Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 113


__ADS_3

Di sore hari, saat matahari mulai bersembunyi dibalik peraduannya.


Aisha yang baru saja tiba setelah memutuskan pulang dari rumah sakit tersebut berjalan melewati lorong mansion yang akan menuju ke sebuah kamar.


Sedangkan suami Aisha masih tinggal disana dengan dalih mengurus administrasi dan yang lain.


Ia tak keberatan dengan hal itu, asalkan suaminya tak melebihi batas.


Tok tok tok


Pintu kayu yang dicat putih diketuk dari luar. Anak laki laki yang tengah menggendong seorang bayi tersebut sontak mengalihkan pandangan kearah pintu. Ia meletakkan adik perempuannya dengan pelan diatas kasur.


Lalu berjalan dan membuka pintu sedikit, mengintip siapa yang mengetuk.


"Hallo sayang, bolehkan aku masuk?" Sapa Aisha pelan dengan senyum lembut. Devan yang tadinya panik saat mengenali bahwa wanita di depannya adalah nyonya dari rumah besar ini sedikit tenang.


Membuka lebar pintu dan mempersilahkan wanita manis tersebut masuk.


"Silahkan duduk nyonya." Aisha duduk diatas ranjang dekat dengan bayi perempuan yang tertidur pulas. Salah satu pelayan ditugaskan memberi makan dan mengurus Devan dan Krystal.


"Apa Devan merasa kesepian di kamar ini. Secara di lorong ini hanya satu kamar yang terisi. Apa Devan mau pindah ke kamar yang lain?" Tawarnya lembut mengelus kepala Devan.


"Tidak nyonya, ini sudah cukup untuk kami bertiga." Devan menjawab dengan canggung.


Aisha memperhatikan meja yang didominasi piala dan medali yang ia yakini milik bocah ini. Ia dapat melihat kecerdasan dalam mata Dev.


Dirinya yakin Devan akan menjadi orang yang berkedudukan di masa depan.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Ujar Devan


"Katakanlah, apapun akan aku jawab."


"Dimana mamiku?" Wilhelmina tidak pulang sejak kemarin. Bocah itu begitu merindukan perempuan yang telah melahirkannya.


Khawatir terjadi sesuatu yang buruk.


"Mamimu sedang ada pekerjaan yang harus diurus. Beberapa hari lagi ia akan pulang, tapi Devan tidak perlu khawatir, karena aku akan menemanimu selama ibu kalian pergi." Aisha tersenyum lembut seraya mengelus pipi Devan.


Wanita itu juga menggendong Krystal yang hampir menangis karena baru bangun tidur.


Jiwa keibuannya benar benar telah terbentuk sempurna.


"Mulai sekarang tidak usah canggung padaku, Devan bisa menganggapku seperti orang tua. Oke?" Aisha tulus melontarkan kalimat tersebut. Walaupun ia tahu kalau kedua anak itu adalah anak dari mantan kekasih suaminya.


Tapi melihat keduanya, entah mengapa jiwa keibuannya muncul.


Aisha merasakan perubahan yang besar dalam dirinya setelah melewati kejadian - kejadian akhir - akhir ini.


Aisha yang nakal, lincah dan manja telah menjadi sedikit lebih dewasa dalam menghadapi masalah dalam rumah tangganya. Tak tahu apa penyebabnya.


***


Keesokan harinya, disaat kedua kelopak mata Wilhelmina terbuka pertama kali yang wanita itu lihat adalah ruangan luas yang didominasi warna broken white.


Dahinya berkerut saat melihat selang infus yang terpasang di tangannya.


Tiba - tiba perempuan tersebut meringis, merasakan sekujur tubuhnya yang terasa remuk. Wilhelmina sekarang ingat segalanya.


Saat - saat dimana John menyiksanya dengan begitu keji, tanpa belas kasihan sedikitpun.


Hari dimana ia diperlakukan bagai hewan peliharaan dan kelinci percobaan.

