Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 78


__ADS_3

"Arthur! " Aisha yang kaget reflek menggerakan kakinya hingga tanpa sengaja mengenai milik Arthur dengan keras.


"Shit! " Umpat Arthur, berbaring di sebelah istrinya seraya memegang miliknya yang baru saja terkena tendangan maut.


"Maaf, maaf aku tidak sengaja! " Ujar Aisha dengan rasa bersalahnya.


"Kau ini tidak kira kira ya! Bagaimana kalau nanti patah! " Sungut Arthur kesal.


"Salahmu sendiri! " Aisha memegang selimutnya agar tidak merosot. Mendudukan tubuhnya, saat ia akan menurunkan kakinya, rasa perih yang teramat sangat membuatnya meringis.


"Kau kenapa? " Tanya Arthur. Ya maklum sajalah, dia tidak pernah melihat perempuan yang baru saja kehilangan kevirginannya.


"Tidak papa, " Arthur segera turun dan menggendong tubuh istrinya ala bridal style. Aisha meronta seraya memukul dada bidang suaminya. Baginya yang masih belum terbiasa, hal ini sangat memalukan.


"Kau gila! Aku bisa jalan sendiri! "


"Kalau kau jalan sendiri, besok baru kau akan mandi! " Ujar Arthur. Mengingat ukuran kamar utama di villa itu sangat luas. Sehingga jaraknya dengan kamar mandi lumayan jauh. Mendengar ucapan suaminya, Aisha hanya terdiam dan menundukan wajahnya malu. Bagaimanapun juga itu memang benar, ia mungkin akan tertatih tatih menuju bathroom apabila pria itu tak membantunya.


Arthur menurunkan tubuh itu di dalam bak mandi dengan hati hati. Menyalakan keran air hangat dan menambahkan beberapa tetes sabun cair dan aroma terapi.


"Kenapa masih disini! " Tanya Aisha yang merasa tak nyaman ketika Arthur masih berdiri dengan memerhatikannya. Terlebih, pria itu tak memakai sehelai benangpun.


"Tentu saja menemanimu, siapa tahu nanti kau akan tenggelam dalam bath up, kan aku juga yang susah!" Arthur terkekeh ringan. Aisha mendelik tajam padanya.


"Kau pikir aku semut yang akan tenggelam! Sudah keluarlah sana! " Usir Aisha. Arthur hanya mencebikan bibirnya kesal dan melenggang pergi dari kamar mandi. Pria itu memilih mandi di dalam kamar mandi yang ada di lantai bawah.


***


Aisha yang telah menyelesaikan segala ritual mandinya, keluar dari kamar mandi dangan mengenakan bathrobe. Dirinya terkejut ketika mengetahui suaminya sudah duduk santai diatas sofa. Melihat istrinya keluar, pria itu menghampiri Aisha seraya menenteng sebuah paper bag di tangannya.

__ADS_1


"Ini. " Menyodorkan benda itu ke hadapan Aisha. Gadis itu menerimanya dan mengerutkan dahinya heran.


"Apa ini? " Tanya Aisha.


"Roti! Tentu saja pakaian, memangnya kau mau keluar dengan memakai jubah mandi?" Seru Arthur. Aisha hanya mengangguk pelan, segera ia mengayunkan kakinya menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.


***


Aisha dan Arthur telah tiba di mansion mereka. Sambutan hangat namun penuh dengan cecaran pertanyaan dilakukan aunty Rania.


"Kemana kalian semalam? Kenapa tidak pulang? Menginap dimana? Apa ada masalah? " Rania memberondong mereka dengan banyak pertanyaan. Rey dan Myara yang juga ada di ruang tamu hanya memandang dengan tatapan bertanya.


Arthur membenahi posisi duduknya. "Kalian ini kenapa sih? Seperti kami habis melakukan perang saja. Aku ada urusan semalam, iya kan? " Arthur menaikan satu alisnya dan menyenggol lengan istrinya. Aisha hanya menggerutu kesal tanpa suara.


"Oh ya? Urusan apa? " Rania mulai menangkap arah pembicaraan dengan menilik raut wajah keponakannya yang dipenuhi senyum merekah. Sebuah senyuman yang mencerminkan kebahagiaan.


"Aunty, aku akan ke kamar dulu. " Pamit Aisha yang sudah bangkit dari duduknya. Daripada berlama lama disini, yang ada pipinya akan berubah menjadi tomat matang karena malu.


Dan benar saja, pipi Aisha kini merah merona, semerah tomat yang sedang masak. Semua yang berada disana terkejut melihat adegan di depannya. Terlebih lagi Rania yang sudah bersiul pada mereka.


Aisha menjauhkan tubuhnya, " Kenapa tertawa! Tidak ada yang lucu disini! " Seru Aisha kesal terutama pada Rey yang tengah menahan senyum melihat mereka. Gadis itu dengan cepat melangkahkan kakinya menuju lantai atas.


