
Siang mulai menjelang, Aisha dan Myara melangkah keluar dari kelasnya. Kebetulan sekali mereka berada pada jurusan dan kelas yang sama. Sama - sama cantik, cerdas dan bertalenta, sepertinya mereka memang ditakdirkan berteman ya.
"Mya, aku pulang dulu ya " Ucap Aisha. Mya hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi. Mereka berpisah di gerbang utama. Berjalan menurut langkah kaki masing - masing.
Gadis itu berlari kecil keluar gerbang. Tadi dia sudah memesan taxi lewat ponselnya. Masih menunggu disana sembari memainkan ponsel. Sesekali melirik mahasiswa yang berlalu lalang di sekelilingnya.
Tiba - tiba sebuah mobil sport keluaran terbaru terhenti di depannya. Pintu terbuka, Arthur dengan gaya cool keluar dari sana. Menghampiri Aisha.
"Arthur " Gumam gadis itu. Tidak menyangka Arthur akan menjemputnya siang ini. Dia melempar senyum girang.
"Ayo masuk " Menarik tangan Aisha dan mendorongnya memasuki mobil. Tanpa tunggu lama, mobil melaju membelah kepadatan kota New York. Di dalam mobil Aisha tampak memeriksa ponselnya, ada pesan masuk dari Myara. Mereka sudah saling bertukar nomor telepon tadi.
Arthur hanya melirik sekilas, tidak terlalu peduli apa yang dikerjakan Aisha.
Gadis itu mematikan layar ponsel setelah mengetikan sesuatu pada teman barunya. Menoleh sekilas pada sang suami yang memegang kemudi. Pria itu hanya terdiam. Keheningan tercipta sebelum Aisha membuka suara.
"Arthur " Kata gadis itu. Arthur hanya menoleh, kembali memandang lurus ke depan memerhatikan kendaraan.
"Arthur " Panggilnya lagi.
"Hmmm " Setelah dua kali memanggil baru dia menyahut. Melirik Aisha dengan ekor mata " Apa? " Tanyanya.
Apa? Dia juga tidak tahu kenapa. Hanya saja aneh rasanya jika hanya terdiam satu sama lainnya. Menilik sifat Aisha yang gemar bicara, tidak betah rasanya jika membisu saja.
"Kenapa kau menjemputku? " Akhirnya sebuah topik pembicaraan terlahir dari pikiran. Seharusnya tidak perlu kan, Aisha masih sanggup menuju jalan pulang sendirian.
"Aunty yang menyuruhku "
"Oh, kau tidak bertanya sesuatu? " Masih enggan menutup perbincangan. Tak peduli Arthur yang mulai gusar karena konsentrasi yang terbelah.
"Tidak ada " Jawabnya singkat. Huh, Aisha melengos sebal. Mengerucutkan bibir lalu memilih memandang pepohonan yang berlarian tertinggal di belakang. Menatap mereka saja jauh lebih menyenangkan daripada mengobrol dengan pria dingin di sebelahnya.
Melihat perubahan raut wajah Aisha, semakin membuatnya menggemaskan saja. Diam - diam Arthur memerhatikan gurat wajah istrinya. Garis wajah yang terukir sempurna, berbeda dari lainnya. Sangat cantik dan mempesona bagi siapa saja yang memandangnya. Hal itu membuatnya tersesat dalam lamunan, padahal dia sedang mengemudi sekarang.
"Arthur lihat ke depan, jangan kesini " Daritadi lelaki itu masih terpana. Bahkan tak sadar jika Aisha turut menatapnya.
"Hemmm " Salah tingkah sendiri, lalu ia kembali fokus menatap ke depan. Enggan melirik atau bahkan menatap istrinya. Bisa roboh harga dirinya karena tertangkap mengamati wajahnya tadi.
Sial!
Tak berselang lama, kendaraan yang ditumpangi mereka terparkir di halaman mansion Arthur.
Gadis itu mendorong pintu dan keluar dari mobil. Begitupun Arthur yang langsung masuk kedalam dengan langkah mensejajari istrinya.
***
Sore ini Aisha mengerjakan tugas kampusnya di perpustakaan. Ditemani Lia yang setia duduk disampingnya. Mereka berbincang ringan tentang hari pertama Aisha masuk kampus.
"Aku senang sekali Lia, disana aku punya teman baru. Namanya Myara, dia baik dan ramah. " Kata Aisha dengan tangan yang masih menulis pada kertas catatannya. Lalu kembali mengetikan sesuatu pada laptopnya.
"Saya turut senang kalau nona nyaman disana" Ujar Lia dengan tersenyum lebar.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian mereka masih berbincang - bincang ringan. Hingga tiba - tiba seorang pengawal datang dengan napas terengah. Dia menunduk sembari mengontrol napasnya.
"Ada apa pak? " Tanya Aisha heran. Keningnya berkerut ketika pengawal itu kaya terdiam. Ia membisu seperti takut mengatakan sesuatu.
"Ada apa? " Tanya Aisha lagi. Pria itu mendongak sejenak, menjalinkan kedua jemarinya dibawah sana. Nyalinya seketika menciut saat bersitatap dengan nona muda.
"Nona, anu -" Menghela napas, mengumpulkan keberanian yang berceceran.
"Salah satu singa nona sakit dan mati " Ujarnya dalam satu tarikan napas.
Aisha membelalak kaget, dia menjatuhkan pulpen ditangan dan seketika bangkit dari duduknya. Begitupun Lia yang juga tersentak dengan penuturan sang pengawal.
Mereka langsung berlari kencang menuju taman belakang.
***
Di taman belakang yang luas dan asri. Pepohonan yang rindang berderet melingkari pagar mansion ini.
