
Arthur berjalan memasuki mansion dengan wajah datarnya. Hanya berjalan lurus seolah tak mengenali sekitar, bahkan beberapa sapaan dari para pengawal yang sedang jaga malam ia abaikan.
"Ada apa dengan tuan? " Tanya seorang dari mereka dengan wajah bingungnya.
Teman lainnya hanya menggedikan bahunya, ia tidak punya jawaban yang tepat, kecuali menebak bahwa sedang ada beban pikiran pada benak tuannya.
Tapi apa urusan mereka, bahkan membicarakan urusan pribadi tuan Arthur saja sebenarnya dilarang di tempat ini.
"Entahlah, biasanya tuan juga hanya mengangguk. Mungkin dia sangat lelah, ini sudah larut malam sekali." Sahut yang lainnya acuh. Lalu kembali mengawasi sekeliling mansion yang nampak sepi.
Gemericik air dari dalam kamar mandi menyambut kedatangan Arthur. Ia pasti menebak bahwa istrinya itu baru saja pulang dari luar mansion. Mungkin dia terburu - buru bersiap ketika tahu bahwa suaminya telah tiba. Kira - kira begitulah isi otaknya.
Pria itu melepaskan jas yang ia kenakan, menyampirkannya dengan asal ke sofa. Setelah melepas kemeja dan ikat pinggang pria itu langsung ambruk diatas ranjang. Ia memijat pelipisnya yang terasa pening lalu tak lama kemudian ia tenggelam ke alam mimpi.
Aisha sudah keluar dari kamar mandi. Piyama berwarna biru langit menempel pada tubuh rampingnya. Ia baru saja selesai menunaikan hajatnya tadi. Dahinya mengernyit heran kala melihat sang suami yang sudah berbaur dengan empuknya ranjang. Apalagi dia tidak membersihkan dirinya dulu. Aisha mendekat berniat membangunkannya.
"Yaampun, bahkan sepatunya masih melekat sempurna.. " Gumam Aisha pelan. Tanpa ragu ia melepaskan sepatu hitam milik suaminya. Memungut kaos kaki, jas, dan tas Arthur yang tercecer dimana mana. Dirinya tidak habis pikir, kenapa Arthur bersikap seenaknya seperti ini lagi. Ya memang, dulu saat awal - awal menikah pria itu selalu seenaknya, apalagi dalam menata barang barangnya. Tetapi lama kelamaan dan entah sejak kapan kebiasaan buruk itu berubah. Mafia dingin itu tiba tiba menjadi lemah lembut dan mulai meninggalkan kebiasaan buruknya.
"Arthur... Ayo bangun, mandi dulu kau kan baru saja pulang dari kantor. " Aisha mendekat dan menggoyangkan bahu suaminya. Pria itu tak bergeming. Bukannya mendapat respon Aisha malah mendapati hal yang paling tidak dia sukai.
"Apa ini? Bau alkohol?". Batinnya seraya mengapit hidungnya. Saat wajah mereka berdekatan tentu saja dia dapat mencium dengan jelas bau tak mengenakan itu dari suaminya. Sekarang mood perempuan itu sedikit buruk. Beberapa waktu belakangan ini terhitung semenjak Arthur menyatakan perasaannya, pria itu berjanji akan berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ia sudah jarang bahkan nyaris tak pernah minum lagi.
Tapi sepertinya pendapatnya agak salah sekarang, Arthur belum berubah. Aisha tak terlalu menuntut, memang susah mengubah atau menghilangkan kebiasaan yang sudah mendarah daging.
__ADS_1
"Yasudah, tidurlah saja. Kau pasti sangat lelah." Menghela napas dan mengusap kening suaminya lembut. Ia turut bergabung kedalam hangat dan empuknya ranjang mereka setelah mengecup kening suaminya.
Mata Aisha masih terbuka lebar, ia menatap wajah tampan yang tengah terlelap disampingnya. Tangannya terulur membelai wajah dengan bulu - bulu halus yang tumbuh disekitar rahang itu, sambil bergumam dalam hati.
"Semoga mimpi indah."
***
Pukul satu lewat dini hari, dahi Aisha mengerut heran kala mendengar dering ponsel diatas nakas. Mata lentiknya masih terpejam, perlahan mengerjab dan dengan rasa malas yang masih meliputi mengulurkan tangannya meraih benda itu. Ia mengucek matanya, kala tahu siapa yang menelpon membuatnya seketika refleks terduduk. Kantuknya lenyap, jika orang ini menelpon pada jam seperti ini sudah dipastikan ada sesuatu yang buruk terjadi.
Aisha bangkit perlahan dari ranjang nyamannya, ia melirik Arthur sekali lalu mengayunkan kakinya menuju balkon kamarnya.
Dengan wajah serius Aisha menyeret ikon berwarna hijau, sebuah suara yang terdengar di seberang membuatnya berwajah datar.
