
"Ada apa Lia? Kenapa kau melamun? " Menggoyangkan bahu perempuan itu.
"Ah, iya. Tidak ada apa - apa nona. " Gelagapan sendiri, dia sampai lupa kalau masih ada di hadapan nonanya. Bisa bisanya dia malah melamun. Lia hanya berpikir, bagaimana jadinya jika sahabat laki - laki nona tinggal disini juga. Sampai pada batas pikirannya pun dia tak menjumpai jawaban.
Yasudahlah, orang kaya memang aneh. Aku hanya pelayan, pemeran utama adalah nona dan tuan.
"Lia? "
"Iya nona? "
"Maukah kau menjadi temanku? " Bertanya penuh harap. Dengan senyum lebar yang entah mengapa mirip anak kecil yang meminta balon.
"Tapi nona, saya hanya pelayan " Sadar apa posisinya di tempat ini, Lia tak ingin gegabah. Bekerja di kediaman tuan Anderson itu sudah keberuntungan luar biasa yang sangat langka. Untuk masuk seleksi saja, harus benar benar berpengalaman kerja. Tidak cekatan, artinya tidak diterima. Hanya pelayan berbakat saja yang bisa memasuki barisan pelayan dirumah ini.
Kalau gajinya tidak sepuluh kali lipat, saya tidak akan menghabiskan waktu enam bulan hanya untuk mendaftar kemari. Hiks!
"Lia..." Meraih tangannya, menggenggam nya erat " Jika kau bersedia menjadi temanku, aku akan sangat senang. Aku tidak peduli apa profesimu. Jadi mau kan? Mau ya? "
"Nona saya- " Belum selesai bicara, Aisha sudah menyahut duluan " Yey, Lia mau. Terimakasih ya Lia. Sekarang kita teman. Ahh, aku gembira sekali akhirnya aku punya teman di penjara ini! " Memeluk teman barunya erat. Seolah mendapat boneka baru saja. Bahkan Lia sampai susah bernapas. Ia hanya diam kaku dengan mata membola. Tidak pernah terlintas di pikirannya bahwa nonanya secerewet ini.
"I-iya nona. " Ujarnya setelah pelukan kilat nona muda terlerai. Sembari mengatur napas yang sempat tercekat beberapa saat.
"Saya permisi nona, silahkan dilanjut makannya " Pamit undur diri, sebelum hal tidak terduga lainnya terjadi.
***
Seorang laki - laki tampan, gagah nan rupawan tengah berada di depan pintu megah mansion Arthur. Terlihat ragu untuk sekedar mengetuk pintu. Tadi saat dia menyatakan dirinya sebagai kakak dari Aisha pada salah satu penjaga, mereka mengijinkan nya mengetuk pintu. Karena memang diantara mereka ada yang sudah mengenal identitas Yudhi.
Yudhi datang seraya menenteng tas kerjanya. Dia akan berangkat ke kantor, namun di tengah perjalanan ia teringat adiknya. Hatinya masih tak terima jika dia menikahi seorang Arthur. Arthur yang rumornya terkenal dingin sedingin kutub utara. Yang keras kepalanya sekeras baja. Yang datarnya sedatar tembok. Apakah adikku bisa hidup dengannya. Begitulah yang berkecamuk dalam benak Yudhi.
Ia memejamkan mata sejenak. Tangannya sudah tergantung di udara akan mengetuk pintu. Tiba - tiba bayangan momen saat ia bersama Aisha berputar, seperti film layar lebar.
"Pria seperti apa yang kau inginkan nanti? "
__ADS_1
Yudhi bertanya sambil meneguk setengah jus jeruk nya. Tandas sudah diminumnya.
"Kenapa kakak bertanya begitu, aku kan masih muda. Kau yang sudah dewasa saja belum menikah kan. Kenapa? "
Ucapnya sambil meraih sepotong pizza. Mengunyah sampai halus sebelum ditelan.
"Kau tahukan kenapa semua kakakmu tidak menikah sampai sekarang? "
Sumpah yang terucap. Itulah alasan kenapa sampai usia setua ini Yudhi dan lainnya belum menikah. Ada suatu kejadian yang membuat mereka semua kompak mengucapkan sumpah setia tak akan menikah selamanya.
"Lupakan sumpahmu itu kak, hidup ini terus berlanjut. Kasihan ayah nanti "
Masih mencoba mengubah pola pikir kakaknya. Yudhi hanya menggeleng. Sumpah yang terlontar dari mulut tidak bisa diingkari. Ia tidak sudi menjilat ludah nya sendiri.
