
Pagi harinya.
Ken tiba di depan butik milik Naya dengan senyum cerah. Dia sudah mantap akan mengajak Naya ke rumah sakit dan meminta restu pada Burhan. Namun, saat dia tiba di sana Naya tampak melamun. Bahkan saat dia membuka pintu saja Naya sama sekali tidak menyadari itu.
"Nay ... Naya!" panggil Ken.
Naya tak merespon. Tatapannya kosong dan hanya tertuju ke depan. Ken yang penasaran sampai melambaikan tangan.
"Naya!"
Naya tersentak dan refleks berdiri. Dia terlihat gugup.
"K-kak Ken kapan masuk?" tanyanya yang seperti orang linglung.
"Barusan."
Ken duduk di depan meja Naya. Lekat dia menatap mata Naya yang bergerak liar. Ada yang aneh menurutnya.
Hening, Ken menatap Naya begitu juga sebaliknya. Dalam kepala Naya terus berpikir, bagaimana menjelaskan dan menolak Ken. Ken baik, pria sempurna, tapi hatinya sudah tertaut pada Mike. Lagipula Mike telah banyak berubah. Tidak menakutkan seperti awal mereka jumpa. Mungkin itulah yang perlahan mengikis rasa sukanya untuk Ken.
"Kak Ken, ada yang mau aku omongin," ucap Naya. Dia terlihat menggigit bibir bawah.
"Kebetulan, aku juga mau bilang sesuatu," sahut Ken. Dia berdiri dan menarik tangan Naya. "Tapi sebelum itu kita ke suatu tempat."
"T-tapi ke mana?"
"Ikut saja. Cuma sebentar."
Setelah lama berkendara tibalah keduanya di depan sebuah gedung besar. Gedung yang Naya hapal betul. Rumah sakit, ya mereka ke sana.
"Kita mau ngapain ke sini?" tanya Naya. Dia tarik tangannya dari genggaman Ken. Namun, pria itu kembali menggenggamnya.
"Ikut saja, ya. Kita cuma sebentar. Ada yang mau aku omongin."
__ADS_1
Mendadak perasaan Naya jadi makin tidak karuan. Namun, dia juga tidak punya alasan untuk menolak.
Sekarang keduanya duduk di depan Burhan. Kali ini Burhan terlihat lebih tenang. Dia pandangi Naya dan Ken yang duduk bersisian.
Ken yang merasa Burhan lebih tenang pun mencoba mengutarakan niat. Senyumnya terlihat, dia menggenggam tangan Naya dan baru menyadari kalau cincin yang ada di jari Naya bukanlah pemberiannya.
Ken menatap heran. Dari sorot mata yang teduh itu dia seakan bertanya pada Naya. Anehnya, tak juga dia lisankan perkataan itu. Baginya berbicara pada Burhan adalah yang utama.
"Pak Burhan, sebenarnya saya ke sini mau meminta restu. Saya ingin menjadikan Naya istri nanti kalau dia sudah siap. Saya ingin menjaganya sampai akhir hidup saya," ucap Ken mantap. Naya sampai melongo sebelum akhirnya menarik tangan yang digenggam Ken.
Namun, Ken lagi-lagi hanya tersenyum. Dia tarik lagi tangan Naya. Dia berpikir kalau Naya hanya malu.
Teruntuk Burhan, dia hanya mengerjap saja. Ada kekecewaan dan kesedihan dalam sorot matanya.
"Jadi saya ...."
Perkataan Ken tak terselesaikan karena Burhan mengeluarkan sebuah kertas dari genggaman. Kertas yang sudah dia persiapkan kalau-kalau Ken datang.
"Bapak mau saya ke sana dan ambil isinya?" tanya Ken heran. Di tangannya sudah ada tulisan nama salah satu bank dan beberapa angka yang dia duga adalah password. Meski agak tak beraturan tapi Ken bisa membacanya.
