Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 5


__ADS_3

Memang bukanlah hal yang rumit bagi mafia seperti Bima menemukan jejak sepele semacam itu. Apalagi dengan pertolongan manusia yang ahli di bidang sidik menyelidik seperti Matthew.


" Aku akan melepaskan anak dan istrimu asalkan kau mau membuka mulutmu!! " Gertak Bima mengintimidasi.


"Ampuni saya tuan.. saya sudah bersumpah akan setia pada Tuan Pither. Saya tidak bisa melanggar sumpah yang saya buat sendiri " Kata pria itu memohon.


Bima nampak berpikir sebentar, orang yang loyal dan berpendirian teguh semacam Roman sangat sulit ditemukan. Alangkah baiknya, jika Roman bergabung dengan Golden Eagle saja. Karena jika dia tetap menjadi anak buah Esponder, maka Pither pasti akan memperalatnya untuk kejahatan. Sebuah ide cemerlang terlintas pada otak Bima untuk membuat Roman bicara.


"Matt, gores pipi wanita itu dengan silet! " Titah Bima. Mata Roman seketika membola, ia tidak sanggup melihat sang istri yang begitu dicintai nya mengeluarkan darah setetes pun.


"Tuan, saya mohon jangan.. " Ia kembali bersimpuh bahkan mencium telapak kaki Bima. Dengan harapan ada setitik rasa kasihan pada hati nurani pria itu. Namun ia salah mengira, hati Bima sudah hancur berkeping keping saat tragedi pembunuhan ibunya yang amat tragis. Ditambah lagi dengan trauma yang sampai sekarang masih membekas pada benak adiknya.


"Masih ada kesempatan untukmu. Katakan yang sebenarnya atau kau akan melihat keluarga yang kau cintai mati di tangan anak buahku " Roman sudah banjir air mata. Ia benar benar bimbang saat ini.


Aaaa!! Suara jeritan istri Roman terdengar pilu dari benda pipih itu.


"Bagaimana, masih tidak ingin bicara? " Bima tersenyum yang lebih mirip seringaian malaikat maut yang akan mengambil nyawa manusia.


"Tuan saya mohon... "


"Baiklah, Matt potong jari anak itu! " Perintah Bima lagi. Matt yang tampak di layar kaca itu menarik tangan anak laki laki berumur tiga tahun yang masih sangat polos. Bahkan saat Matt menaruh tangan nya keatas meja, ia dengan senang hati menyerahkannya.


"Tidak tidak!! Saya akan mengatakan nya tuan.. Tolong jangan sakiti putra saya " Menggeleng gelengkan kepalanya secepat kilat. Sudah cukup penyiksaan ini, biarlah kali ini Roman melanggar sumpahnya. Lagipula, Pither adalah pria biadab yang tak pernah berperikemanusiaan.


"Bagus, Matt bawa wanita itu dan anaknya kerumah sakit terbaik. Pastikan mereka sembuh dan lunasi seluruh biaya perawatan nya. Setelah itu amankan mereka " Perintah Bima lalu mematikan sambungan video call itu.


"Katakan! " Menatap Roman.

__ADS_1


"Saya disuruh oleh Pither Wilson dari organisasi gelap Esponder tuan. Tujuannya adalah memata matai anggota keluarga anda terutama adik perempuan anda " Roman mengaku dengan sejujurnya, tanpa ada satupun yang ditutupi. Memang, tujuan utama kesini adalah menyakiti Aisha. Karena Pither tahu jika anak kecil polos itu adalah kelemahan terbesar Golden Eagle. Pither berniat menyekap Aisha dan menjadikannya senjata nuklir untuk melawan Johan sekeluarga.


Cih, sudah kuduga. Dasar manusia licik!. Batin Jack.


"Oke, karena kau sudah berkata jujur maka kau kuampuni. Tapi satu lagi "


"Apa tuan? " Roman mendongak menatap tubuh raksasa Bima yang berdiri menjulang diatasnya. Hatinya berdebar debar kala menatap manik elangnya yang selalu membuat orang bergidik ngeri. Apalagi pria menyeramkan berkepala plontos yang berdiri dua meter darinya ini. Yang dikatakan orang memang bukan hanya sekedar mitos, ternyata Jack adalah manusia legenda terkejam dalam dunia mafia.


