Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 51


__ADS_3

15 tahun silam...


Malam itu kesunyian menyapa mansion Fernandez. Beberapa pengawal berjaga di sekeliling bangunan itu. Sunyi, hanya ada bunyi suara belalang yang saling bersahutan memainkan iramanya.


Para pelayan juga sudah kembali ke bagian belakang, hanya ada beberapa yang tersisa di dalam. Johan dan para anak laki - lakinya tengah menghadiri undangan ke Rusia. Tepatnya rapat keluarga di rumah orang tua Alina. Ya, Alina adalah gadis keturunan Rusia yang rupawan. Dikarenakan Aisha yang kurang enak badan, maka Alina terpaksa ditinggal disini untuk menjaganya.


Mereka bersama di dalam kamar, Aisha sudah agak mendingan karena minum obat tadi. Saat ini, Alina mengisahkan dongeng putri kerajaan yang amat digemari putrinya. Setiap malam anak manis itu akan merengek demi mendapatkan kelanjutan cerita Alina. Tanpa tahu bahwa kala itu adalah dongeng terakhir bagi Aisha.


"Sudah ya, Aisha harus tidur sekarang.. " Suara lembut penuh naluri keibuan yang selalu terlontar dari bibir Alina. Ia mengusap surai indah putrinya, mengecupnya lembut.


"Ibu.. " Rengek Aisha.


"Ada apa sayang, kau ingin sesuatu? Katakan saja. " Ujar Alina.


"Aku ingin sekali makan sate ayam yang ada di pinggir perempatan itu. " Pinta Aisha lagi. Sang ibu pun menimbang sejenak keinginan putrinya. Ini sudah malam, jam menunjukan pukul 10 malam. Namun biasanya tukang sate akan buka sampai larut, pikir Alina. Ia akan menyuruh pengawal, tapi karena rasa tidak teganya Alina mengurungkan niatnya. Para pengawal sudah bekerja keras dari siang. Akhirnya wanita itu memutuskan untuk membeli sendiri.


Tidak apalah, lagipula aku bisa beladiri juga. Organisasi juga sedang kondusif, aku rasa aman kalau aku keluar. Batin Alina.


Dibelainya lembut kepala putrinya, demamnya sudah turun rupanya. "Baiklah, ibu akan pergi membelinya sebentar. Aisha tunggu disini dulu ya. "


Anak itu menggeleng polos, lalu kembali dalam pelukan ibunya. Mendekapnya erat seperti takut kehilangan. Mungkin itu adalah pelukan perpisahan mereka.


"Aisha ikut ya.. " Ucapnya dengan wajah menggemaskan. Alina yang gemas mencubit hidungnya sekilas.


"Tidak, putri ibu kan sedang sakit. Jadi kau harus tetap istirahat dirumah. Lagipula diluar sudah malam dan gelap sayang. "


"Tapi aku tidak takut gelap. Aisha kan mau jadi pemberani seperti ibu. Aku tidak takut gelap bu. "


"Lagipula Aisha ingin makan sate disana. Boleh ya? " Sambungnya lagi. Bergelayut manja di lengan Alina. Membuat wanita itu tidak tega dan akhirnya mengangguk setuju.


Mereka menuruni tangga dengan jari yang bertautan. Para pelayan sudah membubarkan diri ke tempat tinggal mereka di bagian belakang. Sampai pada pintu utama, salah satu pengawal mencekal langkah keduanya.


"Maaf nyonya, anda mau kemana? " Tanya salah satu pengawal menyelidik.


"Kami akan membeli sate di perempatan sana. " Ujar Alina.


"Biarkan saya saja nyonya, anda silahkan menunggu di dalam. " Dari tadi tuan Johan sudah mewanti - wanti, bahwa selama ia pergi, keselamatan Alina dan putrinya adalah yang utama. Jika sampai mereka terluka, maka tamatlah riwayatnya.


"Tapi kami ingin makan disana pak. " Wanita itu melirik putrinya. " Benarkan sayang? " Aisha tersenyum dan mengangguk.


"Tapi nyonya- "


"Kalau kau khawatir, kau bisa ikut dengan kami. Lagipula tidak jauh dari sini kok, hanya 100 meter. " 100 meter bagi Alina tidaklah jauh. Lagipula lampu sekeliling jalan juga berpendar menyinari jalanan yang gelap.


"Tapi tidak ada mobil nyonya. Beberapa mobil dibawa tuan, beberapa di servis dan yang lain dibawa para pengawal ke markas. "


"Kalau begitu ayo jalan kaki, tidak jauh kok. Kau bisa mengajak temanmu kalau mau. " Sudah melenggang pergi tanpa menunggu jawaban dari pria tadi.


