
"Lalu siapa yang membuat masakan selezat ini?" Tanya pria itu tak terlalu jelas karena sibuk mengunyah makanan di dalam mulutnya.
"Aku yang membuatnya tuan." Tiba - tiba suara seorang wanita menyahut membuat Arthur mengalihkan pandangannya.
Menoleh ke sumber suara dan seketika matanya membulat dengan sempurna.
Arthur terhenyak, matanya yang tak lepas menatap lekat - lekat manusia yang berdiri tak jauh darinya. Bahkan sendok yang berisi nasi itu tergantung di udara sebelum masuk ke dalam mulutnya.
Dia tidak salah lihat, wajah itu.
Wajah yang selama beberapa tahun ini tidak pernah ia jumpai. Kulit kecoklatan dengan lekukan manis di kedua ujung pipinya yang terlihat jelas ketika ia menarik kedua sudut bibirnya.
Arthur sangat hafal senyum itu. Itu adalah senyuman seorang wanita yang pertama kali merebut hatinya di masa lalu sekaligus wanita pertama yang membuat dirinya hancur berkeping - keping.
"Ada apa sayang? Kenapa kau melamun?" Aisha mengoles selai kacang pada rotinya. Ia menggoyang pelan bahu suaminya kala tak kunjung memperoleh balasan atas pertanyaannya.
Arthur belum mengalihkan pandangannya.
Masih menatap lekat - lekat pada orang yang berdiri disana.
Apa dia sudah salah lihat? Barangkali penglihatannya menurun seiring bertambahnya usia.
Tidak mungkin perempuan itu ada disini.
Bagaimana dia bisa masuk.
Arthur tak menyadari saat Aisha meminta seorang perempuan untuk ikut bersama mereka waktu dirumah Rithik karena pria itu sedang menahan emosi hingga lupa pada sekelilingnya.
Aisha ikut mengalihkan pandangannya pada Willy.
"Oh dia, apa kau lupa? Kemarin aku meminta agar dia juga ikut dengan kita.
Arthur, dia butuh pekerjaan untuk membiayai dua anaknya. Jadi aku menjadikannya pelayan disini." Ujar Aisha dengan lembut seraya mengelus pelan bahu suaminya.
Apa? Anak? Pelayan? Pikiran pria itu masih berkecamuk.
"Namanya Willy. Aku menyukai masakannya oleh sebab itu dia mulai sekarang yang akan menyiapkan masakan untuk kita setiap harinya." Sambung Aisha lagi disertai senyum yang merekah dan menggandeng Willy agar mendekat. Tidak menyadari apa yang dilakukannya.
"Ayo perkenalkan dirimu!"
"Perkenalkan-" Baru satu kata yang keluar dari mulut Willy, pria itu sudah beranjak dari duduk. Membuat senyum wanita itu pudar seketika seakan ia sangat kecewa.
"Aisha, kenapa kau tidak memberitahuku dulu kalau ingin menerima pelayan baru?" Guratan wajah Arthur datar tanpa ekspresi. Nada suaranya juga rendah namun penuh ketidaknyamanan.
"Kau sendiri yang bilang aku boleh membawanya." Sangkal nya.
__ADS_1
"Tapi kita sudah punya banyak pelayan dan tidak membutuhkan orang lain lagi untuk mengurus rumah ini." Tegas Arthur yang merasa keberatan apabila harus tinggal seatap dengan orang itu. Orang yang membuatnya menjadi playboy yang menjadikan wanita mainan. Menjadikannya pria yang keras dan arogan.
"Arthur, apa kau tidak kasihan padanya?" Manik Aisha melirik wajah Willy yang menunduk. Ia yakini dia sedang berharap agar tidak diusir dari mansion ini.
"Dia punya dua anak yang harus dihidupi Arthur. Biarkan dia bekerja disini sementara, kalau kinerjanya tidak baik kau bisa memutuskan selanjutnya seperti apa."
Aisha bertutur lembut. Diusapnya dada bidang suaminya pelan untuk membujuk pria itu.
Terdengar Arthur menghela napas kasar, ia tak kuasa menolak permintaan Aisha sedangkan hubungan mereka baru saja membaik.
"Aku mohon...'
"Terserah padamu." Hanya kalimat itu yang ia layangkan namun membuat kedua wanita di depannya bahagia. Terlihat dari raut wajah mereka.
"Terimakasih sayang." Katanya sembari mencium pipi Arthur dihadapan Willy. Tak lupa memeluk tubuh kekar pria itu yang berbalut kemeja biru tua.
Hati wanita itu sedikit mencelus sakit menyaksikannya. Andai saja ia yang ada di posisi itu. Betapa bahagianya hidupnya.