"Aku tidak bisa kesana, bukankah sudah kukatakan padamu bahwa aku menyerahkan semuanya padamu." Dia terdiam mendengarkan lawan bicaranya memberikan sahutan.
"Aku akan melakukan semampuku. Oh ya satu lagi, jangan biarkan siapapun tahu tentang masalah ini. Termasuk... Arthur. " Selesai mengucapkan semua itu dahi Aisha kembali mengerut heran. Namun sejenak kemudian ia kembali bernapas lega hanya karena satu kalimat di seberang sana.
"Baiklah, aku tidak ingin ada siapapun yang tahu tentang ini. " Sambungan terputus, Aisha menghela napasnya. Manik matanya menatap langit malam yang gulita diluar sana. Cuaca masih cukup dingin, perempuan itu mengusap bahunya.
Langkah kaki Aisha kembali mendekati ranjang. Ia merebahkan tubuhnya seraya melirik wajah suaminya. Aman, sepertinya Arthur masih tenggelam dalam alam bawah sadarnya.
Setelah tidurnya terganggu karena panggilan telepon tadi, Aisha jadi susah kembali dalam alam mimpinya.
__ADS_1
Setelah satu jam memejamkan mata, barulah ia dapat kembali menyambung mimpinya yang sempat tertunda tadi.
Arthur memiringkan kepalanya menatap perempuan disebelahnya. Rasa marah menghampirinya, ia memang tidur tadi. Tapi merasakan ada ranjang bergerak membuatnya sadar. Ia melihat dan mendengar apa saja yang isrinya bicarakan dengan si penelepon misterius itu. Arthur mengeratkan giginya erat, apa yang dilihatnya tadi siang masih menggelayuti pikirannya. Tak terima, suasanya hatinya lebih buruk daripada saat mendengar kelalaian staff yang bekerja.
***
"Kau kemana saja sepanjang hari ini?" Rey menatap istrinya dengan tajam. Tatapan yang sulit diartikan. Seperti ingin mengulik isi hati terdalamnya.
"Aku.. pergi-"
"Bukankah sudah kubilang untuk menungguku menjemputmu! Bahkan ponselmu tidak aktif!" Suara Rey dengan intonasi yang tinggi membuat Myara menunduk takut. Jemarinya saling bertautan dibawah sana. Keringat dingin menjalar. Melihat raut wajah istrinya yang ketakutan dan pucat membuat pria itu sadar akan perilakunya yang terlewat batas.
"Aku hanya khawatir padamu.."Demi apapun Myara serasa terbang ke udara. Sebuah hal yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Kehangatan tubuh suaminya yang saat ini tengah mendekapnya erat. Pelukan hangat yang selalu ia dambakan, belum pernah ia rasakan pelukan lelaki selain dari ayahnya. Myara hanya tahu deskripsi singkat tentang rasanya dipeluk orang yang dicintai lewat novel - novel romantis yang sering dibacanya.
"Aku harap ini bukan mimpi, dan semoga waktu bisa berhenti untuk sejenak saja." Dengan hati berdebar ia membalas pelukan yang menghanyutkan nya dalam alam kenyamanan. Begitu miris hidupnya, seorang istri yang dianggap asing dan haus perhatian suaminya sahnya sendiri.
Tidak ada yang tahu kejelasan hubungan ataupun perasaan manusia di hadapannya.
"Sudah.. " Myara merasa tak rela, tapi ia melerai tubuh mereka ketika Rey berucap. Wajahnya masih nampak marah. Lebih tepatnya kecemasan yang berlebihan akan tanggung jawab yang ia emban. Ia tak belum menerima wanita dalam kehidupannya, atau sebenarnya Rey yang gengsi mengakuinya. Tetapi bagaimanapun juga ia bertanggung jawab sepenuhnya atas gadis itu. Anak gadis orang yang telah menjadi miliknya, dan wajib ia jaga sepenuh hati.
"Emm.. aku akan ke kamar ayah dulu. " Merasa tak nyaman akan keheningan yang ada membuat gadis itu memilih untuk undur diri. Mereka sedang ada di rumah Holmes, lelaki garang itu mengaku sedang sakit dan merengek bagaikan anak kecil agar putri dan menantunya bersedia tinggal bersamanya. Padahal ada tujuan terselubung dibaliknya.
Ketika tubuh mungil itu hendak berbalik, tangan kokoh Reynard mencegahnya. Membuat mau tak mau Myara berbalik dan membelalakan matanya.
__ADS_1
"Apa? Pergilah ke kamar ayah! " Seolah tak ada yang terjadi dengan percaya dirinya tubuh tinggi tegap itu berbaik dan berlalu dari hadapannya. Rey memejamkan mata, merutuki dirinya sendiri dalam hati yang tanpa sadar telah menjatuhkan harga diri sendiri.
"Ya Tuhan, siapapun tolong katakan ini bukan mimpi. " Myara meraba keningnya yang mulus, sebuah bibir hangat baru saja menempel disana.