__ADS_1


Ya Tuhan, mengingatnya membuat jantungnya berdetak kencang. Kejadian kemarin benar - benar membuka trauma yang sudah hampir ia hilangkan.


Namun wajah ketakutan itu tiba - tiba berubah pias, Wilhelmina teringat kedua anaknya yang pastinya saat ini sedang mencarinya.


Apalagi ia masih menyusui, Krystal pasti saat ini tengah kelaparan mengingat ia tak tahu berapa lama terpengaruh dalam obat bius yang diberikan dokter.


"Anakku.." Perempuan itu bangkit duduk, tidak ada satupun orang di ruangan itu. Ia ingat terakhir kali Arthur lah yang membawanya kemari, tapi entah dimana sekarang keberadaan pria itu.


"Nyonya!" Seorang perawat wanita yang baru saja memasuki ruangan terkejut menyaksikan Wilhelmina yang berupaya melepas selang infus yang terpasang di tangannya.


"Jangan nyonya, ini tidak boleh dilepas sebelum mendapat izin dokter." Serunya memperingatkan.


"Aku harus pergi secepatnya, bisakah urus kepulangan ku sekarang juga?."


"Nyonya belum bisa pulang karena masih dalam tahap pemulihan, sebaiknya--" Perkataan perawat itu belum tuntas saat suara bariton khas laki laki menyahut disertai pintu yang terbuka.


"Dia akan tetap disini!" Arthur baru saja memasuki ruangan setelah mengurus administrasi dan biaya selama perawatan mantannya itu. Pria itu sudah nampak rapi dengan setelan jas dan kemeja berwarna navy.


"Tapi Arthur, aku sudah lama meninggalkan anak - anakku mereka pasti kebingungan mencariku sekarang." Kecemasan melanda hatinya yang merupakan perasaan normal bagi seorang ibu yang jauh dari buah hatinya.


"Orang lain yang akan mengurus mereka, memangnya dengan keadaanmu seperti ini kau bisa apa? Yang ada hanya akan membuat mereka sedih!" Arthur berujar datar. Dari dulu ia sudah mengenal sifat Wilhelmina yang amat menyukai anak kecil. Bahkan dulu keduanya berjanji akan mempunyai lebih dari 12 anak, sebelum semuanya hancur berkeping - keping karena pengkhianatan.


Perempuan itu menatap netra mantan kekasihnya dalam, hatinya tenang memperoleh perlakuan semacam ini yang telah lama tak ia dapatkan.


Perasaan yang tenang dan damai disaat orang lain peduli padamu dan berusaha melindungimu. Selama ini ia terus berdiri diatas kakinya sendiri bertahan dari segala rasa sakit hati yang ditorehkan suaminya.


Wilhelmina terkadang merutuki otaknya yang begitu bodoh, kenapa dulu hanya tergiur pada harta Arthur Anderson tanpa menyadari betapa baiknya hati lelaki tersebut.


"Arthur, maafkan aku. " Ditengah keheningan yang tercipta sesaat, perempuan bermata terang itu tiba - tiba mengucapkan permohonan maaf. Arthur yang masih berdiam dengan jarak tiga meter darinya hanya membisu.


"Tolong maafkan perbuatanku di masa lalu. Aku dulu sangat serakah para harta tanpa sadar telah melakukan hal yang biadab. Betapa jahatnya aku hingga sampai hati mengkhianatimu. Maafkan aku Arthur." Dia berkata seraya memandang wajah Arthur yang masih setia tak menampilkan ekspresi apapun.


"Arthur, katakan sesuatu?"


"Apalagi yang harus aku katakan?! Kau lihat sendirikan dampak dari kelakuanmu dulu. Perhatikanlah dirimu yang penuh dengan luka dan lebam! Seandainya saja dulu kau tidak melakukan hal itu tentu saat ini kau akan baik baik saja dan hidup bahagia." Arthur meluapkan separuh emosinya.


