Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 79


__ADS_3

Kini keduanya duduk bersebelahan diatas sofa. Saling pandang satu sama lain. Cukup lama, hingga akhirnya Aisha membuka pembicaraan terlebih dahulu.


"Kau percaya padaku kan? " Tanya Aisha dengan ragu seraya menatap dalam manik mata suaminya. Yang dimaksud olehnya adalah, apakah Arthur percaya bahwa Lia bukan pelakunya.


Pria itu menaikan salah satu alisnya, "Percaya tentang apa? " Sahutnya pura pura tidak tahu.


"Kau percaya padaku kan kalau Lia itu tidak bersalah? " Aisha menghela napasnya malas, karena Arthur pura pura tak menangkap arah obrolannya.


Pria itu mengusap puncak kepala istrinya lembut. Penuh kasih sayang. Dia dapat menoleransi ini mengingat Aisha sudah sangat dekat dengan Lia. "Jangan terlalu percaya pada wajah polos, bisa saja dia menipumu. Aku tahu kau sangat dekat dengan pelayan itu, tapi bagaimana kalau dia memang musuh. " Arthur teringat Lia yang tengah menjalani tahap introgasi di ruang bawah tanah. Namun introgasi kali ini berbeda, tidak terlalu kasar karena permintaan Aisha. Paling dia hanya akan ditanyai dan dibentak jika tak mengutarakan jawaban yang tepat.


"Arthur, mulut bisa berbohong, tapi mata tidak. Aku sangat yakin bahwa Lia tidak bersalah." Aisha masih kukuh pada pendiriannya.


"Kalau ada sesuatu yang dapat membuatku mempercayai apa yang kau katakan, aku akan melepaskan perempuan itu. " Ya itulah dia. Jika sudah ada bukti nyata maka Arthur akan keras kepala. Terlebih dalam video itu nampak dengan jelas konspirasi yang perempuan itu lakukan.


"Baiklah, lakukan ini. " Aisha mendekatkan bibirnya ke telinga suaminya. Membisikan sesuatu yang hanya dia yang tahu. Dahi Arthur terlihat mengernyit sekilas ketika mendengar ucapan istrinya. Lalu ia menghela napasnya malas dan mengangguk ketika Aisha sudah kembali ke posisi nya semula.


"Baiklah, aku akan melakukannya karena kau yang meminta. " Sahut Arthur.


"Aku yakin ini akan berhasil, jangan lupa palsukan dokumen itu. Tapi buatlah agar terlihat asli. " Peringat Aisha pada suaminya. Bukannya menjawab, Arthur mengeluarkan smirknya. Mendekatkan wajahnya ke wajah Aisha. Gadis itu sudah menyiapkan mental, dalam benaknya berpikir bahwa Arthur akan menciumnya. Sudah memejamkan mata, namun ia mengernyit saat Arthur malah meletakan jari telunjuknya pada dahi Aisha, bukan mencium seperti yang perempuan itu bayangkan.


"Kenapa ada jerawat disini? " Arthur terkekeh saat melihat raut wajah istrinya yang nampak menahan kesal, seraya mengedutkan bibirnya geram.


Arthur beranjak dari duduknya dan melangkah menuju pintu. Dengan kesal, Aisha memandang punggung suaminya yang mulai menjauh dari pandangan. Menyesal karena sepertinya otaknya sudah tertular penyakit mesum akut milik pria itu.


"Sungguh menyebalkan!! " Teriak Aisha seiring dengan lenyapnya tubuh Arthur dibalik daun pintu. Pria itu terus tergelak sambil melangkah menemui Reynard.

__ADS_1


"Apa benar aku berjerawat? " Aisha menyentuh keningnya sendiri. Buru buru ia menuju ke depan meja rias. Memperhatikan wajahnya dengan seksama disana. Dan benar saja, sebuah benjolan kecil samar samar terlihat.


"Ya Tuhan, mungkin karena lelah dan banyak pikiran membuatku seperti ini. Atau mungkin memang karena aku sedang datang bulan ya?" Langsung panik, gadis itu membongkar isi laci dan mencari skincare anti acne nya. Dari dulu Aisha memang paling terganggu apabila benjolan itu menempel pada wajahnya.


***


Rencana berjalan mulus sesuai rencana. Hari ini para penjaga dan pengawal semuanya dikirim ke markas. Itu hanya tipuan saja, sebenarnya mereka hanya diungsikan sementara di bangunan milik Arthur yang tak jauh darisana. Hanya beberapa penjaga yang masih siaga, mungkin kurang dari sepuluh orang. Membuat siapapun dengan mudah dapat melakukan rencana busuk yang direncanakan.


