Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 85


__ADS_3

Roma, Italia


Rencana dimulai hari ini. Menurut laporan, dalang dari insiden kemarin adalah putra Pither yang menjadi pewaris tunggal Esponder. Tidak ada yang tahu seperti apa rupanya, karena bahkan dia tak pernah diambil potretnya. Anak buahnya pun tak terlalu hafal wajah sang ketua sebab dilarang menatap wajahnya terlalu lama.


Tidak ada penyerangan kali ini, Arthur, Aisha, Rey dan para senior lainnya melakukan penyamaran. Rencana pertama adalah mengetahui seluk beluk villa yang ditempati Rithik. Aisha dan Arthur serta lainnya bertugas melakukan penyamaran di villa. Sedangkan Rey bersama orang kepercayaan lainnya menyamar sebagai pengawal di markas besar Esponder.


Aku siap!


Begitu arti tatapan mereka ketika mata keduanya bersitemu. Aisha dan beberapa wanita lainnya mengenakan pakaian pelayan, mengikuti arahan dua orang pengawal. Yang satu adalah Arthur dan satunya adalah orang asli Esponder.


"Ayo,ayo! Para pelayan baru masuklah ke bagian belakang. Letakan barang kalian, ambil peralatan dan kerjakanlah tugas masing masing! " Instruksi dari salah satu pengawal yang bernama Michael.


Para wanita itu menurut dan melakukan tugas masing masing.


"Hey anak baru, kau baru saja dipindahkan dari markas utama kemari. Pasti kau melakukan kesalahan kan!" Celetuk Michael seraya menepuk bahu Arthur.


"Benar " Arthur menjawab datar dan singkat seraya menahan rasa geramnya. Kalau dia sedang tidak melakukan misi, maka dipastikan tangan itu akan patah saat ini.


"Dengar! aku lebih senior disini, jadi kau harus menurut padaku! Atau.." Menaikan satu alisnya.


"Atau apa?"


"Aku akan melaporkan pada pimpinan kita agar kau dipindahkan ke markas kecil dekat pegunungan! Ayo!" Ancamnya.


Arthur hanya berdehem, ia mengikuti langkah kaki pria itu yang memang sengaja ditunjuk untuk membimbingnya melakukan tugas.


***


Sedangkan itu di bagian belakang villa, tempat yang biasanya digunakan untuk apel pagi dan apel sore, berderet jajaran wanita berpakaian seragam pelayan. Mereka tengah mendapatkan instruksi dari yang kepala pelayan disini. Seusai mendapat tugas dan buku aturan masing masing, mereka dibubarkan untuk menjalankan tugas masing masing.


Aisha berjalan beriringan bersama Clara. Clara adalah eksekutor wanita paling mematikan di Regdator. Ia baru saja dipulangkan dari Jerman untuk mengemban tugas ini. "Apakah monyet masih aman dari kejaran pemburu? " Aisha berkata menggunakan kode.


"Tentu Marina, monyet terlalu lincah untuk ditangkap pemburu amatiran. " Clara tertawa samar seraya melangkah mensejajari nonanya.

__ADS_1


"Baiklah Lexa, kita harus segera melakukan pekerjaan baru kita. Hari ini mungkin akan sangat melelahkan, kita harus membersihkan semuanya. " Aisha tersenyum, keduanya mendapat tugas membersihkan bagian dalam ruangan.


***


Mereka membersihkan ruangan di lantai dua bersama salah satu pelayan lainnya.


"Bagaimana bisa bersih kalau menyapunya seperti itu!" Tegur salah satu wanita yang baru saja datang menghampiri mereka.


"Maafkan aku." Seru Aisha.


Wanita itu bersedekap dada, mengitari tubuh Aisha seraya memindai penampilannya."Kau cukup menarik, kenapa memilih menjadi pelayan? Kenapa tidak menjual dirimu saja!" Ketus dia berkata.


Aisha mengepalkan tangan, tak terima dikatakan seperti itu. Namun kali ini ia memendam emosinya, misi ini jauh lebih penting daripada menangani mulut cabai wanita senior ini. Ia mencegah Clara yang sudah bersiap meninju orang yang menghina nona nya.


Diam dan dengarkan saja, misi ini jauh lebih berharga. Begitu arti sorot mata Aisha.


"Hey kau, kau juga! Ini adalah ruang penting. Kalian pelayan baru tidak akan becus membersihkannya. Sana! Bersihkan ruangan di lantai tiga! " Perintah si kepala pelayan.


