Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Ular teriak ular


__ADS_3

"Enggak, enggak Tuan. Ini fitnah, Nona Bella yang maksa aku buat mata-matain Naya," sahut Dina, dia bahkan hampir menangis.


Melihat itu mata Bella terbelalak. Sungguh, dia mati kata. Dia ingat betul kalau beberapa hari yang lalu Dina mengajak bertemu dan menyusun rencana keji untuk menjebak Naya. Dia tak menyangka kalau Dina justru akan menyerahkan semua kesalahan kepadanya di saat seperti ini.


"Jadi kamu dalangnya?" geram Mike. Dia bahkan sampai berdiri melihat Bella.


"Benar, Tuan. Nona Bella yang minta aku mata-matain Naya. Dan soal tanda lahir itu aku dipaksa sama dia. Katanya keluargaku di kampung bakalan dibunuh kalau gak bisa cari tau tentang tanda lahirnya," sela Dina.


Berdesir, darah Bella seperti mendidih naik ke ubun-ubun. Nyalang dia melihat Dina yang bergelayut manja di tangan Mike.


"Hey! Jalangg sundall! Jangan mengada-ada! Kamu yang kasih sendiri info itu ke aku. Kamu juga yang minta aku buat cari laki-laki seusia Naya! Kamu sendiri yang bilang kalau Mike bakalan marah besar karena masalah ini?" teriak Bella histeris. Dia begitu frustrasi dan baru menyadari ternyata telah dimanfaatkan oleh Dina, si pembantu sialan itu.


"Non Bella ngomong apaan? Aku gak paham. Nona Bella, tolong ... jangan fitnah aku," sahut Dina. Dia berlindung di belakang punggung Mike dengan air mata yang begitu banyak.


"Sialan! Sini kau! Aku bunuh kamu! Dasar licik!" teriak Bella sembari terus meronta. Namun, tetap saja tak bisa apa-apa karena kaki tangan dan tubuh sudah menyatu dengan kursi.

__ADS_1


Merasa sia-sia dan nyawa sedang terancam, Bella pun menatap Mike dengan air mata yang mengalir, berharap pria itu iba padanya.


"Mike, kamu jangan percaya dia. Dia itu ular ... dia yang ngerencanain ini semua. Dan aku ... aku nggak salah apa-apa, Mike. Aku ... aku hanya tulus cinta sama kamu. Aku hanya mau jadi perempuan kamu lagi. Jadi tolong, lepasin aku," iba Bella. Lekat dia melihat Mike yang masih di mode gawat dengan rahang yang sudah mengetat.


"Mike lepasin aku. Setelah kamu lepasin aku, aku janji bakalan lupain kamu. Aku gak bakalan usik kamu lagi. Bila perlu aku bakalan bersujud di kaki gadis itu. Tapi tolong ... lepasin aku. Jangan bunuh aku," ucap Bella dengan suara bergetar. Rasa takut benar-benar menyelimuti pikiran.


Hening. Mike tampak bimbang melihat keputusasaan di mata Bella. Namun tidak untuk Dina. Dia tampak khawatir dan berkali-kali kedapatan menggigit bibir.


"Jadi bagaimana Tuan Muda?" tanya Jordan.


"Kamu apa-apa, Dina?" sentak Mike.


Dina menggeleng, menghapus air matanya lantas mendongak melihat Mike.


"Sumpah, bukan aku. Aku gak pernah berpikir jahat. Aku memang menyukai Tuan, tapi aku gak pernah berpikiran licik. Aku tulus, Tuan. Dan dia ...."

__ADS_1


Dina melihat Bella dan menunjukkannya. "Tolong Tuan jangan percaya dia. Dia hanya pura-pura. Katanya dia ingin jadi nyonya rumah dan akan lakukan apa aja buat Tuan percaya. Katanya dia ingin menguasai harta Tuan lalu membunuh Tuan dengan perlahan," paparnya.


"Heh, kamu ngomong apaan?" bentak Bella. Dia menggeleng makin keras saat melihat mata Mike yang kembali ke mode semula—nyalang.


"Mike, tolong percaya aku Mike. Dia ... dia yang bohong," ujar Bella. Dia makin terlihat khawatir.


"Nona Bella, aku nggak nyangka kalau Nona bakalan melimpahkan semua kesalahan ke aku. Padahal aku udah mau bantuin Nona. Aku nggak nyangka kalau nona malah kayak gini," sahut Dina. Dia menunduk dan terisak.


Namun ada keanehan, Bella dengan jelas melihat ujung bibir gadis itu naik sedikit. "Sial! Kamu ngejebak aku?" teriak Bella lagi.


"Aku gak salah. Aku mengatakan kebenaran!" tampik Dina. Dia melotot tajam.


***


Jejak jempolnya jangan lupa.

__ADS_1


__ADS_2