Memori otaknya membawanya ke kenangan masa lalu dimana ia juga selalu mengecup pipi pria itu saat apa yang dikehendakinya selalu dikabulkan.
"Aku ingin kembali ke masa itu.."
Willy masih menata beberapa mangkuk dan piring sebelum ia berbalik dan kembali ke tempatnya.
"Emm, Arthur aku akan keatas sebentar." Aisha berucap pelan ketika perutnya kembali terasa seperti diaduk. Ia berusaha menetralkan mimik wajahnya agar tidak membuat suaminya itu khawatir.
"Baiklah, aku juga akan segera berangkat ke kantor. " Sahutnya.
...***...
Beberapa saat kemudian.
Willy memekik kesakitan ketika tangannya diseret salah satu pengawal ke sebuah ruangan.
Mata wanita itu berkeliling memerhatikan ruangan yang asing baginya.
Sebuah ruangan bercat putih yang terletak tidak jauh dari rumah utama namun agak susah dijangkau.
Dan tidak ada satupun perabotan didalamnya.
Mau diapakan dia? Gumamnya.
"Tunggu, apa maksudmu membawaku kemari?!" Pertanyaan ia layangkan pada pria yang tadi membawanya.
Lelaki itu hanya diam tak melontarkan sepatah kalimatpun. Tugasnya sudah selesai. Langkah lebarnya mulai menjauh darisana.
__ADS_1
Tak lama kemudian, mata Willy yang semula menatap sekitar seketika berbinar kala menemukan sosok yang sangat ia rindukan ada di depan matanya.
Senyum samar di bibirnya mengembang. Rasa takutnya tadi sirna.
Apalagi saat pria itu semakin dekat kearahnya.
"Arthur" Bibir berwarna merah mudanya bergumam pelan tetapi masih dapat ditangkap pendengaran Arthur.
"Arthur, aku sangat terkejut karena kau ada disini, aku kira kau sudah berangkat bekerja daritadi." Willy mendekatkan langkahnya dengan senyuman yang tak menyurut.
Beberapa menit yang lalu ia yakin melihat dengan matanya sendiri bahwa mantan kekasihnya itu sudah menaiki mobil menuju ke kantor Anderson.
Tapi dugaannya salah. Mungkinkah dia kembali hanya karena ingin bicara dengannya.
"Berhenti." Suara pria itu terdengar datar ketika Willy hendak mendekat padanya. Kira kira saat ini ada jarak dua meter diantara keduanya.
Manik mata Arthur memindai penampilan mantan kekasihnya yang mengenakan seragam pelayan.
Rambutnya diikat satu dengan sedikit polesan make up.
Wilhelmina sangat jauh berbeda dengan terakhir kali yang ia temui.
Jelas saja, itu sudah beberapa tahun yang lalu.
"Emm.. apa kau memerhatikan penampilanku?" Tanyanya dengan nada sedih.
"Sebenarnya ada apa kau membawaku kemari?" Tanyanya lagi saat tak kunjung memperoleh balasan akan pertanyaannya.
"Ada apa kau bilang? Seharusnya aku yang berkata seperti itu! Kenapa kau ada di tempatku? Siapa yang mengijinkan mu masuk kemari dan apa tujuanmu kemari!?" Berondong Arthur.
Willy menghela napasnya kasar, "Aku datang kemari atas ijin istrimu. Dia memberikanku pekerjaan sebagai pelayan disini. Arthur aku--"
"Aku tidak pernah percaya padamu." Potongnya.
"Aku tidak berbohong Arthur." Willy memang tidak berbohong bahwa dirinya sangat membutuhkan pekerjaan tersebut.
"Arthur apakah kau tahu? Aku hidup dengan susah selama ini. Aku sangat sangat butuh pekerjaan ini untuk membiayai anak anakku. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi tolong biarkan aku bekerja disini. " Mohonnya dengan mata berkaca.
Arthur berusaha menetralkan raut wajahnya meski saat ini ada perasaan aneh dalam dirinya. Entah itu sedih, kesal atau apapun itu. Namun ia tak nyaman mengetahui wanita di depannya hidup sengsara.
"Arthur, aku berjanji akan bekerja dengan sangat baik dan tidak akan melakukan kesalahan." Ucap Willy seraya memelaskan raut wajahnya agar pria itu mengijinkannya.
Tanpa menjawab atau menyahut perkataan panjang lebar perempuan yang sudah menorehkan luka dalam pada batinnya, Arthur mengayunkan kakinya lebar menuju pintu.
Ia tidak tahan berlama - lama disana.
__ADS_1