Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 72


__ADS_3

Setelah lama menunggu, mobil Arthur sudah tampak di pandang mata. Aisha segera mengemasi barang barang nya. Ia menatap Myara. "Ayo, kita pulang bersama saja," Ajak Aisha.


"Apakah boleh? " Myara nampak ragu. Ia masih canggung dan sungkan pada Arthur.


"Hey, kau ini bicara apa! Tentu saja boleh, bahkan kita tinggal serumah Myara. " Ujar Aisha seraya menggelengkan kepalanya.Tanpa basa basi, ia menarik tangan sahabatnya itu mendekati kendaraan yang ditumpangi suaminya. Daritadi klakson mobil itu terus berbunyi menandakan pengemudinya tidak sabaran.


"Kenapa lama sekali? " Tanya Arthur saat Aisha sudah duduk di sebelahnya. Sedangkan Myara memilih duduk di kursi belakang. Arthur hanya melirik gadis itu lewat kaca spion.


"Siapa yang lama? Justru kau yang kelamaan menjemput tadi. " Balas Aisha. Arthur hanya terdiam tak menyahut, pria itu menginjak gas dan melajukan mobilnya menuju kediamannya.


Perjalanan dibumbui dengan candaan dan tawa ringan antara Aisha dan Myara. Arthur yang merasa diacuhkan hanya diam dengan wajah yang kesal. Dirinya merasa seperti supir disini.


"Arthur, ada apa dengan wajahmu itu? " Akhirnya ia gantian bertanya pada suaminya. Masih ada kekehan pelan karena gadis itu selesai bergurau dengan Myara.


"Tidak apa apa. " Jawabnya singkat. Baru saja Aisha akan membuka mulutnya, dering suara ponsel Arthur yang terdengar nyaring mengurungkan niatnya. Pria itu segera menyambar earphone, memasangkannya ditelinga dan mengangkat telponnya.


Hening sejenak. Arthur mendengarkan apa yang dikatakan oleh si penelpon dengan rahang yang mengeras. Giginya bergemelutuk menahan amarah. Alisnya bertautan dengan tatapan mata elang yang tajam. Aisha yang menyadari perubahan raut wajah suaminya mulai panik. Apalagi saat dirinya melihat dengan jelas bagaimana Arthur mencengkeram erat setir yang ia kemudikan.


"Sial! " Umpatan yang sedikit keras memecah suasana hening. Bahkan Mya yang berada di belakang terlonjak kaget. "Tunggu disana! Aku akan datang. " Panggilan terputus.


"Ada apa Arthur? " Tanya Aisha penuh kekhawatiran.


"Berpeganganlah yang erat, aku harus segera mengantar kalian pulang sekarang. " Seru Arthur tegas, ia menginjak gas dan menambah kecepatan mobilnya dua kali lipat dari tadi. Membuat Aisha dan Myara takut dan berpegangan erat pada benda yang dapat dijangkau.


"Arthur, ada apa? Apa ada masalah? Kenapa secepat ini, ini berbahaya. Apa sesuatu yang buruk terjadi? " Bahkan pria itu tak menjawab berondongan pertanyaan dari istrinya. Tatapannya fokus menyetir, untuk sekarang, waktu sedetik saja sangat berharga.


Tak memperolah jawaban dari perkataannya membuat Aisha memahami apa yang terjadi pada suaminya. Pasti ada masalah yang benar benar urgent, hingga Arthur sampai sekalut ini. "Jika kau terburu buru, turunkan kami disini. Kami bisa naik taksi, dan kau bisa pergi. " Seru Aisha memberi usul.


"Justru kalau aku menurunkanmu disini, itu sama saja aku mengundang bahaya." Ucapnya tanpa menoleh. Aisha membisu.


Tak berapa lama kemudian, mobil itupun tiba di pekarangan mansion keluarga Anderson. Myara yang masih sedikit shock akan kejadian di dalam mobil sudah turun duluan. Kalau begini, ia tidak akan pernah mau lagi berada di dalam kendaraan yang sama dengan suami sahabatnya itu. Benar benar ekstrem.

__ADS_1


"Arthur, hati hati. Jangan lupa kabari aku." Lirih Aisha sebelum ia benar benar membuka pintu mobil. Arthur hanya mengangguk, ia sedang dalam mode diam menahan emosi sekarang. Setelah gadis itu turun, ia bergegas memutar balik mobilnya. Dan melajukan kendaraan canggih itu menuju tempat yang menjadi tujuan.


