
Apa tadi yang wanita itu katakan? Devan anak Arthur? Anak suaminya?. Batin Aisha berkecamuk. Niatnya yang tadi ingin mengajak suaminya untuk mengecek kandungan di dokter kandungan rumah sakit ini urung tatkala telinganya tanpa sengaja mendengar seluruh pembicaraan mereka.
Membuat air matanya tumpah seketika. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan saat ini kecuali pulang kerumah. Aisha bahkan tak sempat menghubungi dokter kalau ia membatalkan janji mereka.
Kendaraan yang ditumpanginya berhenti di depan mansion megah Anderson yang bak istana.
Aisha turun dari kursi kemudi, ia sengaja membawa mobil sendiri tadi.
Air mata yang semula berguguran deras kini sudah reda. Ia tak ingin ada seorang pun yang mengetahui dirinya habis menangis.
Kedua langkah kaki jenjang perempuan itu yang baru saja melewati pintu tiba - tiba terhenti. Binar matanya menyiratkan keterkejutan, dari jarak ini matanya dapat menangkap jelas tubuh dua orang yang telah lama tak ia temui.
"Ayah!" Aisha berjalan tergesa, sontak air matanya yang tadinya surut kembali menguar melihat seseorang yang sangat disayanginya berkunjung.
Wanita itu berhambur merengkuh tubuh sosok yang membesarkannya.
"Ssstt.. kenapa menangis? Seharusnya kau senang karena ayah berkunjung kerumahmu." Johan menenangkan putrinya dan mengelus punggungnya. Arjuna di sebelahnya pun turut berdiri dan mengulas senyum kerinduan setelah lama tak berjumpa adik bungsunya.
"Hiks, aku senang sekali. Biarkan seperti ini dulu ayah, tolong peluk aku!" Tangis perempuan yang tengah berbadan dua itu bukan hanya sebab merindukan belaian sang ayah, tapi Aisha sedang bersembunyi dari kegundahan hatinya dalam dekapan hangat pria di depannya. Ia merasa Tuhan sangat baik hari ini, disaat dirinya sedang bingung dan gelisah akan apa yang diketahuinya, tiba - tiba saja dua orang yang dulu selalu berdiri di depan untuk melindunginya dari segala macam bahaya muncul.
Dulu, saat ada masalah, ia akan selalu membaginya dengan keenam pria yang amat menyayangi dirinya. Tapi setelah menjalin hubungan pernikahan dengan lelaki asing, segalanya harus dihadapi seorang diri.
Dan bertemu kembali dengan keluarganya membuat Aisha kembali merasa aman, merasa seperti perisainya telah kembali.
Tapi aku tidak bisa menceritakan masalahku pada kalian. Ini masalah rumah tangganya, ia akan mengatasinya sendiri. Rasanya tidak benar jika aib rumah tangganya diketahui banyak orang. Selain itu Aisha tahu, pada satu tahun terakhir ini perusahan Fernandez sedang dilanda masalah. Ia tak ingin menambah beban semua orang.
"Ada apa sayang?apa ada masalah?" Tanya pria cukup umur itu. Aisha melerai pelukan mereka lalu menggeleng. Menghapus air matanya yang membekas di pipi mulusnya.
__ADS_1
"Tidak! Tidak ada apapun, aku hanya merindukan kalian. Kapan kalian datang?"
Ia beralih memeluk kakaknya yang sedari tadi hanya menatapnya lekat. "Aku sangat merindukanmu kak."
"Kami baru tiba dari bandara dua jam lalu."
"Maaf, apa kalian terlalu lama menunggu?"
Aisha mempersilahkan kedua pria yang sangat berarti baginya duduk. Dua orang pelayan meletakan nampan berisi minuman dan beberapa makanan ringan.
"Tidak masalah nak." Sahut sang ayah.
"Ayo masuklah, aku akan siapkan kamar kalian." Tukas Aisha.
"Tidak Sha, kita sudah membooking kamar di hotel sekitar sini. Kami akan tinggal di hotel selama di New York, lagipula kami hanya akan disini selama beberapa hari saja. Benarkah ayah?"
"Kenapa seperti itu? Mansion ini masih cukup besar dan masih ada banyak kamar kak. Tidak perlu tinggal di hotel, lagipula apa kalian tidak ingin menghabiskan waktu denganku?"
"Tapi ayah..."
