
"Hai kawan, bagaimana kabarmu hari ini. Lama sekali kembali dari Indonesia. Padahal kau bilang hanya seminggu kan " Pither merangkul akrab pada sahabat karibnya. Pria berdarah Indonesia itu tersenyum dan membalas perlakuan sahabat baiknya ini.
"Maaf Wil, orang tuaku memaksaku tinggal lebih lama disana. Jadi tidak bisa langsung kembali kuliah " Jawab pria muda yang tak lain adalah Johanes Fernandez. Saat itu, Johan masih menimba ilmu pendidikan di Amerika. Melanjutkan S2 disana, dan tanpa sengaja ia berjumpa Pither Wilson dan sekarang menjadi sahabat karib. Kebetulan mereka juga sama sama pintar, sama sama tampan, dan juga sama sama berasal dari kasta serta keluarga yang terpandang. Ada satu lagi personil dalam persahabatan mereka yang bernama Martin Taylor, asli warga Amerika, namun ia sedang mengambil cuti saat ini.
"Oh ya, memangnya ada apa? " Pither mengerutkan keningnya heran seraya meneguk whiskey di tangan kirinya. Ia menyandarkan punggungnya yang pegal ke sandaran kursi kantin.
"Aku dijodohkan " Jawab Johan.
"Wah, wah! Dengan siapa? Dan kapan kalian akan menikah? " Pria berdarah Italia itu tersenyum girang. Setelah sekian lama, akhirnya sahabatnya menemukan pasangan. Ya... walaupun dijodohkan.
"Bulan depan, dengan.. " Ia menjeda kalimatnya.
"Alina, salah satu mahasiswi di fakultas yang sama dengan kita. " Johan tersenyum cerah dengan wajah berseri. Membayangkan wajah cantik dan manis Alina yang selalu menghantui pikirannya sejak dua tahun yang lalu.
Degh! Dunia terasa berhenti berputar untuk sesaat bagi Pither. Dadanya terasa terhantam batu besar yang menghimpit dan membuat nafasnya tercekat. Ia sontak menjatuhkan gelas berisi whiskey di tangannya. Ia langsung bangkit dari sandaran kursi dan menatap Johan dengan tidak percaya. Pasalnya, ia telah menyukai Alina sejak pertama kali ia lolos seleksi masuk perguruan tinggi ini. Bahkan, ia sempat akan melamar gadis cantik itu. Namun sepertinya, niatnya harus pupus di tengah jalan karena keduluan sahabatnya.
"Ada apa Wil? Kenapa kau terlihat terkejut? " Johan juga ikut bangkit dari duduknya. Memegang kedua bahu temannya yang sejak tadi matanya masih membola. Memangnya ada yang salah dengan perkataannya barusan?.
Pither masih berada di alam bawah sadar, mulutnya bahkan belum mengatup sempurna. Jantung hatinya terasa remuk, hancur berkeping keping tak bersisa. Pria berkulit putih berdarah Italia ini, amat susah melabuhkan hatinya pada seorang wanita. Begitu banyak wanita cantik yang silih berganti menggodanya. Namun, mereka tak sanggup merebut hati pria itu. Baru kali ini Pither jatuh hati pada seorang perempuan. Wanita cantik jelita yang mencuri hatinya sejak lama. Dan sekarang, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa pujaan hatinya akan membangun rumah tangga dengan sahabatnya sendiri.
"Ada apa Pither? " Johan menggoyang goyangkan bahunya. Turut cemas akan reaksi mengejutkan pria ini.
"Aku.. ti-tidak papa. Aku harus pulang sekarang " Pither bergegas mengambil tas ranselnya yang tersampir diatas kursi. Lalu pergi dari hadapan Johan tanpa berucap apapun lagi.
__ADS_1
Ada apa dengan pria itu?. Johan menggedikan bahunya malas. Ia tak paham bahwa telah terjalin jarak karena keterangan nya barusan. Dimana perihal ini akan menjadi pokok dasar pada peperangan tanpa ujung yang menanti di masa depan.
