Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Jangan nolak. Nikmati saja.


__ADS_3

Ken melajukan kendaraan dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia benar-benar ingin bertemu Sean. Ingin Sean membantunya. Harapan tentang kebahagiaan akan masa depan pun mengisi benak. Sungguh, dia tidak sabar untuk mendapatkan Naya lagi.


Namun, sebuah bunyian klakson dari belakang membuyarkan. Ken melirik dari kaca spion. Dia pun mengumpat karena hapal betul, itu adalah mobil para bodyguard Laura.


Tak ada cara lain selain tancap gas. Ken bertaruh menggunakan nyawa. Dia tidak ingin Laura semakin semena-mena. Paling tidak inilah yang harus dia lakukan demi membalas jasa pada Burhan dan menyelamatkan Naya.


Aneh, setelah beberapa saat kejar-kejaran mobil yang mengejar tiba-tiba berbelok ke arah lain. Ken yang menyadari itu sedikit lega. Dia hendak memperlambat laju kendaraan. Namun rasanya ada yang salah, kendaraan tidak melambat dan rem juga tidak berfungsi. Ken panik tapi tetap berusaha tenang, sayangnya tiba-tiba sorot lampu mobil dari arah berlawanan yang hanya berjarak beberapa meter membuatnya kaget.


Ken kehilangan kendali. Demi menghindari tabrakan dia banting setir. Alhasil dia oleng dan terjatuh. Kaki pun tertimpa badan motor—BMW R1200GS—hingga membuatnya ikut terseret sejauh sepuluh meter sebelum akhirnya terlepas dan berguling beberapa kali. Kepalanya terbentur bahu jalan.


Ken tak bisa bergerak. Tak bisa bersuara apalagi berteriak. Tubuhnya serasa remuk. Perih, ngilu, rasanya luar biasa. Tak pernah terdefinisikan. Rasa sakitnya menembus tulang, meremas organ dalam. Hanya matanya yang mampu beroperasi mengeluarkan air. Dalam benak hanya ada kata mati.


Dalam keadaan sekarat seperti itu tampak beberapa pasang kaki menghampiri. Pandangan Ken mengabur. Darah keluar deras dari kepala, hidung dan juga mulut.


Meski begitu dia tidak bisa menyerah. Naya, dia ingin membebaskan Naya. Dengan sekuat tenaga dia mengangkat tangan, mulutnya bergetar ingin meminta tolong. Namun, tak ada suara yang terdengar.


Hanya saja bukannya menolong, orang-orang di sana justru merampas ransel yang ada di badan. Ken pasrah, dia tak bisa bergerak dan hanya bisa melihat beberapa pasang kaki bersepatu hitam itu mulai menjauh.


Antara sadar dan tidak, Ken yang merasa kakinya remuk merasakan ponselnya bergetar. Lebih dari sekali. Namun Ken tak punya tenaga untuk bergerak. Matanya mengerjap perlahan. Pandangan pun mulai mengabur, tak lama jadi ... gelap.


Sementara itu di rumah kediaman Mike, Naya terus saja menghubungi nomor Ken. Dia berdiri di dekat jendela. Perasaannya benar-benar tidak enak. Dia bahkan tidak bisa tidur padahal waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari.


"Kak Ken ... tolong jawab. Kamu di mana? Kamu baik-baik aja, 'kan? Tolong jawab, Kak ...."

__ADS_1


Naya bergumam pelan. Perasaannya benar-benar tidak enak sejak insiden penamparan yang Laura lakukan tadi sore. Dia bolak-balik menghubungi nomor yang Ken berikan, tapi nihil. Sama sekali tidak ada jawaban.


"Kak ... please, jawab."


"Kamu ngapain berdiri di sana?"


Sontak Naya membalik badan. Matanya bulat saat tahu siapa yang menegur. Mike sudah berdiri dan menatapnya penuh kecurigaan.


"Kamu kenapa bangun?" tanya Mike lagi.


Naya yang menyembunyikan ponsel di belakang punggung seketika mencari cara. Dia mulai meraba-raba benda yang ada di meja, lantas menyelipkan ponselnya di sana. Tak hanya itu, agar tidak dicurigai dia pun mendekat perlahan ke arah Mike. Intinya jangan sampai Mike mengetahui apa yang baru saja dia lakukan.


"Apa yang kamu lakukan?" ulang Mike untuk kesekian kalinya. Mukanya sudah menunjukkan ketidaksenangan.


Sekonyong-konyongnya muka Mike langsung berubah drastis. Dia tersenyum tipis lalu mengarahkan mata mereka untuk saling bersitatap. "Kamu terlalu baik untuk takaran manusia, Naya. Buat apa kamu mikirin dia? Apa kamu nggak tahu kalau dia itu beberapa kali mau mencelakai kamu? Dia pernah ngasih lada ke makanan yang kamu masak waktu itu."


Mata Naya membulat, sungguh dia tidak percaya. Seketika ingatan langsung flashback ke waktu itu. Saat Mike menolak makan padahal sudah dibuatkan sesuai pesanan.


"Dan apa kamu juga tau kalau dia yang membuat skenario, dia memfitnah kamu seolah kamu punya hubungan dengan laki-laki yang bernama Jeff?" timpal Mike lagi.


Lagi, mata Naya membulat makin lebar. "Bukannya kata kamu Bella dalangnya? Terus bagaimana bisa jadi Dina?"


"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Itu harga yang harus dia bayar karena udah berbuat jahat."

__ADS_1


"Tapi kakinya ... masa depannya?"


"Biarkan saja, mungkin dengan cacat begitu dia mengerti apa artinya menghargai. Apa efeknya jika dengki."


Naya mematung. Meski Dina menyebalkan tapi tetap saja kenapa bisa senekat itu?


"Sekarang mendingan kita tidur lagi "


Mike menuntun Naya kembali ke sisi ranjang, membaringkan lalu menyelimuti Naya yang hanya mengenakan langerie tipis. Ya, langerie yang dibelikan Mike sampai satu lemari. Dari yang model transparan, jaring, renda dan yang lain-lain.


"Jadi bagaimana nasibnya nanti kalau keluar rumah sakit?" tanya Naya. Dia memutar kepala dan melihat Mike yang juga menatapnya.


"Ya nggak gimana-gimana. Nanti dari rumah sakit akan aku suruh Jordan untuk mengantarnya ke kampung halaman. Itu lebih baik daripada serumah. Aku takut kamu jadi makanan dia."


"Tapi ...."


"Sudahlah. Jangan pikirkan orang lain yang belum tentu mikirin kamu. Sekarang lebih baik kita tidur lagi."


Mike mendekatkan diri. Dia peluk Naya lalu mengusap punggungnya. Aneh, belaian itu semakin turun dan turun lagi. Naya yang merasa punya firasat buruk langsung mendongak dan mendapati Mike yang sudah menyeringai.


"Jangan nolak. Nikmati saja."


****

__ADS_1


Btw aku boleh absen gak. Yang baca cerita ini umur berapaan?


__ADS_2