
"Kamu?"
Mata Naya membulat. Dia kenal pria itu. Pria teh. Ya, itu dia. Cuma karena canggung untuk memanggilnya begitu Naya pun memutuskan memberi senyuman saja. Ya kali nyebut nama orang dengan sebutan cowok teh kotak di tepi jalan. Dikira iklan entar. Eh!
"Ngapain sendirian?" lanjut Sean.
"Hmm ... i-itu a-aku lagi ...." Naya terbata, dia berpikir keras mencari alasan.
"Mau aku anterin gak?" potong Sean tiba-tiba. Dia sudah keluar dari mobil.
Naya melotot lagi. Lekat dia memindai penampilan Sean yang begitu santai, kaus putih dengan celana jeans panjang, belum lagi kacamata hitam yang bertengger di hidung. Semuanya seakan-akan menjadi penunjang dan penambah ketampanan pria itu.
"Hey, kok bengong? Naik cepetan. Aku anterin," lanjut Sean.
Naya bimbang, dia ingin ikut tapi takut kalau Mike tahu. Pria itu pasti akan memberikan hukuman yang khas. Naya bergidik spontan.
Apes, belum juga memberi jawaban atas pertanyaan itu ternyata Sean sudah menuntunnya. Naya menolak secara halus, tapi Sean dengan santai bersikukuh dengan keinginan.
"Jangan sungkan. Duduk yang tenang. Oke," ujar Sean lagi. Dia tersenyum ramah.
Pasrah, Naya hanya diam saat melihat Sean kembali ke kursi belakang kemudi setelah menutup pintu mobil untuknya.
Teruntuk Sean, dia terdiam sejenak dan melihat muka Naya yang pucat. "Kamu kenapa mukanya kayak gitu? Lagi sakit?" tanyanya.
Tanpa pemberitahuan Sean tiba-tiba menyentuhkan punggung tangan ke dahi Naya. Naya refleks menahan napas. Gelagat itu membuat senyum Sean begitu lebar. Dia usap pucuk kepala gadis itu sembari terbahak.
__ADS_1
"Kamu kenapa tegang banget, sih? Tenang aja. Aku gak bakalan macem-macem, kok. Gak bakalan gigit juga. Jadi jangan takut. Lebih baik sekarang pasang sabuk pengaman kamu. Oke. Kita jalan."
Naya mengangguk, dia pun melakukan perintah Sean tanpa berkata sembari menahan pipi yang entah kenapa berdenyut hebat. Sumpah, dia merasa sangat malu. Mungkin saja Sean mengira arti ekspresi barusan menandakan dirinya tengah berpikir yang tidak-tidak akan terjadi. Ya Tuhan ....
Hening. Hanya ada suara radio yang menengahi. Saking senyap keadaan di sana membuat Sean mulai penasaran. Dia yang tengah mengemudi melirik Naya yang membuang pandangan ke luar jendela.
"Lagi mikirin apa?" tanyanya tiba-tiba.
Naya menoleh, dia tersenyum canggung lalu menggelang.
"Ngomong-ngomong kamu mau ke mana? Terus ngapain tadi di sana sendirian?" tanya Sean lagi.
"Gak ngapa-ngapain, kok. Cuma lagi pengen jalan aja," sahut Naya. Dia kembali diam dan fokus melihat depan. Ajaibnya rintik hujan mulai turun.
"Tuh, hujan. Beruntung kita ketemu. Aku yakin kalau kamu masih di sana kamu pasti bakalan basah kuyup," lanjut Sean. Dia tersenyum lagi. "Oiya, sekarang kamu mau ke mana?"
"Hey Nay, kamu kenapa keseringan bengong sih. Takut?" tegur Sean.
Refleks Naya menggeleng. "Enggak, kok. Bukan kayak gitu. Aku cuma lagi gak enak badan," sahutnya.
Sean mengangguk. Meski tidak paham dia tetap mengiyakan. "Oiya, kita mau ke mana? Aku anterin. Sekalian aku mau tau rumah kamu."
"Hah? Mau ke rumah?" Naya menelan ludah. Nanar dia melihat Sean yang serius mengemudi. "Mau ngapain?" lanjutnya.
*** Hay Hay Hay.
__ADS_1
Aku nyapa bentar boleh ya.
Tes
tes
tes.
Cek sound
1
2
3
Keknya kalian banyak yg protes ya soal Dina.
Hmm ... bisa gak kalian ikutin aja jalan ceritanya. Aku bukan anti kritik. Cuma aku punya alur sendiri buat cerita aku ini.
Aku lagi semangat-semangatnya loh bikin cerita ini. Gak banyak author yang bisa up lebih dari lima bab dalam sehari. Jadi plis, kita baiknya masing-masing menjaga perasaan.
Untuk informasi. Aku ini sebenarnya orangnya baperran loh. Kalo udah merajuk itu susah di bujuk. Hehehe Belum lagi platform cuma ngasih level sudra. Jadi cobaan aku nulis ini udah lumayan berat ya. Jadi jangan bikin aku tambah manyun dengan komentar kalian.
Sip
__ADS_1
oke.
bab selanjutnya meluncur. Oiya jangan lupa tinggalkan jejak jempolnya. Trus biar gak ketinggalan cerita ini kalian bisa tekan love untuk favorit. Biar kalo aku up kalian dapat notifnya.