
"Kak Ken!"
Mata Naya melotot saat menyebut nama itu. Dia yang tengah memegang gagang pintu pun refleks ingin menutup. Sayangnya terhalang karena Ken dengan cekatan menahan pintu dengan kaki.
"Kenapa? Kenapa kamu panik gitu sih? Aku bela-belain datang dari luar kota langsung ke sini. Dan kamu ...."
"Kak, nanti aja ya ngomongnya. Aku kebelet," sambar Naya. Dia dorong lagi pintu tapi Ken tetap tidak mau. Kakinya yang terbalut sepatu hitam tetap menahan.
"Ya udah, masuk aja. Gak usah tutup-tutup. Lagian aku juga gak bakalan macam-macam."
"Tapi ...."
Alis Ken naik sebelah. Gelagat Naya benar-benar mencurigakan. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Naya, apa ada orang lain di dalam?"
Telak. Pertanyaan Ken membuat Naya panik. Bagaimana tidak, saat ini ada Mike di rumahnya. Jujur, dia belum siap jika Ken melihat kebersamaannya dengan Mike. Dia ingin menjelaskan ketika situasi memungkinkan. Sayangnya tidak sekarang.
"Orang? Siapa? Gak ada kok," balas Naya. Dia tersenyum canggung dan tetap mencoba mendorong pintu.
Akan tetapi Ken tetap curiga. Sekarang tidak hanya kaki, siku pun dia korbankan agar pintu tidak tertutup.
"Kalau begitu kenapa panik?" tanya Ken lagi.
"Hmm itu ... itu ...."
Naya melihat ke belakang sebentar, lalu kembali menatap Ken dan memberikan gelengan kepala berkali-kali. "Gak ada Kak. Aku beneran lagi gak enak badan. Mau istirahat. Nanti aja ya. Nanti aku tel ...."
"Sayang ... siapa yang datang pagi-pagi begini?"
Ken yang mendengar suara laki-laki dari dalam pun langsung paham. Dia dorong pintu hingga Naya terhuyung.
__ADS_1
"Oh, ada asisten Ken rupanya. Apa kabar? Lama kita tidak bertemu," sapa Mike. Dia yang awalnya sedang menata meja makan pun memutuskan mendekat. Dia rangkul Naya dengan santai.
"Mau sarapan bareng?" lanjut Mike.
"Kau ...."
Ken yang sudah paham situasi pun mengeram. Dia berdengkus lantas menarik kerah baju Mike. Dia benar-benar tidak bisa tenang.
"Mike! Apa yang kau lakukan di sini?" hardik Ken. Wajahnya dan Mike sungguh dekat.
Anehnya hardikan itu direspon Mike dengan seringai. "Harusnya aku yang bertanya, kenapa kamu bertamu ke rumah orang lain pagi-pagi begini?"
"Kau!" Ken makin berang. Dia sudah berancang-ancang akan melayangkan tinju tapi terhalang karena Naya menjerit histeris.
Tak hanya itu, Naya juga memukul punggung tangan Ken dan berharap Ken melepaskan Mike. Sayangnya Ken yang sudah kadung emosi tetap menarik baju Mike hingga keduanya berada di halaman rumah.
"Apa yang kau lakukan di sini? Ha! Kau benar-benar gila. Ternyata selama ini pura-pura mati!" sentak Ken. Dia dorong Mike hingga terhuyung.
Ken yang makin kesal mendekat lagi. Dia cengkeram baju Mike untuk kesekian kalinya. Dia benar-benar tidak bisa menahan emosi yang meledak-ledak.
"Tentu saja urusanku! Sekarang kenapa balik lagi? Apa kamu mau mempengaruhi Naya lagi? Dasar bedebah sialan!"
Bugh!
Ken langsung melayangkan tinju. Telak mengenai pipi, Mike sampai terhuyung dibuatnya. Naya yang panik tentu saja menjerit. Dia dekati Mike dan membantunya berdiri.
"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Naya.
Mike mengangguk dan mengisyaratkan kalau dirinya baik-baik saja. Sementara Naya, dia memberanikan diri melihat Ken yang masih berdiri dengan penuh emosi.
"Kak Ken, tolong ... kalian jangan berantem," ucap Naya setengah mengiba.
__ADS_1
"Sudah Naya, masuk saja. Ini urus laki-laki," balas Mike yang berdiri agak limbung. Dia dorong tubuh Naya agar menjauh. "Masuklah ...."
"Tapi ...."
Mike menatap Naya. Bibirnya yang mengeluarkan darah tetap memberikan senyum. Dia belai pipi Naya. "Masuklah, gak akan ada apa-apa."
Melihat itu Ken makin berang. Ditariknya lagi kerah baju Mike, lantas mengguncang tubuh pria itu berkali-kali. "Apa maumu, brengsek? Kenapa kau lakukan ini pada Naya?"
"Apa pedulimu?" tanya Mike santai.
"Aku, aku mencintainya!"
Mike berdecih, lalu menepis tangan Ken hingga terlepas dari kemeja yang dia pakai. "Cinta? Sebenarnya apa kurangnya kamu sampai-sampai mencintai istri orang lain?"
Kini giliran Ken yang tergelak ironi. "Istri? Dia tidak punya suami!"
"Apa kamu buta? Aku suaminya! Pernikahan kami tercatat resmi di negara!'' balas Mike dengan berteriak pula.
Sekarang giliran Ken yang berdecih. Sungguh, emosinya tak bisa dinetralkan. Dia layangkan lagi pukulan dan telak mengenai pelipis Mike
Ken kembali mencengkeram kemeja Mike. "Dasar brengsek! Apakah kau tahu penderitaan Naya selama ini? Kau hanya memberi dia rasa sakit!"
"Aku tahu dan aku akan menembus itu semua. Tapi yang jelas Naya sekarang tidak ada sangkut-pautnya denganmu. Pergi! Jalani hidupmu sendiri. Jangan ganggu kami," sahut Mike. Dia tepis lagi tangan Ken.
"Kau!"
Ken hendak melayangkan tinju, tapi Mike dengan sigap menghindar dan memelintir pergelangan tangan Ken. Dia dorong Ken hingga terhuyung.
"Jangan urusi rumah tangga kami! Kau hanya orang asing, sedangkan aku ... aku suaminya. Asal kau tahu saja, kami bahkan bercinta semalam," papar Mike dengan seringai khas pria brengsek.
Mendengar itu jantung Ken serasa berhenti berdetak. Dia menatap Mike nyalang dan sedetik kemudian melihat Naya. Gadis itu sama sekali tidak menampik. Dia hanya menunduk.
__ADS_1
Oh ... jantung Ken serasa di remas. Dia tarik lagi kerah baju Mike. "Kau pasti memaksanya!''