Mereka berdua berjalan kaki menuju penjual sate di perempatan jalan. Kedua pengawal mengekor di belakang, siaga dengan senjata di saku celananya. Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di tempat tujuan. Gerobak sate yang sangat ramai. Saat hujan saja, orang rela membawa payungnya hanya untuk menuju tempat ini. Tempat ini memang telah lama menjadi incaran masyarakat. Selain rasanya enak, penjual ramah dan harga pun cukup terjangkau.


Alina memesan empat porsi untuk dimakan disini. Karena mereka datang paling akhir, dia pun terpaksa harus menunggu lama. Dia tidak ingin memanfaatkan kedudukannya dengan semena - mena.


Pesanan pun datang, wanita baik hati itu memanggil dua pengawal tadi agar ikut makan. Setelah perut kenyang dan makanan sudah dibayar, mereka pun kembali berjalan kaki menuju mansion Fernandez.


Aisha sangat senang, ia bersenandung ria sepanjang perjalanan. Bahkan dinginnya malam karena akan turun hujan tidak mengusiknya.


Hari mulai larut, jalanan pun sepi bagai tak berpenghuni. Seketika lampu jalan mati, bukan hanya itu, tapi seluruh listrik di kota ini sepertinya memang sudah mati atau sengaja dimatikan.


"Ibu, kenapa gelap? " Tanya Aisha.


"Tenanglah sayang, Aisha tidak takutkan? " Alina menyalakan senter dari ponselnya sebagai sumber penerangan. Dua pengawal di belakangnya juga berbuat sama.


"Tidak, aku tidak takut. " Ujarnya lagi. Rumah mereka masih agak jauh apabila ditempuh tanpa kendaraan.


"Nyonya, saya akan memanggil salah satu pengawal untuk menjemput kita. " Kata salah satu pria dibelakangnya.


"Tidak perlu, sedikit lagi juga sampai. "


Awalnya semua aman seperti yang dikatakan Alina, namun lima menit kemudian sesuatu tidak terduga terjadi. Rombongan mobil hitam bergerombol dari arah belakang.


Mereka berhenti tepat didepan mereka seolah memblokir jalan.


"Nyonya, anda berlarilah kami akan menghadapi mereka. " Kata salah satu pengawal.


"Tapi bagaimana jika- " Alina panik sendiri. Bukan apa - apa, hanya saja saat ini ia membawa anaknya. Jikalau hanya ia sendiri, ia pasti akan membombardir mereka dengan tangkasnya.

__ADS_1


"Cepat nyonya! "


"Baiklah " Mengangguk, lalu ia menggenggam tangan putrinya yang sedang kebingungan disana. "Ayo Sha, kau tidak boleh takut. Ayo sayang. "


Alina melawan beberapa orang dengan tangan kosong, ia menyembunyikan anaknya dibalik punggung. Dia berhasil melumpuhkan lima orang sendirian, lalu ia segera menyambar tangan putrinya dan membawanya lari sejauh mungkin. Tidak terbesit dalam pikirannya bahwa semua akan serunyam ini, itu karena selama dua bulan terakhir kondisi organisasi baik - baik saja. Tidak ada satupun musuh yang menyerang.


Ibu dan anak itu berlari sekuat tenaga menuju mansion mereka.


"Ibu kakiku sakit.. " Lirih Aisha sembari menahan rasa nyeri di kakinya akibat tersandung tadi.


"Sini, ayo nak. Kita pasti bisa, ibu akan menelpon ayahmu nanti. " Menggendong anaknya lalu kembali berlari sekuat tenaga. Alina dapat merasakan, bahwa di belakang mereka ada para pria yang mengejar. Ia pun kian mempercepat laju larinya.


Setelah sampai pada mansion, ia sesegera mungkin masuk kesana. Para pengawal menghampiri dan panik melihat nyonya mereka berlari sembari menggendong putrinya.


"Ada apa nyonya? " Tanya salah satu dari mereka yang kebetulan sedang berjaga.


"Ada yang mengejar kami. Tolong kerahkan para pengawal yang tersisa, aku akan mencoba menghubungi suamiku. " Alina langsung masuk kedalam untuk mengamankan Aisha. Tidak peduli apa yang akan terjadi padanya, keselamatan putrinya lah yang paling utama bagi seorang ibu sepertinya.


