
Arthur yang geram, tak menghiraukan celotehan gadis yang ada dalam gendongannya, yang terus saja meronta minta turun. Ia terus menapaki anak tangga menuju lantai atas.
Tamu undangan pun sudah tak terdengar lagi gelak tawanya. Pesta kembali berlanjut saat MC mengumumkan bahwa pesta bisa kembali terlaksana. Walaupun tanpa kedua pengantin. Johan yang sedikit canggung karena adegan alay yang dilakukan menantu barunya, hanya bisa menyunggingkan senyum. Duduk diam di sofa mendengarkan pujian para rekan kerjanya. Ada juga yang masih tertawa. Para ibu - ibu sosialita saling bergosip. Ada yang berdecak kagum dan ingin kembali mengulang masa muda. Andai mereka bisa memutar waktu, lalu mencari pasangan seperti Arthur. Ada juga yang bergunjing dan mengatakan mereka pasangan yang lebay. Dasar ibu - ibu, pikir Yudhi yang tak terima adiknya dibicarakan.
Kembali ke Arthur dan Aisha, mereka ada dalam kamar Aisha. Arthur menurunkannya perlahan ke ranjang.
"Kenapa masih disini? Pergi sana! " Usir Aisha. Masih ada rasa sebal dalam dada. Apa yang akan dipikirkan orang nanti. Oh tidak, mereka pasti saat ini tengah membicarakan kelakuan norak mereka. Lalu bagaimana cara dia menjelaskan pada ayah dan kakaknya nanti.
Mau ditaruh mana wajah ku!!
"Sudah dibantu, bukannya terimakasih! " Cibir Arthur kesal. Ia telah mempertaruhkan harga diri dan nama baiknya di depan orang banyak. Di hadapan para kolega dan rekan bisnisnya
Lalu apa imbalannya?.
"Terimakasih. Sudah puas? Sekarang pergi sana " Menunjuk kearah pintu kamarnya. Masih berusaha menetralkan segenap emosi yang ada.
Pria tampan itu mendengus kesal. Melangkah keluar pintu. Sampai pada depan kamar Aisha, masalah baru muncul lagi. Bima yang ada diluar kamar sudah berkacak pinggang dengan mata melotot. Menelisik wajah pria di hadapannya.
Arthur hanya berwajah datar. Mengabaikan keberadaan Bima dan akan beralih turun kebawah.
"Apa yang kau lakukan pada Aisha? " Nada bicara yang lebih mirip sebuah ancaman. Ia mencekal tangan Arthur yang akan berlalu dari sana.
"Tidak ada" Menjawab singkat.
"Lalu kenapa kau menggendong nya tadi? "
"Kakinya sakit " Bima yang mendengar itu sudah naik pitam. Sifat pemarah yang sudah level akut, membuatnya mudah tersulut emosi.
Ia mencengkeram kerah tuxedo Arthur. Pria itu hanya diam, tak ada niatan melepaskan diri juga.
"Kalau kau membuatnya terluka lagi, kau akan mati di tanganku. Ini kesempatan terakhir, obati dia sekarang " Cih, rasanya Arthur ingin menendang Bima. Jika ia tidak ingat dalam situasi apa. Para tamu undangan akan merinding ketakutan jika sampai mereka bertarung sekarang.
"Tunggu apa lagi! Cepat obati dia! Atau aku akan membeberkan masalah organisasimu di muka umum! " Sentak Bima.
"Jaga batasanmu! Jika tidak ramai orang dibawah, aku akan menumpasmu saat ini juga. " Ancam Arthur mengintimidasi. Bima yang memang tidak punya kata takut dalam kamus kehidupannya, malah menantang. Mengejek lewat sorot mata pada adik iparnya.