Sebelumnya Arthur sudah menyiapkan keamanan ganda bagi keluarga dan mansionnya. Penjaga yang berjaga lebih ekstra daripada biasanya. Mereka juga tampak berkeliling dengan pistol yang siaga di dalam saku.


***


Jam menunjukan pukul satu dini hari. Namun tidak ada tanda tanda kepulangan suaminya. Begitupun dengan Reynard, kedua pria itu menghilang dari sejak sore hingga saat ini. Para istri mereka sudah jamuran menanti di depan televisi. Bahkan Myara sudah terlelap saking lelah nya. Sedangkan Aisha, gadis itu masih terjaga. Begadang sebenarnya bukan kebiasaan nya. Selain tidak baik untuk kesehatan, itu juga tidak baik bagi kecantikan. Katanya sih dapat menimbulkan jerawat. Tapi persetan dengan itu semua, ia sangat cemas akan keadaan suaminya itu. Meskipun terkadang menyebalkan, tapi perilaku Arthur beberapa hari terakhir ini cukup menyentuh hatinya.


"Kemana dia? Kenapa belum pulang juga? Apa ada masalah dengan kantor? Atau ada masalah dengan Regdator? " Cecaran pertanyaan itu bergelayut di benak Aisha. Berkali kali ia menghubungi Arthur, namun ponsel pria itu tidak aktif. Begitupula dengan Rey.


Gadis cantik itu menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. Ia menarik selimut Myara yang sempat merosot karena ia tidur dengan posisi setengah duduk. Kembali memandang ke depan, suara tv adalah satu satunya temannya sekarang. Sengaja dinyalakan agar memecah kesunyian yang tercipta di mansion besar ini.


"Kenapa belum tidur? " Suara aunty Rania tiba tiba muncul dari belakang. Wanita itu turut duduk di sofa sebelah Aisha. Rupanya ia juga tidak bisa tidur, sama sepertinya.


"Bagaimana aku bisa tidur aunty, bahkan hingga saat ini suamiku belum ada kabar." Keluh Aisha menumpahkan segala kecemasan yang melanda. Tadinya ada niata akan keluar dan mencari suaminya itu, tapi salah satu penjaga mencekalnya dan berkata bahwa tuan muda baik baik saja. Walaupun begitu, tetap tidak menyurutkan kegundahan batin pada Aisha.


Rania mengulas senyumnya, mengelus pundak kepala gadis itu penuh sayang."Kau begitu mencintai suamimu ya? " Aisha bungkam mendengar pertanyaan Rania. Cinta, untuk sekarang Aisha masih belum tahu bagaimana rasanya. Ia juga bingung dengan perasaannya. Tapi bagaimana mungkin aunty nya itu sempat sempatnya membahas cinta di situasi genting semacam ini?


"Sudahlah aunty, sekarang yang terpenting adalah keselamatan Arthur. Mau bagaimanapun juga dia adalah suamiku sekarang. Ya, meskipun terkadang dia mengesalkan, tapi aku khawatir padanya. Apa aunty tidak khawatir? " Tanya Aisha balik. Dahi gadis itu mengerut heran saat Rania menggeleng membalas ucapan nya.


"Lebih baik kau istirahat di dalam kamar saja. Kalau mau menunggu, tunggulah didalam kamar. Disini dingin. " Sambungnya.


"Tapi aunty--"


"Tidak akan terjadi apapun. Sudahlah, bangunkan Myara dan suruh dia untuk pergi ke kamarnya juga. " Rania beranjak dari duduknya, wanita itu mengayunkan kedua kakinya menuju kamarnya sendiri.


"Ada benarnya juga, lebih baik aku menunggu di dalam kamar. " Gumam Aisha pelan. Perlahan ia menggoyankan bahu Myara, membangunkannya dan menyuruh nya pindah kedalam kamar.


***


Jam menunjukan pukul tiga dinihari. Mata Aisha sudah memerah dan berair. Ia duduk bersila diatas ranjang. Berkali kali matanya mengatup, lalu ia mengerjab lagi. Berusaha sekuat tenaga menangkal rasa kantuk yang ada. Bahkan secangkir kopi diatas nakas sudah tandas diminumnya.

