Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 71


__ADS_3

"Apa! jadi aku hanya membuang waktu dengan resepsionis tadi? Ternyata kau membutuhkan berkas ini masih nanti siang? " Gerutu Aisha kesal sambil mengerucutkan bibirnya. Membuat Arthur gemas dan. Cup. Ia menghadiahkan kecupan ringan yang sedikit lama pada bibir yang cemberut itu. Aisha membulatkan mata, sungguh situasi seperti ini masih belum membuatnya terbiasa. Baru saja Arthur menahan tengkuknya, gangguan sudah datang.


"Tuan, eh maafkan saya. " Vania seketika berbalik saat melihat adegan yang terpampang di depannya. Sedangkan dua orang itu terkejut seketika, Aisha dengan cepat mendorong dada Arthur akan menjauh darinya. Wajahnya bersemu merah, antara malu dan juga kesal. Sedangkan Arthur yang didorong, menatap kesal pada pengacau yang mengganggu kesenangannya..


"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu dulu! " Sentak Arthur yang memenuhi seluruh penjuru ruangan. Vania berbalik dan menundukan kepalanya takut.


"Maafkan saya tuan.. lain kali saya akan lebih berhati hati. " Lirih Vania dengan penuh rasa sesalnya. Sepertinya karirnya akan berujung disini, niatnya tadi akan meminta maaf dan berlutut agar Arthur mengampuninya. Tapi nyatanya ia kembali berbuat kesalahan di mata bos nya itu.


"Kembalilah nanti, aku sedang sibuk! " Seru Arthur.


"Tapi tuan--"


"Keluar! " Bentak Arthur.


"Baik tuan, permisi. " Vania beringsut pergi darisana dengan langkah yang tergesa gesa. Aisha menatap Arthur tajam, ia kesal dengan suaminya itu.


"Ini gara gara kau Arthur! " Gerutu Aisha kesal pada suaminya. Arthur bangkit berdiri dan menatapnya lekat.


"Kau berani memarahi suamimu sendiri? " Ia berkacak pinggang layaknya guru yang memarahi muridnya.


"Ya, karena ini memang salahmu. " Balas Aisha tak mau kalah. Pria itu menarik napas dalam, bagaimanapun juga ini masih pagi. Dan dia tidak ingin membuang tenaga dengan perdebatan kecil mereka. Arthur beranjak kembali duduk di sofa.


"Kau mau tetap disini atau pulang? " Tanya Arthur.


"Emm.. aku akan kembali ke kampus saja. Aku masih ada jam pelajaran nanti. " Ujar Aisha. Ia sudah mengambil tasnya yang tadi tak sengaja jatuh ke lantai. "Aku pergi ya. "


"Hem, pergilah. Hati hati. " Ia mengelus kepala istrinya pelan. Ditatapnya punggung Aisha yang mulai menghilang dibalik daun pintu. Arthur bangkit dan menuju kursi kebanggaannya. Mulai berkutat dengan laptop dan berkas seperti biasanya.


Aisha melangkahkan kakinya seraya beradu dengan pikiran. Sikap Arthur beberapa hari terakhir memang berbeda dari biasanya. Ia jauh lebih hangat dan tidak sedingin dulu. Aisha jadi ingat kejadian beberapa hari yang lalu.


Flashback on


Arthur yang tengah menikmati udara dingin di balkon, tenggelam dalam pikirannya. Bergulat dengan hati dan logika. Kebimbangan yang sama sekali tidak ia ketahui apa penyebabnya, seolah menjadi belenggu dalam otaknya yang terkenal cerdas itu. Saat ia sedang merasakan terpaan hawa dingin yang menyapu wajahnya, kedatangan Rania tiba tiba mengejutkannya.


"Yaampun aunty, kau mengagetkanku saja." Kata Arthur sambil menghembuskan napasnya.


Wanita itu menyentuh kedua bahu keponakan yang sudah ia anggap sebagai putranya sendiri. Sebagai ibu pengganti bagi Arthur, ia dapat menangkap dengan baik kegundahan yang ada di dalam matanya.


"Apa kau ada masalah? " Suara lembut penuh keibuan Rania diselingi dengan sentuhan hangatnya di pipi pria itu.