Dan pada akhirnya, terpaksalah pria itu kembali lagi ke kamar. Tak mau membuat runyam acara yang sudah terorganisir dengan sempurna. Hal pertama yang ia lihat adalah, Aisha yang tengah melepas sepatunya. Memijat ujung kakinya yang keram akibat terlalu lama berdiri. Terlihat bengkak dan memerah.
Bahkan ia tak menyadari keberadaan Arthur. Membuat pria itu kesal dan bingung mau berucap apa. Dia sudah berbalik, namun kata - kata Bima terngiang di kepalanya.
Ini adalah daerah kekuasaan kami. Kau hanya butiran debu disini. Jika kau berbuat macam macam pada adikku, kau akan dengan mudah menuju alam baka.
Sial! Seharusnya aku menggiring seluruh anggota Regdator kemari. Geram Arthur dalam hati. Seumur hidup, ia tak pernah mendapat perlakuan semacam ini. Kalau tidak ingat dendam pada Pither, dia tidak sudi juga menikahi gadis yang menurutnya masih dibawah umur.
"Mau apa lagi kemari? " Tanya Aisha yang baru menyadari kedatangan sang suami.
Tidak ada jawaban.
Lalu Arthur menyambar kotak obat di meja. Mendekati Aisha lalu meraih salep di kotak P3K.
"Ini! " Menyodorkan sebuah salep. Dengan indikasi meredam rasa nyeri.
Aisha mengambilnya. Mengangkat kakinya yang memerah keatas ranjang. Lalu mengoles salep di tangannya.
Tidak ada romantisnya! Aku mendambakan suami yang romantis seperti dalam drama yang aku tonton. Bukan seperti es balok ini!.
__ADS_1
Dalam skenario drama yang ia tonton. Baik itu Korea, India atau China, apabila sang kekasih terluka si pria akan dengan sigap mengobatinya. Memperlakukannya lembut bagai permata.
Takdirku sungguh ironis. Hiks!
Sudahlah terima saja takdirmu dengan lapang dada. Karena kau tidak tahu, alur cerita yang disiapkan Tuhan nantinya. Entah akan bahagia, atau berakhir duka. Namun kehidupan ini penuh liku - liku. Kadang naik, kadang turun. Kadang pasang, kadang surut. Seperti roda yang terus berputar, kadang diatas dan kadang dibawah.
Arthur yang berdiri di balkon, sedang menatap beberapa orang yang berlalu lalang. Ada yang memilih undur diri duluan, ada juga yang hanya sekedar mengambil barang yang ketinggalan. Deretan mobil terparkir rapi di halaman.
Sejenak ia melirik dengan ekor matanya. Melihat gadis yang beberapa saat lalu telah resmi menyandang nama Anderson. Arthur berkecamuk dalam pikirannya. Apakah yang ia lakukan ini benar atau salah. Menyeret gadis muda menuju rumitnya kehidupannya. Apakah dia egois. Tentu saja iya. Dengan teganya Arthur merampas masa remaja Aisha. Yang seharusnya ia pergunakan untuk meraih mimpi yang gemilang. Tunggu, berapa umurnya, apakah dia masih bisa disebut remaja. Terlalu banyak masalah membuat Arthur lupa menyuruh Rey menggali seluk beluk Aisha. .
Entah kenapa hati batu Arthur mendadak tak tega melihat istrinya merintih kesakitan. Sambil memijat pelan kakinya disana. Dengan mempertahankan gaya angkuhnya, ia berjalan mendekati ranjang. Duduk di bibir ranjang. Meraih salep lalu mengoleskannya lagi. Memijit pergelangan kaki Aisha.
"Apa yang kau lakukan? " Sedikit tak nyaman kala Arthur menyentuh kakinya.
"Diam! " Sentak Arthur. Aisha spontan mengatupkan bibirnya. Tak mau mengusik harimau gila.
"Aduh! Pelan - pelan sakit tahu! " Pekik gadis itu.
"Awww!! " Refleks dia memukul tangan suaminya.
