
Naya pun tiba di rumah. Dia tersandar lelah di sofa ruang tamu. Pikirannya kacau, rasanya pening luar biasa. Dia pun menarik napas panjang dan menutup mata.
"Nek ... apa dia benar ayahku? Lalu kenapa sekarang jadi begini? Di sini." Naya menyentuh dadanya. "Rasanya aneh, Nek. Kenapa aku jadi begini? Kenapa hidupku jadi kacau begini?"
Perlahan setetes air mulai turun. Entah bagaimana menjelaskan rasa yang menyerang sekarang.
Menghela napas makin panjang, Naya pun memutuskan beranjak dari sofa hendak mandi. Namun, tak sengaja mata melihat dua kado yang Jordan bawa semalam.
Air mata kembali menetes. Namun, dia ambil juga benda itu. Seperti dugaan, itu hanyalah perhiasan. Kotak satu berisikan cincin permata dan kotak satunya berisikan kalung dengan banyak permata.
Sesak. Naya mulai merasakan itu, tapi dia tetap harus kuat. Mau bagaimana pun hidup harus tetap berjalan. Meski sakit harus tetap dihadapi.
Di kotak berpita ada sebuah surat. Naya berdecih sebal di buatnya.
"Sok romantis banget, sih," gerutunya sembari menyeka air mata. Dia terkekeh sebentar sebelum akhirnya membuka.
__ADS_1
Hai cantik. Hai Nyonya Mike. Aku yakin saat baca surat ini kepala kamu masih agak pusing. Ya iya lah, aku yakin karena semalam aku pasti melahap kamu tanpa jeda. Jangan salahin aku. Salahkan diri sendiri kenapa jadi candu.
Naya terkekeh, dia seka air mata yang kembali meluruh. "Dasar playboy. Gak ada kata sambutan yang lebih bagus dari ini apa? Bisa-bisanya nulis mesum begini. Dasar buaya."
Kembali menarik napas panjang, Naya tetap harus melanjutkan membaca.
Aku kirim ini sebelum kita resepsi. Entahlah, mungkin banyak yang bilang aku gila. Tapi, aku hanya ingin menunjukkan betapa bahagianya aku. Aku bahkan gak bisa berpikir jernih. Hanya kamu dan kamu. Aku selalu ingin kasih kamu seluruh dunia bukan hanya perhiasan. Bukan karena aku menganggap kamu matre. Justru sebaliknya. Kamu berbeda dan itu yang buat aku gak bisa lepasin kamu.
Lagi, Naya menyeka air mata lagi. Bibirnya tersenyum walaupun merasa sesak luar biasa. Percayalah, jika orang yang telah tiada memberikan kenangan baik bahkan konyol sekalipun, tetap saja akhirnya akan membuat orang yang mengenang jadi menangis.
Gak ada bantahan. Titik.
Happy anniversary 1 tahun.
Surat pertama sukses Naya baca dengan pergolakan batin yang luar biasa. Kini tangannya membuka surat kedua. Meski masih sesak, Naya tetap memberanikan diri untuk melanjutkan.
__ADS_1
Naya. Bagaimana? Apa aku sudah ada di hatimu? Apa aku sudah sukses memiliki hatimu secara penuh? Apa nama laki-laki itu masih kamu simpan?
Kalau iya, bersiaplah malam ini. Kita dinner. Aku akan buat kamu mengandung lagi. Biar semua pikiran kamu hanya tercurah untukku dan anak-anak kita
Happy anniversary ke 2.
Kali ini tangis Naya seketika pecah. Dia meraung keras sembari melempar perhiasan itu ke lantai. Sakit, sungguh. Lukanya menganga makin lebar.
"Kamu jahat, Mike! Jahat! Jika sepeduli itu padaku kenapa kamu mati lebih dulu! Jika begitu banyak rencana hidup kenapa harus mati? Jika mencintai aku kenapa membuat aku sakit seperti ini? Kamu Jahat! Brengsek! Bedebah!"
Naya terus meraung. Dia mengumpat sesuka hati. Kata-kata kasar yang bersemayam dalam diri beberapa tahun ini pun tercurah. Sayangnya kenapa tetap tak kunjung mendatangkan lega dalam dada. Justru sebaliknya, dia bahkan makin merasa sakit. Kenangan lama mengudara bagai film yang diputar dan diulang terus.
Belum lagi kehadiran Ken dan kondisi Burhan. Jujur, dia merasa mental semakin tak seimbang.
Gegas Naya mencari ponsel. Dia hubungi seseorang dari benda pipih itu. "Mbak Mala. Aku perlu bantuan. Aku butuh liburan. Tolong persiapkan semuanya."
__ADS_1