Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 118 (TAMAT)


__ADS_3

Hahahahahaha


Tawa John menggema sepanjang memasuki ruangan, ia berhasil menjebak istri Arthur yang pastinya saat ini sudah mati kehabisan napas disana.


Dan Arthur, ah pria menyebalkan itu. Dia ternyata masih sama seperti dulu, mudah dibodohi dan dijebak. Dulu, John dengan mudahnya menipu Arthur saat masih berteman dengannya. Dia sering berkencan berdua dengan Wilhelmina dan menghabiskan waktu di hotel sampai pagi tanpa sepengetahuan Arthur. Sahabatnya itu terlalu sibuk dan kurang peka pada sekitar. Tak sadar bahwa bertahun - tahun Wilhelmina hanya mempermainkannya dan menduakan dirinya.


Laporan anak buahnya mengatakan kalau mereka sukses menghajar Arthur Anderson yang ternyata kurang banyak persiapan.


Jack dan Reggie, keduanya adalah anak buah John yang paling dapat diandalkan. Tanpa mereka, mungkin akan sedikit susah mengelabui Arthur.


Arthur dan anak buahnya sempat terlibat baku hantam di depan, bahkan banyak anak buah John yang lumpuh. Itulah sebabnya ia lebih memilih disini, karena ia sedang malas membuang waktu untuk berkelahi yang pastinya akan menguras tenaga. Ia akan keluar disaat terakhir dimana Arthur sudah lelah.


Kini langkah kaki panjang pria itu mendekati kolam buaya dimana Wilhelmina ditahan disana. Entah bagaimana nasib perempuan itu saat ini, pasti kakinya sudah keram atau mungkin sudah jatuh ke kolam yang dipenuhi predator tersebut.


Dulu, ia mengencani Wilhelmina hanya sebagai alat pemuasnya saja. Tidak lebih. Mengingat paras cantik perempuan itu yang dapat memikat mata siapapun yang menatap. Dan dia pun memperlakukan Wilhelmina hanya sebagai budak **** nya saja selama pernikahan. John sadar dia pria brengsek, tapi biarlah seperti ini, dia menikmati dunia ini. Bebas dan menyenangkan. Psikopat, dia menyukai julukan yang disematkan padanya.


"Ah ****! Kemana wanita itu!" Umpatnya saat tak mendapati Wilhelmina dimanapun. Matanya menyapu sekitar.


Dor!


Satu peluru tepat mengenai sasaran. Matanya dapat menangkap jelas lengan kirinya yang mengucurkan darah segar sedikit kehitaman.


Kepalanya menoleh kebelakang, tepat disana berdiri Arthur, Aisha dan Wilhelmina. Sedangkan Devan aman bersama Rey dan yang lain.


Aisha mengulas senyum simpul. "Kukira kau lebih pintar dari yang aku duga tuan John, tapi aku salah besar. Kau melakukan tindakan yang sangat kekanak-kanakan."


"Bersiaplah menuju neraka kawan!" Ujar Arthur.


Saat ia mengarahkan pistolnya kearah John, pria itu mengangkat tangannya.


"Tunggu! Kita bisa bicarakan baik - baik, aku akan menyerahkan Devan tapi turunkan senjatamu."


"Apa katamu? Menyerahkan Devan? Sayangnya kau terlalu bodoh kawan, Dev sudah ada bersama kami." Arthur berujar, tanpa menurunkan benda berbahaya yang tengah ditodongkannya.


"Arthur!" Tiba tiba suara teriakan Wilhelmina menginterupsi. Wanita itu rupanya sudah jauh dari mereka. Arthur dan Aisha tak sadar jika Reggie tadi menyeret wanita itu hingga jauh dari mereka, bahkan kini pria itu menodongkan senjata ke pelipisnya.


John tertawa, dia berhasil mengulur waktu. Dia tidak menyangka Aisha akan berhasil keluar dari perangkap yang ia siapkan. Padahal hanya dia yang punya alat untuk membuka pintu besi tersebut.


"Kau benar - benar licik!" Teriak Aisha.


"Haha! Ya kau benar nona cantik, aku sangat licik. Dan aku suka sebutan itu." Sekali lagi John tertawa lepas. Disana Aisha sudah memasang wajah marah bercampur bingung, karena dia kurang persiapan sebelumnya. Namun anehnya, suaminya hanya berwajah datar. Tidak menampakan ekspresi apapun.


