
Seperti yang Naya duga, Ken sama sekali tak peduli meski dia sudah memelas ekstra maksimal. Justru sebaliknya, tanpa menyakiti maupun membentak, pria itu sukses membawa Naya masuk ke dalam mobil. Dia kendarai mobil sedan hitam miliknya dengan tenang tanpa ada bunyian apa pun selain helaan napas Naya yang terdengar semakin sering.
Tibalah di parkiran apartemen. Ken buka sabuk pengaman, menoleh Naya lalu berkata, "Nona, kita sudah sampai, jadi lebih baik Nona lekas turun karena kita harus melanjutkan pelajaran yang tadi."
Sumpah, demi tatanan planet di alam semesta, ingin rasanya Naya cincang tubuh Ken tanpa berkedip. Namun mustahil terlaksana, dia akhirnya hanya bisa menangis dan merapatkan tubuh di pintu mobil setelah sempat melayangkan tatapan menghunjam pada Ken.
"Kalian jahat! Apa sebenarnya mau kalian? Aku gak pernah gangguin kalian. Aku juga gak pernah menuntut apa pun. Aku udah bilang kalau aku akan hidup tenang dan nggak akan nyebut nama keluarga itu. Tapi apa? Apa salahku sampai kalian perlakukan aku kayak gini?" cecar Naya dalam isak tangisnya. Suaranya terdengar bergetar karena berlomba dengan tabuhan dalam dada.
Ken menghela napas, lantas berkata, "Maafkan saya, Nona. Saya hanya pesuruh. Dan kuasa penuh ada di tangan Bu Laura."
"Tapi kenapa?" teriak Naya frustrasi. Ken sama sekali tidak memberinya solusi. Nyalang dia menatap Ken. "Apa salahku sampai kalian perlakukan aku begini?" lanjutnya.
__ADS_1
"Maaf, saya tidak bisa menjelaskan."
Hanya kata itu yang lagi-lagi Ken ucapkan. Sungguh demi apa pun, Naya ingin meronta. Dia ingin bebas dan kembali ke dunianya sendiri, tapi ....
Dengan keyakinan yang tinggal sedikit, Naya pun menatap sendu pada Ken. Dia mengatupkan kedua belah tangan sembari menitikkan air mata. Tadi dia punya tenaga lebih untuk kabur, sayangnya sekarang tenaga itu sudah terkuras habis. Dia hanya bisa berharap belas kasih dan keajaiban.
"Tolong lepasin aku, Kak ...."
"Kenapa gak bisa?" Naya berteriak dan makin terlihat kacau. Dia genggam tangan Ken sangat erat. "Bilang aja kalau aku kabur, aku kabur saat kamu lengah dan kamu udah usaha cari aku ke mana-mana."
"Lalu, apa menurut Nona Bu Laura akan membiarkan Nona kabur begitu saja?" Ken menarik tangannya. Dia menyandarkan punggung yang lelah lalu kembali menatap depan. Sementara Naya, dia mulai mencoba untuk tenang dan menghapus air matanya.
__ADS_1
"Lalu aku harus apa, Kak? Aku janji bakalan pergi jauh. Aku bisa jaga diri, kok. Jadi tolong ... tolong lepasin aku. Aku pastikan dia gak bakalan bisa nangkap aku lagi. Aku janji sembunyi dengan baik."
Ken tetap menggeleng tegas. "Maaf Nona Naya, saya tetap tidak bisa. Saran saya menurutlah. Walaupun Nona kabur, tidak ada jaminan dia tidak akan menemukan Nona. Dan saat ketemu lagi tidak ada yang bisa memastikan apa yang bakalan dia perbuat pada Nona. Mungkin saja bisa lebih kejam dari sebelumnya. Jadi, demi keamanan Nona saya sarankan untuk Nona agar tetap tinggal."
Seketika Naya jadi melemah. Wajah menyeramkan Laura saat marah serta perlakuan kasarnya membuat nyali Naya menguap, tapi dia tidak bisa diam saja dan dimanfaatkan oleh Laura.
Menatap lekat lagi wajah datar Ken, Naya pun berkata mantap, "Tapi selama ini kami gak pernah sekalipun ketemu. Jadi aku pasti bisa sembunyi untuk kedua kalinya."
"Tidak sesederhana itu, Nona. Dia tidak menampakkan diri bukan berarti selama ini dia tidak tahu keberadaan Nona. Nona hanya tidak menyadari itu. Asal Nona tau saja, selama ini dia sudah mengetahui keberadaan Nona bahkan jauh-jauh hari sebelum ini," jelas Ken.
Jangan lupa like komen dan Vote.
__ADS_1