan tes DNA. Aku tidak bisa percaya hanya dengan kata - katamu saja, perlu bukti yang kuat. " Seru Aisha
"Dan kalau benar Devan anak Arthur?" Wilhelmina bertanya dengan nada sendu penuh harapan.
"Maka kita tunggu keputusan apa yang akan diambil suamiku. Apa yang akan dia lakukan selanjutnya, itu semua hak Arthur untuk memutuskan. Yang jelas aku tidak ingin berbagi suami dengan siapapun. Kalau itu benar, maka Arthur lah yang harus memilih."
"Kau sangat egois! Tentu saja Arthur akan memilihmu! Apa kau tidak bisa mengerti sedikit saja perasaanku sebagai seorang ibu?!" Sentak Wilhelmina dengan nada tinggi.
"Perasaanmu sebagai seorang ibu?! Aku bahkan meragukanmu sebagai ibu yang baik. Bagaimana bisa seorang ibu ingin menghancurkan perasaan ibu yang lain. Apa kau tahu, obat yang kau campurkan pada minumanku itu, bagaimana kalau itu sampai berdampak pada bayiku?!!" Kemurkaan kembali mendominasi Aisha ketika ia ingat bahwa Wilhelmina mencoba mencelakainya.
"A-apa! Jadi kau sedang hamil?" Membekap mulutnya sendiri. Ada rasa bersalah yang melingkupi hati nurani perempuan itu. Dia tak berniat mencelakai bayi yang ada dalam perut Aisha. Walaupun ia tidak menyukai wanita di depannya, tapi Wilhelmina tahu bagaimana rasanya jauh dari anak apalagi sampai kehilangannya. Rasanya sangat menyakitkan.
Obat yang ia campurkan pada jus Aisha hanyalah obat laksatif atau obat pencahar.
Efeknya mungkin akan menyebabkan wanita itu bolak - balik ke kamar mandi. Ia melakukan itu sebatas kesal, karena Aisha selalu memamerkan kemesraan di depannya.
"Kau bahkan tidak tahu kalau kehamilanku bermasalah, dan aku harus ekstra hati - hati menjaga janin ini." Gumamnya dalam hati.
"Ya dan kau tidak suka aku hamil makanya kau mencampurkan sesuatu pada jus ku kan?" Aisha teringat saat salah satu pelayan berkata padanya bahwa ia melihat Wilhelmina mencampurkan sesuatu di minuman yang akan ia minum. Seketika emosinya meledak. Aisha mengira Wilhelmina sudah tahu ia hamil dan berusaha menggugurkan janinnya. Sedangkan ia sendiri mati - matian menjaganya dengan menuruti saran dokter bahkan Aisha menunda pendidikannya sampai ia melahirkan.
"Aku tidak pernah tahu kalau kau hamil, kalau aku tahu aku tidak akan melakukan itu! Lagipula itu hanya obat pencahar!" Sahut Wilhelmina. Ia bersumpah kalau tahu sebelumnya bahwa Aisha hamil, maka ia tak akan melakukan hal bodoh itu.
Dan saat Aisha akan menyahut, suara ponsel Wilhelmina berdering. Mengalihkan perhatian keduanya. Wilhelmina sejenak diam lalu merogoh sakunya meraih benda pipih tersebut. Nomor tidak dikenal, tapi karena penasaran akhirnya ia menggeser ikon hijau di layar.
"Maaf apa benar ini orang tua Devan? Kami pihak sekolah hanya ingin mengabarkan kalau anak anda hilang sejak jam istirahat kedua."
Ponsel di genggamannya seketika terjatuh, Wilhelmina sangat terkejut. Hingga tanpa menyahut atau bicara pada Aisha ia berlari begitu saja keluar dari rumah. Satu tujuannya saat ini, sekolah. Pikiran buruk mulai menghantuinya, takut kalau - kalau ternyata Devan dibawa oleh John dan ia tak akan bisa bertemu putranya untuk selamanya.
__ADS_1
Dahi Aisha mengkerut, rasa penasaran akhirnya mendorongnya memungut ponsel Wilhelmina yang setengah retak pada bagian layar. Namun panggilan masih tersambung. Ia bertanya pada si penelpon hal yang yang membuat Wilhelmina sampai lari terbirit-birit seperti tadi.