Disaat tawa John masih menggema, tiba-tiba saja mata lelaki itu membulat dan wajahnya menampilkan raut keterkejutan tatkala Reggie yang tadinya menodong Wilhelmina dengan pistol jatuh begitu saja ke lantai. Cairan merah kental nampak bercucuran dari punggungnya. Dan alangkah terkejutnya John, tak lain dan tak bukan orang yang menusuk Reggie dari belakang adalah Jack, anak buahnya yang sangat ia percaya dan andalkan selama ini.


"Jack, kau?! Apa maksudnya ini?!!" Serunya murka.


"Maaf, aku sudah muak dengan tindakan semena - mena mu selama ini John, aku memilih bergabung dengan Regdator daripada bersamamu."


"Dasar pengkhianat!!" Lelaki itu hendak menembak Jack saat itu juga, tapi Arthur kembali melepas dua tembakan yang mengenai kaki dan dadanya. Membuatnya oleng dan hampir jatuh ke kolam buaya.


"Ah sial!" Pria itu ambruk ketanah. Matanya perlahan terpejam.


"Akhirnya dia akan mati." Batin Wilhelmina yang menyaksikan sendiri orang yang selama ini menghantui hari - harinya dalam ketakutan tengah meregang nyawa. Pria yang selalu menyiksa dan menguras hartanya, pria yang membuatnya kehilangan keluarga dan merasakan kehidupan yang begitu pahit. Dia akan lenyap sekarang. Orang jahat itu, dia tidak akan menggangu hidupnya dan kedua anaknya lagi.


John tergeletak begitu saja di dekat kolam buaya.Tadinya Arthur ingin mendorong pria itu agar menjadi santapan para buaya yang kelaparan, namun Aisha menahannya. Sudah cukup, kata Aisha. Perempuan itu mengingatkan kalau mereka akan punya anak jadi Arthur tidak boleh berlaku terlalu kejam. Walaupun tak puas akhirnya pria itu mengalah, demi kesenangan istrinya. Ia mencium Aisha lama dan membelai perutnya.


Menyaksikan pemandangan di depannya Wilhelmina mengulas senyum tipis. Ia sadar apa yang ia lakukan selama ini salah kaprah. Hanya karena rasa takut dari kejahatan John, membuatnya mencari perlindungan dari orang lain. Sayangnya pria itu sudah memiliki kehidupan lain yang harmonis. Memisahkan Arthur dan Aisha adalah hal yang mustahil. Sekeras apapun ia berusaha tidak akan pernah berhasil.

__ADS_1


Dan lagi, Wilhelmina kagum pada Aisha.Padahal ia sudah menyakiti hati perempuan itu dan berusaha merebut suaminya. Tapi Aisha? Dia masih mau membantunya. Bahkan dia terlihat sangat menyayangi Devan.


"Apa yang aku lakukan selama ini? Hanya membuang waktu dan membuatku semakin dibenci semua orang."


"Ayo sayang kita pergi dari tempat ini." Ujar Arthur. Aisha mengangguk.


Disaat ketiga orang itu melangkahkan kakinya menjauh darisana, suara tembakan kembali menggema. Gema dari langkah kaki yang sedang berlari kearah mereka terdengar. Arthur menarik sang istri untuk berlindung dibalik punggungnya.


"Sayang, kau bersembunyilah! Aku akan mengatasi ini!" Seru Arthur.


"Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian. Aku tidak mau kau kenapa - napa."


"Sayang dengarkan perkataan suamimu kali ini! Pergi dan bersembunyilah bersama Wilhelmina. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada anak kita." Dengan terpaksa Aisha dan Wilhelmina meninggalkan Arthur disana. Pria itu melawan tiga orang sekaligus yang membuat Aisha cemas.


"Mau kemana kalian!" Satu pria menghalangi jalan mereka. Tanpa berpikir panjang ia menembak peluru kearah tangan. Pria itu merintih kesakita, Aisha menggandeng tangan Wilhelmina agar mencari tempat sembunyi. Rumah ini sangat luas, menyulitkan mereka menemukan jalan keluar.


"Kita harus kemana Sha?!" Tanya Wilhelmina panik.


"Aku juga tidak tahu, cari lorong yang sepi dan hindari mereka. Untuk saat ini aku tidak sanggup melawan, perutku agak keram." Perempuan itu mulai merasakan rasa tak nyaman di perutnya, namun ia masih kuat berjalan.


"Baik, aku rasa disana ada jalan." Mereka berjalan cepat kesana, tapi ditengah jalan dari sudut matanya Wilhelmina menangkap sekelebat seseorang disana.


