
Di sebuah bangunan tua dengan pencahayaan yang temaram, seorang pria berdiri tegak memandang keindahan pegunungan dari atas balkon. Tangannya bersedekap dan mata yang memandang lurus. Hanya jaket tebal dan sebuah syal yang dia gunakan sebagai senjata untuk menangkal dinginnya cuaca yang melanda. Mata tajam, hidung mancung, wajah tegas dan tubuh tinggi tegap menjadi pelengkap atas segala yang ia miliki.
"Tuan.. " Suara seorang pria yang tak lain adalah anak buahnya membuatnya berbalik badan. " Dia sudah sampai. " Lapornya, tak berapa lama kemudian, seorang wanita muncul dari balik pintu. Dengan sopan dan kepala yang menunduk, ia mengayunkan kakinya mendekati pria itu.
"Tuan, saya berhasil. Saya membawa data yang tuan butuhkan. Tapi sepertinya saya tidak bisa kembali kesana lagi, saya sudah ketahuan. " Ujarnya penuh sesal. Mengulurkan sebuah map kepada tuannya. Pria itu menerimanya, membukanya dan membacanya dengan teliti.
"Kau tahu apa akibatnya jika bekerja dengan tidak maksimal? " Suara yang terdengar sangat dingin dan kejam memenuhi penjuru ruangan. Pria itu melempar map yang ada di tangannya tepat ke wajah wanita itu.
"Itu bukan dokumen yang asli!! Itu hanyalah usaha untuk mengecohmu! " Bentaknya keras yang serasa menusuk gendang telinga.
"Maafkan saya tuan.. Beri saya satu kesempatan lagi, saya akan berusaha yang terbaik. " Jatuh tersungkur ketanah dan mengatupkan kedua tangannya di depan dada, berharap memperoleh kesempatan kedua. Karena jika dia tidak mendapatkannya, sudah tentu nyawa lah yang akan tiada.
Lelaki itu menghela napasnya kasar, "Bodoh! sia sia aku memberikan pelatihan padamu! Kau sangat ceroboh! Selain gagal, kau bahkan ketahuan. " Hardiknya tajam. Memberi kode pada anak buahnya. Anak buah itu mengangguk sigap dan mulai menjalankan apa yang diperintahkan.
"Argghh!! " Pekiknya keras ketika sebuah cambuk mengenai punggungnya. Ia meringis kesakitan dengan air mata yang bercucuran.
"Ampun tuan! Saya akan bertaruh nyawa untuk mengambil dokumen dan menggali informasi yang tuan inginkan. Tolong berikan saya kesempatan kedua.. Arggh! " Jeritnya tak tertahankan. Pria itu memberi kode lewat tatapan matanya agar menghentikan aksi itu.
"Kuberi kau kesempatan kedua, tapi jika kau gagal lagi, maka kau akan menanggung akibatnya. " Seru pria itu. Pria yang lain menarik lengan si wanita dan membawanya keluar darisana.
Dengan rasa kesal yang membuncah, pria itu kembali melangkahkan kakinya menuju balkon. Terpaan hawa sejuk tak mengusiknya sama sekali, justru ia sangat menyukai hawa dingin seperti ini.
Tangannya yang kekar, mengepal erat hingga menunjukan buku buku jarinya.
Aku tidak akan melupakan apa yang kau lakukan pada ayahku!
__ADS_1
Rithik Alexandro Wilson, seorang pria berperawakan tinggi dan tegap dengan wajah tampannya. Dia adalah anak dari Pither Wilson, orang yang telah dihabisi Arthur dan beberapa orang lainnya. Dendam kesumat yang terpendam di dalam dadanya, membuatnya berambisi untuk menghancurkan Arthur Anderson. Menghancurkannya tanpa sisa seperti yang dia lakukan pada ayahnya. Incaran pertama Rithik adalah bisnis Arthur, pria itu tahu bahwa Arthur punya banyak sekali ladang uang. Membuatnya kesusahan menyerang bisnisnya, apalagi di dukung dengan sistem keamanan yang luar biasa.
Oleh sebab itu, Rithik mengirimkan seorang penyusup untuk mencuri informasi penting, salah satunya adalah saat dimana keamanan markas Arthur sedang lemah, oleh sebab itu waktu itu terjadi penyerangan disana. Rithik juga meminta anak buahnya agar mencuri beberapa dokumen penting perusahaan Arthur, agar dapat ia gunakan untuk menghancurkan bisnisnya.
***
Wanita tadi, wanita yang menjadi salah satu pemeran dalam rencana balas dendam Rithik. Tangannya masih diseret agar keluar dari bangunan itu. Laki laki tadi mendorongnya keluar dengan sangat kasar.
