
'T-tunggu. M-mereka ... mereka ngapain pelukan?' batin Naya.
Dia semakin membuka mata lebar-lebar—ingin mencari tahu apa yang terjadi. Namun, belum juga reda keterkejutan itu, dirinya dikagetkan kembali dengan adegan yang lebih mengerikan. Kini Laura dan Marta bahkan berciuman. Oh Tuhan ....
Refleks Naya menutup mulut. 'M-mereka ngapain?' batin Naya lagi. Mata bahkan tak berkedip melihat betapa mesranya dua wanita berumur itu beradu dan bercumbu.
Sekarang dia prihatin pada Burhan, ternyata hidupnya begitu menyedihkan karena terjerat Laura yang berhati ular—tidak berakhlak dan tidak bermoral.
Naya terus mengamati sampai keduanya melepaskan pagutan. Wanita berpakaian modis itu mendekati Burhan, lantas dengan wajah tak berdosa mencium keningnya.
"Bagaimana, kamu ingat adegan tadi? Gak terasa ya ternyata udah hampir dua tahun," ujar Laura berbisik. Dia menyeringai. Kenangan masa lalu mengudara lagi.
Kala itu Burhan yang baru pulang dari luar negeri dikagetkan dengan adegan tak senonoh Laura dan Marta. Laura yang panik mengejar dan tanpa sadar memukul kepala Burhan dengan stik golf dan menyebabkan Burhan terguling di tangga rumah mereka.
Laura menyeringai, dia berdiri tegak lantas melambai Marta yang berada tak jauh darinya. Sekarang mereka berdiri berdampingan menatap Burhan yang terpejam. Tak hanya itu, Marta begitu perhatian menarik kursi untuk Laura duduk.
"Bagaimana rasanya tau segala hal tapi gak bisa ngomong? Pasti sakit, 'kan? Tapi Burhan, rasa sakit kamu ini gak sebanding denganku. Aku mencintaimu dari remaja. Aku mengejarmu, aku tergila-gila sama kamu."
Laura tergelak ironi. Dia berdecak sebentar, mencondongkan tubuh dan menggenggam tangan Burhan. Tatapannya juga terlihat dalam, setelah itu dia kembali berkata, "Dulu, apa kau tau perasaanku saat tau kalau keluarga kita menjadi rekan bisnis?"
Kini tangan Laura mengusap pipi Burhan. "Bahagia. Aku sangat senang saat itu. Itu artinya kesempatan dekat sama kamu dan jadi istri kamu semakin besar. Tapi aku gak nyangka kamu adalah laki-laki yang gak bersyukur. Saat aku, Laura, anak tunggal keluarga kaya mengejar dengan sungguh-sungguh kamu justru menolak keras. Apa kurangnya aku, Burhan? Aku cantik, menarik, aku juga kaya. Tapi kenapa yang ada di otak kamu hanya perempuan kampung itu? Kenapa?"
__ADS_1
Membulatkan matanya, Naya sadar ada kekecewaan dan kemarahan dalam setiap kata yang terlontar dari bibir Laura. Akan tetapi, anehnya Laura justru mengatakan itu dengan tenang, senyuman bahkan tak pudar. Terlihat makin mengerikan.
"Saat itu aku ...." Laura menekan dada sendiri, "aku yang dari kecil selalu dididik mempertahankan apa yang aku punya gak bisa mundur gitu aja. Aku bahkan merengek pada orang tuaku agar dinikahkan sama kamu. Aku juga sebisa mungkin ambil hati orang tua kamu. Tapi, kamu terlalu jahat. Di matamu hanya ada dia. Apa lebihnya dia dari aku?"
Plak!
Naya terperanjat. Tiba-tiba saja Laura memukul dahi Burhan, tak hanya sekali tapi berkali-kali. "Kamu memang brengsek. Kami sukses buat aku membuang harga diri dengan naik ke ranjangmu. Menikmati kamu saat kamu mabuk. Yah ... mungkin terdengar rendah. Tapi aku puas karena efeknya aku hamil dan bisa nikah sama kamu."
