Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 52


__ADS_3

Yudhi mengayunkan kakinya keluar dari ruang kerja Arthur. Lalu menuruni tangga, disana ia mendengar suara tawa adiknya dan seorang wanita lagi. Entah siapa dia.


Begitu sadar kakaknya datang, Aisha langsung menghampirinya. "Kakak akan pulang? " Tanyanya.


"Iya, pesawatku akan berangkat siang ini." Ujar Yudhi sembari melirik kearah wanita yang sedang duduk di sofa.


"Siapa dia? "


"Dia Myara, temanku. Kenapa, kakak mau kenalan? " Goda Aisha dengan menaikan satu alisnya. Tiba - tiba ia teringat akan status Yudhi yang masih single hingga usia sekarang.


Dan Myara juga masih sendirian sepertinya, batin gadis itu.


Tapi Myara masih muda, umurnya sepadan denganku. Sedangkan kak Yudhi ,dia sudah 37 tahun.


"Tidak, aku akan pergi sekarang. Jaga dirimu." Mengelus kepala adiknya lalu hendak berlalu dari sana, namun Aisha mencekal lengannya.


"Kapan kakak akan menikah? " Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibirnya. Membuat Yudhi menoleh dan menatap lekat padanya.


Pria itu menghela napas kasar, "Jaga dirimu baik - baik. Jika Arthur menyakitimu hubungi aku, kakak akan menjemputmu kalau itu terjadi. " Ujarnya lalu melenggang pergi dari hadapan adiknya. Aisha mendengus sebal.


Memangnya dia mau membujang seumur hidup apa! Lagipula sumpah kakak sudah terpenuhi kan. Tidak habis pikir dengan pola pikir kakak tertuanya itu. Yudhi seperti tidak tertarik pada wanita, mungkin karena terlalu lama sendiri, membuatnya kebal akan itu semua.


Aisha melangkah mendekati Myara yang sejak tadi masih menunggunya.


"Myara maaf ya, tadi itu kakak ku. " Duduk di sebelah temannya, memandang Mya yang tengah asik berkutat dengan ponsel. Gadis itu menoleh.


"Tidak apa apa. Aku pulang dulu ya. "


"Kenapa buru - buru? Tunggu sejenak-" Belum menyelesaikan kalimatnya, ucapan Aisha terjeda karena teriakan menggelegar dari Rey yang baru saja tiba.


"Arthur! Arthur! " Teriakan nya menggema ke seluruh penjuru ruangan.


"Ada apa Rey? Ini rumah orang, jangan teriak teriak, kau pikir ini hutan! " Omel Aisha marah. Rey hanya tercengir kuda dan mengatupkan kedua telapak tangannya ke dada.


"Maaf Sha, aku begitu senangnya sampai lupa. Dimana suamimu? " Tanya Rey, sejenak ia melirik Myara yang tidak berkedip menatapnya.


"Dia ada di ruang kerja sepertinya. " Ujar Aisha sembari melirik keatas, dimana ruangan kerja Arthur berada.

__ADS_1


"Baiklah, aku permisi. " Rey lalu melenggang pergi, menapaki anak tangga dengan girangnya.


"Dasar aneh. " Gumam Aisha, ia menoleh kearah temannya yang masih memandang punggung Rey tanpa berkedip. Bahkan saat Aisha memanggilnya ia tidak menyahut.


"Myara! Kau kenapa? " Ujarnya cukup keras setelah tahu bahwa Mya sedang melamun.


Gadis itu salah tingkah sendiri, " Ah tidak, aku tidak apa apa. " Mencoba mengelak.


Aisha tersenyum simpul memandangnya,


" Kau menyukai Reynard? " Tanyanya penuh selidik. Sambil tersenyum menggoda kearah Myara.


"Tidak, kau ini salah sangka. Aku hanya heran saja siapa dia."Ujar Myara.


"Dia sekretaris suamiku. " Menepuk bahu teman barunya itu. " Kau tenang saja Mya, aku akan mengenalkanmu dengannya. "


Semburat merah menghiasi kedua pipi Mya, ia akui, ia terkesima akan pesona Rey sejak pertama kali melihatnya. Namun ia malu mengakuinya karena Mya sama sekali belum pernah berhubungan dengan laki laki.


Rey terlihat menuruni anak tangga bersama Arthur, pakaian mereka rapi seperti akan berangkat kerja.


