
Alih-alih mengiyakan, Laras justru terbahak. Dia berdiri di belakang Mike yang sudah berada di ambang pintu. "Apa kamu yakin wanita itu masih berfungsi? Apa kamu yakin wanita itu masih bisa disebut berlian?"
Refleks Mike membalik diri. Gelagat itu sukses buat Laras ingin kembali terbahak. Dia dekati Mike. "Tenanglah. Dia belum mati, hanya kakinya saja yang mungkin gak berfungsi lagi."
Blank. Pikiran Mike kosong. Gegas dia mencari ponsel yang ada di meja kerja. Kebetulan yang sempurna, ternyata tertera nama Mala di layar.
"Katakan," ucap Mike tanpa basa-basi sesaat setelah menggeser layar ponsel.
Hening. Wajah Mike yang sempat tegang melemas seketika. Dia dekati Laras yang masih memasang wajah angkuh lalu menutup telepon. Dia lega, ternyata yang jadi korban bukanlah Naya, melainkan Dina. Dari laporan Mala dia mendengar kalau Dina sempat kecopetan lalu menjadi korban tabrak lari setelahnya. Kini kondisi gadis itu tengah terbaring di rumah sakit dengan luka serius.
"Laras, apa kamu tau apa yang aku suka dari kamu?" tanya Mike. Dia belai rambut Laras lalu menciumnya. "Kita sama Laras. Kita sepemikiran. Kita sama-sama licik."
Alis Laras tertaut. Ekspresinya berubah drastis. Tadi yang penuh percaya diri kini justru sebaliknya. Dia heran, kenapa Mike terlihat tenang padahal dia telah menyebabkan kecelakaan untuk gadis itu.
Sekarang Mike berbalik. Namun, sebelum pergi dia kembali melihat Laras yang mematung. "Oiya, terima kasih karena kamu aku gak perlu repot-repot menyingkirkannya."
***
Di saat yang sama tapi berbeda lokasi, terlihat Ken sedang mengikuti langkah Laura. Mereka baru saja selesai menjenguk Burhan.
"Sepertinya ponsel saya tinggal di dalam," ujar Laura pada Ken setelah memastikan barang-barang yang ada dalam tas. Dia lalu menatap Ken yang berdiri di sebelahnya. "Bisa kamu ambilkan? Saya malas kalau harus balik lagi ke sana."
Ken mengiyakan. Dia menunduk patuh sebelum akhirnya berlari masuk ke dalam meninggalkan Laura.
Di sisi lain rumah sakit, Naya yang baru saja keluar dari kamar mandi dikagetkan dengan kehadiran Jordan yang tiba-tiba. Pria paruh baya itu tampak menghela napas panjang dengan ponsel menempel di telinga.
"Ada apa, Pak? Apa ada masalah?" tanya Naya setelah melihat Jordan memasukkan ponsel ke saku.
"Dina kecelakaan, Nona."
Mata Naya langsung terbelalak. "Lalu bagaimana dengan keadaannya? Parah gak?"
__ADS_1
"Sepertinya iya. Sekarang Mala yang mengurus segalanya."
"Jadi sekarang di mana dia?"
"Sekarang dia di UGD," sahut Jordan datar.
"Rumah sakit ini?" tanya Naya lagi. Alisnya tertaut.
Jordan mengangguk.
"Kalau begitu Bapak sebaiknya ke sana."
"Gak perlu. Sudah ada Mala di sana."
"Tapi aku rasa Mbak Mala kerepotan. Aku gak apa-apa, kok. Beberapa langkah lagi sampai. Aku cuma bentaran aja. Habis itu langsung turun."
"Tapi Nona."
"Baiklah. Saya tinggal sebentar. Nanti saya menyusul."
Naya mengangguk. Di lepas kepergian Jordan yang buru-buru, lalu kembali melanjutkan langkah menuju kamar di mana Burhan dirawat.
Menghela napas panjang, Naya geser pintu dan aroma karbol khas rumah sakit langsung menyeruak masuk ke hidung.