Sedangkan pengawal tadi dengan cepat menyebarkan berita serangan dadakan ini. Sebenarnya ia sedikit ragu, karena sebagian anggota dikirim ke markas utama untuk mengadakan rapat yang dipimpin oleh Jack. Disini hanya tersisa beberapa orang saja. Namun ia menepis pikiran negatifnya, sesegera mungkin ia meraih pistol di ruang senjata.


Rombongan mafia Esponder sudah menerobos sistem keamanan. Mereka berhasil masuk tanpa menimbulkan banyak suara. Dan terjadilah aksi pergulatan diantara mereka. Pither yang berada dalam mobil menyeringai tipis, strateginya berjalan mulus tanpa cela. Dengan berpura - pura mengalah selama beberapa saat, lalu ia memanfaatkan momen kepergian Johan ke Rusia. Pria itu turun dari kendaraan dan berjalan dengan santai memasuki pintu mansion. Tujuannya hanya satu, Alina.


Sementara itu di dalam kamar, Alina menyembunyikan putrinya di dalam kolong tempat tidur. Mengelus dan mengecup berulang kepalanya.


"Sha, berjanjilah apapun yang terjadi jangan keluar darisini sebelum ayah datang. Jangan menimbulkan suara ataupun menunjukan keberadaanmu. Janji? " Aisha kecil mengangguk patuh, lalu menautkan jari kelingkingnya dengan ibunya. Alina menciumnya sekali lagi lalu membuka laci. Ia sedikit kesulitan mencari pistol yang biasa disimpan suaminya disana karena hanya mengenakan cahaya dari lampu ponselnya saja. Dan sialnya, tidak ada pistol apapun disana. Mungkin saja lupa menaruhnya dimana.


Tak lama kemudian, pintu di dobrak dengan kerasnya. Menampilkan sosok manusia sadis disana. Alina menoleh, menatap tajam pada siapa yang datang.


"Hai manis! " Perlahan ia mendekat, salah satu anggotanya menyalakan cahaya dari ponsel. Membuat ruangan ini sedikit temaram.


"Mau apa kau kesini? " Ucapnya datar.


"Aku ingin menjemputmu, ikutlah denganku dan jadilah pendamping hidupku. "


"Pria gila! Aku sudah menikah bahkan memiliki enam anak bodoh!! " Umpatnya kasar. Sudah muak dengan tingkah Pither yang kelewat batas, padahal dia sudah lama merajut hubungan rumah tangga dengan Johan. Bahkan sekarang ada enam malaikat diantara keduanya, tapi Pither seakan buta akan kenyataan. Ia terus mengejar Alina bahkan sampai menelantarkan istrinya.


"Biarpun kau sudah punya enam anak, kau bahkan masih sama cantiknya seperti dulu." Tersenyum miring. " Ikutlah bersamaku" Pintanya lagi.


"Aku lebih baik mati. " Langsung saja Alina menyerang para anggota Esponder dengan tangan kosong. Beberapa lumpuh namun beberapa juga masih berdiri tegak.


Dan perkelahian antara wanita dan para pria itu berlangsung mencekam. Beberapa menit berlalu dan Alina yang tanpa senjata jatuh terduduk di lantai. Sudut bibirnya sobek disertai luka memar di wajahnya.


"Tidak! " Jawabnya tegas.


"Jadi kau belum mau menyerah? " Suara berat Pither mendominasi seluruh ruangan.


"Aku lebih baik mati daripada ikut dengan manusia biadap sepertimu! " Suara sarkas Alina menancap telak. Membuat dada Pither bergemuruh menahan murka.


Sedangkan Aisha polos yang masih berdiam diri dalam kolong ranjang, masih setia mendengarkan apa yang mereka perdebatkan dalam diam. Hanya membisu dan berupaya meredam suara. Kedua manik matanya masih setia merekam setiap adegan menegangkan yang ia saksikan dari bawah sana. Tangannya bergetar, keringat dingin yang bercucuran dari dahi dan mata yang membola mengisyaratkan ketakutannya. Hawa dingin terasa menusuk sampai ke tulang. Malam yang gelap gulita disertai petir yang menyambar menjadi saksi bisu akan apa yang terjadi.


Pither memberi instruksi pada para anak buahnya. Dan tak lama kemudian, bunyi tembakan bertubi - tubi terdengar nyaring di telinga.


Dor! Dor! Dor! Dor! Dor.


Tak terhitung berapa jumlah peluru yang menyayat tubuh wanita itu. Ia jatuh tersungkur ke lantai dengan wajah yang menatap putrinya. Seulas senyum manis ia layangkan sebelum menghembuskan napas terakhir.