__ADS_1


Saat matanya tanpa sengaja terpejam, suara derik pintu terbuka sontak membuat kedua maniknya terbuka lebar. Ia menarik kedua sudut bibirnya lega saat tahu siapa yang datang. Pria yang selama ini ia nanti, bahkan hingga rela begadang akhirnya datang. Aisha lekas berdiri dan menghampiri Arthur yang tengah menanggalkan kemejanya.


"Kau belum tidur? " Tanya Arthur ketika melihat mata istrinya yang sudah berair. Gadis itu menggeleng cepat. Bagaimana mungkin ia tidur lelap sedangkan suaminya menghadapi masalah diluar sana.


Aisha akan bertanya pada Arthur tentang apa yang terjadi. Tapi memandang wajahnya yang masih kesal dan penuh dengan peluh membuatnya tak kuasa. Ia ingin bertindak sebagai istri yang pengertian sekarang. Memberondong Arthur dengan cecaran pertanyaan disaat ia letih rasanya malah akan memperkeruh suasana.


"Tidurlah, lihat matamu sudah merah. Lainkali tidak usah menungguku. " Ujar Arthur.


"Tidak apa, apa kau ingin mandi? Aku akan menyiapkan nya dulu. " Aisha bahkan langsung melenggang pergi sebelum Arthur menjawab.


Setelah membersihkan dirinya dari segala kuman dan keringat yang menempel setelah seharian beraktifitas, Arthur masih mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Ia menyampirkan handuk itu ke sembarang tempat dan mendekati ranjang.


"Arthur, apa yang terjadi hari ini? " Aisha bertanya, ia tak sanggup lagi memendam rasa penasaran nya. Arthur yang semula sudah merebah kini kembali duduk. Ia menatap Aisha lekat dan menyuruhnya berbaring.


"Aku akan ceritakan segalanya besok, sekarang tidurlah. Ini sudah hampir pagi. " Seru Arthur.


"Tapi, aku ingin tahu sekarang. Setidaknya katakan sesuatu. " Rengek Aisha dengan wajah memelas nya yang dapat melunakan hati siapapun. Termasuk pria di sampingnya. Arthur menghela napas kasar dan mulai bercerita.


"Ada sedikit masalah pada Regdator. Intinya ada orang bodoh yang ingin bermain main dengan Arthur Anderson. Ada yang berusaha mengalahkanku. Intinya, aku curiga ada pengkhianat dari dalam. " Lelaki itu berkata penuh penekanan. Aisha sudah mendengarkan dengan khidmat.


"Sudah itu saja dulu, aku akan ceritakan lebih banyak besok. Sekarang tidurlah. Besok memang libur, tapi begadang tetap tidak baik."


"Tapi Arthur, ini sudah pagi. " Tukas Aisha. Arthur melirik kearah jam diatas nakas yang menunjukan pukul tiga lebih limabelas dini hari. Yaampun, ia sampai lupa waktu hanya karena mengurus masalah tadi. Dan Aisha, dia bahkan rela menunggunya hingga selarut ini.


"Sudah tidurlah, apa kau mau ada banyak jerawat yang tumbuh pada wajahmu? " Aisha dengan cepat menggeleng. Arthur tersenyum singkat dan merebahkan punggungnya yang pegal pada ranjang yang empuk itu.


Saat ia sudah memejamkan mata, suara Aisha kembali mengusikny, "Tapi Arthur, wajahku ini sangat jarang berjerawat loh. Walaupun aku begadang saat mengerjakan tugas pun, aku jarang sekali berjerawat. Apa kau tahu-"


"Diamlah. " Suara Arthur seperti menahan kesal, sungguh tiada hentinya gadis ini mengoceh.


"Iya - iya maaf, ini aku diam. " Seketika ia mengunci mulutnya rapat, berusaha mencapai alam bawah sadarnya. Ia baru bisa benar benar terlelap ketika Arthur melingkarkan tangannya ke pinggang Aisha. Menyalurkan ketenangan yang sukses membuat gadis itu terbuai dalam mimpi yang indah.

__ADS_1


Siapapun yang berani mengusikku, kupastikan dia akan menyesal seumur hidupnya. Apalagi kalau dia berani menyentuh keluargaku.


Batin Arthur menahan geram dalam hati.


__ADS_2