Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 94


__ADS_3

Siang ini terasa sangat panas bagi Reynard. Pria itu kini tengah mengemudikan mobilnya yang melaju sedang kearah rumah Arthur. Ada banyak beban yang sedang dipikulnya setelah pria itu tiba tiba mengabaikan pekerjaan dan mengoper semuanya pada Rey . Belum lagi omelan mertuanya yang membuat otaknya hampir pecah setiap hari. Ya, Holmes yang cerewet itu tak henti membuat darah tingginya kambuh dengan memaksa Rey agar pindah ke perusahaan Holmes Groub dan menggantikan jabatan mertuanya yang ingin pensiun dan duduk diam dalam rumah.


"Aku harus bicarakan ini dengan Arthur. Bisa gila aku kalau mengurus ini sendirian." Gumam Rey ditengah fokusnya pada jalanan.


Setidaknya ada yang bisa dia ajak bertukar pikiran. Rey tahu Arthur tidak akan pernah mengijinkannya untuk pindah ke perusahaan ayah mertuanya. Mungkin dia terlalu percaya diri, tapi mengingat jasa jasa dan rintangan yang telah mereka lalui bersama pria itu tak ingin terlihat seperti pengkhianat yang meninggalkan partner terbaiknya disaat terburuk.


Rey tahu, Arthur banyak pikiran akhir akhir ini. Yang mana membuat seluruh kerjasama nya terganggu dan ia yang harus mengemban segala tanggung jawab.


Tak butuh waktu lama mobil keluaran terbaru itu terparkir di depan halaman rumah yang luas


Taman depan rumah bosnya sangat terawat. Hijau dan asri.


"Aisha, sedang apa disini?" Setelah melangkah jauh langkah pria itu terhenti ketika melihat gadis cantik itu melamun di kursi taman. Bahkan tak peka akan kehadiran Rey..


"Hey, aku bertanya padamu?" Tak kunjung mendapat balasan pria itu berinisiatif duduk disamping Aisha. Memandang wajah murung yang tampak begitu suram dan gelisah.


Sumpah demi apapun, baru kali ini seumur pernikahan Aisha dan Arthur ia melihat wanita itu semurung ini. Keceriaan yang biasa ia pancarkan seolah lenyap tertelan bumi. Wajahnya juga pucat dan sembab.


"Apa kau mencari Arthur? " Akhirnya ia bersuara setelah beberapa saat. Aisha menoleh pada Rey yang ada disampingnya. Mencoba menarik sudut bibirnya agar pria itu tak curiga. Terlambat, semua sudah ketahuan. Kesedihan Aisha dapat tertangkap jelas dimata siapa pun yang melihatnya


Ah sialnya, bahkan ia baru sadar jika ada manusia yang menghirup napas yang sama dengannya.


Rey menghela napas ringan, ia sudah menduga ada masalah diantara dua sejoli ini. Sudah terbukti dengan menghilangnya Arthur dari jadwal yang seharusnya. Semua pertemuan bahkan harus terwakilkan yang membuat klien sedikit kecewa.


"Sebenarnya iya, aku mencarinya untuk menanyakan sesuatu pada nya. Tapi melihat keadaanmu, aku sudah mendapat jawabanku."


Aisha menunduk, ia tak tahu harus berbuat apa. Mau menghubungi Arthur, takut suaminya itu semakin marah. Menyusulnya? Takut akan menggangu lagipula tak tahu kemana arah tujuan Arthur. Moodnya yang kacau membuatnya sampai lupa pada kesehatan dan pola hidupnya.


"Dia bilang ada urusan pekerjaan selama beberapa hari. Kalau kau mau kau bisa menelponnya. " Tutur Aisha. Sebab ia sendiri sulit menghubungi suaminya. Dan ia yakin kau Arthur pasti akan menjawab panggilan dari Reynard karena hubungan mereka yang sangat erat.

__ADS_1


"Apa kalian sedang ada masalah?" Tanya Rey penasaran.


Aisha menarik napas dalam. Enggan jujur tentang masalahnya pada siapapun.


"Iya, tapi kau tahukan masalah dalam pernikahan itu adalah hal biasa Rey. Pertikaian itu ibarat cabai dalam masakan. Tidak lengkap kalau tidak ada." Aishaa mencoba tertawa ringan menutup kesedihannya.


Rey berwajah datar, "Aisha, kau belum mengenal Arthur secara dalam. Pria gila itu seolah kehilangan perasaan saat marah. Aku hanya tidak mau keharmonisan kalian terganggu." Ujar Rey dengan khawatir.


Pria itu tahu bagaimana kelakuan Arthur. Mengingat dirinya yang sejak kecil hidup bersamanya. Mereka seperti saling melengkapi satu sama lain.


Aisha hanya tersenyum, ia merasa masih bisa meluruskan kesalahpahaman antara dia dan Arthur. Merasa sudah terlalu lama berbincang disana mereka pun beranjak.


