
Menit demi menit berlalu. Tak terasa malam pun menjelang. Naya yang sudah kenyang dengan nasi goreng ala-ala pun terbaring di ranjang sembari menatap plafon kamar yang berwarna putih tulang.
Seketika kenangan tentang sang nenek terlintas jelas. Di susul dengan kesulitannya selama dua hari belakangan. Sekelebat bayangan yang membuat bulir air di pelupuk mata yang sedari tadi berdesakan minta dikeluarkan pun tak bisa dia tahan.
Akhirnya dalam hitungan detik, air yang awalnya menetes setitik demi setitik menjadi banyak dan menganak sungai tanpa bisa Naya lawan.
"Nenek ... aku harus apa? Tolong aku, Nek. Aku gak mau di sini. Aku mau pulang ...."
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Sayangnya tidak ada tanda-tanda kehadiran Ken. Naya yang sendirian di apartemen besar itu mulai resah. Bolak-balik dia mengatur posisi agar bisa tertidur. Namun, nihil. Mata sulit terpejam hingga suara derit pintu membuatnya refleks menutup sekujur tubuh dengan selimut, lantas memejamkan mata dengan erat.
Dup-dup-dup-dup.
Derap kaki semakin terdengar dekat. Naya yang mematung dalam selimut mencoba menenangkan jantung yang serasa bagai pacuan kuda. Dia berharap Ken tidak nekat. Bagaimanapun Ken tetaplah laki-laki dewasa.
'Ya Tuhan, jangan biarkan dia macam-macam,' batinnya.
"Nona, apa kamu sudah tidur?"
Suara rendah Ken membuat Naya makin ketakutan. Dia tetap meringkuk di bawah selimut seraya merapal doa. Sungguh, meski masih muda dia paham betul konsekuensi apa yang harus dihadapi jika tinggal serumah bersama pria dewasa.
Tak berapa lama helaan napas kecewa Ken terdengar. Entah kenapa Naya yang ada di balik selimut ingin sekali mengatakan kalau dirinya tidaklah tidur. Akan tetapi tubuh seakan membeku tanpa bisa dilawan. Alhasil Naya hanya bisa diam dan pasrah dalam pengapnya selimut sambil berharap Ken lekas pergi.
Namun, lagi-lagi harapan tak sesuai kenyataan. Naya merasakan selimut yang menutup kaki perlahan tersibak. Respon Naya tentu saja seperti gadis normal lainnya. Dia langsung bergegas duduk dan menarik kaki yang sudah terekspos itu. Nyalang dia menatap Ken.
__ADS_1
"Kak Ken mau ngapain? Jangan macam-macam, atau aku bakalan teri—"
Belum juga selesai berteriak, tiba-tiba Naya menutup mulutnya dengan tangan. Mata yang tadinya menatap sinis menjadi terbelalak dalam sekejap. Sedetik kemudian dia tertunduk malu. Ternyata apa yang ada dipikirannya melenceng jauh dari kenyataan. Ken bukan bermaksud kurang ajar, pria itu hanya ingin mengobati luka di kakinya. Terbukti ada kotak P3K di ujung ranjang.
"Tolong jangan salah paham. Saya cuma mau mengobati luka Nona," papar Ken yang terlihat sedikit canggung.
Ya, ekspresi langka itu makin membuat Naya gelagapan. Ternyata wajah Ken juga bisa menampilkan ekspresi lain selain datar. Mendadak dia merasa malu disertai lucu.
"Maafkan saya. Tolong jangan berpikir yang bukan-bukan," lanjut Ken lagi.
Naya bergeming. Dia terlalu malu untuk membalas ucapan Ken. Harga dirinya serasa tercoreng. Rasa-rasanya dia sendiri yang telah berpikir kotor.
"Nona ... Nona Naya, apa boleh saya obati lukanya?" tanya Ken lagi.
Tanpa menjawab, Naya pun menjulurkan kaki dan mempersilakan Ken memangku serta mengobati. Kesalahpahaman yang berakhir bentakan tadi benar-benar membuatnya malu. Rasa-rasanya kulit pipi mulai berdenyut kembang kempis. Dia bahkan ikhlas jika ditelan bumi maupun di tendang keluar planet.
"Nona ...."
"Hah? Ya Kak, kenapa?" tanya Naya balik setelah sukses mengumpulkan kepercayaan diri yang sempat melayang-layang. Dia sudah mirip orang linglung. Ken jadi heran apa yang dipikirkan oleh gadis itu.
"Saya sudah selesai."
Ucapan singkat Ken lagi-lagi membuat Naya salah tingkah. Gegas dia menarik kaki dan mulai duduk bersila. Ragu-ragu dia mengangkat kepala untuk melihat Ken yang sudah berdiri.
__ADS_1
"Terima kasih, Kak," ucap Naya yang hampir tak terdengar.
Ken menarik sebelah bibir, sayangnya pemandangan langka itu tak tertangkap netra Naya karena gadis itu kembali menunduk.
Mengenggam erat tangkai kotak P3K, Ken pun berkata, "Kalau begitu saya pamit. Selamat malam."
***
Keesokan harinya.
Naya merasakan ada yang aneh, matanya seakan dipenuhi cahaya yang begitu menyilaukan. Beberapa kali dia mengucek dengan tangan hanya untuk memastikan kalau indera penglihatannya itu masih berfungsi dengan normal. Sayang, cahaya itu masih ada dan seperti enggan berpaling dari tubuh Ken yang tengah sibuk memasak di kitchen set.
Bak orang kesambet, Naya kembali tersenyum tanpa sebab. Tabuhan dalam dada pun mulai berulah, begitu berbeda dari ritme biasa.
"Nona sudah bangun?"
Suara berat Ken menyentak, gadis itu hampir terjatuh kalau saja di dekatnya tak ada meja.
"S-sudah, Kak," balas Naya terbata sembari memegang erat tepian meja.
Ken tak berkata lagi. Dia kembali fokus menata spaghetti di atas piring lalu mendekati Naya yang berdiri mematung.
"Kita sarapan. Saya harap Nona suka," papar Ken sembari menyodorkan piring.
__ADS_1
***
Like like like. heheh