Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Kebenaran


__ADS_3

POV Ken.


"Bapak suruh saya buka ini?" tanyaku. Kebayang rasanya jika disuruh membuka hal yang bersifat pribadi. Terlebih lagi pada Pak Burhan yang aku hormati. Rasanya agak canggung.


Masih kutatap Pak Burhan, dia hanya merespon dengan kedipan mata. Mungkinkah mengiyakan?


Menarik napas panjang, kubuka juga buku bersampul kulit berwarna hitam. Tertulis namaku di sana. Kenzi Pradana Raja lengkap dengan NIK KTP dan alamat.


Refleks kupijit pelipis, lantas menatap heran Pak Burhan. Pria panutanku itu menitikkan air mata. Ada apa ini sebenarnya?


Entah, mendadak aku merasa punya firasat buruk. Namun, kubuka lagi lembar selanjutnya dan mataku terbelalak. Seakan tak percaya aku bahkan mengucek mata beberapa kali. Benarkah yang kulihat ini? Tampak Pak Burhan kala muda dan Pak Broto saling gandeng. Itu artinya mereka sangat akrab. Tapi kenapa selalu bertengkar jika bertemu?


Ah Wait! Siapa wanita yang duduk di depan mereka?


Kupandangi lagi Pak Burhan, lalu kembali menatap foto wanita yang bisa kubilang sangat cantik. Dia mengenakan gaun jadul bermotif bunga. Senyum wanita itu terlihat indah dan sepertinya dia sedang mengandung.


Ah tunggu! Kenapa aku merasa tidak asing dengan wajahnya? Apa aku pernah bertemu? Tapi di mana? Ayo Ken, mikir!


Satu detik.


Dia detik.


Tiga detik.


Aku menyerah. Kutatap Pak Burhan.


"Pak, ini siapa?" tanyaku sembari menunjuk foto wanita yang di tengah.


"I-ibunya N-naya," balas Pak Burhan terbata.

__ADS_1


Aku manggut-manggut. Pantas saja terasa familiar. Senyum mereka sama, dan ada satu fakta yang aku ketahui dari lembar pertama, ternyata Broto bisa tersenyum juga.


Aku pun kembali membalik lembar selanjutnya. Ya, meski belum bisa menerka ada apa di sana, tetap saja aku harus mencari tahu.


Degh!


Aku merasakan waktu berhenti. Di sini ada foto Pak Burhan dan ibu pemilik panti. Panti tempatku bernaung. Aku ingat, ibu panti pernah bercerita kalau aku dia temukan dalam kardus di depan panti. Saat itu katanya aku baru berumur sekitar tiga bulanan.


Kenapa bisa tahu, entah ... kata Bu Panti dia hanya menerka saja. Dan hari di mana dia menemukanku dijadikan hari ulang tahunku.


Miris jika diingat, tapi mau bagaimana lagi, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Aku masih bayi. Beruntung saat aku berusia sepuluh tahun Pak Burhan datang dan mengadopsi aku. Dia menopang semua finansial hingga aku bisa berpendidikan tinggi. Pak Burhan penyelamat.


Eh, tunggu dulu! Ini kenapa ada yang janggal? Di sini, di foto ini tertera tanggal dan tahun yang cukup lama. Jika dihitung sepertinya waktu itu aku berumur dua tahun.


Wait wait wait, kalau aku ingat dulu Pak Burhan pernah bilang dia tidak pernah ke panti sebelumnya. Tapi kenapa ....


"Pak Burhan ... ini ...."


"B-ba-ca-lah."


Aku menelan ludah lalu kembali menatap buku.


'Ken, maaf ... jika buku ini ada di tanganmu mungkin saja saya sudah mati. Mungkin saja saya tidak sempat mengakui kesalahan pada kamu, Ken. Saya sadar segudang kebaikan tidak akan bisa menutupi kesalahan saya. Saya tau kamu begitu peduli sama saya. Kamu anak baik, berbakat, saya kagum sama kamu. Sebenarnya Ken, saya itu sudah menghancurkan masa depanmu, menghalangi kebahagiaanmu, tapi Ken percayalah ... saya sungguh menyesal. Sayangnya saya tidak punya keberanian untuk mengatakan. Saya memutuskan membuat surat ini, surat yang mungkin kamu terima saat saya sudah mati.'


Ken menjeda bacaan. Dia bingung dan menatap Burhan yang kembali menatap dengan sayu. Dia mengedip lagi.


Ya Tuhan ... ada apa ini sebenarnya?


Aku memutuskan kembali membaca.