"Kau jangan khawatir, aku merasa sudah mengenal suamiku. Dia tidak akan berbuat begitu." Wanita itu tertawa ringan merasa yang dikatakan Rey tadi berlebihan.


"Baiklah, aku akan pergi. Kuharap kalian seger berdamai."


Manik mata indah Aidja menyapu sekeliling. Taman dan halaman indah yang sangat terawat namun nyaris tak pernah dinikmati sang pemilik rumah. Mungkin para penghuni disini terlalu sibuk hanya untuk sekedar menikmati keindahan tumbuh tumbuhan ini. Wanita itu tersenyum lembut, ia ingat masa masa kerjma baru peryama kali memasuki gerbang kediaman yang bagaikan istana.


"Aww.." Aisha berjongkok di tanah sembari menyentuh kepalanya yang berdenyut.


***


Di ruangan berdinding abu yang tampak pucat ini duduklah dua orang pria dengan umur yang lumayan jauh berbeda.


Udara terasa sangat dingin, apalagi ditambah tatapan intimidasi dari pria campuran Timur Tengah itu yang mampu membuat siapapun bergidik ngeri.


Para pengawal hanya berani berdiri 10 meter dari dua pria yang saling mengunci tatapan mata. Demi mencegah nyawa mereka agar dapat melanjutkan hidup di dunia. Biar bagaimanapun masih ada anak istri yang harus dihidupi, dan mereka masih sayang nyawa agar tak menjadi tumbal pelampiasan amarah dari tuannya.


Rithik masih diam, jika semua orang sibuk mengusap tengkuk dan menetralkan raut wajah agar tak ketahuan kalau sedang takut, maka dia berbeda. Tatapannya lurus nan tegas tanpa ada rasa ragu sedikitpun. Daripada banyak bicara pria tampan itu memilih menunggu lawan bicaranya membuka mulutnya.

__ADS_1


Brak!! Lelaki dihaadapan Rithik menggebrak meja. Suara itu menggelegar hingga membuat pundak para anak buahnya refleks terangkat.


Sangat terkejut.


"Apa maksud perkataanmu kemarin!!."


"Perkataan yang mana?" Rithik balik bertanya dengan nada ringan. Tidak ada raut ketakutan atau kekhawatiran dalam mimik wajah dengan pahatan sempurna itu.


Tenang bagaikan air yang dalam.


Kicak berdecak kesal, bisa bisanya pria ini mempermainkannya. Setelah apa yang telah ia lakukan, yang ia korbankan demi persahabatan dirinya dan Pither yang bodoh itu kini malah anaknya mengkhianatinya.


Kicak tak habis pikir apa yang ada dalam benak anak Pither ini, ayahnya bagaikan iblis yang kabur dari neraka. Tapi anaknya memilik pikiran yang sulit ditebak yang membuatnya murka.


Jika saja Pither masih ada disini, ia pasti akan begitu kecewa mengetahui putranya yang mundur sebelum maju.


"Apa kau tidak ingat, ayahmu menyuruhmu untuk balas dendam. Rithik sadarlah!! Apa yang membuatmu buta?! Apa ada yang mencuci otakmu, aku peduli padamu karena kau adalah anak sahabatku. Kau lupa, siapa yang membunuh ayahmu, yang membuatmu kehilangan orang yang paling kau sayangi!!"


Geram Kicak Resano berapi api. Bahkan mungkin kobaran api yang menyala itu dapat meluluh lantakkan gedung ini saking geramnya dia pada keputusan yang diambil partner nya.


Kicak masih ingat, pertama kali Pither mengajak penerus kesayangannya sekaligus berkenalan padanya. Rithik yang saat itu masih anak anak, namun pria itu dapat melihat kobaran api dalam mata anak usia 10 tahun.


Saat itu dengan bangganya sang ayah memperkenalkan anak yang akan menjadi aset masa depannya. Rithik yang memang sudah dilatih agar dapat menjadi kejam sejak kecil. Mata polos itu sudah terbiasa melihat pembantai*an dan penyiksaan yang seharusnya bukan tontonan anak seusianya.


Hingga membuat otaknya tercuci dan berpikir bahwa dunia harus dalam kendalinya. Dan dendam adalah tujuan utama yang harus dituntaskan.


Dalam hati Kicak berpikir, Rithik adalah bom kecil yang suatu saat akan meledakan banyak nyawa. Hingga ia pun turut melatih Rithik dan melakukan pendekatan padanya.


Tapi setelah semua usaha yang melelahkan itu...

__ADS_1


"Dengar Kicak," Rithik menjeda kalimatnya. Ia memang terbiasa memanggil Kicak yang seharusnya ia panggil paman hanya dengan nama. Karena Rithik tidak diajari tata krama sejak kecil. Hanya senjata, bom dan hasutan yang selalu menjadi makanannya. Meski begitu, pria itu tahu bahwa menghormati ibu adalah sebuah kewajiban dan jika kau melanggarnya maka sama saja kau tidak menghormati dirimu sendiri. Sebab kau lahir dari rahim ibumu


__ADS_2