Ingin sekali ia melontarkan pertanyaan yang selama ini terkubur dalam benaknya. Kenapa kau meninggalkan aku? Kenapa memilih John si pria brengsek itu? Apa yang kurang dariku?. Tapi tenggorokannya seakan tercekat untuk menanyakan hal itu.


Karena Arthur sudah tahu alasannya. Wilhelmina hanya ingin kedudukan dan kekayaan, juga karena saat itu Arthur belum sekeren saat ini. Tapi entah mengapa ia selalu menampik alasan tersebut.


"Aku tahu, aku memang bodoh dan aku sangat menyesal. Tapi maukah kau memaafkanku?" Harapan akan dimaafkan oleh pria dihadapannya telah muncul sejak lama, namun baru sekarang ia dapat merealisasikan nya.


Perempuan itu berharap, Arthur masih bersedia menerimanya seperti dulu, apalagi saat ini ia sedang membutuhkan perlindungan dan kasih sayang seseorang untuk melanjutkan kehidupannya.


Hening.


"Arthur.. bisakah kau memberiku satu kesempatan lagi?" Wilhelmina tidak tahu diri. Ya, dia sadar dan paham betul kalau dirinya memang tidak tahu diri dengan meminta kesempatan pada lelaki tampan yang berdiri menjulang di depannya. Tapi bukankah lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali?


"Berhenti bicara omong kosong Wilhelmina!" Kini pria itu akhirnya angkat bicara setelah sekian lama membisu dan hanya mendengarkan.


Arthur berbalik dengan langkah lebar menuju pintu sebelum satu kalimat perempuan yang pernah mengisi hari harinya tersebut menghentikannya.


"Devan adalah anakmu!" Dengan nada lantang ia bicara. Sontak membuat Arthur berhenti dan membalikan tubuh atletisnya.


Alisnya bertaut tajam seolah meminta penjelasan.


"Tidakkah kau merasa bahwa Dev sangat mirip denganmu? Devan juga sangat pintar sama sepertimu. Aku akui Krystal adalah anakku dengan pria kejam itu, tapi tidak dengan Dev!"


Deg.


Arthur terdiam mencerna penuturan wanita di depannya. Otaknya masih butuh waktu menyusun tanggapan atas penuturan perempuan berkulit coklat tersebut.

__ADS_1


Bagaimana mungkin, setelah bertahun - tahun kisah cinta Wilhelmina dan Arthur telah usai.


Lalu dengan entengnya wanita tersebut berujar bahwa mereka mempunyai anak.


"Jaga bicaramu! Omong kosongmu benar - benar tidak masuk akal." Tukas Arthur. Nada bicaranya menggambarkan adanya kebingungan dan rasa cemas dalam batinnya.


Wilhelmina tersenyum kecut. Dengan susah payah wanita dua anak itu berupaya bangun seraya menggeret tiang infusnya.


Mengayunkan kakinya kearah Arthur dengan gontai.


"Kau ingat satu minggu sebelum pernikahan kita berlangsung?" Ujar Wilhelmina. Memori ingatan yang masih tertanam jelas dalam otak pria itu menerawang. Ya, dia ingat. Kalau tidak salah itu adalah hari Sabtu dimana dirinya, Wilhelmina, John, dan teman lainnya pergi ke sebuah club yang ada di tengah kota.


"Kau ingatkan? Kalau masih tidak ingat juga maka aku akan memberikanmu waktu untuk mengingatnya!" Nada bicara wanita itu sedikit meninggi.


Pikiran Arthur menerawang masa lalu yang sebenarnya sudah tak ingin ia ingat.


Ingin sekali Arthur melumpuhkan ingatan pada masa - masa kelam itu namun nyatanya dirinya tak mampu.


Malam itu adalah malam dimana mereka merayakan sebuah keberhasilan Arthur yang memperoleh kepercayaan dari klien untuk memegang proyek yang lumayan besar.


Perusahaan Anderson Group yang saat itu sedang sedikit lemah karena maraknya petinggi yang tak bertanggung jawab.


