Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Pengakuan.


__ADS_3

Naya mematut diri di depan cermin. Dia menyapu seluruh tubuh yang terbalut gaun pernikahan berwarna putih dengan sorot mata sayu. Sama sekali tak ada ekspresi, baik kesedihan maupun kesenangan. Hambar.


Tanpa dia sadari ternyata Mike mengamati dari belakang.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Mike tiba-tiba.


Sontak Naya berjengket, tapi tetap tak bisa apa-apa selain diam. Dia biarkan Mike mendekat dan memeluk dari belakang. Tak hanya itu, Mike juga menghirup tengkuknya.


"Hari ini resepsi kita, Mike," ucap Naya mengingatkan.


Membuka matanya, Mike pun memundurkan kepala. Dia lihat wajah Naya dari pantulan cermin. "Kamu cantik."


"Terima kasih," sahut Naya sekenanya.


Hening. Mike hanya melihat Naya dari sana. Naya yang keheranan memberanikan diri untuk bertanya, "Ada apa? Apa ada masalah?"


Mike menggeleng. Dia tarik tangan Naya hingga mata mereka bersitatap secara langsung. "Aku gak tau apakah ini penting atau tidak. Tapi Naya aku cuma mau bilang sesuatu. Aku mau mengaku kalau aku sudah jatuh cinta sama kamu."


Naya mengerjap. Apa ini maksud peribahasa dari mimpi di siang bolong? Ah ... sepertinya bukan.


"Aku tau perasaanku belum terbalas. Tapi gak masalah. Aku siap menunggu. Mau setahun, dua tahun atau berapa puluh tahun pun aku kan selalu usaha. Aku akan buat kamu gak bisa ke mana-mana. Akan aku buat kamu cuma melihatku seorang. Dengan begitu aku yakin cintaku terbalas."


"Bukankah itu namanya pemaksaan?"


"Gak masalah. Aku hanya mau kamu tau kalau aku tulus."

__ADS_1


Naya berdecak sebal. Dia lepas tangan Mike dan hendak pergi. Namun terpaksa harus berhenti karena pria itu ternyata menarik pinggangnya dari belakang.


"Mike, sebentar lagi resepsi kita di mulai." Lagi, Naya memperingati. Jangan sampai Mike bertingkah mesum di ruang tunggu pengantin. Bisa brabe.


"Ya aku tau, tapi tolong kamu tetaplah begini sebentar lagi."


Hening. Naya menurut. Dia diam dan membiarkan Mike merebahkan kepala ke ceruk lehernya.


"Aku juga gak tau apa aku pernah bilang begini. Tapi Naya, terima kasih karena bertahan."


Naya terdiam. Dia bisa dengan jelas merasakan ketulusan dari suara Mike.


"Aku juga. Aku akan coba menerima. Mungkin ini takdir dari Tuhan," sahut Naya. Mungkin terdengar dewasa, tapi sebenarnya dia hanya menyemangati diri sendiri.


Tibalah saat resepsi. Semua tamu memenuhi aula hotel bintang lima yang disulap begitu megah. Naya sebagai mempelai pengantin saja terheran-heran. Entah berapa miliar yang Mike keluarkan hanya untuk dekorasi saja. Dia benar-benar memberikan pernikahan impian ala ratu.


'Tunggu, kayaknya aku kenal orang itu, tapi di mana?' batin Naya. Dia celingukan tapi anehnya sosok laki-laki berpakaian pelayan itu sudah hilang dari pandangan.


"Mike, penjagaan di sini bagaimana?" bisik Naya setelah bersalaman dengan sepasang pengusaha.


"Tenang saja. Orang kita sudah berjaga. Lagian Laras juga gak bisa apa-apa sekarang. Jadi tenanglah. Mukanya jangan panik begitu."


Naya menghela napas. Dia menurut juga akhirnya.


Acara formal pun usai. Kini giliran acara dansa. Banyak para tamu ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Namun tetap saja raja dan ratunya adalah Naya dan Mike.

__ADS_1


"Sekarang gerakan kamu lebih terasa lentur," bisik Mike.


Naya yang memegang pundak Mike pun berdengkus. Dia memutar tubuh dua kali lalu kembali ke pelukan Mike dengan irama dan gerakan yang pas.


"Tentu saja. Aku bukan robot," ketus Naya.


"Oh ya? Kalau begitu senyum, dong. Takutnya orang-orang berpikir kalau aku menikah dengan manekin."


Naya pun menurut. Bedanya saat tersenyum dia juga melayangkan cubitan di pinggang Mike. Mike sampai menjerit karena kaget.


"Nah itu buktinya kalau aku bukan boneka," ketus Naya. Dia menyipit sinis, sementara Mike malah terbahak. Dia peluk Naya. Keduanya bergerak seirama dengan musik dansa yang mendayu di sana.


"Naya, maafkan semua kesalahan yang udah aku buat. Aku janji bakalan menebus semuanya dengan bersikap baik. Aku hanya mau satu dari kamu. Setialah, itu saja."


"Baiklah. Aku akan berusaha."


Keduanya kembali berpelukan sebelum akhirnya sebuah letusan senjata api membuyarkan segalanya.


Semua orang panik. Mereka berlarian menyelamatkan diri. Teruntuk Naya dia terdiam melihat Mike. Dia heran pria itu mematung sembari menekan dada.


Naya terbelalak. Darah mengalir merembes melewati tangan Mike. Mike roboh tepat di tubuh Naya.


"Mike! Mike!" seru Naya


Darah segar mengalir deras dari dada Mike. Naya panik, air matanya meluruh banyak. Sambil terisak dia meminta pertolongan.

__ADS_1


Tak lama kembali terdengar letusan senjata.


***


__ADS_2