"Baik, kami permisi.. " Ujar keduanya.


Mulutmu pedas tapi sangat berguna.


Ruangan di lantai tiga, berisikan alat alat gym yang lengkap tanpa kurang suatu apapun. Aisha membersihkannya sendirian, karena Clara sedang menjalankan tugasnya untuk menyabotase CCTV yang ada di rumah ini.


Tinggal 10 menit lagi, semoga pekerjaan Clara berjalan mulus.


Tangannya sibuk mengelap beberapa benda yang terpajang di atas meja. Hingga tanpa sadar Aisha menyenggol sebuah buku. Tangannya terulur mengambilnya, sedikit membungkuk juga. Tapi disaat Aisha membungkuk, kedua manik matanya tanpa sadar menangkap sesuatu yang janggal.


Tampak sebuah rel kecil tersembunyi dibawah lemari yang berisikan piala piala penghargaan olahraga.


Dan saat ia mengamati lebih dalam, terdapat dua roda dibawah sana.


"Marina! " Sebuah suara membuat nya terlonjak kaget.

__ADS_1


"Yaampun! Kau membuatku terkejut. " Seru Aisha.


"Maaf, ada apa? "


"Lihat ini! " Gadis itu menunjukankan apa yang ia temukan."Kau sudah matikan CCTV?" Tanyanya lagi


"Sudah nona!" Clara mengangguk. Kedua perempuan itu berupaya mendorong lemari besi itu sekuat tenaga. Hingga akhirnya terpampanglah sebuah pintu disana.


"Ayo Clara, kita harus cepat! Waktu kita tidak banyak!" Seru Aisha. Mereka berdua memasuki pintu itu. Seisi ruangan sangatlah gelap dan pengap. Hanya ada satu ventilasi udara disana. Aisha menyalakan senter yang berasal dari ponselnya.


Siapa sangka, masih ada satu lagi pintu disana. Dengan teknologi masa kini membuat pintu itu tak dengan mudah ditembus manusia awam. Beruntung saat ini yang berada di depannya adalah mahasiswa teknologi paling jenius di kelasnya.


"Clara.." Seru Aisha menatap perempuan di sebelahnya. Clara mengangguk, ia segera keluar karena paham arti tatapan mata nonanya. Tak lama kemudian ia kembali membawa beberapa peralatan di dalam tas yang dibawa.


"Ini akan sedikit lama. " Gumam Aisha seraya memerhatikan sistem keamanan yang dipasang oleh si tuan rumah. Sedangkan mereka tak punya banyak waktu mengingat mereka bisa tertangkap kapan saja.


"Nona, lihatlah saya menemukan ini! " Clara yang menggeledah ruangan menjumpai sebuah ponsel. Sengaja di desain terlihat kuno, tapi sebenarnya itu adalah alat canggih dengan harga yang fantastis.


Aisha meraihnya, memerhatikan benda itu. Ingatan tentang pelajaran yang ia pelajari di San Francisco bersama salah satu pria membantunya memecahkan teka teki yang ada.


Teknologi fingerprint dianggap aman, tapi jika orang terpelajar maka bisa saja mengelabuhi sensornya. Penjelasan orang paling introvert di dunia terngiang di kepala Aisha.


"Bagaimana nona?" Tanya Clara lagi ketika melihat seulas senyum terbit pada bibir perempuan itu.


"Kau tenang saja. Berikan " Ia mulai melancarkan aksinya. Mengotak atik ponsel itu, membobol sistem yang terpasang dengan metode yang tercatat dalam kepalanya.


Metode ini dapat digunakan untuk mengelabuhi sensor Touch ID pada ponsel canggih tersebut. Dengan mengangkat sidik jari dari perangkat, lalu membuat cetakan dari kit papan sirkuit kustom yang dibawa hingga mereka dapat membuka kunci telepon walaupun memakan waktu agak lama.


"Nona memang luar biasa." Gumam Clara tersenyum.


Perempuan itu membaca password yang tersimpan dalam ponsel. Ia menekan tombol digital yang tertanam dekat pintu dengan password yang ia temukan. Dan bip, suara yang menandakan bahwa identifikasi berhasil terdengar. Tak lama kemudian pintu terbuka setelah Aisha mendorongnya. Tanpa membuang waktu, ia dan Clara segera masuk kesana.


"Paman Roman!"

__ADS_1


__ADS_2