
Hari mulai siang, cuaca tak terlalu panas karena tertutup mendung. Namun tak ada tanda - tanda akan turun hujan juga. Aisha kini telah siap dengan hoodie hitam dan topi baseballnya. Bersiap menjalankan rutinitas yang biasa ia laksanakan setiap seminggu sekali. Dan hanya dia saja yang tahu apa itu. Mungkin jika di mansion nya, orang orang disana sudah hafal dan tak akan menghalau. Tapi entahlah, sekarang dia berada pada mansion Arthur. Manusia paling keras kepala yang menyebalkan sejagad raya.
Gadis itu keluar dari kamar, menuruni tangga dengan perlahan. Menengok ke kanan kiri, tidak ada orang. Para pelayan mungkin sedang sibuk di bagian belakang mansion. Tapi lain dengan penjaga yang pastinya siaga.
Sampai pada pintu utama, seorang penjaga mencegatnya. Sudah tugas utama menjaga nona tetap aman dalam pengawasan.
"Anda mau kemana nona? " Tanya penjaga itu. Dengan wajah datar yang mirip ekspresi Jack.
"Aku mau keluar sebentar " Ujar Aisha. Pria itu memindai penampilan nona muda, dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dan semuanya serba hitam.
"Kenapa anda memakai pakaian seperti ini? " Sudah seperti maling saja, batin lelaki itu.
Penampilanku? Emm.. sebenarnya biar terlihat keren saja. Haha, seperti film action yang aku tonton.
"Haduh, "Memutar bola matanya malas
" Memangnya kenapa kalau aku berpakaian seperti ini. Bukan urusanmu juga. Aku ingin pergi jadi minggirlah "
Penjaga itu tak bergerak dari tempatnya. Enggan meloloskan permintaan sang nona muda. Jika dia melakukan kesalahan secuil saja, sudah pasti tuan Arthur akan memenggal kepalanya.
"Maaf nona, apa anda sudah minta ijin pada tuan? " Masih mencegah Aisha yang berusaha melewatinya. Gadis itu mendorong sekuat tenaga, tapi entah kenapa rasanya seperti mendorong gajah saja.
"Ck, sudah. Aku sudah minta ijin, sekarang menyingkirlah. Atau akau akan mengadukanmu padanya karena membantahku! " Ancamnya mengintimidasi. Laki laki dihadapannya hanya bisa menelan ludah, disatu sisi ada nona di satu sisi ada tuan. Entah mana yang berkata benar.
"Mana buktinya bahwa anda punya ijin "
"Bukti, emm aku, dia hanya mengatakannya saja padaku " Berusaha mengelak. Sejujurnya dia sama sekali tak meminta ijin pada suaminya. Karena tahu, manusia macam Arthur pasti hanya akan bertindak sewenang wenang. Jelas saja dia tak mungkin memberi ijin.
"Maaf nona, anda dilarang keluar sebelum mengantongi ijin dari tuan "
"Tapi," Lagipula aku bukannya mau merampok, aku juga tidak berniat kabur!.
"Silahkan masuk kembali nona " Ujar pria itu. Aisha mencebik kesal, padahal dia harus pergi hari ini. Tidak tahu kapan Arthur memboyong nya ke Amerika nanti. Dan sebelum itu terjadi, gadis itu ingin menyelesaikan beberapa urusannya disini.
"Baiklah " Berbalik. Sudah berjalan tiga langkah. Dan tiba tiba ilham itu muncul pada kepalanya.
Otak oh otak, berikan aku ide seperti ini terus ya.
__ADS_1
"Aduh! Sakit! " Aisha ambruk di lantai. Memegang perutnya dengan mimik wajah dibuat sedramatis mungkin. Sungguh, jika dia menjadi aktris, pasti akan terkenal di seluruh penjuru dunia.
"Nona, nona kenapa! " Panik sendiri. " Sakit, sakit, tolong aku! " Suaranya melirih.
"Saya akan panggil dokter nona "
"Tidak, panggil tuan Arthur saja sana, cepat! " Memegang perutnya lagi. Dan entah bodoh atau memang akting Aisha yang mumpuni, penjaga itu sontak berlari terbirit birit kelantai atas. Bergegas melapor pada tuannya.
Berhasil!
Aisha bangkit berdiri, menyeringai licik dan memungut topi baseball hitamnya yang tercecer di lantai.
Lari!
Berlari secepat halilintar keluar pintu utama. Tak menghiraukan teriakan para pengawal yang berada di belakangnya. Dan keberuntungan Aisha lah sebab di gerbang utama tidak ada penjaga. Mungkin sedang ngopi atau apa. Mengingat ini adalah jam ganti sift.
"Nona! Nona anda mau kemana!! " Teriakan para pengawal yang mengejar Aisha. Layaknya mengejar maling yang kabur dari penjara.
Aaaa, sia - sia saja kalian mengejarku. Tidak tahu sih aku juara lari se provinsi dulu. Wekk!