***


Arthur yang baru saja masuk kedalam kamar, menutup pintu dengan perlahan tanpa menimbulkan suara. Manik matanya tak sengaja menangkap Aisha yang baru saja keluar dari kamar mandi. Hanya menggunakan lilitan handuk di tubuhnya. Membuat Arthur menelan salivanya dengan susah payah. Pria itu menatap miliknya yang sudah mengeras dibawah sana. Hasratnya yang kembali bangkit, membuatnya ingin sekali mencumbu istrinya sekali lagi. Perlahan langkah kakinya mendekati Aisha yang tengah mencari sisirnya yang hilang entah kemana.Saking fokusnya, bahkan ia tak menyadari bahwa kini Arthur sudah berada tepat di belakang tubuhnya. Memeluk perutnya erat, hingga membuat Aisha terlonjak kaget.


"Yaampun! Kau sungguh mengagetkanku!" Seru Aisha dengan kesal. Arthur tak menyahut, ia menyandarkan dagunya pada bahu putuh mulus itu, mengendus aroma wangi dari tubuh istrinya yang sudah bagaikan candu.


"Arthur lepaskan! " Aisha mencoba melepaskan tangan Arthur yang melingkar sempurna diatas perutnya.

__ADS_1


"Kenapa? Kau yang sengaja menggodaku. " Ujarnya dengan suara yang mulai memberat. Hidungnya mulai mengendus leher putih istrinya. Bahkan terpaan napas Arthur yang sudah memburu dapat Aisha rasakan. Gadis itu menatap mata suaminya yang sudah ditutup kabut gairah lewat cermin besar di depannya.


"Siapa yang menggodamu! " Sahut Aisha.


"Kau baru saja mandi tadi, lalu sekarang mandi lagi, keluar tidak menggunakan hanya memakai handuk. Apa namanya jika bukan menggoda? " Balas Arthur seraya mencium pipi istrinya. Aisha menghembuskan napasnya kasar, kenapa setiap perbuatannya selalu diartikan Arthur dengan salah.


"Hey es balok, siapa yang menggodamu! Aku itu mandi lagi karena --" Ucapan Aisha terpotong karena Arthur yang tiba tiba membalikan tubuhnya secepat kilat. Membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman panas. Sangat lama, bahkan Aisha sampai kehabisan napas dibuatnya. Merasa kehabisan pasokan oksigen, gadis itu sengaja menggigit bibir Arthur.


"Damn! " Arthur melepaskan pagutannya.


"Kau ingin membunuhku! " Seru Aisha kesal. Arthur hanya tersenyum dan kembali melumaat bibirnya. Sedikit lebih menuntut dari yang pertama mereka lakukan, hingga ia menuntun istrinya menuju ranjang.


"Arthur tungg--" Aisha hendak mencegah Arthur yang sudah akan menindihnya. Namun pria itu tak memberi kesempatan baginya bicara, dan akhirnya mereka terhanyut dalam pagutan panas itu. Arthur menurunkan sedikit menurunkan handuk itu hingga terpampanglah sesuatu yang kian membakar gairahnya. Ia pun mulai melancarkan apa yang ia inginkan. Dan setelah lama melakukan foreplay, miliknya sudah benar benar memaksa agar segera menuntaskan kegiatan mereka. Dengan bibir yang masih saling bertautan, Arthur bersiap memasuki istrinya. Ketika ia meloloskan seluruh kain yang ada di tubuh istrinya.. alangkah terkejutnya dia.


"Apa ini? " Kernyit Arthur heran.


"Hehe, aku sedang datang bulan. " Cengir Aisha dengan wajah tanpa dosa. Arthur terkejut, lalu menjauhkan dirinya dan berbaring di sebelah istrinya.


Shit!. Benar benar tidak tahu keadaan. Cahaya bulan memang indah, tapi kali ini dia benar benar jahat. Gerutu Arthur kesal sambil memejamkan matanya. Kenapa juga disaat gairahnya sudah sangat membara, bulan harus datang menghampiri mereka. Dengan napas yang masih tersengal, Arthur melirik bagian bawahnya yang masih meronta minta keadilan.


Bulan sungguh tega pada kita...


Aisha menahan tawanya ketika melihat ekspresi suaminya. Tangannya digunakan untuk menumpu kepala, dada bidangnya juga masih naik turun tak beraturan. Bibir Arthur juga komat kamit entah berucap apa.


Aisha membalut tubuhnya dengan selimut, karena handuk yang tadi ia kenakan sudah teronggok mengenaskan di lantai. Melirik Arthur sebentar dan tersenyum tipis.


"Makanya, terapkanlah kebiasaan mendengarkan penjelasan orang terlebih dahulu! " Ujar Aisha yang kian membuat Arthur menggerutu kesal.


"Tunggu saja nanti, aku akan membuatnya memohon agar aku berhenti! " Ancam Arthur yang sama sekali tak mengintimidasi istrinya. Aisha malah tertawa mendengarnya. Namun sesaat kemudian, wajahnya berubah menjadi serius.

__ADS_1


"Arthur, setelah ini, ada yang ingin aku bicarakan denganmu. " Ujar Aisha lalu segera bangkit berdiri. Menuju walk in closet untuk memakai pakaiannya.


__ADS_2