Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Borgol indah.


__ADS_3

Setelah lama berkendara tibalah Ken dan Naya di depan sebuah gedung mewah yang ada di bilangan Jakarta Selatan. Sebuah gedung dengan papan nama True Beauty.


"Ini kita ngapain ke salon?" tanya Naya. Dia celingukan melihat ke luar jendela mobil sebelum akhirnya sebuah cekalan tangan mengentak kesadaran. Dia menoleh dan menatap horor pada Ken yang ternyata sudah memasangkan gelang emas kaku sebesar jari—mirip gelang giok.


"Kak Ken, ini apaan?" tanya Naya lagi seraya mengangkat tangan.


Namun, Ken tak menjawab. Pria itu tetap tenang sembari menggeser layar ponsel.


Naya yang diabaikan mulai berdengkus dan mencoba melepaskan sendiri benda yang melingkar di tangan. Nihil, benda itu terlalu pas sampai-sampai tidak bisa di lepas.


Menatap Ken nanar, Naya mulai panik saat mata tak sengaja melihat beberapa angka yang ada di gelang, ada juga pengait yang seperti terhubung dengan tombol-tombol itu. "Ini apaan, sih, Kak? Kenapa gak bisa dilepasin?"


Ken masih abai hingga Naya yang panik mulai berspekulasi. 'Jangan-jangan ini ....'


Naya semakin gelisah, nanar dia menatap Ken. "Kak Ken, ini apaan?" tanyanya lagi dengan lantang.

__ADS_1


Ken menoleh, dia memasukkan ponsel ke saku lalu membuka sabuk pengaman yang melingkar di tubuh Naya. "Kita sudah sampai, Nona. Sekarang lebih baik kita turun."


"T-tapi jawab dulu pertanyaan aku. Ini sebenarnya a—"


Belum juga selesai lisan Naya, Ken sudah keluar dari mobil dan membukakan pintu untuknya. Ken benar-benar memperlakukan dirinya seperti putri berharga, tapi Naya merasa tidak demikian. Dia merasa seperti tawanan.


"Kak Ken, jawab dulu ini apaan? Dan kita ngapain ke salon?" cecar Naya lagi.


"Ayo Nona, kita sudah ditunggu," sahut Ken sekenanya.


Naya dan Ken masuk ke gedung itu. Beberapa orang karyawan bahkan menunduk patuh pada mereka. Naya yang baru berada di kondisi seperti itu terlihat canggung dan sesekali membungkuk untuk membalas.


"Selamat siang Nona. Perkenalkan saya Jovan. Saya yang bertanggung jawab untuk memotong dan mengatur rambut Nona Naya."


"Potong rambut?"

__ADS_1


Naya terlihat shock, dia mundur beberapa langkah tapi sayangnya ada Ken yang menahan dari belakang.


"Kak Ken, ini ...." Wajah Naya perlahan pias. Dia menatap Ken penuh harap, tetapi Ken lagi-lagi bergeming dengan sorot mata tenang lantas mendorongnya tanpa iba.


"Silakan lewat sini Nona," sela Jovan lagi—si pria kurus berambut pirang. Dia menuntun dengan gerak jalan gemulai hingga membuat Naya yang mulanya kesal dan khawatir jadi menutup mulut agar tak berakhir tertawa.


Jovan yang mengetahui itu terlihat kesal, tapi dia tuntun juga Naya sampai gadis itu duduk di depan cermin besar. Cermin itu menampilkan wajah Naya yang begitu penuh kekhawatiran.


"Kak Ken, kenapa aku harus potong rambut?" tanya Naya lagi. Dia dapat melihat pantulan wajah Ken yang datar dari cermin.


"Karena ini permintaan Bu Direktur. Saya hanya mengikuti perintah," balas Ken.


Naya menghela napas panjang. Dia biarkan Jovan memotong rambutnya yang panjang. Jujur, tadi dia sedikit senang dengan penampilannya yang begitu berbeda. Terutama rambut. Dulu hanya terkucir kuda kini ikal bergelombang dan tampak tebal.


"Selamat tinggal rambut panjang," gumamnya pelan dan penuh keputusasaan.

__ADS_1


__ADS_2