Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Kenyataan.


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya?" tanya Mike. Dia berdiri kaku di dekat kaki Naya dan memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama. Dingin, tatapannya begitu intens melihat Naya yang memucat dengan pergelangan tangan diperban.


"Keadaannya baik-baik aja. Beruntung kalian membawanya tepat waktu," sahut Bian, dokter yang kebetulan adalah teman baik Mike semasa SMA.


"Ada hubungan apa kamu sama gadis ini?" tanya Bian lagi.


Alih-alih menjawab, Mike justru pura-pura tuli. Dia rogoh saku celana dan menghubungi seseorang.


Bian yang tahu tengah diabaikan pun terdiam. Lekat dia melihat Naya yang terbaring lemah di ranjang. Kasihan. Itu yang terlihat jelas dari sorot matanya. Namun, dia tahu perangai Mike.


Bian pun menepuk pundak Mike. Mike yang tengah menelpon seketika mematikan ponsel dan menoleh. "Kenapa?" tanyanya datar.


"Jangan terlalu keras sama dia. Dia masih muda. Aku gak tau apa hubunganmu dengan dia. Tapi seusia ini pikirannya masih labil. Kamu liat 'kan, dia nekat begini," jelas Bian. Dia tersenyum ramah.


Bukannya mengiyakan, Mike justru berdengkus dan menepis tangan Bian dari pundaknya. Ekspresinya pun begitu datar. "Pergilah, Bian. Aku yakin kamu dokter yang hebat. Biasanya dokter hebat pasti banyak pasien yang nungguin. Pergilah. Nanti kalau ada apa-apa aku pasti hubungi kalian."


Bian pergi. Tinggallah Mike sendiri dan Naya yang terbaring. Entah kenapa kejadian beberapa jam lalu kembali merasuk dalam kepala Mike. Tadi, setelah dia membanting pintu dan tiba di garasi mobil, tiba-tiba saja ingat dengan ponsel yang masih tertinggal di kamar. Dan terjadilah, dia melihat Naya sudah terpejam dengan luka di pergelangan yang menganga. Luka itu bahkan mengeluarkan banyak darah.


Mike mendesah panjang. Dia sapu wajahnya yang gusar dengan sebelah tangan. Entah kenapa dia menyesal. Tak pernah terpikirkan kalau Naya akan senekat itu.


"Tuan Muda ...."


Mike langsung menolah dan melihat Jordan telah berada di belakangnya.


"Sudah ketemu?" tanya Mike. Dia kembali melihat Naya.


Jordan mengangguk, dia mendekatkan kepalanya ke telinga Mike. Seketika ekspresi Mike berubah total. Nyalang dia melihat Jordan.

__ADS_1


"Apa benar begitu?" tanya Mike dengan rahang yang sudah menegang.


Jordan mengiyakan.


"Ya sudah, sekarang kita ke sana," lanjut Mike. "Sebelum itu suruh gadis itu ke TKP. Dan suruh Mala ke sini."


Jordan memutar tumit. Dia tinggalkan Mike yang mencoba mendekati Naya.


Hening. Lamat Mike menatap Naya yang terpejam. Gadis itu terlihat damai. Tidak ada sorot mata takut ataupun kebencian.


Mendesah lagi, Mike usap rambut Naya dan merapikannya, lantas dengan pelan berkata, "Aku akan buat mereka yang memfitnah kamu menerima hukuman lebih dari ini, Naya. Jadi jangan mati, oke. Aku gak bakalan biarin ini terjadi lagi. Ingat, kamu sudah aku beli, jadi mati pun harus dengan seizinku. Paham, Sayang?"


Mike pun mencium kening Naya sebelum akhirnya pergi.


Sementara Naya, dia sebenarnya tidak tidur. Dia hanya berpura-pura agar Mike tidak kembali melakukan hal hina padanya. Ketika Mike pergi saat itulah air matanya meluruh tanpa bisa di cegah lagi. Dia meringkuk sembari memeluk selimut.


Naya tak bisa melanjutkan umpatan. Hatinya terlalu sakit untuk sekedar mengutuk Mike. Makin membenci, makin dia tak berdaya. Hanya air mata saksi betapa tidak berdayanya seorang gadis yatim yang tidak punya siapa-siapa.


***


Di ruang kosong sebuah gudang, tampak dua orang tengah meronta, keduanya duduk sembari diikat kaki dan tangan. Mereka terus berusaha melepaskan diri seakan-akan nyawa tengah dikejar malaikat maut.


"Kenapa? Mau coba kabur?"


Ucapan datar orang di ambang pintu itu membuat keduanya terbelalak. Mereka seakan tengah melihat setan. Keduanya makin meronta hebat sembari mencoba berteriak. Namun, sayangnya suara mereka tertahan karena mulut yang terikat kain.


"Jordan, buka ikatan mulut Bella," titah Mike. Dia duduk dan menyilangkan kaki. Senyumnya tampak misterius. Dia terus saja memperhatikan Bella yang meronta.

__ADS_1


"Mike. Sayang. Kenapa kamu culik aku?" ucap Bella saat ikatan yang menutup mulut terlepas.


Mike masih tersenyum. Dia yang tadinya tersandar santai kini mencondongkan tubuh dan melihat dengan seksama penampilan Bella yang berantakan—rambut panjang tidak beraturan dan ada memar di pipi kiri kanan. Dia yakin Bella meronta saat dipaksa ke sana.


"Aku dengar ada yang sengaja memfitnah Naya," sahut Mike, dia menyeringai lagi. Sorot matanya juga sangat mengintimidasi hingga Bella gelagapan karenanya.


Tanpa permisi Mike cengkeram dagu Bella hingga suara ringisan pun terdengar. Mata mereka bersitatap. Tatapan Mike penuh keambiguan sedangkan Bella penuh ketakutan. Netra cokelat gadis itu bahkan bergerak liar.


"Siapa, siapa dalangnya?" tanya Mike. Terdengar menggeram.


"Apa maksudnya, Mike? Fitnah? Aku beneran gak paham," balas Bella. Bola matanya makin bergerak liar.


Mike yang muak langsung melayangkan tamparan di pipi Bella. Matanya melotot. Dia jambak rambut Bella dengan kuat.


"Mike, tolong ampuni aku. Aku ... bukan aku. Ini murni keinginan Jeff," oceh Bela dengan air mata berlinang. Rasanya begitu sakit, pipinya panas dan kini kepala juga tak kalah sakit. Dia terus memohon minta dilepaskan.


Akan tetapi Mike abai. Dia tersenyum sinis melihat mantan kekasihnya yang terlihat sangat panik dan menderita.


"Benar-benar bukan kamu, ya?" tanya Mike, dia kembali menyeringai dan melepaskan cengkeraman.


Gegas Bella mengangguk. Dia terlihat laga tapi berbanding terbalik dengan pria yang terikat di sebelahnya. Jeff, pria itu meronta hebat. Matanya melotot menatap Bela.


"Jordan, lepaskan ikatan mulutnya. Kayanya gak adil kalau kita hanya mendengar satu pihak," titah Mike lagi. Dia kembali memperhatikan wajah Bella. "Bagaimana, Bella? Aku benar, 'kan?"


"Hmm itu ... itu ...." Bella gelagapan. Nanar matanya melihat Jeff yang telah dibuka ikatan mulutnya oleh Jordan.


"Hey jalaang sialan! Kamu mau mati! Kamu yang bayar aku buat fitnah tu perempuan!" teriak Jeff.

__ADS_1


__ADS_2