"Aisha awas!" Teriak Wilhelmina yang langsung berdiri di depan Aisha. Menjadikan badannya tameng hingga peluru tersebut tepat menembus dadanya.


"Wilhelmina!" Aisha berhambur menopang tubuh perempuan itu. Darah segar mengucur deras dari dadanya. "Kenapa kau lakukan ini?"


"Aku melakukannya sebagai permintaan maaf ku padamu. Tolong maafkan aku. Maafkan aku yang berusaha merebut suamimu." Wilhelmina berujar pelan.


"Seharusnya kau tidak melakukan ini." Aisha jadi merasa bersalah, Wilhelmina terkapar tak berdaya karenanya.


"Katakan."


"Tolong jaga Devan dan Krystal untukku. Tidak ada yang bisa aku percaya selain dirimu. Aku tidak akan khawatir kalau mereka ada bersamamu. Tolong jauhkan mereka dari jangkauan John." Wilhelmina hampir kehilangan kesadaran. Dia tahu, dia tidak akan selamat. Dia akan segera mati. Dan sebelum itu terjadi maka ia akan mengatakan segalanya pada Aisha.


"Aku akan melakukannya, aku janji akan menyayangi Devan dan Krystal seperti anakku sendiri. Aku janji Wilhelmina." Tetesan air mata Aisha jatuh membasahi telapak tangan Wilhelmina yang ia genggam.


"Aisha, aku ingin mengatakan sesuatu. Sebenarnya Devan belum tentu anak Arthur, setelah aku putus dengan Arthur. Seminggu setelahnya aku menikah dengan John lalu aku dinyatakan hamil. Jadi kau bisa melakukan tes DNA pada Dev untuk memastikan semuanya, aku mengijinkan itu." Saat ia masih terikat tali pernikahan dengan John, ia tidak pernah tahu siapa ayah Dev sesungguhnya. Tes DNA juga tak sempat ia lakukan karena Wilhelmina selalu hidup bagai tahanan. Kalau Krystal, sudah tentu dia adalah anak kandung John.


"Apa yang kau katakan? Jadi?" Pertanyaan Aisha belum tuntas saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Wilhelmina menghembuskan napas terakhirnya, ia memejamkan matanya dan menarik sudut bibirnya tipis seraya menggenggam tangan Aisha.


"Wilhelmina! Bangun! Apa yang harus aku katakan pada Devan?!" Ia berupaya menepuk pipi perempuan itu berharap ada keajaiban dan Wilhelmina akan membuka matanya. Tapi mustahil, hidungnya sudah tak menghembuskan napas lagi.


"Mami!" Devan berlari menuju jasad ibunya. Bocah itu memaksa masuk meskipun sudah dilarang. Lututnya melemas, air matanya tumpah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri tubuh perempuan yang melahirkannya terbaring tak berdaya di lantai dengan darah dimana - mana. "Mami, ayo bangun. Jangan tinggalkan Devan!" Devan mulai menangis. Menggenggam tangan ibunya yang masih hangat. Anak itu menatap mata sang ibu yang sudah terpejam rapat. Dunianya seakan berhenti, kini ia seperti tak punya tempat untuk bersandar. Satu satunya orang yang menyayanginya telah pergi dari dunia ini.


"Sudah Dev, kita sebaiknya bawa ibumu ke rumah sakit sekarang." Ujar Aisha.


****


Tempat ini mungkin bisa disebut salah satu tempat yang tidak ingin dikunjungi semua orang. Tempat yang menjadi peristirahatan terakhir bagi manusia yang telah mencapai batas umurnya di dunia.


Dan disinilah mereka berada, rasa iba meliputi Aisha yang saat ini tengah menggendong Krystal dalam dekapannya saat melihat Devan yang menatap kosong pada makam ibunya. Wilhelmina gagal diselamatkan, dia sudah memulai perjalanan hidupnya di alam yang berbeda.


Arthur yang berdiri di sampingnya hanya mengelus lembut punggung istrinya, ia juga merasa iba pada Devan. Sementara Rey dan Myara berdiri tak jauh dari mereka.


"Sayang, matahari mulai terik sebaiknya kita segera pulang. Aku takut kau kepanasan." Seru Arthur. Aisha menganggukkan kepalanya, ia mendekati Devan dan mengajak anak itu pulang.


"Dev.." Panggilnya pelan mengusap bahu Devan. Tidak ada sahutan, netra polosnya setia memandang pusara ibunya.

