
Aisha kini tengah berlatih beladiri di halaman belakang. Sekeliling halaman khusus itu dipagari dinding beton yang tinggi menjulang. Tidak ada siapapun yang boleh masuk kesana kecuali keluarga Fernandez dan Jack. Tak heran, apabila jarang bahkan nyaris tidak ada yang tahu jika Aisha pandai beladiri. Wajah manis nya seolah menjadi topeng baginya.
Kini dia sedang berduel dengan Arjun. Beberapa kali Arjun jatuh, namun bukan karena ia mengalah. Aisha memang mengalahkan nya, mengingat dia adalah manusia didikan Mr. Taylor langsung.
Mr. Taylor hanya mendidik laki laki sebenarnya, Aisha adalah perempuan pertama yang dibimbingnya hingga menjadi seperti saat ini. Itupun pendidikan secara privat, dimana Aisha harus memakai penutup wajah saat latihan. Dan saat ia usai berlatih ia membuka penutup wajah dan menyamar sebagai El Taylor.
Bugh! Satu tendangan keras menyungkurkan Arjuna ke tanah. Lalu ia bangkit berdiri.
"Wah, wah... Kau semakin hebat saja ya? " Puji Arjun.
"Tidak kakak, kau lebih hebat dariku " Ujarnya. Tak lama kemudian, Nakul datang menghampiri mereka.
"Ayo, ayah memanggil untuk makan siang " Ucap Nakul sambil melempar senyum termanisnya. Mereka mengangguk, lalu ikut mengekor di belakang Nakul menuju ruang makan.
Hari mulai senja, mentari mulai tergelincir di ufuk barat. Aisha yang baru mandi berlarian mengejar kucingnya.
"Hey kucing nakal, kemari aku akan menyisir bulumu!! " Teriak Aisha sambil menggenggam sisir di tangan nya. Berlarian kesana kemari mengejar Pushy dan Sugar. Sudah mirip anak TK yang sedang bermain di taman. Tanpa sadar ia menubruk tubuh Yudhi.
"Ya Tuhan! Kau ini sedang apa Sha? " Omel Yudhi pada adiknya. Aisha hanya tercengir kuda dan menunjukkan sisir yang dibawanya.
"Aku hanya ingin menyisir bulu Pushy dan Sugar kak, bulu mereka sangat kusut. Membuatku sebal saja " Yudhi menepuk keningnya sendiri. Kenapa harus menyisir bulu kucing!. Itukan hanya kucing, tinggal elus saja dia maka pasti bulunya akan rapi sendiri.
"Sudahlah, kemarikan sisirnya! Kau baru keramas kan? Biar kakak yang menyisirnya " Aisha pun menyerahkan sisir yang dipegangnya. Mereka duduk di sofa ruang tengah.
Baru akan menyisir, Yudhi teringat sesuatu.
"Apa kau sudah menggunakan ini untuk menyisir kucingmu? " Tanya Yudhi.
"Belum, itu sisir punyaku yang baru "
__ADS_1
"Oh, oke " Pria itupun menyisir rambut adiknya lembut penuh kasih sayang. Bagai seorang ibu yang memanjakan putrinya. Bahkan bisa dikatakan Yudhi lebih sering memanjakan Aisha daripada Johan ayahnya sendiri.
Sejak kecil selepas kepergian Alina dulu, Yudhi lah yang selalu menyisir rambut panjang adiknya. Memastikan kebutuhan nya, dari yang sepele hingga serius. Sampai - sampai Yudhi yang pertama kali mengetahui Aisha remaja yang mulai haid. Ia pun mengajari apa artinya masa pubertas padanya sampai ia paham. Mungkin bagi orang terdengar aneh, namun inilah faktanya. Dimana Yudhi menggantikan posisi Alina dengan sangat baik.
"Sudahlah kak aku sudah besar, aku bisa mengurus rambutku sendiri " Protes Aisha yang merasa ia bagaikan anak TK manja.
"Diamlah! Kau mau rambutmu seperti mak Ijah yang rontok terus dan akhirnya botak? " Aisha bergidik ngeri mendengarnya. Ia tidak mau seperti itu. Mak Ijah adalah tetangga mereka yang mengidap penyakit khusus sehingga rambutnya terus menerus rontok.
"Aku tidak mau! Jangan berkata seperti itu. " Yudhi tertawa kecil.
"Kalau begitu diamlah. Kau itu masih kecil "
Gadis itu hanya mengerucutkan bibir nya sebal. Sebal karena Yudhi terus memperlakukan nya layaknya anak kecil. Padahal kenyataannya dia memang masih manja.
Siang hari yang terik ditambah udara yang panas. Keluarga Fernandez yang bahagia tengah berkumpul di sebuah lapangan sepakbola di mansion mereka. Inilah rutinitas keluarga ini saat hari libur, yaitu menghabiskan waktu bersama sama dengan ceria. Panas matahari tak menyurutkan semangat para pemain, walaupun mereka bermain sedari pagi.
"Kakak oper padaku! " Teriak Arjun pada Bima
"Golll!!! " Teriak Bima, Arjun, dan Nakul bersamaan. Sementara Yudhi, Johan dan Dewa yang berada dalam kubu lawan hanya tersenyum kecut. Dan karena skornya 2-1, maka tim Bima lah yang menang.
