Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 104


__ADS_3

Manik mata Willy berkeliling menyusuri seluruh penjuru kamar yang menjadi bagiannya.


Kamar ini tidak begitu buruk untuk seorang pelayan, bahkan lebih luas beberapa kali dari kamarnya dulu ditempat tuan Rithik.


Tapi tetap saja tidak bisa dibandingkan dengan kehidupannya dulu ketika masih menjadi orang kaya.


"Mami apa ini kamar baru kita?" Pertanyaan Devan membuyarkan lamunan perempuan itu.


Willy mengulas senyum simpul dan mengelus kepala Devan.


"Ya, ini kamar baru kita. Tempat tinggal yang baru dan awal yang baru." Ujarnya seraya mengambil alih Krystal yang semula digendong kakaknya.


"Awal baru apa mami?" Tanya Devan dengan polosnya.


Willy masih tak menyurutkan senyumnya sembari menimang anak perempuan nya yang sedang menggeliat dalam tidurnya.


"Devan tidak perlu memikirkan itu, Dev hanya perlu belajar dengan giat agar menjadi orang yang pintar. Harus selalu menjadi juara satu dikelas dan.."


"Menjadi anak yang baik dan penurut." Ujar Devan dengan bersemangat.


"Ya, mami akan melakukan apapun untuk masa depanmu. Agar kau menjadi orang yang sukses seperti yang Devan mau."


"Baik mami."


***


Setelah pembicaraan nya dengan Rey beberapa saat yang lalu, sesuai saran pria yang telah bersamanya sejak kecil itu, Arthur memilih menenangkan dirinya sejenak di ruangannya.


Arthur tak berhenti merutuki kebodohannya sendiri yang terlalu mengedepankan emosinya daripada akal sehatnya hingga membuat semauanya kacau.


Sekarang ia tidak tahu, apakah Aisha akan memaafkannya atau tidak.


Kata kata Rey yang berputar di kepalanya membuatnya semakin takut apabila perempuan itu akan meninggalkannya.


..."Jika kau belum bisa melupakan masa lalumu, maka kau akan kehilangan masa depanmu Arthur. Sekarang pilihannya ada padamu, terus terpaku pada masa lalumu yang tidak berguna itu atau membangun masa depan yang indah bersama istrimu."...


Kebigungan menyergap hatinya, apakah memang dirinya belum bisa melupakan apa yang terjadi di masa lalu?


Ah, memikirkannya membuat kepalanya seakan ingin meledak.


Ia tak bisa berdiam diri seperti ini, untuk saat ini solusi yang terpikirkan di otak Arthur hanya satu, meminta maaf pada Aisha dan jangan sampai perempuan itu meninggalkannya.


Dengan langkah gontai Arthur melangkah menuju kamarnya sembari menyiapkan mental apabila istrinya itu akan kembali bersikap ketus dan dingin.


Ia harus bisa mengontrol emosinya agar tidak kembali melukai hati Aisha.


Perlahan pintu itu terbuka ketika salah satu tangan Arthur mendorongnya, sebisa mungkin ia menghindari timbulnya suara.


Dan saat daun pintu itu terbuka, pandangan Arthur seketika tertuju kearah balkon dimana istrinya itu sedang berdiri memunggunginya.


"Maafkan aku." Aisha terperanjat. Dirinya terkejut dan kedua alisnya menaut kala telinganya menangkap suara yang tak asing.


Belum lagi sebuah lengan kekar yang memeluknya dari belakang.


"Arthur?" Lirih Aisha yang yakin kalau lelaki dibelakangnya adalah suaminya sendiri.


Tapi kenapa sikap pria itu dengan cepat berubah? Sekarang ia kembali menjadi lembut seperti Arthur yang biasanya Aisha kenal saat hubungan mereka masih baik.


Tak mendapat balasan dari pertanyaannya, Aisha hendak berbalik, namun tangan besar itu kian mendekapnya erat seolah tak rela ia pergi.


Bahkan kini ia merasa bahunya basah.