Para penjaga yang kelimpungan mengejar sang nona, akhirnya mengambil mobil. Guna untuk mengimbangi laju larinya yang luar biasa. Biasanya jika para tawanan berupaya kabur, mereka tak perlu pikir panjang untuk melayangkan peluru. Tapi tidak mungkin kan mereka menembak nona.
Hingga akhirnya, mereka kehilangan jejaknya.
Salah satu anak buah berada di luar ruang kerja tuan muda. Ragu untuk mengetuk pintu, tangannya sudah tergantung di udara. Menghapus keringat dingin yang bercucuran dengan derasnya, lalu menarik nafas lagi. Meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya akan baik baik saja. Meskipun taruhan nya adalah nyawa.
Tok, tok, tok.
"Masuk saja " Suara tuan Reynard dari dalam. Berarti mereka masih bersama sejak tadi.
Dengan segala rasa takut yang membuncah di dada, pria dengan baju hitam itu melangkah ke dalam, sudah pasrah pada keadaan.
"Tu-tuan? "
"Ada apa, katakan saja. Jangan bicara pada Arthur dia itu sedang menggila " Ucap Reynard bergurau. Walaupun mendapat lemparan tatapan mematikan dari sang ketua.
"Tu-tuan nona kabur " Sontak saja dia terpundur dua langkah ke belakang. Teriakan Arthur dan Reynard serasa menusuk telinga. Membuat nyali menciut seketika.
__ADS_1
"Apaa!! "
Arthur yang murka, mengambil langkah lebar menuju sang penjaga. Mencekik lehernya. Tak peduli walau dia sudah tersengal.
"Arthur lepaskan! " Reynard berusaha melerai. Bisa panjang urusannya jika harimau ini sedang murka.
"Ceroboh sekali kau! Untuk apa kau berada disini, apa kau makan gaji buta! Menjaga seorang wanita saja tidak bisa. " Masih belum melepas cekikan tangan.
"Arthut sudah, cukup! Dia bisa mati " Peringat Reynard.
"Cih! " Melepas cengkeraman tangan. Langsung melengos ke arah lain. Mengambil langkah kaki lebar keluar ruangan. Meninggalkan Reynard yang masih mewakilkan permintaan maaf atas kelakuan nya.
Arthur dan Reynard tengah berada dalam ruang CCTV.
"Kenapa dia mengenakan pakaian serba hitam begitu ya? " Reynard bingung sendiri. Menatap Arthur yang hanya terdiam dengan raut datarnya. Susah ditebak isi pikiran pria ini, batin Rey.
"Rey, apa kau memasang GPS padanya? " Tanya Arthur.
"Tidak, aku memasang GPS pada setiap mobil yang kau punya bos. Berhubung kakak ipar itu baru disini, aku tidak kepikiran " Dia kan baru datang kemarin. Mana sempat Rey memasang GPS padanya.
"Dia memakai taksi online bos, hubungi perusahaan taksi online sekarang " Usul Rey yang diangguki Arthur.
Sedangkan Aisha yang tertuduh kabur dari rumah, sedang asik berjalan pada taman kota. Ramai orang tua yang bermain dengan anaknya. Anak anak berlarian kesana kemari, membuat para ibu mengejarnya dengan napas terengah. Sebuah pemandangan yang lama tidak dia lihat setelah beberapa saat.
Banyak juga para pengemis yang terkulai di pinggir jalan. Hanya mampu duduk dengan tangan mengulur di udara. Mengharap belas kasih dari para manusia yang berhati mulia.
Gadis itu merogoh saku hoodie nya. Menyambar selembar uang merah, menaruhnya dalam kaleng usang seorang nenek. Seperti tertimpa berkah yang luar biasa, sang nenek tak henti mengucap syukur. Memanjatkan doa baik pada malaikat penolong nya. Akhirnya setelah seminggu perutnya tak terisi, ia bisa makan lagi. Nikmat luar biasa yang Tuhan limpahkan.
Gadis itu hanya tersenyum. Inilah rutinitas Aisha, berkeliling memakai hoodie, topi dan masker penutup wajah setiap minggunya. Ia tidak ingin ada yang tahu kalau itu dia. Ada kebahagiaan tersendiri saat melihat wajah berbinar orang lain. Dan entah mengapa, ia nyaman melakukannya. Hampir bertahun tahun, aksi sosial ini ia terapkan. Dengan menutup jati dirinya.
Dan hal inilah yang malah membuatnya dituduh kabur dari rumah oleh suaminya. Mungkin hal yang ia lakukan benar, namun caranya yang salah. Mungkin belum terbiasa atau apa. Jika saat dirumah dulu, orang tidak akan banyak bicara, karena sudah diperingati oleh Yudhi.
Karena belum beradaptasi, mungkin ia belum sadar arti bersuami. Dimana kau harus meminta ijin pada suamimu saat akan melakukan sesuatu.
Maaf Arthur, kalau aku meminta ijin padamu kau tak akan memberinya. Hanya sekali ini saja, aku tidak akan mengulangi nya lagi.
Bersambung...
__ADS_1