"Yeyy kak Bima menang!! " Sorak Aisha riang. Membuat Yudhi, Johan, dan Dewa menoleh bersamaan.
"Kau ini sebenarnya memihak siapa? " Tanya mereka bersamaan, dengan wajah merengut.
Aisha menggedikan bahunya acuh " Aku memihak yang menang " Ujarnya disusul dengan tawa kencang Bima, Arjun dan Nakul.
Usai bermain sepak bola yang melelahkan, kini ketujuh orang itu sedang berada pada gazebo di tepi kolam renang. Menikmati pemandangan sekaligus makan makanan yang tersedia.
"Sha, setelah lulus S2 apa kau akan melanjutkan ke S3? " Tanya Yudhistira mengawali pembicaraan sembari memasukan sandwich kedalam mulutnya.
__ADS_1
Dikarenakan kecerdasan dan kedisiplinan adiknya, Aisha kerap kali lompat kelas saat sekolah.
Hingga pada saat usianya menginjak 22 tahun, ia hampir lulus S2 yang hanya tinggal beberapa saat lagi.
"Emm.. entahlah kak, sepertinya aku akan langsung ke karir " Kata Aisha yang tidak terlalu jelas karena sedang mengunyah beef steak dalam mulutnya.
"Ingin kerja apa? " Tanya Nakul menimpali. Melirik sebentar kearah Bima yang menatapnya tajam padanya.
"Kau ini bagaimana, Aisha itu kan mengambil jurusan teknologi!. Dia akan menjadi penemu alat - alat yang hebat " Ujar Bima lalu menyikut perut Nakul. Nakul langsung mengaduh dan melemparkan tatapan tidak suka pada kakaknya. Diakan hanya bertanya, memang apa salahnya?.
"Aisha tidak akan bekerja dimanapun, dia akan bekerja pada laboratorium kita " Ucap Yudhi. Keluarga Fernandez memang memiliki laboratorium besar, bahkan masuk dalam kategori laboratorium terbesar dunia. Diisi oleh para manusia - manusia jenius dengan IQ yang tinggi. Mereka kerap kali menggali penemuan baru dengan modal kreativitas, tak heran apabila Golden Eagle memiliki peralatan tempur yang canggih dan memadai. Alat alat itupun dipersembahkan pada dunia untuk dimanfaatkan dengan baik.
"Benar itu nak? " Tanya Johan sambil menatap putrinya.
"Sepertinya begitu ayah, aku ingin membantu orang lain dan organisasi kita saja. " Kata Aisha.
"Apa kalian tahu, aku telah membuat sesuatu yang baru " Aisha tersenyum bangga. Ia telah menciptakan alat yang pastinya akan sangat berguna bagi latihan militer para mafia.
"Apa itu? " Balas semua orang kompak. Dengan rasa penasaran yang tinggi, mereka malah sebal karena Aisha tidak membari jawaban. Malah dia hanya mengangkat kedua bahunya.
"Rahasia, pokoknya tunggu saja nanti " Ujar nya " Oh ya, aku membuatnya di lab bawah tanah kita, bukan di lab utama " Bisik Aisha perlahan, namun masih dapat di dengar semua yang duduk disana.
"Memangnya se-spesial itu ya? " Giliran Dewa yang angkat bicara setelah lama tak mengeluarkan suara karena asik menikmati makanan.
Aisha menggeleng " Tidak juga sih, tapi... paling tidak bisa membantu mengalahkan dia dan para sekutunya " Yang dimaksud 'dia' oleh Aisha adalah Pither Wilson, sang pembunuh berdarah dingin yang kejam. Pria yang dibenci karena telah membunuh banyak nyawa yang salah satunya adalah Alina.
Sejujurnya, Aisha juga bingung antara balas dendam atas kematian ibunya atau memilih berdamai atas dasar kemanusiaan. Di satu sisi ia marah karena perlakuan Pither yang telah menghabisi sang ibu. Di sisi lain, hatinya yang lembut berkata untuk berdamai. Namun melihat kelakuan Pither yang semakin tak berakhlak, ia menepis nuraninya. Kejahatan Pither merajalela dimana mana, semakin banyak pembunuhan pada pebisnis dan pejabat negara, semakin banyak orang yang hancur, dan semakin banyak orang yang menderita. Membuat Aisha tak kuasa menahan emosinya. Biarlah manusia sepertinya mati di tangan ayah atau kakaknya.
Yudhi mengusap sisa saus di bibir adiknya dengan tisu, " Semoga apa yang menjadi kemauanmu tercapai. "
__ADS_1
Gadis itu tersenyum, begitu bahagianya dia saat ini. Memiliki kakak - kakak dan ayah yang menyayanginya, hidup bergelimang harta dan jangan lupa paras nya yang cantik dipandang mata. Rasanya tidak ada yang kurang dalam hidupnya, ia jadi sadar bahwa dirinya terlalu sering mengeluh. Mengeluh karena tidak mendapatkan kasih sayang dari sosok ibu dengan sempurna. Namun, kenyataan nya orang orang diluar sana lebih menderita baginya. Oleh sebab itu, Aisha selalu berusaha membantu mereka semampunya.
Bersambung...