Ya, Arthur tanpa sadar meneteskan air matanya. Pria itu tak tahu cara minta maaf yang benar agar istrinya bersedia mengampuni kesalahan yang sudah ia buat.

__ADS_1


"Arthur jangan seperti ini, biarkan aku mengahadapmu." Tutur Aisha.


"Maaf, maafkan aku. Aku tidak tahu bagaimana cara meminta maaf yang benar, Rey sudah membuktikan bahwa kau tidak bersalah. Aku memang pria brengs*k yang hanya mengedepankan amarah. Aku mohon maafkan aku Sha. Jangan tinggalkan aku."


Arthur berucap dengan lirih dan lembut. Berbeda jauh daripada sebelumnya.


Aisha menyentuh tangan Arthur yang melingkar diatas perutnya. Rasanya sangat nyaman. Sepertinya anak yang ada dalam perutnya sangat senang ketika sang ayah menyentuhnya.


"Apa kau mau memaafkan pria bodohh ini?" Sambungnya.


Aisha berbalik badan menghadap suaminya.


Keduanya saling bertukar pandang cukup lama.


Terlihat jelas penyesalan di kedua mata Arthur yang masih tersisa bekas air mata.


Jemari Aisha yang lentik mengusap wajah tampan yang sudah beberapa hari tak ia lihat.


Sudah tidak ada alasan lagi untuk marah pada suaminya tersebut. Untuk apa memperpanjang masalah yang nantinya akan menciptakan jurang di hubungan mereka.


Apalagi dari awal ia tahu sifat Arthur yang memang mudah tersulut.


Lagipula ini juga salahnya yang tidak jujur.


"Arthur, ini bukan salahmu. Dari awal ini salahku yang tidak mau jujur dan merasa bisa menyelesaikan segalanya sendiri. Tolong maafkan aku." Kata Aisha yang berlinang air mata.


Arthur mengusap kedua mata istrinya.


"Tolong ceritakan segalanya padaku."


Memang dirinya sudah tahu semuanya dari Reynard dan Myara, tapi beda lagi kalau penjelasan itu keluar langsung dari mulut istrinya.


Arthur menuntun Aisha menuju sofa dan mulai mendengarkan cerita darinya dengan seksama.


Ia juga harus menyerahkan saham yang ia punya dan menuruti perkataan Billy untuk menyelamatkan nyawa kekasih kakaknya.


Bahkan Aisha juga menceritakan kenapa ia bisa memakai cincin pemberian Billy. Semuanya tanpa ada yang kebohongan sedikitpun.


"Pria sialann itu!" Geram Arthur dengan rahang yang mengeras menahan kesal.


"Aku pasti akan menemukannya dan menghabisinyaa."


Aisha dapat melihat dendam yang tersirat dalam bola mata suaminya. Perempuan itu mengelus lembut dada bidang Arthur yang terbungkus jas.


"Lalu bagaimana dengan karyawanmu itu?" Ketus Aisha yang kembali teringat kejadian saat di kantor Arthur tempo hari.


Kejutan yang ia siapkan menjadi kacau balau karena memergoki suaminya bersama wanita lain.


Arthur menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Ia malu mengakuinya, kalau ide bodoh dan kekanakan nya saat itu karena ia begitu cemburu pada istrinya.


"Itu..."


"Itu apa?" Sela Aisha tidak sabar.


"Sebenarnya... aku melakukan itu karena terlalu cemburu padamu. Aku ingin kau juga merasakan hal yang sama." Ungkap nya dengan lirih tanpa berani memandang kearah istrinya.


Aisha masih menampilkan wajah kesalnya, tapi percayalah, dalam hati perempuan itu sudah tertawa melihat ekspresi suaminya yang memerah menahan malu.


"Jadi kau sengaja melakukannya?" Aisha mencebikan bibirnya namun entah mengapa Arthur begitu gemas melihat ekspresi itu.


Pria itu tersenyum dan memandang lekat wajah cantik yang menjadi miliknya.