"Tidak ada, " Arthur menggeleng.


"Katakan saja, apa kau lupa, kau tidak bisa berbohong di depan ku. "

__ADS_1


"Huh.. " Membuang napasnya perlahan. "Aku bingung ada apa dengan diriku ini. Rasanya aneh, aku tidak bisa menjelaskannya. " Akhirnya Arthur mengatakan apa yang ia rasakan. Walaupun ia sendiri tidak tahu apa itu, tapi ini mirip sebuah pergejolakan antara hati dan pikiran.


Rania tersenyum hangat, mengusap bahu pria itu dengan lembutnya. "Kau itu sedang jatuh cinta bodoh. Terkadang jika kita terbiasa bersama dengan seseorang, lama kelamaan akan ada cinta yang tumbuh. Kau tahu kenapa kau bingung? " Arthur menggeleng dengan polosnya. "Itu karena dalam hatimu ada cinta. Kau mencintai istrimu karena terbiasa dengannya. Apalagi dia sangat baik, cantik dan dia begitu manis. Namun karena ego mu yang terlalu tinggi, membuat otakmu menampik semua fakta itu. Itulah yang membuat hati manusia bimbang. "


Tutur Rania.


"Maksudnya... aku? " Arthur masih bingung.


"Ya, kau mencintai Aisha. Itu kenyataan yang mutlak dan tak terbantahkan. Pikirkan itu baik baik. Jangan sampai suatu saat nanti kau akan menyesal karena kehilangan cinta yang kau abaikan. " Rania mengayunkan kakinya menjauh darisana. Meninggalkan keponakannya yang masih memikirkan satu kata. Yaitu 'cinta'.


"Apa itu benar? " Gumam Arthur. Jujur saja, penuturan aunty nya tadi sedikit banyak telah merubah pola pikir Arthur. Akankah selama ini egonya memang terlampau tinggi? Sifat arogan dan sombongnya, apakah itu sudah keterlaluan?.


Sedangkan Aisha yang tanpa sengaja mendengar semua perbincangan mereka, masih terpaku dibalik dinding. "Apa benar Arthur mencintaiku? " Gumamnya dengan rasa penasaran dalam hati.


Flashback off


Saat ia tengah bergulat dengan pikirannya, Aisha tidak memerhatikan jalan dengan benar. Tanpa sengaja, ia bertabrakan dengan seorang pria hingga membuat tasnya jatuh ke lantai.


"Maafkan aku, mari kubantu. " Pria itu mengulurkan tangannya kepada perempuan yang ia tabrak. Aisha yang masih memungut tasnya dilantai, mendongak dan terkejut saat tahu siapa yang ia tabrak.


"Billy, " Ia bangkit berdiri tanpa menyambut uluran tangan lelaki itu.


"Aisha, kau disini juga? Ada urusan apa? " Billy begitu girang, ia memandang Aisha dengan senyum yang mengembang sempurna.


"Aku juga ada urusan disini. " Balasnya.


"Oh. baiklah aku pergi dulu. " Aisha berjalan duluan dengan langkah yang sedikit dipercepat. Bahkan ia mengacuhkan celotehan teman lamanya itu yang memintanya berhenti. Bukan apa apa, pasalnya ia selalu tidak nyaman ketika bertemu dengan pria itu. Billy adalah orang yang selalu saja mengejarnya semenjak masa S1 nya dulu. Meskipun berkali kali Aisha menolaknya, ia tak gentar untuk tetap mendekatinya.


***


Hari sudah mulai petang, para mahasiswa yang telah usai mengikuti pembelajaran hari ini ramai yang sudah meninggalkan kampus. Ada beberapa juga yang lebih memutuskan untuk berada lebih lama lagi dalam gedung itu, karena dengan begitu mereka bisa melakukan kegiatan yang lebih produktif.


Aisha dan Myara menunggu di bangku taman. Tadinya Aisha akan pulang sendiri dengan menaiki taksi atau kendaraan lain. Toh, ia bukan anak kecil lagi. Tapi sebelum ia merealisasikan pikiran nya, Arthur sudah menelpon dan mengatakan akan menjemputnya.