__ADS_1


"Ayo pulang Dev, kita bisa kembali besok lagi. Kau tidak perlu khawatir, sekarang Devan dan Krystal adalah tanggung jawab kami. Tidak perlu bersedih. " Keputusan yang dirundingkan dengan suaminya sudah mencapai kata sepakat. Devan dan Krystal akan mereka rawat dan jaga sebaik mungkin. Meski awalnya Arthur sempat menolak, tapi Aisha berhasil meyakinkan pria itu.


***


Tiga bulan kemudian


Kehamilan Aisha hampir menginjak usia enam bulan. Perutnya sudah membuncit sempurna. Arthur sebagai suami siaga selalu memenuhi apa yang ia inginkan. Bahkan ditengah kesibukan yang melanda, pria itu selalu menyempatkan diri meladeni sikapnya yang terkadang membuat orang kesal.


Seperti saat ini.


"Pokoknya kau harus pulang jam 9 malam Arthur aku tidak mau tahu!" Serunya kesal saat suaminya mengatakan akan lembur bekerja malam ini. Padahal ini adalah kali pertama Arthur lembur bekerja setelah tiga bulan, sebelumnya pria itu selalu pulang saat jam makan malam untuk menemani Aisha makan. Karena istrinya itu suka tidak nafsu makan kalau menyantap makanan sendiri.


"Akan aku usahakan sayang, tapi aku tidak janji. Malam ini aku ada janji dengan klienku dari Jerman. Dia sudah datang jauh - jauh tidak mungkin aku mengabaikannya kan?"


"Kalau begitu majukan saja jadwalnya."


"Tidak bisa sayang, Rey sudah menyusun jadwal sedemikan rupa agar aku selalu pulang tepat waktu. "


"Yasudah, aku akan makan saat kau pulang saja." Ujarnya. Aisha menaiki ranjang, meraih sebuah buku dan mulai tenggelam dalam dunianya sendiri.


Huh! Arthur menghela napas. Menghadapi istrinya yang sedang hamil ditambah kehamilan Aisha yang berada di trimester kedua adalah masa masa yang rentan karena kelainan yang dialaminya. Membuat pria itu pusing bukan kepalang.


"Baiklah, aku akan pulang seperti biasanya." Tukas Arthur kemudian seraya duduk disamping sang istri. Melingkarkan tangannya dan memeluk Aisha posesif. Menghirup dalam dalam aroma khas yang sangat ia sukai.


"Janji?" Aisha langsung sumringah. Entah kemana wajah cemberutnya tadi.


"Iya." Mereka saling mengaitkan jari kelingking sebagai perjanjian.


"Sekarang lakukan apa yang kau sukai, tapi jangan sampai kelelahan. Ingat, kau sedang hamil sekarang!" Peringat Arthur. Pria itu mengelus perut istrinya yang buncit dan mengajak anaknya mengobrol sebentar sebelum berangkat bekerja.


"Hello! Bagaimana kabar anak Daddy disana??"Sapanya seraya mengelus pelan.


"Kabarnya baik Daddy"


"Aku tidak sabar melihat dia lahir kedunia."


"Aku juga Arthur, aku tidak sabar melihat dia lahir dan aku akan menggendongnya "


Mereka tertawa bersama. Aisha tidak pernah mengira, dia akan merasa sebahagia ini bersama pria yang dulu datang ke rumahnya dengan ancaman. Menikah atau mati. Dulu dia mengira, menikah dengan Arthur adalah sebuah kesialan terbesarnya dalam hidup. Tapi siapa sangka, kini dekapan pria itu menjadi tempat ternyaman baginya, tempatnya berlindung dan melepas penat.


Begitu pula Arthur, niatnya yang dulu hanya mengajak Johan bekerja sama untuk membalas dendam pada Pither Wilson. Hingga membuatnya rela melakukan apapun termasuk memaksa seorang gadis muda untuk menikah dengannya. Cinta, rasa itu tak pernah terpikirkan akan kembali kedalam hidupnya yang telah hancur. Tapi siapa sangka kedatangan gadis manis dalam hidupnya membawa cinta dan kasih sayang yang telah lama hilang. Bahkan kini sebuah nyawa telah hadir hasil dari benih cinta keduanya.


"Tetaplah menjadi seperti ini Aisha, tetaplah menjadi milikku. Tetaplah menjadi Gadis Manis Milik Mafia yang akan mengisi hari - hariku dengan tawa. "


...TAMAT...


Jangan di unfavorite dulu, ada extra part yaa..


Jangan lupa ikuti Instagram baru Author: @stefhany_stef


Aisha Anderson



Arthur Anderson


__ADS_1


__ADS_2