
"Naya, will you marry me?"
Naya tertegun, bola matanya membesar untuk sekian detik sebelum akhirnya mengerjap. Dia remas selimut yang masih ada di tangan.
"Will you marry me? Be my mind. Aku bukan laki-laki sempurna, tapi aku akan berusaha semampu untuk membuatmu tidak akan menangis karenaku," lanjut Ken. Terdengar tulus. Naya bahkan sampai menitikkan air mata. Ken, pria kaku itu mengatakan hal yang begitu romantis.
Namun, tidak ada yang tahu kalau ada beban yang tidak bisa dia lepaskan. Ada konsekuensi yang tidak bisa dia abaikan.
Menghapus air matanya, Naya lalu menghela napas berat. "Kak Ken, sebenarnya aku ...."
Lisan Naya terjeda karena Ken lebih dulu memegang tangannya. Tatapan mereka beradu dalam keheningan.
"Lupakan dia. Lanjutkan hidupmu, Naya. Kamu berhak bahagia."
"Tapi aku mencintainya."
Ken terdiam. Seingatnya Naya dulu hanya bilang suka padanya. Namun pada Mike ....
Kini Ken yang menghela napas panjang. Ada semburat pilu di wajahnya yang tampan. Akan tetapi dia pun mengukir senyuman demi Naya.
Ken berdiri, dia menggenggam tangan Naya dengan dua belah tangan. "Kamu dulu juga menyukaiku, kan? Ayo kita berusaha lagi. Buat rasa suka itu jadi cinta. Aku yakin kita bisa. Aku percaya kamu bisa ngelupain dia. Beri aku kesempatan," ujar Ken.
Naya terbeku. Dia benar-benar tak bisa berkata apalagi bergerak. Dia makin terbelalak menyaksikan Ken melepas cincin pernikahan yang Mike sematkan dulu.
"Kak Ken itu cin—"
"Kamu berhak dapat yang baru," potong Ken setelah sukses menyematkan cincinnya di jari manis Naya.
"Tapi, aku ...."
"Percaya aku," sela Ken lagi. Kini ada sorot penuh harap di matanya.
"Tapi aku belum siap."
"Aku akan menunggu. Sambil menunggu aku akan jagain kamu," papar Ken lagi. Terdengar penuh kemantapan. Naya bahkan kehabisan kata. Ken terlalu tulus, terlalu baik untuknya yang sudah tidak lagi perawan. Terlebih lagi mengingat kesialan yang terus-menerus mendera. Naya tak percaya diri.
"Kak Ken, aku gak bisa," ucap Naya. Dia ingin melepaskan cincin Ken. Namun Ken menghalangi dengan cara menggenggam tangannya makin erat
"Jangan dilepaskan," pinta Ken.
"Tapi aku nanti hanya akan bikin kamu celaka. Aku ...."
Ken memeluk hingga Naya tak bisa berkata-kata. Tak hanya itu, dia juga membelai pucuk kepala Naya dengan lembut. Pria berkemeja abu-abu itu sungguh tidak ingin Naya mengutuk diri lagi. Entah bagaimana caranya, tapi Ken ingin mengembalikan kepercayaan diri gadis itu. Naya terlalu naif.
__ADS_1
"Kak Ken berhak dapat yang lebih baik ...."
Pelan, suara Naya begitu pelan. Seakan ada beban yang tak kasatmata dia pikul di pundaknya. Air matanya meluruh lagi.
"Dan kamu yang terbaik buatku, Naya," timpal Ken.
Naya mendongak, matanya yang sembab menatap wajah Ken lamat-lamat. "Aku gak pantes ...."
"Kamu pantes, kamu istimewa dan aku sudah yakin. Hanya kamu dan cukup kamu."
"Tapi ...."
"Sudah ya. Jangan nolak. Aku cuma mau kamu buka hati. Udah, itu aja. Biarin semuanya berjalan. Jalan dengan lambat juga gak masalah."
Naya mengerjap. Senyum Ken menenangkan. Dia pun tanpa sadar menipiskan bibir. Dia peluk pinggang Ken sebentar lalu kembali melepaskan pelukan itu.