Aisha tengah termenung di depan makam Leo, sahabat baik yang menemani sejak ia kecil. Meskipun hanya binatang, gadis itu begitu menyayanginya. Sudah seperti keluarga. Tanpa terasa sebulir kristal bening lolos dari pelupuk matanya. Dibelainya lembut gundukan tanah basah disana.
"Leo.. " Gumam gadis itu lirih. Mengingat saat kebersamaannya dengan singa itu.
Lia yang berdiri tak jauh dibelakang menghampiri. " Sudahlah nona, ikhlaskan saja. Nona masih punya Simmba kan? " Hibur Lia disertai senyumnya.
Aisha hanya mengangguk.
"Tapi nanti Simmba akan sendirian.. " Cicitnya pelan.
Arthur ikut berjongkok, memerhatikan makam yang telah ditaburi bunga tujuh rupa.
Yaampun, inikan hanya hewan saja. Bahkan harimauku juga sering mati begini.
Gumamnya dalam hati.
"Kenapa harus menangis, siapapun pasti akan mati. Termasuk hewanmu ini, jangan cengeng! " Acuh bicara dengan nada ketusnya. Tapi saat ia menoleh dan melihat gurat kesedihan Aisha, ia menjadi tak tega.
Dibelainya punggung itu lembut, berusaha menghibur. " Baiklah, dia hanya hewan. Aku akan menggantinya dengan yang baru. " Kata Arthur.
Aisha menoleh sejenak, menyeka air matanya " Memang kau punya singa? " Tanya gadis itu. Arthur menggeleng.
"Tidak, aku memiliki banyak harimau di kandang belakang sana. Tapi tidak ada singa" Menarik tangannya dari bahu Aisha. "Aku akan membelikan yang baru untukmu. "
Gadis itu tersenyum kecut, kembali menunduk menatap makam Leo.
Kau pasti bahagia disana. Kau akan bertemu Lia nanti. Batinnya dalam hati.
"Leo itu berbeda. Dia sudah melawati seumur hidupnya denganku. Dari aku kecil. " Kata Aisha dengan wajah sendu nya.
"Setidaknya kau bisa mencari teman baru untuk yang satunya itu. "
"Benar juga. " Simmba tidak bisa sendirian. Yang ada dia akan mati bosan dan berakhir tragis seperti Leo tadi.
__ADS_1
Setelah berdiskusi sebentar, mereka berdua melangkah bersamaan memasuki mansion.
Aunty Rania datang dari arah tangga. Melihat gurat wajah Aisha, ia pun menghampirinya.
"Ada apa nak, kenapa wajahmu itu? Apa Arthur yang menyakitimu? " Rentetan pertanyaan keluar. Aunty sudah menatap tajam pria disampingnya dan memukul perutnya. " Apa yang kau lakukan pada istrimu? "
"Tidak ada aunty, Arthur tidak melakukan apapun " Sargah Aisha cepat. Aunty kembali memandang padanya, menyentuh bahunya lembut dengan senyum hangat yang menyertainya.
"Kalau begitu ada apa? " Tanya nya.
"Peliharaanku mati aunty " Terang Aisha dengan nada sedihnya.
"Yaampun, dua kucing manis itu? Kasihan sekali, apa keduanya mati? " Sejauh aunty Rania tinggal disini, dia hanya tahu dua peliharaan Aisha. Yaitu dua kucing manis yang diberi nama Pushy dan Sugar. Wanita itu memang melihat ada dua singa di belakang, tapi tak terlintas dalam pikiran bahwa itu adalah kepunyaan menantunya.
Aisha menggeleng pelan. "Bukan, tapi salah satu singaku yang ada dibelakang. "
Aunty Rania tersentak kaget.
"Jadi mereka milikmu? " Tanya Aunty Rania masih tak percaya.
"Iya "
"Ya Tuhan " Menepuk keningnya sendiri. Lalu beralih menatap Arthur yang hanya menggedikan bahunya acuh.
"Yasudah, tidak usah dipikirkan. Arthur akan membeli yang baru untukmu. " Katanya lagi dengan membelai puncak kepala Aisha. Gadis itu hanya menyunggingkan senyum dan mensejajari langkah aunty yang membawanya menaiki tangga.
***
Sore ini juga, Arthur menghubungi salah satu temannya. Dia menjual berbagai macam binatang buas yang biasanya dipesan para pejabat.
Kini hewan baru itu telah sampai pada pekarangan mansion. Salah satu pengawal datang menghampiri.
"Tuan, akan ditaruh dimana? "
"Taruh di kandang yang berbeda dengan emm.. " Mengingat ingat nama yang disebut istrinya tadi. " Simmba. Taruh di kandang yang berbeda dengannya. Takutnya mereka malah bertarung nanti. "
"Baik tuan. " Berbalik pergi menjalankan tugasnya.
Arthur mengajak istrinya menuju taman belakang. Dimana seekor singa telah tersedia disana.
"Arthur, ini untukku? " Matanya berbinar senang. Tapi tentunya tak mengurangi kesedihan karena kepergian Leo.
"Iya, tapi dia betina. Tidak ada yang lain, jadi terpaksa aku memilihnya " Balas Arthur.
"Justru aku senang, dia akan aku jodohkan dengan Simmba. " Menyunggingkan senyum indah pada suaminya. Arthur memalingkan wajah, tak kuasa dia melihat Aisha seperti itu.
Sial! Kenapa dia begitu manis saat tersenyum begitu.
"Aku akan memberinya nama Shreya " Mengayunkan kaki mendekati kandang. Singa yang dipesan Arthur sudah jinak, jadi tidak perlu khawatir tentang keselamatannya.
Arthur menarik sudut bibirnya kala melihat senyum mengembang di bibir Aisha.
__ADS_1
Bersambung...