"Diamlah! Aku sudah banyak membantumu hari ini. Bukannya terimakasih! " Gerutu pria itu jengah. Aisha berusaha meredam rasa nyerinya. Kakinya yang membengkak rasanya semakin bengkak.
Sementara itu Yudhi dan Reynard kebetulan berada diluar kamar. Yudhi yang tiba duluan sudah menggantungkan tangan di udara. Mau mengetuk pintu, namun menjeda sejenak kala melihat sekretaris Arthur mendekat.
"Ada apa tuan Reynard? " Bicaranya masih formal.
"Saya ingin menemui tuan Arthur " Ujar Rey.
"Tunggu disini, biar saya yang panggil " Baru akan memutar handle pintu, mereka dikejutkan dengan sebuah suara.
Dari dalam kamar tepatnya.
"Jangan disitu, aduh. Pelan - pelan saja sakit tahu! " Sudah memukul lengan Arthur berkali - kali. Pria itu hanya merengut dan meneruskan pekerjaan nya. Bahkan pukulan Aisha tak terasa sama sekali di kulitnya.
Bodoh! Jika kakakmu yang juga bodoh itu tidak mengancamku tadi, aku juga tidak sudi memijat kakimu. Memangnya aku ini tukang urut apa!.
"Berhenti sudah cukup, ini malah semakin sakit tahu! " Protes Aisha, lalu menarik tangan Arthur dari kakinya.
Sementara yang diluar sudah menerka - nerka apa yang terjadi didalam. Mereka berdua salah mengartikan keadaan. Bahkan Yudhi yang marah sempat akan mendobrak pintu. Padahalkan tidak dikunci juga.
Namun Reynard segera mencegahnya. Menggeleng keras agar menghentikan aksi Yudhi. Bisa mati digorok Arthur dia kalau sampai mengganggu kesenangannya.
"Jangan ganggu mereka tuan " Begitulah kata Reynard yang diulang - ulang. Hingga Yudhi dengan segenap emosi yang meliputi, melangkah lebar menuju lantai dasar. Bagaimanapun juga dia adalah suami adiknya sekarang, begitu pikirnya.
Reynard yang masih terpaku di depan kamar Aisha, tersenyum licik. Dia juga berpikir hal yang sama dengan Yudhi tadi. Malah lebih parah, jiwa mesum Reynard yang terpendam seketika bangkit.
Haha, siapa yang bilang tidak akan meminang wanita. Lihat! Apa yang dia lakukan sekarang. Dasar Arthur.
Benarkan kataku, kau akan menemukan jodohmu dinegara ini.
Rey hanya geleng - geleng kepala. Sembari membayangkan beberapa adegan dewasa pada serial barat yang kerap ia saksikan. Berseliweran dibenaknya, membuat Reynard menahan tawa.
*******
Beberapa saat berlalu. Hari sudah mulai petang. Tamu undangan sudah membubarkan diri. Dalam aula pesta hanya tingga para pelayan yang mengemas dan merapikan ruangan.
__ADS_1
Semua orang saat ini tengah ada di ambang pintu megah mansion. Johan yang sejak 30 menit yang lalu merengkuh tubuh putrinya, tidak ada tanda - tanda akan melepaskannya.
"Jangan tinggalkan ayah... " Lirih Johan yang semakin memberatkan langkah kaki anaknya. Tapi sebagai seorang istri sudah sepatutnya mengikuti kemana suaminya pergi kan.
"Maafkan aku ayah... aku akan merindukanmu" Mendekaps sang ayah erat. Mengumpulkan keberanian menjalani kehidupan di masa depan.
Aisha sudah berpamitan dengan yang lain. Termasuk Jack. Dia juga telah berpamitan dengan daddynya. Bahkan Dewa telah bercucuran air mata. Dengan langkah pincang, ia memaksa mengantar Aisha sampai ke pintu mansion.