__ADS_1


'Ken, sebenarnya saya, Broto dan Eva adalah teman baik. Eva adalah gadis sederhana yang mampu membuat saya berdebar-debar. Saya menyukainya sejak pertama kali kami bertemu. Tapi, Broto menghancurkannya. Dia memanfaatkan Eva demi nafsuu. Kamu tahu betapa hancurnya hati saya waktu itu. Saya ingin sekali menghancurkan Broto. Saya tahu dia itu tidak tulus pada Eva. Sementara saya begitu menyayangi gadis itu. Tapi bodohnya Eva dengan mudah terpedaya, dia hamil dan bayi yang dia kandung itu adalah kamu.'


Bagai dihantam palu tak kasatmata, Ken melemah detak jantungnya. Dia tersandar lelah di sofa. Tangannya bahkan terkulai.


Mengambil kembali kesadaran yang sempat hilang, Ken pun menampar pipi sendiri. Dia lanjut membaca.


'Asal kamu tahu, pertemanan saya dan Broto hancur karena sikap Playboy Broto sendiri. Dia menghancurkan Eva. Gadis polos itu menjadi korban. Karena desakan banyak pihak akhirnya Broto tetap menikahinya. Hanya saja Eva tidak diterima baik oleh keluarga Broto. Mereka memandang Eva dengan sebelah mata. Tapi yang tambah miris itu adalah perlakuan Broto sendiri. Dia hanya jadikan Eva pelampiasan dan budak nafsunya. Saya kasihan dengannya, dan rasa kasihan memupuk rasa cinta yang pernah ada makin membesar. Saya tidak sanggup melihat dia menderita karena Broto. Alasan Eva bertahan dengan Broto adalah kamu. Jadi saat itu saya nekat menculikmu dan menitipkan kamu ke panti asuhan.'


'Maafkan sayam Saya manusia terkutuk. Saya laki-laki paling bejat sedunia. Dan saya menyesal melakukan itu. Tapi, meski menyesal saya pernah berpikir, lebih baik kamu jadi yatim piatu daripada dibesarkan oleh laki-laki bejat seperti Broto. Asal kamu tahu, saat kamu hilang dia sama sekali tidak peduli. Dia mencari kamu hanya untuk pencitraan saja.'


'Saat kepergian kamu semuanya jadi mudah untuk saya. Saya hasut Broto untuk menceraikan Eva. Ken, saya malu mengatakannya, tapi Eva akhirnya bisa bercerai dari ayah kamu.'


'Saat itulah saya dekati Eva. Persetan dengan hubungan pertemanan saya dan Broto, karena bagi saya Broto bukanlah manusia. Dia hanya binatang yang menjelma dalam sosok manusia. Saya mencintai Eva, tulus. Saya bahkan menolak perjodohan yang orang tua saya atur karena saya sudah terpaut hati dengan Eva. Butuh delapan tahun untuk melunakkan hati Eva.'


'Masalah ternyata tidak sampai di sana. Karena suatu alasan saya tidak bisa meresmikan hubungan kami. Eva tidak keberatan, katanya selama saya mencintai dia, selama saya selalu di dekat dia, dan selama saya percaya dia, dia tidak mempermasalahkan apa pun. Dia rela menjadi simpanan saat status saya adalah suami orang.'


'Ken, bencilah saya. Saya memang patut dibenci. Saya menyia-nyiakan Eva. Waktu itu saya melihat dia berduaan dengan Broto. Dan saat itu juga Eva sedang mengandung. Dan saya, saya dengan bodohnya percaya saat Broto bilang anak yang ada di kandungan Eva adalah anaknya dia.'


'Saya menyesal, Ken. Saya mencari ibu kamu ke mana-mana setelah menghancurkan hatinya. Tapi nihil. Jadi jika kau bisa, tolong cari dia dan katakan kalau saya minta maaf.'


Geram. Hanya itu yang bisa aku kabarkan sekarang. Kukepal buku tebal itu lalu membuangnya ke sembarang arah. Emosi benar-benar tidak bisa dinetralkan sekarang. Refleks aku tarik kerah baju pria tua yang menghancurkan hidupku dan juga Naya.


"Apa kau tahu anak yang dikandungnya adalah Naya! Dia anak kandung kamu, Burhan! Kau bodoh! Kenapa kau percaya dengan omongan Broto! Kau ...."


Ais! Aku tak bisa berkata lagi. Jika kulanjut aku takut tidak bisa menahan diri. Kulepas baju Pak Burhan dan langsung pergi dari sana.


Ah! Sungguh, aku ingin berteriak. Aku gila. Bagaimana bisa aku mengabdi pada pria jahat itu?


Ya Tuhan ... aku bahkan mencintai adikku sendiri.

__ADS_1


__ADS_2