Perlahan tapi pasti, Naya pun mendekat dan berakhir berdiri di ujung ranjang. Dia dengan tenang menatap Burhan yang masih menggunakan alat penunjang kehidupan. Tak dipungkiri meski tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ayah, dia dapat merasakan berapa sakitnya sang ayah kini.
Menarik napas panjang, Naya lalu berkata, "Cepatlah sadar. Tebus kesalahan-kesalahan yang kamu buat. Minta maaflah sama aku dan ibuk. Aku ...."
"Naya!"
Seruan itu sontak membuat Naya berjengket. Di pintu sudah ada pria yang sangat dia rindukan. Ken, ya ... pria itu langsung menghampiri Naya dan memeluknya erat. Naya yang juga sangat merindukan Ken pun perlahan membalas. Air matanya jatuh setetes.
__ADS_1
"Naya, kamu gak apa-apa, 'kan?" ucap Ken. Dia lalu melepaskan pelukan dan memindai penampilan Naya. "Kamu sehat-sehat saja, 'kan?"
Naya mengangguk pelan. Ken pun kembali memeluknya. Dia daratkan kecupan ke pucuk kepala Naya berkali-kali. "Aku khawatir kamu kenapa-napa. Syukurlah kita bisa ketemu sekarang."
Ken kembali melepaskan pelukan. Dia tangkup wajah Naya lalu melihat sekeliling. "Kamu sendirian ke sini?" tanyanya. "Ah lupakan, kamu punya HP?"
Belum juga sempat Naya menjawab, Ken sudah sibuk mengeluarkan ponsel dari tas selempang yang melingkar di badan Naya. Pria itu buru-buru menekan beberapa angka di sana lalu menyimpannya.
"Hubungi aku, Nay. Itu Nomornya. Aku hampir gila karena gak bisa hubungi kamu. Jadi nomor yang ini jangan sampai hilang dan jangan sampai kita putus komunikasi lagi. Pokoknya kamu harus tetap hubungi aku. Oke."
Naya hanya mengangguk saja. Dalam diam dia mengerti sesuatu. Sekarang dia yakin kalau Ken juga peduli dengannya. Hanya saja ....
Perlahan Naya melepaskan tangan Ken yang ada di lengan. Dia merasa insecure dan tak merasa tidak layak berdekatan dengan laki-laki sebaik Ken. Dia jijik dengan diri sendiri.
"Kenapa?" tanya Ken.
Naya cuma menggeleng.
Kini Ken kembali meraih tubuh Naya, mendekap hangat tubuh gadis yang sangat dia rindukan. "Tolong tetap bertahan. Aku sama temen sedang usaha buat ngelepasin kamu dari orang itu. Aku mohon bersabarlah sedikit lebih lama."
Naya kembali menitikkan air mata. Meski mustahil terlepas dari jerat Mike, dia tetap mengangguk saja. Tatapan keduanya sangat intens dan penuh arti sebelum akhirnya sebuah sentakan menghancurkan itu semua.
Tampak Laura dengan sorot mata elang menatap Ken nyalang. Tanpa bicara dia langsung mendaratkan tamparan. Naya sampai shock melihat Laura yang bolak-balik menampar pipi Ken. Lalu setelah itu mendekatinya.
"Maaf. Asisten saya memang gak tau diri. Bisa-bisanya melakukan hal rendah begini pada wanitanya Tuan Mike. Tolong maafkan dia," ucap Laura. Dia membungkuk sebentar lalu kembali melihat Naya. Sorot mata itu membuat Naya bergidik. Laura lebih menyeramkan.
Tiba-tiba bunyian dari belakang mengagetkan ketiganya. Tampak Jordan mendekat ke arah mereka.
"Oiya, Pak Jordan. Tolong bawa nona kita pulang. Saya tidak mau asisten saya yang tidak tau diri ini membuat kekacauan lebih jauh."
Jordan tak menyahut. Dia dekati Naya yang mematung dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Nona Naya, Tuan Muda menyuruh Nona cepat pulang. Jadi ayo. Kita harus pulang sekarang."