"Tunggu! Kalian mau kemana? " Cegah Aisha. Bangkit dari duduk dan menggandeng tangan Mya menuju keduanya.


"Tapi inikan hari libur. " Dahi Aisha mengernyit heran.


"Ada meeting dengan klien diluar jam kerja Sha. " Rey yang menyahut. Aisha beralih menatap Rey, menarik kedua sudut bibirnya lalu menarik lengan Mya sehingga berada di depan Rey sekarang.


"Rey kenalkan, ini temanku. Namanya Myara." Rey menyetel wajah datarnya. Dia memang begitu, hanya akan akrab pada orang yang telah kenal lama dengannya. Tapi akan dingin sedingin es pada orang baru.


"Myara.. "Mya menjulurkan tangan. Rey menjabat sejenak dan hanya tersenyum singkat. Membuat harapan Mya buyar seketika, gadis itu melepaskan tautan tangannya dengan Rey. Lalu beralih ke samping Aisha lagi.


"Ayo. " Ajak Arthur. Kedua lelaki tampan itupun melangkah keluar mansion menuju tujuan mereka.


Setelah kedua pria dingin itu pergi, Aisha memandang Mya. Menepuk bahunya meyakinkan. " Kau jangan pikirkan sikap Rey, dia sebenarnya sangat baik dan ramah. Hanya saja, dia agak dingin pada orang baru, dulu denganku juga begitu. "


Myara hanya mengangguk menanggapi, ia juga tak ingin berharap lebih. Rasa sukanya masih sebatas rasa suka karena pandangan pertama saja. Belum lebih dari itu.


Mereka pun kembali melanjutkan acara menonton televisi mereka sembari berbincang - bincang saling mengenal satu sama lain.

__ADS_1


***


Malam harinya, setelah Mya dan Rey pergi darisana, Arthur dan Aisha duduk bersebelahan di ruang keluarga. Aisha gugup, Arthur memasang wajah datarnya sedangkan aunty Rania tersenyum girang disana.


"Sebenarnya ada apa aunty, aku masih ada urusan. " Arthur yang membuka percakapan. Sejak tadi penselnya berdering karena pesan dari salah satu temannya. Arthur melirik aunty sembari membuka pesan itu.


Arthur kemarilah, ada banyak wanita disini.


Ayo kita berpesta. ~Bastian


Cepatlah, aku tunggu! ~Bastian


Aku tidak bisa!~ Arthur


Bastian adalah salah satu teman Arthur. Seorang pria playboy yang gemar mempermainkan wanita. Dialah yang semakin membawa dampak buruk bagi Arthur dan Reynard sejak dulu.


"Ada yang ingin aku katakan pada kalian. " Seru aunty Rania dengan senyum yang mengembang sempurna di bibirnya. Lalu melirik Aisha dan Arthur bergantian.


"Apa? " Tanya mereka bersamaan.


"Wah! Kompak sekali kalian ya. Aunty jadi makin semangat. " Hebohnya seraya bertepuk tangan riang. Aisha dan Arthur mengerutkan kening, heran akan sikap aunty Rania yang tiba tiba merasa sangat bahagia.


Arthur berdecak kesal. " Katakan saja aunty, jangan bertele - tele. Aku akan segera pergi, masih ada urusan penting diluar. " Ujarnya dengan nada malas. Membuat Rania kesal dan mendelik marah padanya.


Wanita itu berkacak pinggang dan menajamkan tatapannya pada keponakan nya itu.


"Keluar kemana! Malam ini kau tidak boleh kemana mana. Karena besok kalian akan berangkat ke luar negeri. " Ujarnya sambil menarik kedua sudut bibirnya penuh semangat.


"Kemana? " Sepasang suami istri itu menyaut bersamaan.


"Bulan madu. " Jawab Rania singkat.


"Apa! " Arthur dan Aisha tersentak mendengar kalimat sakral yang menyeruak ke gendang telinga mereka. Bulan madu? Yang benar saja, bahkan bersama sekamar berdua saja seperti neraka.


"Aku tidak mau aunty! " Aisha menyaut dengan mengerucutkan bibirnya. Benar benar tidak setuju dengan usul bibi suaminya itu.


"Aku juga tidak mau! Aunty, jangan meminta aneh aneh, aku harus pergi sekarang. " Sudah bangkit dari duduknya. Namun saat Rania menghunuskan tatapan tajamnya Arthur mengurungkan niatnya. Menghela napas kasar lalu kembali mendengarkan penuturan bibinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2