Memperoleh proyek yang dapat menarik perusahaan warisan keluarga dari jurang kehancuran merupakan sesuatu yang harus dirayakan.


"Sayang minumlah lagi?" Wilhelmina dengan balutan dress diatas lutut baru saja sampai dan duduk menempel pada kekasihnya.


Di tangannya membawa segelas minuman yang tak perlu ditanyakan lagi, pasti adalah minuman beralkohol yang memabukkan.


"Tidak, cukup sayang! Aku tidak bisa menyetir dengan fokus jika minum lagi." Saat itu Arthur bukan pria yang terlalu suka minum, ia hanya akan minum alkohol saat winter dimana cuaca sangat dingin.


"Kita bisa menginap di hotel dekat sini kalau kau tidak sanggup menyetir, atau aku juga bisa menyetirkan?. " Tawarnya lagi.


Mata Arthur menyapu sekeliling, teman temannya selalu menambah setiap kali pelayan menyodorkan gelas. Membuatnya sedikit tidak percaya diri.


"Jangan ragu Tuan CEO, proyekmu tidak akan lari hanya karena segelas wine! Ha ha ha!" Salah satu temannya yang sudah mabuk berat berkata demikian.


John, William, Jack dan temannya yang lain asik dengan dunianya sendiri. Bercengkrama dengan wanita yang berkeliaran disekitar mereka.


"Lihatlah teman - temanmu yang lain. Coba lihat John! Ayolah jangan terlalu culun seperti itu!" Perkataan dari wanita yang dicintainya membuat Arthur sedikit tersinggung. Ia tidak ingin dinilai sebagai pria culun yang tidak jantan hanya karena tak terbiasa minum alkohol layaknya para temannya.


Gengsinya yang tinggi membuat lelaki muda itu terus menerima sodoran gelas dari kekasihnya tanpa henti.


Beberapa jam kemudian.


"Sayang, sepertinya kau mabuk berat. Maafkan aku yang terlalu banyak memberimu minuman." Wilhelmina prihatin, dia tanpa sadar membuat kekasihnya mabuk berat.


"Aku tidak bisa mengemudi dalam keadaan begini."


"Aku juga tidak bisa karena kepalaku juga pusing." Sahut perempuan itu, ia juga meneguk terlalu banyak.


Pada akhirnya malam itu mereka memutuskan menyewa kamar di club tersebut. Hanya satu kamar yang tersisa, membuat mau tak mau mereka harus tinggal sekamar.


Dan entah siapa yang memulai duluan, entah Arthur atau Wilhelmina, namun keduanya melakukan hal intim tersebut.


"Tidak usah merasa bersalah sayang, lagipula sebentar lagi kita akan menikah." Ujar Wilhelmina di pagi hari ketika Arthur meminta maaf padanya karena merasa bersalah. Keduanya tidak ingat apapun karena mereka sama - sama mabuk berat.


***


"Jadi bagaimana? Sudah ingat Tuan Anderson?! Devan adalah anakmu dan tidak ada yang bisa menyangkal kenyataan itu!. Mungkin kau bertanya kenapa aku baru memberitahumu sekarang, itu semua karena setelah aku menikah dengan John pria itu terus mengurungku bagai peliharaan. Kami bahkan pindah ke kota lain hingga aku tidak bisa bertemu denganmu sampai saat ini Arthur!" Teriak Wilhelmina putus asa dengan air mata yang berhamburan di pipinya.


"Itu tidak mungkin." Gumam Arthur serba salah. Ia ingat melakukan hal itu, tapi tak pernah menduga hal yang lain apalagi sampai mempunyai anak dengan wanita di depannya

__ADS_1


Pembicaraan mereka terlalu serius hingga tidak sadar bahwa dari celah pintu yang terbuka ada telinga yang menangkap seluruh pembicaraan keduanya.


*Hal yang buruk atau kejadian tidak pantas disini jangan ditiru yaaa..


__ADS_2