Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Fitnah Starla


__ADS_3

"Apa aku boleh menuang minumannya untuk kamu?" ulang Starla dengan suara menggoda. Bahkan benda yang tersembunyi di balik tank top sengaja diperlihatkan. Hanya dengan sedikit goyangan, dua gundukan itu pun bergerak sensual.


Hanya saja Mike tak merespon. Dia putar kepalanya dan melihat Naya. Tanpa berkata dia justru menarik tangan Naya dan mengarahkan untuk duduk di pangkuan. Tentu saja gerakan itu membuat sorak-sorai di ruangan itu membahana lagi.


"Maaf, saya nggak perlu dilayani kamu. Karena saya punya kesayangan sendiri," balas Mike seraya mengukir smirk. Dia seperti sengaja menghina Starla dan dengan santainya mengarahkan bibir Naya ke bibirnya dengan sangat cepat.


"Tuang minumannya, Sayang. Aku gak mau dilayani perempuan lain," bisik Mike pelan. Naya sampai bergetar dan secara spontan meraih botol anggur di tangan Starla dan menuang isinya ke gelas Mike.


"Bagus, ini baru kesayangan." Mike terkekeh senang. Dia cubit gemas pipi Naya.


"K-kalau bo-boleh, apa aku bisa izin ke toilet sebentar?" ucap Naya terbata. Keringatnya bercucuran.


Mike mengangguk. Dia lepas pegangannya. "Pergilah. Jangan lama-lama."


Naya menganggukkan kepala, dia putar tumit sembari memijit tangan yang membeku. Dia sungguh takut di sana. Takut pada Mike serta temannya.


Namun, tanpa Naya sadari Starla pun mengikutinya.


Di toilet.


Naya gemetaran, dia menggigit ujung kuku dan mondar-mandir di depan cermin. Begitu banyak yang mengganjal dalam kepala, diantaranya Mike dengan segudang kebrengsekan dan Starla yang jelas menyimpan dendam.


''Nenek ... aku harus apa?" gumamnya pelan. Dia resah tapi tidak bisa meminta tolong.

__ADS_1


Tiba-tiba suara nyaring yang dihasilkan dari benturan antara pintu dan dinding pun terdengar. Naya sampai terperanjat, dia mencari asal suara. Ternyata Starla sudah ada di belakang sembari bersedekap dada.


"Heh jalangg kecil. Gak nyangka ya kita bisa ketemu di sini," ujar Starla, dia menyeringai dan mendekat.


Naya yang merasa terintimidasi pun memundurkan langkah. Sialnya terpojok di dinding dan terpaksa pasrah. Dia tak bergerak sama sekali.


"Kenapa? takut?" Tanpa banyak bicara Starla cengkeram pipi Naya dengan kuat, lantas kembali berkata, "Hebat kamu. Aku sampe speechless. Gak nyangka banget gadis kecil kayak kamu bisa terlibat dengan orang sebesar Mike. Lalu Ken kamu kemanain? Hah! Kemanain?" lanjut Starla. Kini dia menoyor kepala Naya dengan begitu geram.


Naya mengaduh, air matanya menetes deras. Dari fisik saja dia sudah kalah apalagi dari tenaga. Starla lebih tinggi, dewasa dan berisi, sedangkan dirinya begitu mini.


"Aku sebenarnya penasaran, gimana bisa kamu ngerebut Ken dari aku. Dan sekarang kamu jadi dekat dengan orang kaya itu," geram Starla lagi. Apitan tangannya makin terasa kencang.


"Itu salah paham, Kak. Aku gak ada apa-apa sama Kak Ken. Kita cuma ...."


"Lepas, Kak! Lepasin, sakit ...."


Alih-alih iba Starla justru tertawa sinis. "Sakit ya? Emang aku pikirin? Kakak? Kamu manggil aku kakak? Cih! Emang sejak kapan aku jadi kakak kamu. Najis!"


Naya merintih lagi, dia sampai memejamkan mata saking sakitnya. Jambakan Starla tidak memberi celah untuknya meloloskan diri.


"Kenapa? Kamu mau ngomong apa? Ngomong aja? Mumpung aku masih baik hati sebelum membuka aib kamu. Aku bakalan benerin kelakuan kamu. Kamu cuma jalaang kecil yang pura-pura polos demi uang. Iya, 'kan?"


Naya menggeleng tegas. "Aku beneran gak ada hubungan dengan Kak Ken. Dia ... dia cuma ...."

__ADS_1


"Kamu pikir aku percaya?" sela Starla, sengaja. "Lagian Ken udah nggak penting lagi. Aku mau Mike, lepasin dia. Aku mau dia. Bisa?"


Naya merintih, air matanya meluruh. Kalau memang bisa dia akan memberikan Mike pada siapapun yang meminta, hanya saja apa mungkin bisa?


"Pergilah dari Mike. Aku yang ingin menggantikan kamu. Kalau kamu setuju aku bakalan ngelepasin kamu dan menganggap cerita kita dulu itu gak pernah terjadi, bagaimana?"


"Kak Starla. Aku sebenarnya ...."


Belum juga selesai lisan Naya suara nyaring dari arah belakang mengagetkan. Tampak Mike tiba dengan tangan masuk ke celana. Auranya begitu suram. Dia mendekati Naya dan menepis kasar tangan Starla hingga jambakan yang menyakitkan itu terlepas.


"Siapa kamu?" bentak Mike. "Berani-beraninya gangguin dia! Atas dasar apa? Hah!"


Mike melotot. Dia tak peduli pada Starla yang terduduk di lantai. Yang jadi titik fokusnya adalah pipi Naya yang memerah serta rambut Naya yang acak-acakan.


Lagi, Mike membalik diri dan mencekal tangan Starla—memaksanya berdiri. Kini gantian dirinya yang mencengkeram kuat hingga rintihan Starla terdengar jelas.


"Kamu tolong jangan salah paham, Mike. Ini nggak yang seperti kamu pikirin. Aku cuma mau memperingati dia. Dia itu perempuan nggak baik, nggak bener. Jadi aku sebagai temen kamu ingin memperingatinya," jelas Starla sembari menahan rasa sakit.


Make berdengkus. Dia lepas tangan Starla. "Apa maksudmu?"


Merasa mendapat celah Starla pun menunjuk-nunjuk Naya yang tak berdaya. "Dia itu jaalang licik! Kamu nggak pantas dekat dia. Dia itu hanya akan jadi benalu. Dia cuma mau manfaatin uang kamu."


Starla menyeringai ketika melihat Mike yang menatap nyalang ke arah Naya.

__ADS_1


"Percaya aku, Mike. Dia itu cuma pura-pura polos demi uang. Nanti kamu pasti ditinggalin. Jangan percaya sama dia," lanjut Starla lagi. Terdengar lebih menggebu-gebu.


__ADS_2