Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 115


__ADS_3

"Istri anda mengalami inkompetensi serviks. Kondisi ini terjadi pada satu dari seratus ibu hamil. Ini menyebabkan leher rahim melebar sedikit lebih cepat dari kehamilan pada umumnya. Bayi berpotensi lahir prematur atau kemungkinan terburuknya adalah keguguran. Ditambah lagi sepertinya istri anda kurang menjaga pola makan dan banyak pikiran. Usahakan ciptakan mood yang happy, hindari stres dan kurangi aktivitas berat. Ingat tuan, potensi keguguran sangat besar kalau kalian lengah sedikit saja."


Arthur terus terngiang - ngiang ucapan dokter yang memeriksa Aisha beberapa jam yang lalu. Pria itu menyugar rambut tebalnya yang tak beraturan. Kepalanya sungguh pening serasa ingin meledak. Belum selesai masalah satu, kini datang lagi yang lain.


Baru saja ia akan jujur semuanya pada Aisha, tapi dokter malah memberitahu kalau kehamilan Aisha lemah. Wanita itu tak boleh stres dan banyak pikiran, jika tidak maka anak Arthur lah yang akan menjadi taruhannya.


Lelaki itu mengecup pelan telapak tangan perempuan yang sangat ia cintai. Lalu perlahan mengelus perut bagian bawah Aisha tempat benih cinta mereka tengah berjuang untuk tumbuh. "Aku berjanji akan menjaga kalian."


Arthur keluar dari ruang rawat Aisha dan berjala melewati koridor rumah sakit yang sepi. Wajar saja, ini sudah tengah malam. Hanya ada beberapa perawat yang terlihat masih berseliweran setelah menyelesaikan tugasnya.


Pria itu tampak berbicara dengan seseorang pada ponselnya.


"Selidiki tentang Wilhelmina dan anak-anaknya!"


Walaupun memang benar ia pernah melakukan hal itu pada Wilhelmina, tapi bagaimanapun juga Arthur telah terpisah lama dengannya. Dan dia tidak bisa percaya begitu saja pada perempuan tersebut.


Namun kalau kebenarannya adalah Devan benar - benar anaknya, maka Arthur tidak bisa berbuat apapun lagi, ia harus bertanggung jawab pada Devan.


****


Tiga hari berlalu sejak kepulangan Aisha dari rumah sakit. Arthur memutuskan istrinya akan mengambil cuti sampai melahirkan, setelah itu ia baru akan melanjutkan pendidikannya.

__ADS_1


Wilhelmina juga sudah pulang dari rumah sakit dan kembali bersama kedua anaknya.


Aisha awalnya sedih, saat dokter menyatakan kandungannya lemah karena kelainan yang ia alami. Potensi keguguran pada janin yang sedang dikandungnya sangat besar. Bagaimanapun juga ini adalah anak pertama, buah cinta dengan suaminya yang sangat ia sayangi sejak pertama kali mengetahui keberadaannya. Tapi seiring berjalannya waktu Aisha yakin, anaknya akan melihat dunia dan lahir dengan lancar. Ia janji akan merawatnya dengan sangat baik sampai siap menghirup udara di bumi ini.


"Sayang, hari ini aku akan pergi makan siang dengan ayah dan kakakku, apa kau mau ikut?" Ujar Aisha membuka pembicaraan. Ia yakin keluarganya tak akan nyaman akan keberadaan Arthur. Tapi Aisha mengajak suaminya hanya sekedar formalitas saja.


Wanita itu memilih bersikap biasa saja di depan suaminya. Aisha pikir, jika ia marah pada Arthur, maka situasi akan semakin memburuk. Bukannya menyelesaikan masalah yang ada hanya akan membuat Wilhelmina senang karena pertengkaran mereka. Aisha akan mencari tahu segalanya nanti, saat ini ia ingin terlihat harmonis di depan semua orang terutama pada wanita yang sedang menata makanan di depannya.


"Tidak, aku yakin mereka tidak akan suka kalau ada aku. Sayang, dua hari ini kau selalu menghabiskan waktu dengan mereka, kuharap kau ingat bahwa kau tidak boleh kelelahan." Seru lelaki itu mengingatkan akan kondisi janin Aisha.


"Iya, aku ingat. Lagipula mereka akan kembali besok jadi hari ini adalah hari terakhir aku berkumpul dengan keluargaku Arthur." Sejujurnya hati kecilnya masih tak rela kalau ayah dan kakaknya akan meninggalkannya secepat itu. Mereka hanya tiga hari disini untuk menjenguk Aisha dan calon anaknya. Bahkan Johan dan Arjuna tak sudi melihat wajah suaminya sedikitpun meskipun mereka sudah menerima kenyataan kalau jodoh terakhir Aisha adalah Arthur, pengusaha sukses sekaligus mafia yang memaksanya menikah.


Semua orang sibuk dengan pikirannya masing masing saat itu termasuk Wilhelmina yang saat ini tengah menahan rasa sesak melihat keakuran dua orang di depannya.


Apa Arthur tidak bercerita tentang Devan pada istrinya? Kalau dia bercerita pasti saat ini seharusnya mereka bertengkar hebatkan.


***


"Ayo Devan, hari ini hari pertamamu ke sekolah yang baru. Kau akan berangkat bersama Tuan Arthur." Bisik Wilhelmina seraya menuntun anaknya mendekati mobil Arthur.


"Kenapa berangkat dengan dia mami?"

__ADS_1


"Karena sekarang dia adalah ayahmu, mulai sekarang Devan harus dekat dengannya." Seru Wilhelmina lagi.


Mereka sudah sampai di dekat mobil mewah Arthur. Pria itu tengah berpamitan pada istrinya.


Aisha yang sedang merapikan dasi suaminya yang miring mengerutkan dahinya kala Wilhelmina mendekat bersama Devan.


"Sayang, apa yang mereka lakukan disini?"


"Emm.. itu.. Devan akan berangkat denganku ke sekolah barunya." Ujarnya dengan berat.


Beberapa hari yang lalu Wilhelmina menagih tanggung jawab dari Arthur. Dia berkata setidaknya jika Arthur tidak mau mengakui Devan, maka paling tidak berikan Devan pendidikan yang terbaik.


Arthur ragu pada awalnya, namun akhirnya pria itu setuju jika hanya sekedar menyekolahkan Devan.


Lagipula hasil penyelidikan anak buahnya belum menghasilkan hasil yang memuaskan. Dia hanya tahu kalau Wilhelmina tak berbohong tentang dirinya yang tidak boleh keluar rumah semenjak menikah dengan John.Ia juga memperoleh perlakuan bagai tahanan meskipun John tetap memberi pendidikan yang layak bagi Devan.


"Oh." Aisha menarik senyum simpul. "Baiklah, hati - hati di jalan."


"Devan sayang belajarlah dengan giat, ini adalah kesempatan emas akhirnya kau akan sekolah di tempat yang bagus." Satu kecupan dihadiahkan Wilhelmina pada dahi putranya.


Devan tersenyum lebar dan mengangguk polos. Aisha terus memerhatikan interaksi keduanya dengan raut wajah yang sulit ditebak.

__ADS_1


__ADS_2