"Pergilah dan jangan kembali sebelum mendapatkan apa yang tuan inginkan! " Bentak nya kasar. Menutup pintu dengan sangat keras, bahkan mampu menyakiti telinga orang yang mendengarnya.
"Sial! " Umpatnya. Ia bangkit berdiri dan mengenakan maskernya. Menutupi jati diri yang sebenarnya. Dengan tangan yang terkepal, wanita itu menjauh darisana untuk melanjutkan tugas yang diembankan padanya.
Lely, begitulah biasanya dia dipanggil. Wanita dengan rambut kecoklatan dan tubuh semampai. Lely adalah salah satu anak buah dari Rithik.
Tapi, tahukah kalian siapa dia?. Dengan wajah yang familiar di mansion Anderson, membuatnya dapat menyelinap dengan mudah. Ya, Lely memiliki wajah yang sama persis dengan Lia, salah satu pelayan yang ada disana. Lely dan Lia lahir dari rahim seorang ibu yang sama. Namun keduanya terpisah saat dirumah sakit. Lely menghilang diculik orang, sedangkan Lia diurus oleh keluarganya. Entah bagaimana Pither menemukannya ketika ia beranjak remaja pada dari seorang pria yang biasa memperbudak anak anak untuk dijadikan pengemis. Dan darisanalah kisahnya dimulai, hasutan buruk selalu menjadi makanan sehari hari baginya. Membuat ia berpikir, bahwa orang tuanya sengaja membuangnya dan hanya menyayangi Lia. Pither menyuruh para anak buahnya agar melatih Lely, menjadikannya sebagai perempuan mafia yang tidak takut mati.
*
*
*
Keesokan harinya,
Arthur membelai lembut wajah nyenyak yang masih tertidur di dalam pelukannya. Perlahan ia mengecup bibir yang sedikit tebal itu.
__ADS_1
Aisha yang merasa tidurnya terusik, hanya sedikit menggerakan kepalanya dengan dahi yang berkerut. Lalu ia kembali terbuai di dalam alam mimpinya yang indah. Melihat tingkah laku istrinya membuat Arthur semakin gemas, ia mendekatkan wajahnya ke leher gadis yang sudah ia resmikan menjadi perempuan dewasa sejak semalam.
Aisha kembali menggeliat, merasa geli saat rambut Arthur menggelitik lehernya. "Diamlah Pushy, jangan menggangguku. Aku sangat mengantuk. " Di dalam alam mimpinya, Aisha melihat Pushy dan Sugar yang sedang mengganggunya.
"Dia menganggap aku kucing, " Arthur mencebikan bibirnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman nakal. Perlahan, tangannya menyibakan selimut yang membalut tubuh istrinya. Memerhatikan lekukan sempurna itu dengan intens, ia kembali tersenyum senang saat melihat ada bercak darah pada kain seprei yang mereka gunakan. Dirinya benar benar beruntung mendapat gadis seperti Aisha.
Tangan Arthur membelai lembut tubuh itu, bahkan istrinya hanya menggeliyat karena merasa geli. Dia tidak terbangun. Arthur hendak melanjutkan aksinya, namun dahinya berkerut heran ketika tanpa sengaja melihat perut Aisha. Matanya yang masih sehat, dapat melihat dengan jelas bekas jahitan yang lumayan panjang disana. Namun mungkin karena sudah sangat lama, dan juga mendapat perawatan dari dokter spesialis, membuat bekas itu sangat samar. Benar benar tipis, bahkan mungkin lebih tipis daripada benang apabila ia tidak menelisiknya dengan seksama.
"Apa ini bekas luka? " Arthur menyentuhnya perlahan. Namun karena hasratnya tak terkendalikan sebab melihat dada istrinya, membuatnya mengabaikan hal itu. Ia malah kembali menggeluti leher putih mulus Aisha.
Merasa kembali terusik, Aisha mengerjapkan matanya perlahan. Menyesuaikan cahaya yang menerobos retina matanya. Dan betapa terkejutnya dia ketika seorang pria sudah berada diatasnya.
"Arthur! "
...
Bersambung...
Dua dulu, mataku benar benar tidak kuat 😴
Maaf, aku selalu up malam karena siangnya banyak pekerjaan.
"Hai, Aku Aisha. A-I-S-H-A👋"
__ADS_1
"Kau tidak mengenal siapa aku? Aku Arthur Anderson ketua Regdator. Jika kau tidak mengenalku! Maka! Berarti kau tidak pernah main sosmed.. "