__ADS_1


"Ya, aku memang sengaja." Tangan Arthur bergerak menyentuh bibir istrinya yang masih merengut sebal. Ia begitu merindukan bibir berwarna merah muda itu.


"Kau benar benar menyebalkan Arthur!" Sembari memukul lengan suaminya.


"Kau juga menyebalkan!" Ujarnya seraya mencubit kedua pipi istrinya yang nampak sedikit berisi daripada biasanya.


Mereka tertawa bersama setelah sekian lama.


"Arthur, aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Aisha teringat bahwa ia belum bercerita hal yang sangat penting pada suaminya yang tentunya akan membuat pria itu sangat bahagia. Tentang janin yang ada di perutnya.


Namun Arthur malah fokus pada belahan bibir wanitanya yang nampak begitu menggoda. Tak dapat dipungkiri Arthur merindukan sensasi yang sudah lama tak ia rasakan.


"Nanti saja." Pria itu merapatkan tubuh keduanya dan menarik pinggang Aisha hingga terkikis jarak diantara mereka.


Tanpa aba aba Arthur ******* bibir wanitanya dengan lembut.


Tangannya tak tinggal diam mulai menjelajah dibalik balutan gaun tidur itu.


Hingga keduanya kembali melakukan pergumulan bersama tanpa mengenal waktu.


***


Percintaan mereka malam itu seolah menjadi lem perekat yang membuat Arthur dan Aisha kembali bersatu.


Bahkan mereka melakukannya berkali kali hingga menjelang pagi. Dan pagi ini Arthur kembali memintanya lagi.


"Sudah Arthur, aku benar benar lelah." Lirih Aisha yang seraya menahan tangan suaminya yang kembali bergerilya. Padahal baru 30 menit yang lalu mereka baru saja selesai melakukannya.


Dirinya heran darimanakah asalnya tenaga pria itu hingga tidak mengenal lelah dalam menuntaskan hasratnya.


Namun Aisha maklum mengingat akhir akhir ini hubungannya dengan Arthur sempat merenggang yang otomatis berdampak pula bagi hubungan ranjang mereka.


"Baiklah, istirahatlah sebentar. Setelah itu kita turun dan sarapan aku tahu kau lapar." Ujar Arthur yang memilih menahan kembali hasratnya sebab tak tega melihat istrinya yang kuwalahan meladeni keinginannya.


****


Satu jam kemudian, kedua pasangan suami istri itu menuruni tangga bersamaan dengan bergandengan tangan. Sangat romantis. Membuat siapapun yang melihatnya akan iri dengan kemesraan mereka.


Keduanya nampak segar setelah melakukan ritual mandi bersama yang seolah memulihkan kembali tenaga.


Aisha merasa sangat bahagia, pagi ini Arthur bersikap sangat manis, bahkan lelaki itu menarikkan kursi seolah ia adalah ratu baginya.


"Kau mau makan apa sayang?" Tanya Aisha dengan tangan yang sibuk mengambil nasi di piring sang suami.


"Apa saja kalau kau yang memasak pasti aku suka sayang." Balasnya.


Aisha terkekeh, kedua tangan wanita itu dengan cekatan mengambil aneka lauk pauk yang tersedia diatas meja makan.


Lalu keduanya menikmati sarapan pagi dengan suka ria, tak jarang mereka bercanda di sela sela kegiatan makan meskipun itu tidak baik.


"Masakanmu memang selalu lezat sayang, bahkan kali ini lebih lezat dari biasanya. Kau memang yang terbaik." Arthur mengecup pipi istrinya.


Aisha mengulas senyum simpul, ia senang melihat suaminya makan dengan lahap.


"Tapi kali ini bukan aku yang memasak Arthur."


Ujarnya.


"Lalu siapa yang membuat masakan selezat ini?" Tanya pria itu tak terlalu jelas karena sibuk mengunyah makanan di dalam mulutnya.


"Aku yang membuatnya tuan." Tiba tiba suara seorang wanita menyahut membuat Arthur mengalihkan pandangannya.


Menoleh ke sumber suara dan seketika matanya membulat dengan sempurna.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2