"Kau harus menjadi mata mata Golden Eagle di markas Esponder. Laporkan sekecil apapun informasi yang kau peroleh. "


"Ba- baiklah tuan. Tapi keluarga saya_"


"Kau tenang saja. Masalah keluargamu aman dibawah naungan kami. Kami akan menjadi perisai untuk mereka asalkan kau tetap setia. Namun jika kau berkhianat, bersiaplah hidup sebatang kara! " Tegas Bima.


"Iya tuan, saya berjanji akan selalu setia pada anda dan Golden Eagle. " Ucap pria itu bersungguh sungguh.


"Baik tuan " Pasrah Roman.


***


Italia


Roman sang mafia setia sekarang telah resmi menjadi anggota baru Golden Eagle usai diikat sumpah setia organisasi. Ia sudah ada di Italia saat ini.


Di sebuah ruangan temaram dengan remang remang cahaya, dua pria berbadan tinggi besar tengah mendiskusikan sesuatu yang serius.


"Bagaimana hasil kerjamu Roman, kenapa wajahmu lebam begitu? " Tanya seorang pria paruh baya dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


"Saya ketahuan dan sempat adu pukul dengan dua pengawal disana Tuan Pither " Jawab Roman berbohong.


"Payah! " Hardik Pither kesal. Namun ia juga tidak bisa terlalu marah pada Roman, dikarenakan ia masih memerlukan otaknya yang cerdik dalam mengelabuhi lawan. Bahkan organisasi Esponder terhitung lebih kecil menurut jumlah dan persenjataan. Namun, hingga kini organisasi gelap besutan Pither Wilson ini tetap berdiri kokoh lantaran otak cerdik Roman dan Clark.


"Ampuni saya tuan, tapi saya berhasil kabur dan melumpuhkan dua pengawal itu. Tuan tak perlu risau, saya tidak tertangkap oleh keluarga Fernandez " Pria itu berbohong lagi.


Roman menatap bola mata pimpinan Esponder itu tanpa memperlihatkan raut kebohongan. Kebetulan, Roman tahu sedikit mengenai ilmu psikolog.


Namun anehnya, Pither tetap saja percaya padanya. Karena ia tahu bahwa Roman adalah pria sejati yang berpegang teguh pada sumpah dan janjinya. Terlebih lagi, jaminan nya adalah anak dan istrinya.


"Baiklah, kali ini kau kumaafkan. Apa kau mendapat informasi? " Tanya Pither sembari meneguk segelas whiskey ditangan kanan nya.


"Tentu tuan, saya mendapat informasi jika Golden Eagle akan menyerbu kita "


"Kapan? " Menatap anak buahnya dengan antusias.


"Enam bulan lagi " Roman terus saja berdusta. Memang, Bima menyuruhnya mengatakan jika Golden Eagle akan mengobrak abrik markas mereka enam bulan lagi. Tak lupa, Roman membeberkan tempat rahasia dan persembunyian yang kemungkinan dituju Pither jika ia sedang terdesak. Pria itu juga mengatakan strategi dan taktiknya, tak lupa rencana cadangan jika mereka kalah jumlah, serta titik kelemahan Pither.


"Hahahah " Tawa khas pria berkulit putih itu menggelegar memenuhi setiap sudut ruangan sempit itu.


"Apa mereka terlalu pesimis menghadapiku setelah berkali kali kalah telak?. Enam bulan lagi?. Hah, kurasa mereka sangat lemah sekarang " Suasana senang memenuhi rongga dadanya.


"Baiklah, siapkan pasukan kita untuk berlatih keras mulai sekarang!. Jika ada yang mengeluh maka potong saja urat nadi mereka! " Kata pria itu dengan santainya. Inilah sikap yang membuat Roman muak, sikap yang seenaknya sendiri dan sok berkuasa. Padahal, organisasi ini niscaya akan jatuh kelubang hitam sejak dahulu jika tak ada Roman dan Clark. Walaupun Roman sudah melayangkan banyak nyawa manusia, tapi ia tetap memeluk erat rasa perikemanusiaan, dalam lubuk hatinya yang terdalam juga masih ada setitik kebaikan. Mengingat orang tuanya dulu senantiasa membimbingnya kearah yang lurus, andai saja ia tak berbelok arah pasti Roman sudah menjadi ahli ibadah saat ini.


"Baik tuan " Pria itu melenggang pergi dari hadapan pimpinan nya.


Pither bangkit dari duduknya lalu melangkah keluar. Ia menuju balkon yang berada di lantai dua markas itu. Menatap langit malam Italia yang bertaburan bintang. Kelap kelip benda di angkasa itu mengasah memori Pither tentang masa lalunya yang manis.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2