
Cek cek cek.
Terjadi kesalahan teknis tadi pagi. Aku up bab Double. Tapi udah aku benerin. Yang terkena prank bisa ulangi lagi baca bab sebelum ini, ya.
Heheheh.
Happy reading.
Seperti biasa sebelum tidur Mike akan menempelkan stetoskop ke perut Naya. Pria berwajah tegas itu memilih stetoskop ketimbang fetal doppler. Baginya itu lebih aman.
"Apa kedengeran?" tanya Naya. Heran saja, apa memang benar ada bunyian dari dalam sana melihat perut masih bisa dibilang rata untuk usia kehamilan sebelas minggu?
Mike mengangguk, dia tersenyum sedikit. "Aku yakin anak kita laki-laki."
Naya mencebik, dia memilih diam dan memejamkan mata. Terserah saja Mike mau berbuat apa. Toh, memang hasil perbuatannya.
"Ngomong-ngomong kenapa kamu minta Mala yang beli es lilin? Apa kamu takut kalau aku yang beli bakalan aku kasih racun?"
Sekonyong-konyongnya mata Naya langsung membulat lebar. Dia yang awalnya terlentang langsung duduk dan melihat wajah Mike yang kembali ke mode serius.
"Apa masih takut?" tanya Mike lagi. Dia merebahkan diri di sebelah Naya. Mereka duduk bersisian dan bersandar di kepala ranjang. "Apa masih gak mau percaya?"
"B-bukan, bukan begitu," sahut Naya. Dia dag-dig-dug tak karuan. Sejak kapan Mike tahu? Padahal sudah susah payah bersembunyi.
'Ah ... aku lupa, dia pasang CCTV di mana-mana.' Naya bermonolog.
"Lalu?" Mike menoleh, dia berdengkus ketika melihat wajah Naya yang kembali ke mode pengecut.
"Aku cuma gak mau ngerepotin kamu. Kamu pasti sibuk. Tolong jangan salahkan Mbak Mala."
"Kamu terlalu baik. Sekali-kali jadilah orang jahat, sekali-kali egois."
Hening, Naya menunduk. "Tolong jangan hukum Mbak Mala."
__ADS_1
Mike terdengar menghela napas berat, dia mengiyakan. Lantas, setelah itu menarik dagu Naya agar bisa melihat sorot mata pengecut itu. Ke mana perginya mata merah karena marah tadi pagi?
"Mulai sekarang katakan apa pun. Biarpun sibuk aku pasti luangin waktu."
"Gak perlu. Aku ...."
Naya menelan ludah, sorot mata Mike membuatnya terbeku lagi.
"Apa?" potong Mike.
"Aku cuma ...."
"Mulai sekarang apa pun yang mau kamu makan, bilang saja. Jangan takut. Selama kamu gak minta makan racun pasti aku beri."
Naya bergidik. Omongan Mike entah kenapa menggelitik perut. Mau katawa tapi takut dimarah. Dia pun terpaksa mengiyakan dan menepis tangan Mike dengan pelan. Kemudian kembali berbaring, menyelimuti diri dengan selimut.
Namun, bukan Mike jika membiarkan Naya sendiri. Pria itu dengan tenang mengubah posisi Naya hingga mereka saling berhadapan. Sekarang dia sudah memeluk Naya dengan erat.
"Berusahalah terbiasa. Kita sudah menikah sekarang," ucap Mike datar.
"Aku memang bukan laki-laki romantis. Tapi aku bertanggung jawab. Aku menghargai apa itu hubungan timbal balik. Sekarang kamu lagi mengandung, jadi nikmati harimu sebagai istri. Ingat istri, kamu bukan simpanan lagi."
Hening lagi, Naya mengerjap. Dia bisa merasakan terpaan napas Mike yang hangat menyentuh wajah. Dia juga bisa menghirup aroma tubuh Mike yang begitu harum. Jika dilihat, pria itu begitu sempurna. Dia kaya, tampan dan ....
Tidak. Tidak ada lagi kelanjutannya. Poin bagusnya cuma itu. Justru begitu banyak poin negatif yang ada. Dia kasar, pemarah, kejam, dan ... cemburuan.
"Kenapa kamu berubah?" tanya Naya. Dia begitu penasaran. Apa mungkin masa lalu membentuknya jadi begini?
"Bukannya dulu kamu gak mau nikahin aku? Apa karena anak yang aku kandung? Tapi kalau itu masalahnya, pasti banyak perempuan yang mau mengandung anakmu. Kenapa aku?"
Mata Mike terbuka. Mereka bersitatap dalam keheningan lumayan lama.
"Aku cuma belum siap, bukannya gak mau. Di dunia ini siapa yang mau melajang selamanya?"
__ADS_1
"Tapi kenapa aku?"
"Karena kamu perempuan baik. Aku butuh kamu untuk membuatku jadi lebih baik."
Hening, Naya menyipitkan mata. Mike yang paham menghela napas panjang.
"Ya ya ya. Terserah mau mengumpat apa. Kamu mau bilang aku gak tau diri juga aku gak bakalan marah. Karena aku memang gak tau diri. Aku adalah salah satu dari sekian banyaknya laki-laki brengsek di dunia ini yang bercita-cita menikah dengan perempuan baik-baik."
Sekarang Naya yang menghela napas panjang. Mendadak dia menyesal dan percuma jadi orang baik kalau ujung-ujungnya terperangkap jerat pria jahat.
"Aku lihat tadi kamu masuk ke gudang," ucap Mike yang melenceng jauh dari pembahasan barusan.
Naya membulatkan mata. "Apa kamu marah?"
"Enggak, aku malah bersyukur kamu tau segalanya tanpa aku kasih tau. Aku anak broken home. Sering dipukul juga waktu kecil. Makanya sikapku begini. Mungkin karena terbiasa di kasari jadi semuanya melekat dalam memori. Itu juga alasan aku suka bergonta hati perempuan. Aku pemuja kesenangan. Tapi tetep menjunjung tinggi wanita suci. Jadi aku yakin kamu sekarang menyesal jadi orang suci. Iya, 'kan?"
Naya berdengkus. Dia menggeliat kecil ingin dilepaskan. Namun, Mike dengan entengnya mengeratkan dekapan.
"Kamu gak akan pernah bisa kabur dariku, Naya. Gak akan pernah. Karena aku melihat bagaimana keluargaku dulu. Awalnya aku marah. Tapi semakin ke sini aku paham sesuatu. Yang dihindari itu bukanlah pernikahan."
"Lalu?"
"Perempuan jalangg."
***
Pagi harinya.
Keduanya seperti biasa akan sarapan bersama. Mike sibuk menyantap makanan begitu juga Naya.
Namun, ketenangan itu seketika sirna saat Jordan tiba dengan tergesa-gesa. Dia sempat beradu mata dengan Naya, tapi memilih mendekati Mike dan membisikkan sesuatu.
Entah apa yang terjadi. Muka Mike yang tadinya tenang berubah berang. Dia lepas sendok dan menatap Naya.
__ADS_1
"Kamu habiskan makannya. Jangan ke mana-mana, ingat."