"Sudahlah, bumil tidak boleh banyak mendebat orang. Itu tidak baik!" Seru Arjuna berkelakar yang sontak membuat Aisha terkejut.
"Kalian tahu darimana?!"
"Kenapa? Jadi sekarang kau menganggap ayah orang asing sehingga tidak mau membagi kabar gembira ini?" Sahut Johan seraya mencubit pipi putri kesayangannya.
"Bukan begitu ayah, hanya saja akhir - akhir ini aku terlalu banyak pekerjaan jadi aku tidak sempat mengabari kalian. " Mereka bertukar cerita cukup lama di ruang tamu tersebut. Berbagi kabar dan melepas rindu setelah sekian lama tak berjumpa.
__ADS_1
Aisha merasa lebih baik daripada sebelumnya, kedatangan keluarganya sedikit mengalihkan perhatian dari berbagai masalah yang sedang ia hadapi.
***
Pukul 7 malam, saat Arthur baru saja pulang dari kantor. Pria tersebut nampak sangat penat ditandai dengan adanya kantung mata dan pakaian yang sudah tak berbentuk. Dasi entah kemana, jas ditenteng sembarangan dan rambut yang acak - acakan. Bolak - balik dari rumah sakit dan perusahaan membuat lelaki itu cukup kuwalahan belum lagi adanya rapat yang berlangsung di beberapa tempat yang berbeda. Ditambah beban pikiran yang terdapat dalam pikirannya karena pernyataan Wilhelmina, membuat kepalanya ingjn meledak. Untuk saat ini Arthur tidak menemukan solusi terbaik, tapi ia berpikir akan jujur pada Aisha saat ini juga. Malam ini juga sebelum semuanya terlambat dan berujung kesalahpahaman yang tak berarti.
Apa saat aku memberitahunya, dia akan ikut memikirkan solusi untuk masalah ini? Atau jangan jangan Aisha malah akan marah dan meninggalkanku. Arthur bimbang. Kalau jujur takut istrinya marah kalau tidak jujur rasanya kepalanya mau pecah. Ia butuh tempat untuk membagi apa yang dialami.
Tentu saja dia akan marah dasar bodoh! Tapi setidaknya Aisha tahu dari mulutku bukan dari mulut orang lain. Rutuk Arthur pada dirinya sendiri.
"Aisha!" Panggil Arthur saat membuka pintu kamar. Matanya menyapu sekeliling, sepi tak ada siapapun. Ia yakin istrinya sedang ada di kamar mandi ketika mendengar suara kran wastafel yang menyala.
"Aisha! Sayang kau di dalam?!" Tidak ada sahutan. Arthur memilih duduk di sofa dan mengendurkan ototnya seraya menunggu sang istri keluar dari ruangan tersebut. Lima belas menit berlalu namun perempuan yang berstatus istrinya itu tak kunjung muncul, Arthur mulai merasa gelisah.
Didorongnya pintu kamar mandi dan seketika pria itu membulatkan matanya. Aisha tergeletak di lantai dengan air yang menggenang dimana - mana, kran wastafel masih terbuka hingga airnya meluap dan memenuhi lantai.
Dan jangan lupakan sisa - sisa darah yang telah bercampur dengan air.
"Aisha! Sayang bangun!." Arthur memutar keran.
Membuka lubang tempat keluar air agar air dalam kamar mandi surut.
Pria itu lalu mengangkat tubuh lemah istrinya keatas ranjang.
"Sayang ada apa denganmu?! Bangunlah kumohon!" Arthur mengambil pakaian ganti dari lemari dan menggantikan pakaian istrinya yang basah kuyup.
Tangannya dengan cekatan meraih ponsel dan menghubungi dokter langganannya. Namun sialnya dokter wanita itu tengah berlibur keluar negeri.
__ADS_1
"Sial! Bagiamana seorang dokter bisa sangat tidak profesional seperti itu!" Arthur kalang kabut. Mau tak mau ia menggendong istrinya dan membawanya ke rumah sakit terdekat karena tidak ada waktu. Kalau menunggu dokter lain akan membutuhkan waktu lagi dan pria itu sangat khawatir pada Aisha. Terlebih perempuan itu mengalami pendarahan. Entah bagaimana nasib keturunannya yang ada dalam perut Aisha.
Bertahanlah sayang, tolong jangan tinggalkan Daddy.