
Tidak ada kata yang tepat digunakan untuk menjabarkan kekesalan hati Aisha saat ini. Manik mata wanita itu melihat sekeliling, ruangan kamar ini yang biasanya terdengar cengkerama antara dirinya dan suaminya. Dimana saat pria itu pulang, ia akan menyambutnya dengan suka cita. Mereka akan melakukan kegiatan malam dan berakhir mandi bersama. Begitulah dulu.
Namun wanita itu menyadari, kini hubungan mereka memang semakin jauh. Seakan ada sekat yang membatasi keduanya. Ditambah lagi ada lubang yang dibuat seseorang untuk menghancurkan rumah tangga mereka.
Billy. Ya, pria itu sedikit banyak turut andil dalam adanya masalah dalam rumah tangganya.
Karena pikiran dan rencana liciknya yang membuat Aisha bimbang dalam mengambil keputusan.
Entahlah, dia merasa bukan dirinya yang dulu yang mudah mengatasi masalah tanpa berbagi pada siapapun. Saat ini Aisha merasa menjadi wanita biasa yang juga butuh sandaran, wanita lemah lembut yang membutuhkan pria sebagai pelindungnya.
Namun kalau dipikir pikir ini bukan hanya salah Billy semata, karena kesibukan masing masing lah yang membuat mereka berdua jarang menghabiskan waktu bersama.
Mungkin itulah penyebabnya.
Jemari putih wanita itu mengusap lelehan air matanya sendiri. Sebelum lubang penghancur dalam rumah tangganya semakin lebar, ia harus menghentikannya.
Menangisi keadaan tak akan mengubah apapun.
Perlahan lahan tubuh itu turun dari kasur yang nyaman dan mulai bersiap.
Aisha memutuskan akan menyusul suaminya dan mengakhiri kesalahan pahaman yang semakin runyam.
Dress putih yang simple namun tetap elegan membalut tubuh ramping Aisha.
Dengan tergesa perempuan cantik itu menyambar sling bag yang terletak diatas meja.
Sudah tidak ada waktu untuk berdandan, ia tak memakai polesan apapun pada wajahnya dan langsung berlari menuruni tangga.
Kalau terlambat sedikit saja, entah apa yang akan terjadi.
Para pria sering tidak bisa mengendalikan dirinya saat melihat wanita cantik. Dan Aisha khawatir Arthur akan berbuat yang diluar kesadaran nya.
"Kakak mau kemana?!"
Sebuah teriakan dari arah ruang tengah menghentikan langkah kakinya. Itu suara Anna, tapi kapan gadis kecil itu kembali. Perasaan tadi tidak ada. Atau jangan jangan Myara sudah membocorkan semuanya?
Aisha berbalik, dan benar saja ia menemukan Anna yang kini setengah berlari kearahnya.
Wajah gadis itu nampak antusias, ceria dan manis seperti biasanya namun membuat Aisha mengernyit heran.
__ADS_1
"Ada apa Anna? Kenapa kau terlihat sangat bahagia?" Tanya Aisha .
"Apa kau tahu, aku akhirnya diijinkan untuk melanjutkan sekolahku di Italy. Aku tidak sabar kak. " Anna sangat girang. Senyum tak henti hentinya terbit dari wajah yang lebih mirip anak anak itu. Melanjutkan sekolah disana adalah impian Anna, ada alasan tersendiri tentunya. Sebuah mimpi besar yang akan ia kejar akan dimulai dari negara itu.
Dengan susah payah ia berhasil membujuk Rania agar mengijinkannya. Menerima berbagai penolakan dengan macam macam alasan malah membuatnya semakin semangat merayu hingga akhirnya ijin didapatkan namun dengan persyaratan ketat.
Menyaksikan raut wajah adik sepupunya yang amat gembira membuat Aisha ikut tersenyum semampunya. Ia mengelus kepala Anna dan menepuk bahunya sebagai tanda selamat.
Jam semakin berputar, perempuan itu tidak punya banyak waktu lagi untuk meladeni ocehan tak penting dari gadis yang masih tahap pertumbuhan ini.
"Anna, aku akan bicara lagi denganmu nanti. Aku juga akan memberimu hadiah, tapi sekarang aku harus bergegas pergi."
Tutur Aisha sambil berlalu dari sana.
"Hey, mau kemana?!!" Tidak ada jawaban, tubuh itu sudah menghilang dari jangkauan mata kecilnya.