"Myara, Arthur kenapa lama sekali ya? Tahu begini aku pasti akan pulang dengan taksi tadi. " Seru Aisha pada sahabatnya. Satu menit, dua menit, tiga menit, namun tidak kunjung ada sahutan dari Myara. Aisha menoleh menatap sahabatnya yang nampak memandang lurus kedepan. Tatapannya kosong seperti sedang melamunkan sesuatu.


"Myara, ada apa? " Aisha menggoyangkan bahu perempuan itu. Myara seketika bangkit dari alam lamunannya. Ia beralih menatap Aisha yang tampak cemas.


"Ada apa? Apa kau sakit? " Memeriksa suhu tubuh Mya dengan telapak tangan nya. Normal, suhu tubuh Myara tidak melebihi batas suhu normal manusia.


"Aku tidak apa apa, aku hanya bosan saja." Elak Mya. Lalu mengalihkan pandangan matanya dari gadis di sebelahnya. Ia bahkan sudah hafal, kalau Aisha pasti akan dapat menangkap kesedihannya hanya dengan memandang matanya.


" Kau bohong! Katakan yang sebenarnya padaku. Apa Rey bersikap buruk padamu? "

__ADS_1


"Tidak, " Menggeleng cepat.


"Myara.. " Aisha menangkup kedua pipi sahabat nya.


"Baiklah, aku akan bicara. " Gadis itu melepaskan kedua tangan Aisha dari pipinya.


"Kemarin aku mendengar Rey mengangkat telepon dari seorang wanita. Aku tahu, itu pasti kekasihnya. Aku tahu dia tidak mencintaiku, tapi kenapa rasanya sesakit ini?" Mya mengusap setitik cairan bening yang tak sengaja terjatuh.


"Katakan padaku, apa kau mendengar Rey marah marah dalam telepon? atau dia malah berbicara dengan manis? " Tanya Aisha. Karena sejauh ia mengorek informasi, Rey memang seorang playboy yang punya banyak kekasih. Tapi beberapa waktu terakhir, ia telah memutuskan hubungan tak jelas dengan semua wanita itu.


"Dia bicara dengan nada datar. Tapi, aku tidak mendengar apa yang ia katakan dengan jelas."


Aisha menarik kedua sudut bibirnya, "Kalau begitu kau tidak perlu khawatir. Suatu saat nanti, Rey akan menerimamu dan membalas cintamu. " Tutur Aisha yang berusaha meyakinkan Myara. Gadis itu hanya mengangguk dan berusaha meyakini apa yang dikatakan sahabatnya.


*


*


*


Segini dulu ya, hari ini kan malam tahun baru. Author mau siapin acara bakar bakar sama tetangga.


@X: Bakar bakar apa thor? 🤔


@Author: Bakar bakar mantan biar cepet ilang dari ingatan 😆😆😆


Yuk guys, bagi barangsiapa yang punya mantan tolong antarkan ke rumahku ya. Biar nanti aku bakar, wkwkwk. Canda.


GAJELAS SUMPAH 🤐


Selamat Tahun Baru 2021🎉🎉


Selamat tinggal 2020, terimakasih telah memberikan banyak warna dalam hidupku.


Semoga kita semua senantiasa sehat selalu, panjang umur, lancar rejekinya, dan semoga 2021 menjadi tahun yang penuh kebahagiaan.


Semoga wabah virus covid-19 ini segera hilang dari muka bumi ini. Aminn.


Mohon maaf jika aku tidak bisa membuat kalian puas dengan alur cerita dan jadwal update. Kalau memang masih ada yang menunggu cerita ini, maka dukunglah dengan komentar positif ya. Karena jujur saja, yang lebih menjadi penyemangat aku bukan like, vote atau pengikut. Tapi komentar yang baik, karena darisitu aku tahu, bagaimana pendapat kalian tentang novel ini. Bagian mana yang kurang dan perlu diperbaiki, aku tahu dari komentar. Jujur saja aku sangat suka dengan komentar yang panjang. Maaf ya jadi banyak curhat, hehe.


Tetap jaga kesehatan dan rajin cuci tangan :)


Terimakasih 😊

__ADS_1


__ADS_2