Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Bertepuk sebelah tangan


__ADS_3

"Tahan, ya. Perihnya cuma sebentar," ucap seorang dokter IGD sembari membersihkan luka yang ada di bibir Ken. Dia juga mengobati luka dan memar di bagian yang lain.


Teruntuk Ken, dia hanya diam saja. Luka dan memar di badan tidaklah seberapa, tapi luka tak kasatmata yang ada di hati perihnya luar biasa. Dia benar-benar tidak menyangka Mike masih hidup. Lebih parahnya lagi dia tidak berani bertanya langsung pada Naya tentang pilihan gadis itu.


Ken menghela napas panjang hingga sang dokter yang mengobati refleks melihat hingga mata mereka bertemu. Ken seketika membuang pandangan. Dia tidak ingin ada yang tau perasaannya saat ini.


"Ya ampun, Ken! Kamu kenapa?"


Suara cempreng seorang wanita mengagetkan Ken. Dokter yang tengah mengobati Ken serta beberapa pasien yang ada di IGD pun sontak mencari arah suara. Tampak seorang wanita cantik berbalut jas putih tergopoh mendekati ranjang yang Ken duduki. Tak hanya itu, wanita cantik berambut panjang ikal gantung itu tanpa segan menangkup pipi Ken. Dia pindai wajah Ken yang membiru.


"Ken! Kamu berantem? Sama siapa? Kapan? Kenapa bisa berantem?" cecarnya lagi.


Dokter cantik yang mengobati bibir Ken sebelumnya sampai melongo, dia tepis pelan tangan gadis itu.


"Dokter Sella, dia ini pasien, loh. Hati-hati."


Sella hanya nyengir, lantas melihat sekitar.


Para rekan sejawat hanya geleng-geleng kepala. "Iya, Dok. Maaf, saya kebablasan."

__ADS_1


Sekarang Sella menatap Ken yang berwajah seperti biasa. "Maaf ya Ken. Ya udah, aku tungguin."


Si dokter pun hanya diam saja. Dia kembali melanjutkan pengobatan seakan Sella tidak ada di sana. Setelah selesai dengan semuanya, dia pun memberikan secarik kertas pada Ken.


"Ini tolong nanti di tebus ya obat sama salepnya," ucapnya ramah.


Ken menyambut kertas itu, dia beranjak dari kasur lalu membenarkan pakaiannya yang sudah kotor dan kusut.


Teruntuk Sella, dia hanya diam saja karena memang sedari tadi hanya memperhatikan satu objek yang jujur membuatnya penasaran. Satu buah buku tebal, mirip buku catatan lama. Sekarang buku itu sudah ada di genggaman Ken.


"Ken kamu mau ke mana?" tanya Sella. Dia ikuti langkah Ken. "Kamu belum jawab pertanyaan aku, loh. Jadi jangan kabur dulu. Kamu berantem sama siapa? Siapa yang sukses bikin kamu gak bisa nahan diri kayak gini?''


Ken yang mulai kesal dan malu dengan perangai Sella sontak menghentikan langkah. Dia balik diri dan menatap geram.


Sella manyun. Dia ikuti lagi langkah Ken.


"Jangan ikuti aku Sela. Aku punya urusan," lanjut Ken tanpa membalik badan.


Sella terdiam. Dia tahu Ken pasti akan ke rumah sakit di sebelah gedung itu. Rumah sakit khusus untuk terapi.

__ADS_1


"Ken."


Ken tak merespon. Dia tetap berjalan lurus ke depan hingga Sella yang kesal diabaikan menarik tangannya dengan paksa.


"Kenapa lagi?" ketus Ken.


Alih-alih marah, Sella justru memberi senyum hangat. Bertahun-tahun dia tidak bertemu Ken. Sejujurnya dia rindu. Ingin jungkir balik saking senangnya. Namun, dia ingat lagi satu fakta, kalau dirinya bukan siapa-siapa Ken. Terlebih-lebih sekarang sedang di rumah sakit.


"Ken, aku seneng kamu baik-baik saja. Walaupun kamu gak pernah ngabarin, tetap aja aku seneng. Aku bersyukur kamu sekarang sehat dan tetep jadi diri sendiri. Dan aku akan lebih seneng jika kamu ...."


"Sella," sela Ken. Dia menghela napas panjang sebelum akhirnya kembali berkata, "Kamu tahu jawabannya, Sel. Kita saudara. Aku menganggap kamu hanya adik. Jadi tolong jangan bahas ini lagi."


"Kamu bilang begitu karena kamu gak pernah nyoba buka hati. Aku gak pernah nganggap kamu sodara, Ken. Apa perlu aku ...."


Sella tak berkata lagi karena Ken kembali berjalan menjauh. Dia hanya bisa menghela napas berat. "Dasar keras kepala."


Tibalah Ken di kamar Burhan. Di sana tidak ada siapa-siapa. Dia tebak Burhan pasti sedang terapi.


Sekarang mata Ken tertuju pada buku yang ada di tangan. Pikirannya semrawut, dia mencintai Naya dan rasanya tidak rela jika Naya tetap bersama Mike. Namun jika dia bersikeras dia takut justru menambah beban Naya. Dan soal Burhan ... entahlah, kepalanya serasa akan meledak.

__ADS_1


Pintu berderit. Tampak Burhan diantar seorang perawat laki-laki. Namun, perawat itu menyuruh Ken keluar dengan alasan akan mengganti pakaian Burhan.


Ken menurut. Dia tersandar lelah di pintu masuk kamar. Matanya tetap tertuju pada buku yang ada di tangan. "Sebenarnya apa isinya?" gumam Ken.


__ADS_2