"Sudahlah, jangan alihkan pembicaraan. Katakan saja bagaimana tipe priamu nanti. "
Aisha berpikir sejenak. Mengetuk ngetukan telunjuknya di meja. Seperti mencoba berpikir keras.
"Aku ingin suami yang lebih menyayangiku daripada kakak dan ayah. Yang bisa menghargai perasaan wanita. Yang mencintaiku lebih besar dari kalian semua. " Menatap Yudhi dengan senyum indahnya.
Walaupun pria seperti itu mustahil ada, aku akan tetap mencarinya untukmu Sha. Kakakmu ini hanya akan menyerahkanmu pada orang yang tepat. Yang dapat menjagamu melebihi aku. Dengan begitu baru aku bisa menghirup udara dengan lega. Batin Yudhi dalam hati.
Yudhi bangkit dari alam bawah sadarnya. Ia membuka mata.
Dan sekarang bahkan aku gagal memenuhi dua janji. Satu janjiku sendiri dan satunya janji pada ibu.
"Nak, berjanjilah pada ibu, kau akan selalu menjaga adik adikmu. Terutama adik perempuanmu. Ingatlah putraku, kau adalah kakak tertua. Ibarat rumah kau ini adalah tiangnya. " Kata - kata ibu Alina yang kembali terngiang setelah sekian lama.
Maafkan putra bodohmu ini ibu..
Jelas Arthur di mata Yudhi bukanlah kriteria pria yang pantas bersanding dengan adiknya. Aisha yang baik, manis, dan berhati mulia. Sedangkan dia yang dingin, kejam, dan sok berkuasa. Dua sifat yang bertolak belakang.
Akhirnya setelah berperang dengan batinnya, Yudhi memutuskan menemui sang adik. Diketuknya pintu tiga kali. Karena melamun tadi ia lupa jika ada bel disana.
__ADS_1
Pintu terbuka. Lia berdiri disana memberi salam hormat. Namun sesaat kemudian wajahnya berubah pias. Teringat akan kata - kata nonanya tadi saat sarapan pagi.
Apa dia ini Leo? Atau Simmba?. Aaaa, tapi tampan sekali tuan ini. Sahabat nona yang rupawan, tapi apakah dia akan tinggal disini. Mana kopernya?.
Masih tertegun dengan wajah Yudhistira. Ia mengamatinya lekat.
Masa' lelaki setampan ini namanya Simmba. Ah tidak, pasti ini yang namanya Leo.
"Apa yang kau pikirkan? " Suara tegas Yudhi disertai raut datarnya membuyarkan lamunan indah sang pelayan. Dia lalu menunduk malu karena ketahuan terpesona akan ketampanan Yudhi.
"Ma-maaf tuan. Ada keperluan apa ya? " Bicara dengan sangat gugup. Sudah mer*mas jari yang sudah gemetar dibawah sana.
"Dimana Aisha? " Dingin dan tegas.
Tuh kan benar, dia pasti Leo.
"Nona ada di dalam tuan " Ujarnya sembari menunduk. Yudhi menatap sekeliling, tidak buruk juga rumahnya. Setidaknya adiknya tak akan jadi gembel setelah menikah.
"Panggil dia, aku ingin bertemu "
"Baik tuan Leo " Lalu segera berbalik menuju kamar utama. Meninggalkan Yudhi dengan dahi berkerut karena panggilan pelayan tadi. Apa tadi katanya, Leo?. Siapa itu Leo, setahunya Leo adalah nama salah satu singa adiknya. Tak mau ambil pusing, Yudhi berjalan ke sofa. Mendaratkan bokongnya disana sambil melipat tangan di dada.
"Kakak!! " Teriak Aisha girang. Langsung dia berlari menuruni tangga dengan cepatnya.
"Sha, hati - hati nanti jauh " Peringat Yudhi, dan benar saja, di tangga terakhir dia hampir tergelincir jika Yudhi tidak menangkapnya.
"Yaampun, kau ini ya. Sudah dibilang kan hati hati " Omel Yudhi kesal. Dia hanya khawatir. Karena di dalam mansion mereka dulu Aisha juga selalu saja berlari saat menuruni tangga.
Dan adegan itu disaksikan pelayan Lia, membuat kesalahanpahaman nya akan Leo dan Simmba semakin berbuntut panjang.
"Hehe, maaf kak " Hanya tercengir kuda. Dia langsung memeluk kakaknya erat. Beberapa saat tak berjumpa rasanya sudah seperti seabad saja.
"Ayo duduk disana " Menunjuk sofa. Mereka pun melangkah mendekati sofa dan duduk bersama. Saling bercengkerama sebentar sebelum Yudhi pergi.
__ADS_1
Bersambung....