Dengan mudahnya Lia palsu mengambil dokumen penting dari ruangan Arthur. Dengan dalih membersihkan ruangan, akhirnya ia berhasil menerobos masuk kesana. Perempuan itu juga telah menyabotase CCTV yang ada di seluruh penjuru mansion.


Kini, Arthur dan Rey tengah mengikutinya dari belakang. Di sebuah bangunan tua bekas pabrik, mereka bersembunyi dibalik pohon besar seraya membawa sebuah pistol yang diselipkan dalam saku celananya. Manik mata Arthur berubah menjadi setajam pedang, menyaksikan pelayan kesayangan istrinya itu tampak masuk kedalam sana dengan gerak gerik yang mencurigakan. Yang lebih membuatnya murka lagi adalah ketika matanya yang jeli tanpa sengaja melihat sekelibat orang lain disana.


"Aku akan menghabisinya! " Geram Arthur yang hendak turut masuk kesana. Rey mencekal tangannya.


"Jangan bos! Biarkan saja mereka bersorak ria disana, kita hanya berdua saja. Dan entah mereka membawa berapa banyak orang." Berusaha menenangkan amarah bosnya yang sedang meletup letup. Arthur mengangguk, lagipula dokumen yang perempuan tadi bawa adalah dokumen palsu, yang sengaja dibuat oleh orang kepercayaan Arthur hingga nampak seperti yang asli. Mereka tetap pada rencana away dan kembali menuju mansion.


***


"Bagaimana? " Tanya Aisha dengan senyum merekahnya.


"Sayangnya kau harus kecewa. Pelayan itu memang pengkhianat." Ujar Arthur. Bukannya menyahut, Aisha malah tersenyum. Membuat Arthur mengerutkan dahinya heran.


"Kenapa malah tersenyum! "


"Lihatlah! Lia.. " Panggil Aisha. Seketika itu juga Lia keluar dari walk in closet dengan tertunduk takut.

__ADS_1


"Kau! Bagaimana kau bisa disini!" Arthur bertanya heran. Karena setahunya tadi perempuan itu masih berada di dalam gedung bekas pabrik.


"Tenanglah Arthur, aku akan menceritakan segalanya. " Menarik Arthur menuju ke sofa.


Flashback on...


Aisha menuju ruang bawah tanah dimana Lia disekap. Lia dibebaskan sementara atas perintah Arthur. Gadis itu amat bersyukur.


"Terimakasih tuan, terimakasih" Lia berkata penuh syukur. Menebar senyum terimakasih pada orang orang di sekelilingnya. Perempuan itupun berlalu darisana. Lia melewati lorong lorong hendak menuju kamar para pelayan. Namun sedetik kemudian, sebuah sapu tangan membekapnya. Lia meronta, namun kepalanya yang mendadak pusing membuatnya jatuh pingsan. Orang itu menyeret tubuh Lia, mengikatnya di dalam gudang sempit disana.


Tanpa dia sadari, sepasang mata mengintainya dari jarak yang lumayan jauh. Aisha menajamkan matanya, dia tersentak kaget ketika perempuan itu melepaskan hoodie dan maskernya. Mata Aisha yang jeli dibuat membola. Ya Tuhan! Dia benar benar mirip Lia.


Setelah wanita tadi pergi darisana, Aisha segera masuk dan membuka ikatan Lia. Membawanya menuju kamarnya.


***


Beberapa saat kemudian, Lia mengerjabkan matanya. Menyentuh keningnya yang masih terasa pusing, betapa terkejutnya dia saat melihat nona Aisha berada disampingnya. Yang membuatnya lebih tersentak lagi apakah, saat ini ia tengah merebah pada ranjang tuan dan nona.


"Nona, maafkan saya. " Lia akan beranjak, namun Aisha mencekalnya.


"Lia, apa kau punya kembaran? " Langsung melayangkan sesuatu yang sangat ingin ia ketahui sedari tadi.


"Emm.." Perempuan itu nampak berpikir sejenak. "Saya tidak tahu nona. Tapi nenek saya pernah berkata bahwa dulunya saya terlahir kembar. Tapi dia sudah tidak ada." Seru Lia.


Kalau begitu dugaanku benar. Batin Aisha.

__ADS_1


"Kau tenang saja, ikuti arahanku. "


*****


__ADS_2