"Jangan menyalahkan diri sendiri kak, mungkin ini sudah menjadi garis takdirku " Ujar Aisha meyakinkan kak Dewa. Dewa mengangguk walaupun hatinya bertentangan dengannya.
Sementara itu, Arthur sejak tadi sudah diseret para kakaknya, kecuali Yudhi yang tidak rela meninggalkan adiknya di saat terakhir di mansion ini.
"Awas saja jika kau menyakitinya! " Ancam mereka bersamaan.
"Aku pastikan kau akan mati jika melukai adikku sejengkal saja " Bima.
"Dia sudah berkorban demi aku. Aku ingin kau menjaganya melebihi nyawamu sendiri " Dewa.
"Adikku sangat manis dan ceria. Jangan sampai dia kehilangan keceriaan nya. Kau paham!! " Arjuna.
"Sehelai saja rambut adikku menyentuh tanah, aku akan mengejarmu sampai ke ujung dunia sekalipun! " Nakula.
Sedangkan Arthur yang mendengat ocehan mereka rasanya telah mengepulkan asap dari telinga. Memangnya dia ini penjahat apa. Sampai sampai harus diancam sedemikian rupa. Mereka seperti bukan menyerahkan adik agar ikut suaminya, tapi seperti menitipkan adiknya pada penitipan anak.
"Hemm " Hanya jawaban yang membuat naik darah yang dikeluarkannya.
"Kau harus berjanji? " Ancam Bima. Arthur hanya memalingkan wajah jengah. Tidak berniat membalas apapun.
Saat ini, ia terpojok hingga punggungnya membentur dinding. Sementara para pria over protective ini ada di hadapannya dengan jarak dekat. Membuat seolah olah dia adalah maling yang tertangkap.
Dasar menyebalkan! Untung kalian kakak iparku sekarang, dan aku juga butuh kalian.
Kembali ke Aisha, ia tengah berbincang sebentar dengan kak Yudhi. Sudah dapat ditebak, pasti aneh rasanya saat tidak ada Yudhi nanti bersamanya.
"Kakak, jangan lupakan aku ya " Ujarnya manja, sambil memeluk sang kakak yang bagaikan ibu dan ayah baginya selama ini.
"Apa yang kau katakan ini? Kenapa aku akan melupakanmu? Pasti kakak tidak bisa bernapas lega nanti jika tidak ada kau " Kata Yudhi.
"Sha? "
"Iya? "
"Boleh kakak bertanya sesuatu? " Sedikit ragu sebenarnya.
"Katakan saja kak " Masih belum melepas rangkulannya.
"Apa kau tadi- " Ia berbisik dekat telinga Aisha. Sontak saja Aisha melepas rangkulan mereka. Apa yang dipikirkan kaka Yudhi ini, tidak masuk akal sama sekali. Masa' dia bertanya apakah dia melakukan 'itu ' dikamar. Bersama es balok itu lagi. Big no.
"Apa maksud kakak ini? " Jangan - jangan kakak salah paham saat pria itu memijat kakiku tadi.
"Dia tadi memijat kakiku dengan keras. Makanya aku teriak " Menunjuk Arthur dengan ekor matanya. Suaminya itu tengah menunggu disamping mobil. Membicarakan sesuatu dengan sekretaris nya.
"Oh yaampun! Maafkan kakak " Menepuk jidatnya sendiri. Bagaimana dia bisa berkesimpulan secepat itu.
Sekarang mobil mewah milik Arthur sudah melesat menuju kediamannya. Membawa jantung hati rumah ini. Menyisakan kedukaan bagi pihak yang ditinggal. Mulai saat ini, tawa ceria Aisha dan segala kenakalannya, keceriaan dan omelan pedasnya tidak dapat lagi dirasakan disini. Rumah hampa tanpa Aisha.
__ADS_1
Bersambung....
Maaf kalau ada typo. Sambil begadang soalnya😴😴.