
Arthur melajukan mobilnya membelah jalanan kota New York yang padat. Ia menjambak rambutnya frustasi, tidak tahu kemana gadis itu pergi. Berkali kali Arthur memukul kemudi dan menggerutu kesal.
"Kemana gadis itu pergi? Apa dia berencana kabur dariku? Tidak akan kubiarkan! " Tangannya kembali memukul kemudi.
"Tapi aunty bilang dia pergi ke kantorku satu setengah jam yang lalu. Apa jangan jangan..."
Mata Arthur membulat sempurna, ia menyambar ponselnya dan menghubungi salah satu anak buahnya.
"Hallo tuan "
"Lacak posisi istriku, sekarang juga! " Tegas Arthur lalu mematikan sambungan telepon.
Kendaraan itu terus melaju tak tentu arah. Yang pasti kedua mata Arthur tak henti memandang ke kanan dan kiri. Berharap ia akan menemukan istrinya disana. Beberapa saat kemudian, ponsel pria itu kembali berdering menandakan ada panggilan yang masuk.
Arthur pun mengangkatnya.
"Ponsel nona mati tuan, saya tidak bisa melacaknya. "
"Tidak berguna! " Arthur seketika memutus sambungan telepon sepihak. Dia bingung akan mencari kemana, apalagi dia tidak tahu tempat favorit Aisha.
Arthur masih setia mengemudikan kendaraan roda empat itu. Ia sangat khawatir, hari sudah menjelang malam, namun Aisha tak kunjung ketemu. Saat ia melewati sebuah perempatan, matanya tak sengaja menangkap sosok yang ia cari.
"Aisha! " Gumam Arthur. Ternyata gadisnya itu masih belum terlalu jauh.
Aisha berjalan gontai tak tentu arah. Ia juga bingung akan kemana, yang jelas ia tidak mau bertemu Arthur. Pantas saja, sejak awal pria itu tidak memberitahu apa alasan mereka menikah.
"Dia memang tidak pernah mencintaiku. " Aisha menyeka sebulir kristal bening yang jatuh dari tempatnya. Ia membenahi letak syal yang ia kenakan lalu kembali berjalan.
"Aisha! " Suara berat yang familiar di telinga membuat Aisha kian mempercepat langkahnya. Ia hafal siapa pemilik suara itu, itu adalah suara suaminya yang menyebalkan.
"Hey, tunggu! Kenapa kau malah mempercepat langkahmu! " Arthur mencekal tangannya dan berdiri di depan gadis itu, menghalangi langkahnya.
"Sedang apa kau disini? Ayo kita pulang!" Ujar Arthur pada istrinya yang tampak menunduk agar menyembunyikan wajahnya yang sembab.
"Kenapa diam saja, ayo pulang! " Menarik lengan Aisha menuju mobil. Namun gadis itu melepaskan tangannya.
__ADS_1
"Aku tidak mau pulang bersamamu! Aku mau pergi. " Sudah melanjutkan langkahnya yang sempat terjeda. Namun lagi lagi pria itu menghalanginya.
"Pergi kemana? Ayo kita pulang ke mansion." Ajak Arthur.
"Aku mau pergi! " Tegas Aisha. Sifat keras kepalanya sepertinya sudah bangkit. Bayangkan saja, apabila kedua sifat keras kepala saling bertemu, apa yang akan terjadi.
"Kemana! Rumahmu ada disini, kau tinggal bersamaku sekarang. Kemana lagi kau akan pergi? " Ujar Arthur yang mulai kehilangan kesabaran.
"Chicago! " Balas Aisha singkat lalu hendak melanjutkan langkahnya.
"Kau akan ke Chicago? Untuk apa! Lagipula apa kau sudah gila ke Chicago naik bus. " Seru Arthur, karena kebetulan sekali di dekat mereka ada tempat pemberhantian bus.
"Siapa yang akan naik bus! "
"Ayo kita pulang! " Arthur menarik paksa tangan Aisha menuju mobil yang terletak agak jauh karena adegan kejar kejaran mereka tadi. Karena Aisha terus meronta, Arthur tak segan menggendongnya. Bahkan dia mengabaikan tatapan aneh dari para orang yang bersimpangan dengan mereka.
"Turunkan aku!" Ronta Aisha. Arthur menurunkan Aisha dalam kursi mobilnya. Pria itu berputar dan duduk di kursi kemudi.
Mobil kembali melaju entah kemana. Sepanjang perjalanan, gadis itu menatap keluar. Enggan memandang atau sekedar melirik suaminya.
"Kau kenapa? " Arthur menatap istrinya yang berwajah sembab. Bahkan matanya sudah menyipit.
Mobil mewah Arthur berhenti pada sebuah villa. Aisha segera turun, berjalan cepat tanpa sadar ada dimana dia sekarang. Dirinya baru sadar ketika berada di depan pintu. Ini bukan mansion Arthur, lalu dimana dia sekarang?