Hening, Laura sekarang membenarkan rambut Burhan yang sudah banyak ditumbuhi uban.
"Ah ... kalo diingat-ingat kok aku jadi sakit hati ya. Aku nyesel pernah sebesar itu kasih kamu cinta. Merasa sia-sia berharap lebih sama laki-laki."
Hening beberapa detik, tiba-tiba saja Laura menitikkan air mata. Dia sentuh dagu Burhan yang juga ditumbuhi uban. "Apa aku benar-benar gak pernah ada di mata kamu? Apa pernah sekali aja kamu mengingat anak yang dulu sempat aku kandung?"
Lagi, Naya menutup mulutnya. Dia shock. Itu artinya Laura pernah keguguran.
"Aku benci kamu. Yang kamu perhatikan hanya dia. Kamu bahkan gak ngomong apa-apa saat aku berada di titik terendah. Ke mana hati nurani kamu?"
Air mata Laura makin meluruh banyak. Dia bahkan terlihat kesusahan menenangkan diri hingga Marta yang ada di samping menyentuh pundaknya.
Entah kenapa pemandangan itu membuat Naya semakin miris.
__ADS_1
"Saking bencinya aku pernah ingin bunuh diri dan nyusul anak kita. Tapi Burhan, aku gak jadi ngelakuin hal konyol itu. Bagaimana bisa aku biarkan kamu yang udah biarin aku keguguran hidup lama dan bahagia dengan perempuan jalangg itu?" Laura tergelak ironi. Dia benarkan posisinya lalu kembali menghapus air mata. Nyalang dia menatap Burhan dan lagi-lagi melayangkan pukulan.
"Gak! Aku udah bersumpah bakalan hancurin kamu dan wanita itu. Dan sepertinya Tuhan kasih aku jalan."
Laura menjeda kata lagi. Dia berdecih lalu menjambak rambut Burhan. "Apa kamu mau tau rahasia yang aku tutup rapat-rapat?"
Hening, Laura dengan angkuh kembali duduk tenang dengan tangan bersedekap.
"Sebenarnya akulah orang dibalik hancurnya hubungan kalian. Aku membuat drama kalau anak yang dia kandung adalah anak laki-laki lain. Tapi memang dasar kamunya brengsek. Kamu percaya gitu aja dan ninggalin dia. Ya ... sepertinya kamu juga ada andil di sana. Kamu terlalu curiga. Bahkan pada perempuan yang kamu pedulikan. Bisakah aku tertawa mengenang kebodohan kamu?"
Laura tertawa sungguhan. Dia kembali mencondongkan diri. "Kamu memang gak pantes dicintai Burhan. Kamu terlalu egois."
"Oh, dan satu lagi. Aku tau kamu pasti penasaran. Kenapa aku bisa bertahan sama laki-laki kayak kamu? Apa karena cinta?" sambung Laura, dia kembali menyeringai. "Tentu saja bukan. Cintaku sudah hilang saat aku keguguran. Cintaku udah berpindah hati. Aku bertahan karena ingin jadi saksi bagaimana menderitanya kamu di dunia ini."
Tiba-tiba saja ada setetes air yang turun dari ujung mata Burhan. Namun, bukannya memanggil dokter Laura justru menghapusnya dengan perlahan. "Jangan nangis. Jangan menyesal dan jangan minta maaf sama aku. Minta maaflah sama dia, dia sudah rela jadi perempuan bodoh yang dibutakan oleh kamu. Dan satu lagi, minta maaflah sama dia, karena anak kalian aku tumbalkan."
"Laura, kita harus pergi," ucap Marta.
Laura mendongak, dia tersenyum dan berdiri. Namun, sebelum melangkah dia memutuskan kembali melihat Burhan.
"Dan satu lagi. Ada rahasia yang harus kamu dengar. Ini soal asisten kepercayaan kamu. Si Ken. Apa kamu mau tau kabarnya sekarang?"
__ADS_1