
Nybg
Eps 6
Nihil. Cara yang Ken contohkan sama sekali tak dituruti oleh Naya. Gadis itu tetap makan dengan lahap mulai dari steak daging, ayam goreng, tiramisu, serta beberapa makanan lain. Dilahap semua secara bergantian—mirip orang rakus yang benar-benar tidak makan dua hari dua malam.
"Nona, Nona Naya. Tolong jangan begini," ucap Ken sembari berusaha menarik dan menjauhkan piring-piring yang ada di depan Naya. Sayangnya, Naya yang sudah kadung kelaparan menepis tangan Ken dan mendorongnya hingga mundur beberapa langkah.
Ken terbengong. Dia dapat melihat tatapan sinis Naya serta mendengarnya mendesis kesal. Anehnya dalam sekejap kembali menikmati ayam goreng yang ada di tangan.
Mendesah frustrasi, Ken mengeluarkan ponsel dari saku jas lantas menghubungi seseorang. Naya yang melihat itu memilih abai dan kembali menikmati makanan ternyaman yang jarang dia rasa. Selama ini karena ekonomi yang tergolong sulit membuatnya hanya menikmati menu yang sederhana. Hanya sebatas tumis kangkung dan tempe goreng atau bacem. Sekarang setelah melihat makanan mewah nan lezat dia jadi kalap mata dan ingin merasa semuanya.
Telepon terhubung. Masih dengan wajah datar, Ken pun berkata, "Bu Direktur, sepertinya cara ini tidak efisien. Saya punya ide lain, tapi ...."
__ADS_1
Ken menjeda lisan lantas melihat Naya yang masih makan dengan lahap.
"Lakukan saja semuanya. Apa pun itu terserah saja. Bagaimana caranya saya tidak akan berkomentar. Terserah kamu, yang penting Naya harus bisa berubah sebelum bertemu orang itu," sahut seseorang yang ada di seberang telepon. Orang yang tidak lain adalah Laura.
Ken mengangguk paham. "Baiklah, Bu Direktur. Kalau begitu saya akan bawa Naya ke apartemen saya."
Seketika itu Naya yang tengah mengunyah ayam langsung menyemburkan isinya. Dia terbatuk-batuk sembari menutup hidung. Sumpah, rasanya sungguh tidak enak, bayangkan jika ada makanan yang masuk ke saluran pernapasan.
Mendesis, Naya berdiri lalu menatap Ken begitu dingin, "Apa maksudnya? Kak Ken mau kita tinggal bareng? Kita nggak sedekat itu! Kita ketemu baru tadi pagi!''
Sembari menyilangkan kedua lengan ke dada, Naya kembali mendesis dan ekspresi Ken yang datar membuatnya ingin menelan orang bulat-bulat.
Sayangnya Ken kembali abai dan justru menatap Marta yang ada di sebelahnya.
__ADS_1
"Tolong kemas semua barang-barang yang sudah saya persiapkan untuk Nona Naya tadi. Masukan semuanya ke dalam mobil, segera," perintah Ken datar tapi penuh penegasan.
Marta tak menyahut dan hanya mengangguk. Dia dan beberapa pembantu langsung memutar tumit meninggalkan Ken dan Naya yang masih bersitatap.
Hanya dalam hitungan menit, semua barang Naya sudah berpindah tempat. Semua ART pun kembali mendekati Ken yang berdiri di depan Naya yang cemberut.
"Barang-barang sudah kami pindahkan," kata Marta dengan tenang seraya menunduk segan.
"Baiklah Nona, sepertinya sekarang waktu yang pas untuk kita pergi." Tanpa mengurangi rasa hormat Ken mempersilakan Naya dengan ayunan tangan.
Alih-alih menurut, Naya justru kembali duduk. Dia tidak suka di rumah Laura dan ingin sekali pergi dari sana. Laura kejam, para pembantu pun hanya diam melihat keputusasaannya. Terlebih lagi Marta, Naya tidak suka wanita paruh baya itu. Marta memang tidak memaki, tidak pula main tangan, tapi dia merasa tatapan Marta lebih dingin dibanding siapa pun. Hanya saja ....
Jangan lupa like komen dan vote.
__ADS_1