***
"Kirimkan lokasi tuan Arthur sekarang juga!" Titah perempuan itu lewat earphone yang terselip ditelinga.
Aisha mengemudikan mobil dengan kecepatan maksimal namun tetap hati hati.
Bayi itu pasti masih berbentuk segumpal darah atau mungkin segumpal daging mungil yang rentan hancur.
Jangan sampai karena keegoisan orang tuanya, makhluk tak berdosa itu menjadi korban.
"Arthur, kenapa kau seperti ini?!"
Sifat Arthur yang terkadang misterius dan susah dipahami.
Ada masalah bukannya diselesaikan tapi pria itu mengambil tindakan salah dengan pergi dan menyendiri. Perempuan itu bingung sekaligus jengkel setengah mati memikirkan solusinya seorang diri.
Namun ketahuilah, jika saja Aisha adalah Reynard yang telah mengarungi hampir seluruh hidupnya bersama Arthur. Pria itu tahu apa saja tragedi dan beban yang dipikul sahabatnya. Mungkin perempuan itu tidak akan semarah ini.
Arthur bagaikan kotak misteri yang kita tidak tahu apa yang tersimpan di dalamnya.
Cittt!!!
Rem mobil Aisha berhenti mendadak menyaksikan pemandangan di depannya.
__ADS_1
"Ya Tuhan, ada kecelakaan!" Tanpa tunggu lama wanita itu turun dari kendaraan roda empat yang ia naiki.
Pemandangan pertama yang disaksikannya adalah seorang pria yang terbaring dengan berlumur darah yang semakin terlihat karena kemeja putihnya. Mobilnya yang terbakar seperti terkena senjata api atau semacamnya.
"Mari aku bantu, " Walaupun terluka parah namun pria itu masih bernapas. Ia juga bisa berjalan dengan bantuan Aisha.
Jalanan disini sangat sepi, teriak pun tak akan ada yang dengar. Pada akhirnya perempuan itu memutuskan membawa pria berbadan kekar itu menuju rumah sakit dengan mobilnya.
***
Bugh! Satu bogeman mentah dilayangkan seorang pria pada pria lain yang sedang dalam keadaan mabuk berat.
Suasana disini sudah tidak kondusif. Tempat yang semula rapi kini menjadi porak poranda.
Meja dan kursi berserakan dimana mana. Alunan musik DJ pun telah dihentikan belum lagi suasana riuh dari bisik bisik para pengunjung yang seolah menjadi penonton setia kejadian di depan mereka.
Bugh! Tangan Rey sudah berlumur darah, bukan darahnya sendiri melainkan darah dari Arthur yang sudah babak belut ditangan pria yang sedang murka itu.
"Keterlaluan!" Satu pukulan lagi dilayangkan.
Bugh! Satu bogeman mentah yang dikeluarkan Arthur yang bertangan kekar dan berotot membuat Rey sampai terpundur beberapa langkah ke belakang.
Tadinya pria itu memilih diam dan tak melawan, namun lama kelamaan emosi nya tersulut juga apalagi pengaruh dari minuman yang ia minum.
Membuatnya cepat marah.
"Mau apa kau kesini!" Sentak Arthur tak terima.
Mayoritas wanita yang ada disini memilih minggir dan pergi. Bebarapa laki laki juga angkat kaki namun ada yang memilih tinggal karena tak kuat berjalan pulang.
"Mau apa? Seharusnya aku yang bertanya sedang apa kau disini Arthur!!" Rey tersulut amarah namun masih bisa menahannya.
"Sudah kuduga, Minggu ini tidak ada perjalanan bisnis keluar kota atau keluar negeri."
Dalam perjalanan kembali ke kantor tadi, pria itu menyempatkan diri bertanya pada bawahannya apakah ada kunjungan mendadak untuk CEO. Karena beberapa hari Rey sangat sibuk, ia memikulkan beberapa beban pekerjaan nya pada sebagian orang kepercayaan Anderson Groub. Salah satunya mengenai jadwal Arthur.
Namun setelah mendapat jawaban bahwa tidak ada kunjungan keluar kota bagi tuan Arthur selama seminggu kedepan membuat pria itu memutar arah tujuannya.
Rey sangat paham, kemana Arthur akan pergi menghilangkan kepenatannya dari dunia saat dalam kondisi yang semacam ini.
__ADS_1