"Ibuu!! " Jerit Aisha dalam hati. Ia ingin berteriak histeris, namun rasanya suaranya tercekat pada pita suara. Tidak bisa berkata - kata. Air mata lolos begitu saja tanpa diminta.


Perlahan mata Alina terpejam, dan kejadian tragis hari ini berujung pada kematiannya. Aisha terkulai lemas di dalam sana, ia tidak bisa berbuat apa - apa, mengingat perintah ibunya yang tidak mengijinkan ia memicu suara. Dan akhirnya, ia turut tidak sadarkan diri disana.


***


Semua orang berdiri dalam ruang dimana Alina tengah memperoleh penanganan pertama. Johan dan lainnya duduk gemetar di lantai. Bahkan mereka tidak ada yang berpikir untuk memburu Pither, yang berkecamuk dalam pikiran saat ini adalah istrinya. Tadi saat Johan mendapat panggilan darurat dari salah satu pengawal, ia langsung terbang menaiki jet tanpa menghiraukan cecaran pertanyaan dari keluarga mertuanya. Ia dan anak - anaknya meninggalkan rapat keluarga dengan kecemasan yang membuncah.


Alina maafkan aku, maafkan aku. Aku bodoh, bodoh, seharusnya aku membawamu pergi tadi. Maafkan aku.. jangan tinggalkan aku.


Begitulah kira - kira yang ada dalam batin Johan, ia terduduk lemas ke lantai dengan pandangan kosong.


Begitu pula dengan anak - anaknya yang lain.


Tak lama kemudian, dokter Nathan keluar dari ruangan. Wajahnya nampak murung dan masam. Ia tertunduk tak berani bersitatap dengan sahabatnya.


"Bagaimana? " Johan mencengkeram bahu Nathan.


"Maafkan aku Johan... " Berucap lirih penuh sesal.

__ADS_1


"Apa maksudmu dokter! " Yudhi dan Bima ikut menimpali. Seluruh pandangan menyorot pada pria berjas putih itu.


"Aku hanya manusia biasa, maafkan aku Jo. Istrimu terkena lebih dari seratus peluru di sekujur tubuhnya termasuk kepala." Semua orang menegang. " Dia, dia sudah tidak ada. "


"Nathan!!! " Johan membogem rahang dokter itu hingga mengucurkan cairan merah darisana. Nathan tidak melawan, ia hanya terdiam menyambut setiap pukulan Johan.


"Cukup tuan, cukup. " Jack turut menengahi saat Johan sudah membabi buta.


"Apa kau makan gaji buta!! Kau harus menyelamatkan istriku sekarang, atau kau akan kehilangan nyawamu!! " Ancamnya mengintimidasi.


"Maafkan aku Jo, aku bukanlah Tuhan yang menggenggam nyawa seseorang. " Bangkit berdiri, merapikan jas dan meraih stetoskopnya yang teronggok di lantai. Tidak sanggup melihat kepedihan Johan, ia pun berlalu darisana menuju ruangannya.


"Alina... " Lirihnya seraya menjatuhkan diri di lantai, menjambak rambutnya frustasi. Seketika bayangan kebersamaannya dengan sang istri berseliweran di kepala, berputar layaknya film layar lebar. Tawa Alina, senyum manisnya, omelan dan lainnya serasa mencekik kerongkongan Johan.


Sedangkan reaksi para putranya pun tidak jauh berbeda, mereka merasa gagal. Gagal menjadi tameng bagi ibu yang telah mengasihi mereka.


Ampuni kami ibu. Batin kelima laki laki itu bersamaan.


***


Cahaya mentari bersinar redup tidak seperti biasanya. Awan menghalau sinarnya mencapai bumi, seolah alam turut berucap belasungkawa pada sebuah keluarga. Keluarga besar Fernandez, kini berada dalam area pemakaman khusus keluarga. Disinilah tempat dikuburnya para anggota keturunan Fernandez mulai dari nenek moyang Johan.


Sesosok suami yang merasa gagal melindungi sang istri, Johan menaburkan bunga pada makam Alina. Matanya masih sembab tak ada hentinya mengucurkan air mata. Para putranya berdiri di belakang tak jauh dari sana. Hanya dapat menatap nanar dan meratapi kedukaan yang menimpa.


Para pengawal, mafia dan pelayan yang turut berduka cita juga berkumpul disana. Mereka turut menangis pilu karena kepergian nyonya muda, wanita baik dan penyayang yang keceriaannya selalu mengisi rumah megah Fernandez. Selalu menghormati sesama tanpa pandang bulu. Dan tidak disangka nasibnya akan berakhir malang seperti ini.