Burhan hanya mengerjap, dia membenarkan. Dia ingin Ken mengambil sesuatu yang sudah lama dia simpan dalam safe deposit box sebuah bank yang ada di luar kota.
Kembali menatap Burhan, Ken pun semakin heran. Bertahun-tahun dia menjadi bawahan Burhan, tak pernah sekalipun dia menyangka kalau Burhan menyimpan sesuatu di sana.
"Baiklah. Kalau begitu saya pamit." Ken berdiri dia tatap Naya. "Naya, kamu ...."
"Pergilah Kak," potong Naya. "Aku bisa pulang sendiri nanti."
Ken tersenyum lega. Dia belai pucuk kepala Naya. "Ya sudah. Hati-hati ya. Nanti kabarin. Aku pergi dulu. Nanti kalau sudah selesai aku hubungi."
Naya mengangguk. Dia lepas kepergian Ken dengan senyum yang sungguh canggung. Dia merasa bersalah karena rasanya telah membohongi Ken.
'Baiklah, aku bakalan ngomong kalau waktunya sudah tepat,' batin Naya. Kini dia melihat Burhan yang juga menatapnya. Sorot mata pria tua itu begitu sendu.
__ADS_1
"Mau jalan-jalan?" tanya Naya.
Burhan mengedip. Dia pasrah saat Naya mendorong kursi roda. Keduanya berjalan menuju taman yang ada di rumah sakit. Di bawah pohon keduanya berhenti dan duduk berhadapan.
Tiba-tiba Naya tersenyum getir. "Aku gak tau harus manggil apa? Apa boleh aku panggil ayah? Tapi rasanya sangat aneh. Atau apa aku panggil om aja? Eh tapi itu malah lebih aneh kan ya?"
Sementara Burhan, lagi-lagi hanya bisa mengerjap.
"Aku dengar dari Tante Laura kalau Om ninggalin ibuk karena gak percaya dia? Aku denger kalian awalnya saling sayang, tapi kenapa gak ada rasa percaya sama pasangan? Aku dengar Om bahkan memperjuangkan ibuk, tapi kenapa saat ada yang menjelekkan Om percaya saja? Bukankah harusnya dicari dulu kebenarannya? Bukankah harusnya kasih waktu buat ibu untuk menjelaskan? Aku penasaran bagaimana cara Tante Laura memfitnah ibuk, apa dengan cara pura-pura menyewa laki-laki dan mereka gak sengaja berpeluang di depan Om?"
Naya menjeda kata, meski tersenyum ada semburat kesedihan di wajahnya yang putih pucat.
"Apa om tau rasanya lahir tanpa orang tua? Apa Om tau hidupku selalu dipandang sebelah mata? Dan satu lagi, apa Om pernah merindukan ibuk?"
Naya menyeka air matanya. Lekat dia menatap Burhan yang menitikkan air sama sepertinya.
"Nenek jarang bercerita tentang ibuk, tapi aku yakin seumur hidup ibuk kesepian. Mungkin juga menyesal. Walaupun gak ngeliat langsung, tapi aku yakin dia menderita sampai akhir hayatnya."
Hening lagi, Naya seperti menarik napas. "Apa pernah Om sekali saja mencari keberadaannya?"
Burhan mengepalkan tangan. Matanya begitu banyak mengeluarkan air. Dengan penuh kekuatan dia pun akhirnya bisa membuka mulut.
"M-maaf," katanya dengan terbata.
****
Di waktu yang sama tapi berbeda tempat, tampak Jordan berbisik ke telinga Mike. Mike seperti biasa hanya merespon itu dengan seringai. Dia yang sedang duduk dan membaca koran pun berkata, "Lanjutkan rencana. Jangan sampai ketahuan."
***
Jangan lupa vote ya. Heheh beberapa part lagi tamat.
. Endingnya happy atau sad itu tergantung vote. wkwkwkk
__ADS_1