Tibalah pada hari paling membahagiakan untuk Johan. Di suatu negara penuh dengan sumber daya alam yang dikenal dengan Indonesia, sebuah pernikahan mewah tergelar di ballroom hotel bintang lima. Di pintu masuk terdapat pajangan ucapan selamat bertuliskan 'Happy Wedding Johan and Alina'. Para kerabat dan kolega bisnis berdatangan memenuhi ruangan bertemakan nuansa kerajaan itu. Pither yang patah hati pun turut hadir disana. Ia berdiri di sudut ruangan sambil menghisap cerutunya. Memperhatikan Johan dan Alina yang berdiri di pelaminan sedang bercengkerama dengan Martin. Bahkan Pither tidak tahu harus mengucapkan selamat atau tidak. Dalam lubuk hati yang terdalam, telah tumbuh benih kebencian dan nafsu untuk merebut istri orang.
Aku akan merebut apa yang seharusnya menjadi milikku sejak lama. Batinnya lalu menghilang bak ninja dari acara resepsi itu.
Sejak hari itu, Pither menghilang entah kemana. Dari kabar yang terdengar, ia dijodohkan oleh orang tuanya dengan seorang wanita yang juga berasal dari universitas yang sama dengannya.
Angin yang tiba tiba berhembus kencang, menyadarkan Pither dari lamunan masa lalunya. Ia menjambak rambutnya frustasi. Masa lalu yang kelam telah membutakan dirinya akan kenyataan. Rasa cinta masih melekat erat dalam hatinya. Ia masih mencintai Alina. Walaupun ia dengan teganya telah menghabisi nyawa pujaan hatinya dengan begitu mengenaskan, namun sejak saat itu ia dipenuhi penyesalan yang mendalam.
Tidak.. Tidak.. Itu hanyalah masa lalu. Buliran air mata mulai membanjiri pipinya.
Andai saja kau bersedia menjadi istriku dan meninggalkan Johan, pasti kita sudah bahagia sembari menggendong bayi sekarang. Batin Pither dengan penuh rasa sesal.
***
"Kakak, ambilkan aku boneka minion diatas meja! " Perintah anak itu menatap Dewa.
"Iya - iya " Ia pun mengambilnya.
"Terimakasih kak " Ucapnya sesaat setelah Dewa mengulurkan boneka berkacamata itu padanya.
"Kakak ambilkan bola! " Menatap Arjuna.
__ADS_1
"Apa! Sejak kapan anak perempuan suka main bola? "
"Tapi aku suka kak.. "
"Baiklah ini " Menyerahkan bola dengan corak warna warni yang diambilnya.
Aisha terus bermain dengan benda bulat itu. Memantul mantulkan nya kesana kemari dan sesekali melemparkan ke perut kakak kakaknya.
Hingga bola itu lepas dari jangkauannya dan menggelinding menjauh. Anak itu pun mengejarnya.
Aisha mengikuti kemana bola itu menggelinding. Hingga tanpa sengaja, bola itu berhenti dibawah lemari pajangan disana. Ia pun mengambilnya, tanpa sengaja kepala nya terpentuk sudut lemari. Hingga membuat figura berisi foto seorang wanita itu jatuh ke lantai. Aisha mengambilnya. Memperhatikan wajah yang terpampang jelas sedang tersenyum ke arah kamera seraya mendekap seorang bayi perempuan mungil yang tak lain adalah dirinya sendiri.
Memori anak itu seketika kembali berputar. Setelah sekian lama hilang dari ingatannya, kini bayang bayang ibunya kembali datang. Ia bingung, dimana ibunya saat ini?. Saat ia bertanya pada ayah atau kakaknya, mereka pasti berkata 'Ibu sedang dirawat dokter Nathan, setelah sembuh ibu pasti akan pulang kerumah'.
Ia mengambil figura itu dan membawanya mendekati para kakaknya.
"Kakak " panggil Aisha.
Semua orang seketika menoleh.
"Ada apa Sha? "
Aisha mendekat, duduk ditengah tengah Yudhi dan Arjuna. Mata kecilnya mengedar menatap kelima lelaki itu.
__ADS_1
"Kakak selalu berkata jika dokter Nathan sedang mengobati ibu. Tapi kapan ibu akan sembuh dan kembali kak? " Tanya anak itu polos sembari menunjukan potret ibunya.
Bersambung...