"Ayo kita masuk! " Arthur menarik tangan istrinya memasuki villa dan membawanya ke sebuah kamar utama disana.
Ia mendudukan istrinya diatas sofa yang tersedia.
"Kenapa kau ingin pergi? " Tanya Arthur dengan nada dinginnya.
"Kau membohongiku. " Lirih Aisha mengalihkan pandangannya.
"Kerjasama antara kedua organisasi sudah selesai. Paman Pither sudah tidak ada. Jadi, biarkan aku pergi. " Perkataan Aisha sontak membuat Arthur memelototkan matanya.
"Apa kau bilang! Pergi? Kau tidak boleh pergi!" Arthur meninggikan suaranya. Menatap istrinya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Kenapa, kenapa aku tidak bisa pergi? Bukankah aku ini hanya sebuah barang yang dijadikan jaminan agar ayahku tidak berkhianat?. Asal kau tahu Arthur, berkhianat bukanlah sifat kami ataupun organisasi kami. Seandainya kau tidak menikahiku, Ayah juga pasti tetap akan membantumu meskipun dia tidak mau. " Aisha bangkit berdiri dan berucap dengan berurai air mata. Entah kenapa rasanya begitu sakit, saat tau apa yang sebenarnya ketika ia sudah mulai menaruh rasa. Kalau begini, sudah dipastikan Arthur tidak akan mungkin mencintainya seperti yang sering dikatakan aunty Rania.
"Aisha! " Bentak Arthur.
"Kau tenang saja, jika kelak kau butuh bantuan ayahku, aku akan menyuruhnya agar membantumu tanpa ragu. " Ujar Aisha seraya menghapus air matanya.
"Diamlah! Aku tidak mengharapkan bantuan siapapun! " Suara Arthur masih meninggi. Ia memandang wajah sendu istrinya yang membuat hatinya melunak.
Pria itu menangkup kedua pipi istrinya lembut.
"Dengarkan aku! Aku akui, dulu Rey menyarankanku agar menikah denganmu, agar strategi kami untuk menyerang Pither berjalan lancar. Saat itu ayahmu menolak mentah mentah ajakan kerjasama yang aku ajukan. Akhirnya aku melakukan semua ini. Aku menikahimu agar keluargamu tidak berbalik menyerangku. Tapi apa kau tahu, saran bodoh Rey telah membawa perubahan bagiku. " Arthur bertutur lembut, menatap kedua manik istrinya dalam dalam. Meyakinkan hatinya bahwa apa yang akan ia katakan adalah kebenaran yang mutlak.
"Aku tidak tahu kapan ini berawal, yang jelas perasaan ini tidak akan berakhir. " Menatap Aisha lekat. "Aku mencintaimu. " Kalimat sakral yang dilontakan suaminya sontak membuat Aisha mendongak kaget. Matanya yang sendu menatap kedua manik Arthur yang menyiratkan kejujuran.
Arthur mendekap gadis itu erat, seakan taj ingin berpisah darinya. "Aku sangat mencintaimu." Bisiknya mesra.
Aisha melerai pelukan mereka dan menjauhkan tubuhnya. Rasanya sangat sulit mempercayai penuturan Arthur barusan.
"Jangan berbohong hanya untuk menenangkan aku Arthur! " Aisha berpikir bahwa Arthur hanya ingin membuatnya tenang dan menariknya kembali pulang.
"Siapa yang menenangkanmu, aku berkata yang sesungguhnya! " Arthur berlutut, menggenggam jemari Aisha erat.
"Aku minta maaf atas apa yang terjadi, aku sangat menyesal karena perilakuku yang buruk diawal pernikahan kita. Aku juga tidak tahu bagaimana ini terjadi, tapi percayalah, aku sangat mencintaimu sayang. " Untuk pertama kalinya Arthur bertutur kata sangat manis dan romantis. Hati Aisha terenyuh dibuatnya.
"Kenapa kau tidak merasakan perubahan sikapku akhir akhir ini? Apa kau tidak memiliki perasaan yang sama denganku? " Tanya Arthur kembali berdiri. Aisha menitikan air mata bahagianya dan memeluk suaminya erat. Lega, rasanya sangat lega mendengar perkataan Arthur yang sangat lembut. Seorang Arthur Anderson yang dikenal arogan dan pelit bicara, ternyata dapat bertutur kata semanis tadi.
"Aku juga sangat mencintaimu. " Seru Aisha. Arthur tersenyum senang, ia melepaskan pelukan mereka. Memandang intens wajah cantik istrinya. Dan entah kapan, bibir mereka sudah saling bertautan. Mencecap dan merasakan satu sama lain. Arthur menggiring istrinya menuju ranjang.
Bersambung...
Aku minta maaf kalau alur yang aku buat tidak menarik atau mungkin masih
monoton 🤕
__ADS_1
Aku sangat suka dengan warna matanya 😁