
"Apa? Kamu gak bercanda kan Jordan? Apa kamu yakin soal itu?" tanya Mike. Dia sambar kertas yang ada di tangan Jordan dan membolak-baliknya. Matanya melotot hebat saat membaca keterangan di dalam kertas itu.
"Iya, Tuan Muda. Saya yakin hasilnya akurat. Saya bahkan memeriksakan ini ke beberapa rumah sakit dan tetap saja hasilnya sama. Ken ternyata benar-benar anaknya Tuan Broto, itu artinya dia juga ...."
Prang!
Jordan kaget. Lisannya terjeda berganti dengan mata yang membulat besar. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja gelas kopi dan piring tempat buah sudah tergeletak di lantai.
Tak hanya itu, Mike dengan membabi buta menendang beberapa barang yang terletak di sana. Sofa, meja bahkan bufet jati, tak luput dari amukan dan sasaran kekesalan. Dia bahkan menginjak-injak pecahan kaca dengan begitu emosi. Kemarahannya memuncak naik ke ubun-ubun. Sekalipun tidak pernah membayangkan kalau Ken ternyata adalah sepupunya.
Mike berteriak kencang saat mengingat betapa gencar kenzi merayu Naya. Dia bahkan meninju cermin hingga pecah. Jordan dan anak buah yang lain hanya bisa saling tatap.
"Sial! Bedebah! Brengsek! Bagaimana bisa semuanya jadi begini?" teriak Mike frustasi. Dia duduk disamping ranjang dan menjambak rambutnya sendiri. Pria dengan jaket hitam itu bahkan mengabaikan tangan yang sudah mengeluarkan banyak darah.
Pikirannya kacau. Dia tidak mengira kalau semuanya jadi tidak terkendali seperti ini. Naya, dia sangat takut Naya meninggalkannya dan memilih Ken.
Refleks Mike menggeleng. Dia seperti orang kehilangan akal. Dia berdiri, tapi sedetik kemudian terduduk lagi. Suaranya bahkan menggema makin nyaring
Jordan yang melihat kejadian itu tidak bisa berkata. Dia hanya menahan ludah karena paham pasti sang bos sangat frustrasi sekali.
__ADS_1
"Tuan Muda, sebenarnya ada satu lagi informasi yang saya terima," ucap Jordan.
Mike yang awalnya menunduk lesu kembali melayangkan tatapan tajam. "Apa itu?"
Jordan mendekatkan, dia membisikkan sesuatu ke telinga Mike dan membuat ekspresi Mike berubah makin serius. Dia bahkan mencengkeram kerah kemeja Jordan.
"Apa kamu yakin informasi ini benar?" tanya Mike dengan deru napas memburu.
"Ya Tuan, saya yakin."
Mike melepaskan cengkeraman. "Kalau begitu ayo kita lancarkan rencana selanjutnya."
"Jangan pedulikan, kerjakan saja urusanmu dengan cepat."
****
"Kak Ken ... Kak Ken di mana?" teriak Naya. Pandangannya gelap. Sama sekali tidak ada secercah cahaya pun di dalam apartemen Ken.
Bermodalkan naluri Naya pun bergerak menyusuri dinding dengan cara meraba-raba. Finis, akhirnya saklar lampu ditemukan. Namun, betapa terkejutnya dia saat melihat sesuatu yang tergeletak dilantai dan bersimbah darah.
__ADS_1
Naya terbeku sesaat sebelum akhirnya berteriak. Lekas dia mendekatinya dan memangku. Lidahnya kelu, bibir bergetar. Gadis dengan baju tidur itu benar-benar tidak bisa berkata-kata selain mata yang mengeluarkan banyak air.
"K-kak Ken ... bangun Kak! Bangun!" teriak Naya setelah bisa mengumpulkan kesadaran. Dia peluk erat Ken yang bersimbah darah.
"Kak Ken! Bangun! Jangan mati!" teriak Naya makin histeris.
Ken yang awalnya terpejam pun perlahan membuka mata. Dia tersenyum sedikit. Naya bisa melihat jelas kalau ada darah yang mulai merembes dari ujung bibir Ken. Sementara di perut sudah tertancap sebuah pisau.
Naya yang kacau mencoba mencabutnya, tapi Ken justru menahan dan memberikan senyuman. Dia usap pipi Naya.
"Jangan menangis," ucap Ken. Bibirnya bergetar mengatakan itu, bahkan ada air bening yang meluncur bebas dari ufuk mata Ken.
Ekspresi Naya jangan ditanya, dia sudah tak bisa lagi menahan tangisan. Dia menjerit, air matanya meluber ke mana-mana. Dia berteriak minta tolong. Anehnya Ken justru dengan tenang menempelkan jari telunjuk yang penuh darah ke bibir Naya.
"Enggak Kak. Kita gak bisa kayak gini! Ayo berdiri, kita harus ke rumah sakit sekarang! Kak Ken harus bertahan. Kak Ken harus hidup," ujar Naya. Suaranya bergetar karena menyatu dengan isak tangis.
Lagi-lagi Ken menggeleng, dia terbatuk-batuk dan keluarlah darah segar dari mulut. Meski begitu dia tetap tersenyum pada Naya hingga tangan terlepas bersamaan dengan matanya yang tertutup.
"Kak Ken! Bangun Kak! Kak Ken!"
__ADS_1