Aisha berada dalam gendongan dokter Nathan, ia baru saja memperoleh perawatan karena syok yang diderita semalam. Aisha tidak mau makan atau bicara sejak ia siuman, entah apa yang dilihatnya kala itu.


Gadis kecil itu memperhatikan kerumunan orang yang bergerombol disana.


Dokter Nathan yang paham, langsung membawanya mendekati makam ibunya. Bagaimanapun juga, Aisha layak mendapat hak itu.


Ia menurunkan perlahan anak yang berada dalam gendongannya. Aisha memandang ayahnya dengan seribu tanda tanya.


Perlahan ia menepuk bahu Johan, " Ayah, ibu dimana? " Tanyanya polos. Johan menoleh, berusaha menahan air mata agar tak merebak kemana mana, namun ia gagal. Ia merengkuh tubuh putrinya dan menangis sejadi - jadinya disana.


"Maafkan ayah sayang, maafkan ayah.. "


"Apa maksud ayah? " Pikirannya yang polos belum mencerna apa - apa. Tidak ada pikiran bahwa ibunya telah tiada dan pergi untuk selamanya. Karena dokter Nathan juga berkata, bahwa luka Alina masih bisa sembuh asalkan mau berobat dengannya.


Yudhi yang saraf sadarnya masih berfungsi menyeka air matanya, membawa adiknya dalam pelukannya. " Ibu sedang dirawat dokter Nathan Sha, ibu akan kembali saat ia sembuh nanti. " Melirik Nathan, pria itu hanya mengangguk sebagai tanggapan.


Saat bayangan buruk itu kembali, air mata Aisha luruh dengan derasnya, " Ibu pasti sembuhkan kak? " Yudhi mengangguk. " Tapi kak, tadi malam ibu berdarah banyak sekali. Apa itu masih bisa sembuh? " Ia masih sesenggukan.


"Iya, itu bisa sembuh Sha. " Dokter Nathan yang menyaut karena sadar Yudhi tak bisa berkata.


Perlahan tapi pasti, Aisha kecil mendekati makam Alina. Ia mengernyitkan dahinya heran. " Ini makam siapa ayah? " Dikarenakan ia baru saja belajar membaca, Aisha pun masih mengeja tulisan yang terpampang dalam batu nisan. "A-L-I, ayah ini huruf apa? "


Bukannya menjawab, Johan semakin tersedu - sedu. Seakan pita suaranya terlilit tali hingga tak mampu berbunyi. Dokter Nathan pun kembali membawa Aisha untuk masuk kedalam mobilnya.


Setelah adiknya pergi, Yudhi mendekati makam, dengan lugas ia berucap, "Aku bersumpah tidak akan menikah sebelum membalaskan dendam kematian ibu. "


Johan terkesiap dan menatap anak sulungnya, "Apa yang kau katakan nak? "


"Bukan hanya kakak ayah, kami pun juga akan berbuat sama. " Ucap yang lain bersamaan. Kemudian kelima laki laki itu melontarkan sumpah bersamaan dari bibir mereka.


"Kami berlima bersumpah, tidak akan menikah sebelum menghabisi orang yang telah membunuh ibu Alina. " Perkataan sakral mereka disaksikan seluruh anggota GE, para pelayan dan pengawal disana.


Dan sejak saat itulah, kasih sayang yang seharusnya masih dapat dirasakan Aisha kecil direnggut darinya. Sejak itu pula kobaran api dendam menyulut dan menyala - nyala dalam setiap sanubari Johan dan putra - putranya. Anak bungsu Alina harus merasakan derita ditinggal ibunya. Awalnya Aisha yang berani menjadi bergidik ngeri dan takut saat kegelapan menyapanya. Bayangan peluru yang menyayat tubuh ibunya seketika bergentayangan saat itu juga.


***


"Aku sudah menceritakan tentang tragedi ibu Alina. Aku pergi. " Yudhi menutup ceritanya pada Arthur yang masih terdiam disana. Pria itu melangkah keluar ruangan.


Tanpa sadar Arthur terbawa dalam alam lamunan, ia tidak menyangka masa lalu istrinya sepedih itu. Arthur sendiri tahu rasanya bagaimana hidup tanpa belaian lembut seorang ibu.


Bersambung....


*


*


*


2600 kata, rasanya jempolku sudah meronta🤕.

__ADS_1


Terungkap sudah bagaimana tragedi meninggalnya Alina dan kenapa kakak - kakak Aisha belum menikah sampai usia sekarang.


Jangan lupa like, komen positif dan vote kalau mau ya. Aku nulis ini dari siang sampai jam 12 malam lho.


__ADS_2