"Akan aku coba. Tapi paling gak tolong kembalikan cincinnya," ucap Naya, dia menengadahkan tangan.
****
Naya berdiri sendiri di balkon villa. Matanya melihat langit yang mulai berubah jingga sembari menikmati angin pantai yang terus berembus menerpa wajah.
Entah kebiasaan atau apa, Naya akan tanpa sadar memutar dan memainkan cincin yang tersemat di jari.
Melihat dua cincin itu tiba-tiba saja Naya terkekeh ironi. Dulu terpaksa melepaskan rasa untuk Ken saat terjerat bersama Mike. Namun, lambat laun hubungan yang berlandaskan kata terpaksa itu perlahan menggeser nama Ken menjadi Mike. Pria itu dengan tidak tau malu memaksakan kehendak. Anehnya, Naya justru ikut arus paksaan itu. Sekarang, saat tidak ada Mike dia justru berat menerima Ken.
"Kamu sudah bangun?" tanya Ken yang entah kapan berdiri di belakang. Dia selimuti pundak Naya yang terturun dengan kain tebal.
Bukannya menjawab, Naya justru mengulas senyuman. Dia eratkan selimut ke badan.
Keduanya terdiam menikmati mega yang memberikan warna tercantik. Hanya bunyian ombak yang memecah keheningan yang ada.
"Naya, apa yang kamu pikirkan?" tanya Ken tiba-tiba.
Naya menoleh. Dia tatap Ken yang makin tampan dengan tampilan kasual—kaus oblong press body dan celana jeans panjang. Pria itu makin terlihat gagah.
"Aku cuma berpikir ingin tinggal di sini. Di sini nyaman," balas Naya.
"Kalau begitu, ayo kita realisasikan. Aku jadi pelayan juga gak masalah," sahut Ken. Dia tersenyum lagi.
Naya yang melihat itu ikutan terkekeh. Dia sikut perut Ken. "Gayaan sok mau jadi nelayan. Lalu bagaimana dengan kerjaan Kak Ken?"
Ken menggidikkan bahu. "Kalau kamu mau aku bisa cari kerja di sini?"
__ADS_1
"Ck, mengada-ada. Oiya, sekarang apa rencana Kak Ken. Perusahaan kan udah ...."
"Jangan pikirkan. Aku laki-laki pintar dan kompeten. Pasti banyak yang ngantri agar aku kerja di perusahaan mereka."
Lagi, Naya berdecak sebal, tapi bedanya disusul dengan senyuman manis. Sampai-sampai Ken terlena tanpa sadar.
Naya yang diperhatikan begitu intens jadi salah tingkah. Dia kembali menatap depan. "Kalau Kak Ken, apa yang Kak Ken pikirkan?"
"Aku, aku cuma mau main pasir. Mau nemenin?"
Naya mengangguk. Keduanya pun berjalan bersisian dan membiarkan telapak kaki menyentuh pasir putih yang ada di sana, menyatu dengan ombak dan mendengar burung yang berkicau.
"Naya," panggil Ken.
Naya sontak menoleh. Rambutnya terbawa angin. Ken yang melihat itu kembali tersenyum gemas dan berinisiatif mengikat rambut Naya dari belakang.
Naya tentu saja kikuk luar biasa. "Aku bisa sendiri, Kak."
"Diem aja. Jangan protes nanti gak rapi."
Naya terpaksa pasrah. Dia biarkan Ken mengikat rambutnya yang memang sudah mulai panjang.
"Kok punya ikat rambut?" tanya Naya setelah Ken selesai.
"Aku nemu, nemu tadi di rumah. Aku bawa buat jaga-jaga barang kali kamu lupa. Dan beneran lupa kan. Belum juga tua udah pelupa."
Naya tersenyum, dia sikut perut Ken. Keduanya terkekeh bersama dan kembali berjalan bersisian.
Tanpa mereka sadar ada sepasang mata yang menatap tajam dari kejauhan. Dia mengeram dengan tangan berkali-kali memukul setir mobil.
"Brengsek. Awas kamu Ken."
Soal visual suka2 kalian ya. wkwkw
jika ada yg protes kenapa aktor Korea. jawabnya cuma satu.
Karena aku suka. wkwkwk
no debat.
__ADS_1